Bab 1Perpustakaan

5 menit baca•1.0rb kata

Selama dua tahun, hari-hariku hampir selalu sama. 

Duduk di bangku paling belakang, bicara hanya kalau dipanggil guru, lalu menghabiskan jam istirahat di perpustakaan yang hampir selalu sepi. 

Aku sudah terbiasa menjadi orang yang tidak diperhatikan. 

Anehnya, itu terasa lebih aman daripada diperhatikan dengan cara yang salah. 

Tahun kedua SMP justru menjadi masa yang paling berat. 

Entah kenapa, setelah ujian semester satu, aku mulai lebih sering menjadi sasaran buly. 

Kadang karena cara bicaraku. 

Kadang karena cara jalanku. 

Kadang sesederhana pertanyaan seperti, 

"Sendirian lagi?" 

Biasanya mereka tertawa setelahnya. 

Aku cuma pura-pura tidak dengar. 

Pernah suatu kali seseorang menirukan cara bicaraku di depan beberapa anak lain. Aku tahu mereka sedang menertawakanku. Semua orang juga tahu. 

Tapi aku tetap menunduk dan pura-pura membaca. 

Diam terasa lebih mudah daripada mencoba membalas lalu mempermalukan diri sendiri. 

Jadi, seperti biasa, saat jam istirahat aku pergi ke perpustakaan sambil membawa bekal. 

Hanya saja, hari itu aku tidak sendirian. 

Seorang anak perempuan dari kelasku duduk di kursi seberang tanpa basa-basi. 

Aku mengenalnya. 

Semua orang mengenalnya. 

Aiko. 

Dia termasuk anak yang gampang dikenali di angkatan kami pintar, populer, dan hampir selalu dikelilingi teman. 

Aku tidak pernah benar-benar bicara dengannya sebelumnya. 

"Kamu suka baca buku apa?" 

Aku mengangkat kepala. 

Butuh beberapa detik sebelum aku sadar pertanyaan itu memang ditujukan kepadaku. 

"Novel." 

"Novel apa?" 

"...Banyak." 

Dia terdiam. 

Aku sempat mengira dia bakal pergi karena jawabanku terlalu pendek. 

Tapi dia hanya mengangguk. 

"Oh." 

Lalu, seolah jawaban satu kata dariku sudah cukup, dia mulai bercerita tentang buku yang sedang dibacanya. 

Awalnya aku cuma makan sambil mendengarkan. 

Dia bicara cukup banyak. Kadang melompat dari satu topik ke topik lain tanpa hubungan yang jelas. 

Dari novel, pindah ke guru matematika, lalu ke makanan kantin, lalu entah bagaimana sampai ke acara televisi yang dia tonton semalam. 

Aku tidak tahu kenapa dia menceritakan semua itu kepadaku. 

Aku juga tidak tahu kenapa aku tetap mendengarkan. 

Sebelum bel masuk berbunyi, dia berdiri dan merapikan tasnya. 

"Oh iya." 

Dia menatapku. 

"Kalau kamu nggak mau terus dibully, berubah." 

Aku mengernyit. 

"Berubah?" 

"Iya. Kamu terlalu diem." 

Aku tidak tahu harus menjawab apa. 

Dia mengangkat bahu. 

"Pokoknya kalau kamu nggak mau dibully, berubahlah. Buktikan kalau penilaian mereka salah." 

Setelah itu dia pergi begitu saja. 

Aku masih duduk di sana beberapa detik. 

Kalimatnya terdengar sederhana. 

Tapi buat seseorang yang sudah dua tahun memilih diam karena merasa itu lebih aman, kalimat itu terdengar seperti tantangan. 

Hari berikutnya, Aiko datang lagi. 

Dan hari setelahnya, dia datang lagi. 

Awalnya aku hanya menjawab kalau dia bertanya. 

Dia yang bicara. 

Aku yang mendengarkan. 

Tapi sekarang aku mulai terbiasa dengan keberadaannya. 

Kalau sebelumnya aku selalu berharap perpustakaan tetap sepi, sekarang aku mulai menyadari satu hal kecil. 

Aku tidak keberatan kalau ada satu orang di sana. 

Minggu berganti minggu. 

Kami mulai bicara soal buku, lalu film, lalu hal-hal random yang sebenarnya tidak penting. 

Kadang kami bisa menghabiskan hampir seluruh jam istirahat hanya untuk berdebat soal sesuatu yang lima menit kemudian bahkan sudah kami lupa. 

Aku masih lebih banyak diam. 

Tapi tidak lagi karena takut. 

Setidaknya, tidak selalu. 

