Bab 1Cinta Pertama
Cinta pertamaku terjadi saat aku berumur dua belas tahun. Benar, saat kali pertama aku mengenalnya di bangku SMP. Kulit putih, badan tinggi, senyuman menawan, dan gerak-geriknya menyenangkan untuk diperhatikan. Dia menarik. Dia mempesona. Dia Putu Arson Pandyika Sena. Wakil ketua kelas.
Sejak kapan aku menyadari aku menyukainya? Aku tidak ingat. Mungkin saat pertama kali dia memperkenalkan diri atau saat sahabatku bertanya, "Siapa cowok yang kamu suka di kelas?"
Siang itu kami berjalan beriringan setelah jam pulang sekolah. Lana bertanya bukan sekedar ingin berbasa-basi atau punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dia bertanya untuk bertukar rahasia denganku.
"Aku suka Saga, suka sama Dion juga," katanya.
"Saga gausah ditanya. Dia top tier. Tapi lebih suka Dion, dia tinggi, kayak wah, kayak berwibawa gitu," lanjutnya memberi penjelasan.
Aku setuju. Dion yang paling tinggi di kelas. Lalu Saga memang baik dan manis. Dia punya pembawaan positif yang membuat siapapun nyaman di dekatnya.
"Aku suka Arson."
"Arson?" Lana memberikan ekspresi wajah yang aneh. Aku ingin tertawa setiap mengingat wajah itu.
"Gak salah sih, dia ganteng. Tapi jahil banget. Suka banget gangguin di kelas." Lana benar, dia memang jahil. Itulah yang membuatku semakin tertarik. Sebagai anak yang pendiam, aku merasa dia akan menyeimbangkan energiku yang tidak seberapa. Aku tahu sikap jahilnya merata, tetapi aku malah menikmatinya secara berlebihan.
"Tapi lucu," ujarku gemas.
Cuaca hari itu terik dan cerah. Seperti hari biasa trotoar dipenuhi oleh siswa siswi berseragam putih biru yang baru saja berhamburan keluar dari gerbang sekolah.
Hari itu aku merasa semuanya akan baik-baik saja. Aku merasa masa SMP-ku akan menyenangkan.
"Kenapa gak coba nulis surat cinta aja buat dia?"
"Buat Arson?" Lana mengangguk.
"Dia kan dekat Saga, siapa tau aku kecipratan deket Saga."
"Katanya lebih suka Dion." Lana menyenggol lenganku. Dia menaikkan alisnya dan tersenyum.
Meski kemungkinan tujuan Lana terwujud sangat tipis, aku akhirnya melaksanakan saran surat cinta itu. Tentu untuk kepentinganku. Namun nama Lana aku cantumkan, hanya sebagai perantara. Aku tidak ingin dia tahu, tapi setidaknya aku ingin dia punya hint siapa diriku. Siapa tau juga melalui ini Lana memang bisa dekat dengan Saga.
Alasannya konyol, terdengar aneh dan kekanakan. Faktanya saat itu aku memang dua belas tahun. Bahkan isinya lebih dari membuat kening berkerut menahan malu.
Sudah hampir tengah malam. Aku menyelipkan kertas binder berwarna merah dengan bingkai bunga ke dalam buku pelajaran yang akan aku bawa besok.
Semoga Arson menyukainya.