Bab 1Mi Instan dan Perang Komentar

10 menit baca•1.9rb kata

Luma

Hujan di Bandung selalu punya dua kemampuan luar biasa: membuat orang ingin tidur lebih cepat atau membuat orang mempertanyakan seluruh pilihan hidupnya.

Malam itu, aku sedang berada di pilihan kedua.

Jarum jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul 20.37. Sudah hampir dua jam aku menatap desain poster untuk sebuah kedai kopi baru yang, menurut klienku, harus terlihat "mewah, sederhana, ramai, tapi tetap minimalis."

Aku mengusap wajah pelan.

Di meja kerjaku ada dua gelas kopi dingin, sebungkus keripik yang tinggal remah-remah, tiga kabel charger yang entah milik siapa, dan secarik kertas bertuliskan daftar revisi.

Aku membaca pesan terbaru dari klien untuk ketujuh kalinya.

"Mas, desainnya bagus, tapi kurang elegan. Tolong dibuat lebih modern, tapi jangan terlalu modern. Kurang ramai, tapi jangan terlalu sepi."

Aku mendongak ke langit-langit kamar kos.

"Pak, Bapak sebenarnya mau bikin poster atau teka-teki?"

Tentu saja tidak ada yang menjawab. Bahkan cicak di dinding pun memilih diam.

Kamar kosku tidak terlalu besar. Kasur berada di pojok kanan, meja kerja di dekat jendela, dan lemari pakaian yang lebih sering kugunakan untuk menyimpan kardus bekas daripada pakaian.

Di luar, hujan turun semakin deras. Suara air yang menghantam genting bercampur dengan musik lo-fi yang sejak tadi mengalun dari laptop.

Aku merebahkan diri ke kursi.

"Kalau begini terus, umur tiga puluh aku sudah botak."

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Raka menelepon.

Aku mengangkat telepon itu sambil memutar kursi.

"Kenapa?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Astaga, nada bicara lu kayak debt collector."

"Gue lagi revisi."

"Masih revisi klien kopi itu?"

"Iya."

Raka tertawa di seberang sana.

"Gimana revisinya?"

Aku menarik napas panjang.

"Katanya desainnya kurang elegan, tapi jangan terlalu elegan."

Hening dua detik.

"Lah, maksudnya apa?"

"Itu juga yang pengin gue tanyain."

Raka tertawa keras sampai suaranya pecah.

"Lu tahu nggak? Kadang gue mikir, klien-klien lu itu sebenarnya bukan butuh desainer."

"Terus?"

"Mereka butuh cenayang."

Aku mengangguk pelan.

"Masuk akal."

"Ngomong-ngomong, lu udah makan belum?"

Aku melirik jam.

Belum.

Perutku bahkan baru saja mengeluarkan suara yang terdengar seperti protes dari serikat pekerja.

"Belum."

"Masak."

"Males."

"Pesen online."

"Dompet gue lagi ikut puasa."

Raka tertawa lagi.

"Lalu malam ini lu mau makan apa?"

Aku membuka lemari kecil di bawah meja. Di dalamnya ada tiga bungkus mi instan rasa ayam bawang.

Aku mengangkat salah satunya.

"Mi instan."

"Doang?"

Aku berpikir sebentar.

"Nggak."

"Nambah telur?"

"Nggak."

"Nambah sosis?"

"Nggak."

"Nambah apa?"

Aku tersenyum tipis.

"Pakai nasi."

Hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lalu suara Raka terdengar sangat pelan.

"Lu sadar nggak, itu karbohidrat ketemu karbohidrat?"

"Persahabatan kita juga manusia ketemu manusia. Kenapa nggak dipermasalahkan?"

"Logika macam apa itu?"

"Logika orang lapar."

Raka mendecak.

"Serius, Lum. Suatu hari dokter bakal nulis jurnal tentang kebiasaan makan lu."

"Bagus. Setidaknya gue berkontribusi buat dunia pendidikan."

"Gue nyesel nelpon."

Aku tertawa kecil.

Jujur saja, salah satu alasan aku masih waras menjalani hidup sebagai freelancer adalah karena Raka. Kami berteman sejak kuliah. Dia fotografer freelance yang merasa dirinya pakar percintaan, padahal sampai sekarang belum pernah pacaran.

"Kopi lu masih ada?" tanyanya.

