Bab 1Ketukan Pintu
Sore itu, angin tropis berembus hangat, membawa aroma garam laut ke dalam ruang tengah vila mewah yang disewa keluarga Miller. Andy baru saja mengancingkan kemeja santainya, sementara Audy sedang merapikan riasannya di depan cermin.
"Pa, Brexy! Cepat sedikit, restoran makanan laut di dekat dermaga itu kabarnya penuh kalau lewat jam lima," seru Audy sambil menyampirkan tas selempangnya.
Brexy, remaja laki-laki berusia lima belas tahun yang mewarisi tinggi badan ayahnya, melompat turun dari anak tangga terakhir. "Aku sudah siap, Ma. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi."
Andy terkekeh, merangkul pundak putranya yang kini hampir menyamai tingginya yang mencapai 190 cm. "Tenang, Jagoan. Liburan ini milik kita. Kita punya sepanjang malam untuk—"
Bruk! Bruk! Bruk!
“Tolong! Seseorang, tolong saya!”
Langkah mereka terhenti seketika. Suara gedoran keras di pintu utama vila terdengar begitu panik, disusul jeritan dalam bahasa lokal yang tidak mereka pahami, namun nada ketakutannya begitu universal.
"Apa itu?" bisik Audy, wajahnya mendadak pias. Ia refleks mencengkeram lengan Brexy.
"Tetap di sini," perintah Andy dengan suara rendah. Dia melangkah lebar menuju pintu, gerakannya waspada.
Andy mendekatkan wajahnya ke lubang intip pintu. Mengingat postur tubuhnya yang tinggi besar, dia harus sedikit membungkuk. Namun, dia tidak melihat wajah siapa pun. Hanya ada ujung rambut hitam yang bergerak-gerak gelisah di batas bawah lubang intip.
"Siapa, Pa?" Brexy ikut mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takut. Audy mengekor di belakang mereka.
"Entahlah, posisinya terlalu rendah," kata Andy sambil memutar kunci. "Aku akan membukanya sedikit."
Begitu pintu terbuka beberapa inci, sesosok tubuh kecil langsung merosot ke lantai teras. Seorang anak laki-laki lokal, tubuhnya begitu mungil dan pendek—bahkan tidak sampai sepinggang Andy. Wajahnya dipenuhi peluh, dan yang membuat jantung keluarga Miller berdegup kencang: darah segar mengucur deras dari pelipis bocah itu, membasahi kaus kumalnya.
"Ya Tuhan!" jerit Audy spontan, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Anak itu mendongak. Matanya yang besar memancarkan kilat ketakutan yang luar biasa saat menatap tiga orang asing bertubuh jangkung di depannya. "Tolong... tolong..." rintihnya dalam bahasa setempat, tangannya yang gemetar terulur ke depan.
Belum sempat Andy berlutut untuk menolong, suara langkah kaki berat yang bergedap-gedap terdengar dari arah gang samping vila. Seorang pria dewasa bertubuh kekar muncul dengan napas terengah-engah, wajahnya merah padam diselimuti kemarahan yang luar biasa.
Tanpa memedulikan keberadaan keluarga Miller, pria itu langsung merangsek maju.
"Mau lari ke mana kamu, hah?!" bentak pria itu dengan suara menggelegar, tampak begitu kesetanan.
Anak itu menjerit histeris. Suara jeritannya begitu menyayat hati, membelah keheningan sore tropis yang awalnya damai. Dalam keputusasaan yang mendalam, tangan kecil bocah itu menggapai ke atas dan berhasil meraih ujung lengan kemeja Andy. Kuku-kukunya memutih, mencengkeram kain kemeja itu seolah-olah Andy adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.
"Hei! Lepaskan dia!" teriak Brexy, melangkah maju, namun Audy menahannya dengan panik. "Brexy, jangan!"
Pria pemarah itu menyentak rambut sang bocah dengan kasar, membuat cengkeraman tangan kecil itu terlepas dari lengan kemeja Andy dengan putus asa. Bocah itu terseret di atas lantai marmer, menangis histeris sambil memegangi kepalanya.
"Jangan ikut campur, orang asing! Ini urusan saya!" bentak pria itu dalam bahasa lokal, matanya melotot tajam ke arah Andy, memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam rumah.
Pria itu kembali bersiap melayangkan tamparan keras ke wajah anak yang sudah tidak berdaya itu. Bocah itu memejamkan mata, meringkuk seperti binatang yang pasrah menanti ajal.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada Andy. Ego dan nalurinya sebagai seorang Papa seketika terluka parah. Dia tidak tahu apa masalahnya, dia tidak paham bahasanya, dan dia tahu betul bertindak di negara orang bisa menyeretnya ke dalam masalah hukum yang rumit. Tapi melihat anak sekecil itu diperlakukan lebih rendah daripada binatang di depan matanya sendiri? Andy tidak bisa diam saja.
Crack!
Sebelum telapak tangan pria itu mendarat di wajah si bocah, Andy melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan sangat kuat. Postur tubuh Andy yang tinggi besar seketika membayangi pria lokal tersebut.
"Aku bilang, lepaskan dia," desis Andy dalam bahasa Inggris, suaranya berat, dalam, dan penuh ancaman.
Pria itu terkejut. Dia mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Andy seperti catut besi. "Lepaskan! Kamu tidak tahu apa-apa!" teriak pria itu, mencoba menggertak.
"Aku tidak peduli apa yang dia lakukan!" bentak Andy, suaranya meninggi, matanya menatap lurus dan tajam ke dalam manik mata pria itu. "Kau tidak boleh menyentuh anak ini lagi di depanku. Mengerti?!"
"Pa..." panggil Audy dengan suara bergetar, namun matanya memberi dukungan. Dia segera berlutut di samping bocah itu, menarik tubuh kecil yang gemetar itu ke dalam dekapannya, sementara Brexy berjaga di depan ibunya dengan tubuh tingginya.
Andy mendekatkan wajahnya, memanfaatkan keunggulan tingginya untuk mengintimidasi. "Pergi dari sini sebelum aku membuat situasi ini menjadi jauh lebih buruk untukmu."
Pria lokal itu menatap Andy, lalu menatap Audy dan Brexy yang kini melindungi si bocah. Menyadari dia kalah jumlah dan kalah fisik, ditambah dengan tatapan mata Andy yang siap meledak, pria itu akhirnya menyentak tangannya lepas dari genggaman Andy. Dia meludah ke tanah, memaki dalam bahasanya, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah gusar.
Setelah pria itu menghilang di belokan gang, Andy mengembuskan napas panjang. Tangannya sendiri rupanya ikut gemetar karena adrenalin. Dia berbalik dan langsung berlutut di dekat istrinya.
"Dia terluka parah, Pa. Pelipisnya terus mengeluarkan darah," ujar Audy panik, sambil menyeka darah di wajah anak itu dengan tisu dari tasnya.
Andy menatap bocah mungil yang kini meringkuk di pelukan Audy, masih terisak pelan namun tatapan matanya penuh rasa terima kasih. Andy mengusap rambut anak itu dengan lembut.
"Brexy, ambilkan kotak p3k di dapur. Cepat," perintah Andy.
"Baik, Pa," sahut Brexy, langsung berlari ke dalam.
Andy memandang ke arah jalanan luar yang sepi, lalu kembali menatap anak di pelukan istrinya. Liburan santai dan rencana kulineran mewah mereka sore itu mungkin hancur berantakan, namun melihat anak ini aman, Andy tahu dia telah mengambil keputusan yang benar.