Suatu hari, tanpa terlalu memikirkannya, aku bertanya lebih dulu. 

"Kamu kemarin baca sampai halaman berapa?" 

Aiko yang sedang membuka bekalnya berhenti. 

Dia menatapku. 

"Eh?" 

Aku langsung merasa sedikit salah tingkah. 

"Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa." 

Dia malah tersenyum. 

"Eh, akhirnya kamu nanya duluan." 

Aku pura-pura tidak peduli. 

"Ya cuma nanya." 

"Ya aku jawab, lah." 

Begitulah semuanya dimulai. 

Sekitar dua bulan kemudian, aku baru sadar satu hal. 

Aku sudah tidak lagi menunggu bel istirahat supaya bisa pergi ke perpustakaan. 

Aku menunggu Aiko datang.

Dan mungkin karena itu juga, aku mulai berubah. 

Aku mulai bicara lebih banyak di kelas. 

Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat beberapa orang sadar bahwa aku ternyata bisa diajak ngobrol. 

Beberapa teman Aiko juga mulai menyapaku ketika berpapasan. 

Aku masih belum tahu harus menjawab apa kalau mereka mengajakku bicara, tapi setidaknya sekarang aku tidak langsung menghindar. 

Aku bahkan mulai punya keberanian untuk menjawab ketika seseorang meledekku. 

Sayangnya, keberanian pertama tidak selalu menghasilkan sesuatu yang bagus. 

Suatu hari, salah satu anak di kelas kembali meledekku di depan teman-temannya. 

Biasanya aku akan diam. 

Hari itu berbeda. 

Aku menarik napas dan mencoba membalas. 

Kalimatnya keluar berantakan. 

Nadanya salah. 

Waktunya juga salah. 

Sesuatu yang seharusnya terdengar seperti pembelaan malah terdengar seperti lelucon. 

Satu kelas tertawa. 

Lebih keras dari biasanya. 

Aku tidak ingat bagaimana tepatnya aku kembali duduk. 

Aku cuma ingat menatap meja sampai bel pulang berbunyi. 

Hari itu aku tidak pergi ke perpustakaan. 

Aku langsung pulang. 

Sepanjang perjalanan, satu pikiran terus berputar di kepalaku. 

Ternyata berubah nggak semudah yang kukira. 

Besoknya, aku tetap pergi ke perpustakaan. 

Entah karena sudah menjadi kebiasaan atau karena aku tahu Aiko mungkin ada di sana. 

Dia memang ada. 

Begitu melihatku, dia langsung tahu ada sesuatu yang salah. 

"Kamu kenapa?" 

Aku duduk di kursi seberangnya. 

"Kemarin aku coba melawan." 

"Oh." 

"Aku malah bikin semua orang ketawa." 

Aiko tidak langsung menjawab. 

Aku menunduk. 

"Aku pikir kalau aku berubah, semuanya bakal jadi lebih gampang." 

Dia diam beberapa detik. 

Lalu berkata, 

"Kamu nggak harus menang setiap kali mencoba." 

Aku mengangkat kepala. 

"Hah?" 

"Kamu baru pertama kali berani ngomong. Kalau hasilnya jelek, ya sudah." 

"Tapi aku malu." 

"Ya wajar." 

Dia menyandarkan punggung ke kursi. 

"Kalau setiap kali gagal kamu langsung berhenti, kapan kamu bakal bisa?" 

Aku tidak menjawab. 

Untuk beberapa saat, kami hanya diam. 

Tapi kali ini aku tidak merasa perlu pergi. 

Entah kenapa, kalimatnya lebih menenangkan daripada nasihat apa pun yang pernah kudengar. 

Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menyuruhku menjadi lebih kuat. 

Dia cuma bilang bahwa gagal itu tidak apa-apa. 

Dan untuk seseorang yang selama dua tahun memilih diam karena takut salah, mungkin itu yang paling kubutuhkan. 

Aku menatap buku di atas meja. 

Lalu menatap Aiko. 

"Besok datang lagi?" 

Dia terlihat sedikit terkejut. 

Kemudian tersenyum. 

"Kalau kamu masih di sini, aku akan datang." 

Aku mengangguk. 

"Ya." 

Bel masuk berbunyi. 

Kami sama-sama berdiri. 

Untuk pertama kalinya, aku meninggalkan perpustakaan bukan karena jam istirahat sudah selesai. 

Aku meninggalkannya sambil tahu bahwa besok aku akan kembali lagi. 

Dan mungkin, untuk pertama kalinya juga, aku tidak keberatan kalau ada seseorang yang menungguku di sana.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.