"Masih."

"Dingin?"

"Sedingin chat mantan lu."

"Brengsek."

Aku tertawa puas.

Di luar, hujan semakin deras. Udara dingin mulai masuk dari celah jendela yang belum kututup rapat.

"Oke, gue masak dulu."

"Masak yang bener."

"Mi instan pakai nasi itu masakan yang bener."

"Kalau nanti ketemu jodoh gara-gara mi instan, kabarin gue."

"Siap, Chef."

Telepon ditutup.

Aku melempar ponsel ke kasur, lalu berjalan ke dapur kecil di ujung lorong kos.

Dapur itu bahkan terlalu sederhana untuk disebut dapur. Hanya ada kompor gas, wastafel, dan rak plastik yang dipenuhi panci.

Aku menyalakan kompor, menuangkan air ke panci, lalu menunggu sambil bersandar ke dinding.

Di saat-saat seperti ini, hidup terasa aneh.

Pagi sampai sore berkutat dengan desain.

Malam ditemani hujan.

Lalu makan mi instan sambil berharap klien tiba-tiba sadar bahwa revisinya tidak masuk akal.

Air mulai mendidih.

Aku memasukkan mi, bumbu, dan—tentu saja—nasi yang tadi kupanaskan.

Sepuluh menit kemudian, semangkuk mi instan lengkap dengan nasi putih tersaji di atas meja.

Jujur, tampilannya memang tidak terlalu meyakinkan.

Tapi baunya luar biasa.

Aku mengambil ponsel.

Entah kenapa, malam itu aku merasa makanan ini pantas diabadikan.

Aku memotret mangkuk dari berbagai sudut.

Dari atas.

Dari samping.

Dari sudut empat puluh lima derajat.

Setelah lima belas foto, aku sadar bahwa aku sedang memotret mi instan seolah-olah itu makanan bintang lima.

"Ya ampun, Lum. Lu kesepian banget."

Aku memilih satu foto terbaik, membuka Instagram, lalu mulai mengetik caption.

Setelah berpikir selama hampir satu menit, akhirnya kutulis:

"Mi instan tanpa nasi itu cuma camilan."

Aku membaca ulang caption itu.

Sangat filosofis.

Atau sangat bodoh.

Aku belum yakin.

Tanpa pikir panjang, aku menekan tombol unggah.

"Semoga tidak ada ahli gizi yang lihat."

Aku meletakkan ponsel di meja dan mulai makan.

Suara hujan, aroma mi instan, dan udara dingin membuat malam terasa jauh lebih tenang.

Sampai tiga menit kemudian, ponselku bergetar.

Sebuah notifikasi muncul di layar.

@nalaaa mengomentari postingan Anda.

Aku membuka notifikasi itu tanpa curiga.

Lalu membaca komentarnya.

"Karbohidrat ketemu karbohidrat. Besok jangan lupa makan piringnya juga."

Aku terdiam selama dua detik.

Kemudian tertawa sampai hampir tersedak mi.

"Siapa, sih, orang ini?"

Aku belum tahu bahwa komentar receh itu akan mengubah banyak hal dalam hidupku.

Aku menatap layar ponsel sambil mengunyah mi.

Komentar itu masih terpampang jelas.

@nalaaa: "Karbohidrat ketemu karbohidrat. Besok jangan lupa makan piringnya juga."

Aku terkekeh sendiri.

Orang-orang di internet memang aneh. Tapi yang satu ini level anehnya lumayan menghibur.

Jariku mulai mengetik balasan.

@luma.design: "Kalau lapar, piring juga kelihatan enak."

Aku menekan tombol kirim, lalu kembali makan.

Satu suapan.

Dua suapan.

Belum sempat suapan ketiga masuk ke mulut, notifikasi lain muncul.

Cepat sekali.

@nalaaa: "Saya doakan metabolisme Anda kuat."

Aku tertawa kecil.

Entah kenapa, perempuan ini terdengar seperti guru biologi yang sedang frustrasi melihat muridnya.

Aku membalas lagi.

@luma.design: "Terima kasih atas doanya. Saya juga doakan semoga Anda tidak pusing memikirkan makan malam orang lain."

Tiga puluh detik berlalu.

Balasan baru muncul.

@nalaaa: "Saya tidak pusing. Saya hanya prihatin."

Aku menyandarkan punggung ke kursi.

"Wah, lumayan juga."

Biasanya, komentar di Instagram-ku hanya berisi teman-teman lama yang menulis, "Mantap, bro," atau "Kapan traktir?"

Tapi malam ini, seorang perempuan asing mendadak mengkritik pola makanku seperti petugas penyuluhan kesehatan.

Ponselku kembali berbunyi.

Masih dari Raka.

Raka mengirim pesan.

Raka: Siapa cewek yang debat sama lu?

Aku mengernyit.

Aku: Mana gue tahu.

Raka: Lumayan lucu.

Aku: Lu baru bilang pola makan gue berbahaya lima belas menit lalu.

Raka: Fokus gue sekarang bukan mi lu.

Aku: Terus?

Raka: Ceweknya.

Aku mendengus pelan.

Aku: Lu naksir sama foto profil bulat ukuran dua sentimeter?

Raka: Jangan remehkan insting laki-laki.

Aku: Insting lu aja belum pernah berhasil bikin lu punya pacar.

Butuh waktu hampir satu menit sampai Raka membalas.

Raka: Oke, itu jahat.

Aku tersenyum puas.

Di kolom komentar, perang kecil itu ternyata mulai menarik perhatian orang lain.

Seseorang menulis:

"Tim mi pakai nasi hadir!"

Yang lain membalas:

"Tim kesehatan ikut mengawasi."

Ada juga yang berkomentar:

"Kalian debat, saya jadi lapar."

Aku tertawa membaca komentar terakhir.

Lalu, komentar baru dari Nala muncul lagi.

@nalaaa: "Saya penasaran, sejak kapan mi instan dianggap lauk?"

Aku langsung mengetik.

@luma.design: "Sejak dompet saya tipis."

Balasan datang hampir seketika.

@nalaaa: "Jujur sekali."

@luma.design: "Kejujuran adalah kunci."

@nalaaa: "Kunci menuju diabetes?"

Aku spontan tertawa keras sampai seorang penghuni kos dari kamar sebelah mengetuk tembok.

"Maaf!" teriakku.

Aku melihat mangkuk mi yang kini hampir kosong.

Aneh.

Biasanya, makan malamku hanya ditemani suara hujan dan video acak di internet. Tapi malam ini, aku malah sibuk berdebat dengan orang asing tentang nasi.

Aku membuka profilnya.

Foto profilnya hanya gambar langit jingga.

Tidak ada foto wajah.

Tidak ada bio yang aneh.

Hanya tulisan sederhana:

"Penikmat kopi, langit sore, dan diskon akhir bulan."

Aku mengangguk pelan.

"Oke, setidaknya dia manusia normal."

Aku mulai menggulir unggahannya.

Foto langit.

Foto kopi.

Foto kucing tidur.

Foto matahari terbenam.

Lalu foto secangkir kopi dengan caption:

"Kadang yang pahit bukan kopinya, tapi hari Senin."

Aku tertawa kecil.

"Lucu juga."

Aku berhenti sejenak.

Tunggu.

Kenapa aku memuji orang yang baru saja menghina makan malamku selama setengah jam?

Aku buru-buru menutup profilnya.

Lalu membukanya lagi lima detik kemudian.

"Ya ampun, Lum. Lu kenapa?"

Ponselku kembali berbunyi.

Bukan komentar.

Bukan pesan dari Raka.

Sebuah notifikasi baru muncul di bagian atas layar.

@nalaaa menyukai balasan Anda.

Aku menatap notifikasi itu selama beberapa detik.

Lalu, tanpa alasan yang jelas, aku tersenyum.

Di luar, hujan masih turun.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku sama sekali tidak memikirkan revisi klien.

Aku meletakkan mangkuk kosong ke wastafel kecil di samping meja. Hujan di luar masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Biasanya, setelah makan malam, rutinitasku sederhana: mencuci piring, mematikan laptop, lalu tidur sambil memikirkan tagihan bulan depan.

Tapi malam ini berbeda.

Pikiranku malah sibuk memikirkan seorang perempuan asing yang baru kukenal empat puluh menit lalu.

Aku membuka Instagram lagi.

Kolom komentar di postinganku kini sudah dipenuhi puluhan balasan.

Ada yang membelaku.

Ada yang membela Nala.

Ada juga yang sepertinya hanya lewat untuk mencari hiburan gratis.

"Saya tim mi pakai nasi sejak lahir!"

"Kalian semua salah. Mi pakai lontong lebih superior."

"Ini debat paling penting yang pernah saya lihat tahun ini."

Aku tertawa pelan.

Kalau dipikir-pikir, internet memang tempat yang aneh. Orang-orang yang tidak saling kenal bisa berdebat setengah mati tentang makanan, lalu besok paginya kembali menjalani hidup seperti biasa.

Jariku berhenti di satu komentar terbaru.

Dari Nala.

@nalaaa: "Saya menyerah. Semoga Anda panjang umur."

Aku tersenyum sendiri.

Tanpa berpikir panjang, aku membalas:

@luma.design: "Terima kasih. Kalau umur saya panjang, mungkin suatu hari saya bisa meyakinkan Anda bahwa mi pakai nasi itu normal."

Butuh beberapa detik sampai balasan itu mendapatkan tanda suka.

Dari Nala.

Aneh.

Padahal aku bahkan belum pernah melihat wajahnya.

Belum pernah mendengar suaranya.

Bahkan aku tidak tahu dia tinggal di kota mana.

Tapi malam ini, aku malah berharap notifikasi darinya muncul lagi.

Aku membuka profilnya untuk kedua kalinya.

Lalu ketiga kalinya.

Lalu, entah untuk yang keberapa kalinya.

Aku memperbesar foto profilnya, berharap bisa menemukan petunjuk tentang siapa sebenarnya perempuan ini.

Sayangnya, yang kulihat hanya langit jingga dan siluet awan.

"Foto profil macam apa, sih?" gumamku.

Aku membaca ulang biodatanya.

"Penikmat kopi, langit sore, dan diskon akhir bulan."

Bagian "diskon akhir bulan" membuatku tertawa.

"Minimal dia realistis."

Aku menggulir unggahan paling lama.

Ada foto kucing yang tidur di atas laptop.

Ada foto secangkir kopi di pinggir jendela.

Ada video hujan dari balik kaca mobil.

Dan entah kenapa, semuanya terasa... nyaman.

Ponselku kembali bergetar.

Refleks, aku langsung membukanya.

Ternyata Raka.

Raka: Jadi, gimana?

Aku: Gimana apanya?

Raka: Cewek mi instan.

Aku: Namanya juga belum tahu.

Raka: Akun Instagram-nya ada namanya, kan?

Aku: Nala.

Raka: Nah, bagus.

Aku: Bagus dari mana?

Raka: Dari namanya.

Aku: Lu bisa menilai orang dari nama?

Raka: Nggak.

Aku: Terus?

Raka: Gue cuma mau kelihatan bijak.

Aku menggeleng sambil tertawa.

Aku: Tidur sana.

Raka: Satu pertanyaan terakhir.

Aku: Apa?

Raka: Lu senyum-senyum sendiri nggak sekarang?

Aku terdiam.

Lalu melirik bayanganku di jendela.

Sial.

Aku memang sedang tersenyum.

Belum sempat membalas pesan Raka, sebuah notifikasi baru muncul di bagian atas layar.

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

@nalaaa mulai mengikuti Anda.

Aku berkedip beberapa kali, memastikan bahwa aku tidak salah baca.

Perempuan yang selama satu jam terakhir mengejek makan malamku...

Baru saja mengikuti akunku.

Tanganku menggantung di atas tombol "ikuti balik".

Aku bahkan belum tahu apa pun tentang dirinya.

Aku tidak tahu film favoritnya.

Aku tidak tahu kopi favoritnya.

Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang memasukkan susu sebelum sereal atau sebaliknya.

Yang kutahu hanya satu.

Perempuan itu baru saja menghabiskan malam Mingguku dengan memperdebatkan semangkuk mi instan.

Dan entah kenapa, aku tidak keberatan.

Dengan senyum kecil, aku menekan tombol ikuti balik.

Di luar, hujan masih turun membasahi kota Bandung.

Sementara di layar ponselku, sebuah pertemanan yang aneh baru saja dimulai.

Aku belum tahu siapa dia.

Tapi malam itu, di tengah hujan dan semangkuk mi instan, untuk pertama kalinya, orang asing terasa begitu dekat.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.