Bab 1Bab 1 Foto Bayi di Ponsel Suamiku

7 menit baca•1.5rb kata

Hujan turun deras sejak magrib.

Aku, Monalisa, berdiri di dapur sambil mengelap piring yang baru kucuci. Tangan kananku pegang lap, tangan kiriku pegang ponsel. Di layar itu, ada pesan dari grup arisan ibu-ibu yang isinya cuma promosi baju anak dan ajakan kumpul.

Biasa.

Hidupku juga biasa.

Terlalu biasa.

“Mona!” suara Bayu teriak dari kamar. “Mana chargerku?!”

“Di meja nakas, Mas!” jawabku tanpa menoleh.

“Nggak ada!”

Aku menghela napas. Sudah tujuh tahun menikah, tapi suamiku masih suka ngamuk karena charger yang dia taruh sendiri.

Aku meletakkan piring, mengelap tangan, lalu berjalan ke kamar.

Bayu duduk di tepi kasur, setengah bugil, hanya pakai celana dalam. Rambutnya berantakan. Dia sedang buru-buru memakai kemeja.

“Mau ke mana, Mas?” tanyaku.

“Rapat.”

“Malam-malam?”

“Rapat bisa aja malam, Mona. Kamu nggak ngerti kerjaan aku.”

Aku diam.

Kalau aku bantah, nanti dia bilang aku banyak tanya. Kalau aku diam, dia bilang aku nggak peduli. Sudah begitulah aturan mainnya selama tujuh tahun.

Aku mengambil charger di bawah meja, lalu menyodorkannya.

“Nih.”

Bayu menyambar tanpa bilang terima kasih.

“Besok setrikan kemeja biru. Jangan lupa.”

“Iya.”

“Dan jangan lupa bayar listrik. Aku nggak sempat.”

“Iya, Mas.”

Dia berdiri, menyemprot parfum, lalu menatapku dari atas ke bawah.

“Kamu kenapa? Muka kamu kok begitu?”

Aku tersenyum tipis. “Nggak apa-apa.”

“Jangan ngambek. Besok aku bawain kamu martabak.”

Aku mengangguk.

Martabak.

Seperti itu saja masalah tujuh tahun pernikahan kami bisa selesai.

Bayu mencium pipiku sekilas, lalu pergi.

Pintu rumah tertutup.

Mobilnya keluar dari halaman.

Aku berdiri di ruang tamu, menatap pintu itu lama.

Lalu ponsel di meja nakas berdering.

Bukan ponselku.

Ponsel Bayu.

Aku mau mengabaikannya. Tapi layarnya terus menyala. Notifikasi WhatsApp muncul satu, dua, tiga kali.

Aku mendekat.

Bukan niatku mengintip.

Sumpah.

Tapi nama di layar itu membuat tanganku beku.

Nadia.

Aku menatap nama itu.

Nadia? Sahabat kuliahku? Wanita yang dulu jadi bridesmaid di pernikahanku?

Aku mengambil ponsel itu.

Layar terkunci.

Aku menaruh lagi.

Tapi pesan berikutnya muncul.

Nadia: Bayi kita sudah tidur. Kamu kapan pulang?

Dunia seperti berhenti.

Bayi?

Bayi kita?

Aku menatap kalimat itu sampai huruf-hurufnya terasa berputar di kepalaku.

Tanganku gemetar.

Aku mencoba membuka ponsel Bayu. PIN-nya tanggal lahirku.

Masa lalu Bayu masih sayang aku, mungkin.

Ponsel terbuka.

Aku langsung membuka WhatsApp.

Chat dengan Nadia terbuka.

Pesan-pesan itu muncul satu per satu.

Nadia: Arka kangen ayahnya.

Bayu: Nanti aku ke sana.

Nadia: Jangan lupa susu. Arka nggak mau yang lain.

Bayu: Iya, Sayang.

Sayang.

Dia menyebut wanita lain Sayang.

Aku membuka galeri.

Foto-foto muncul.

Foto makanan.

Foto proyek.

Foto kantor.

Lalu…

Foto bayi.

Bayi laki-laki, sekitar enam bulan. Tidur di kasur putih, memakai baju biru muda.

Di sampingnya, ada tangan Bayu.

Aku menggulir ke bawah.

Ada foto lagi.

Nadia menggendong bayi itu.

Bayu mencium pipi bayi.

Bayu tersenyum.

Senyum yang dulu sering dia berikan padaku, waktu kami masih pacaran.

Aku merasa seperti ditampar.

Bukan sekali.

Tapi berkali-kali.

“Ini… anak siapa?” bisikku.

Suaraku pecah.

Aku menatap foto itu lagi. Hidung bayi itu mirip Bayu. Alisnya juga. Bahkan caranya mengatupkan bibir saat tidur, sama seperti Bayu.

Aku duduk terduduk di lantai kamar.

Ponsel itu masih di tanganku.

Hujan di luar makin deras.

Petir menyambar, membuat jendela bergetar.

Tapi tidak ada yang lebih bergetar daripada hatiku.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun aku melayani pria ini.

Tujuh tahun aku menahan diri, memaafkan, berkorban.

Dan ternyata…

Dia punya keluarga lain.

Aku menangis tanpa suara.

Air mata jatuh ke layar ponsel.

Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari depan rumah.

Aku langsung bangun.

Bayu pulang?

Baru sepuluh menit dia pergi!

Aku buru-buru menaruh ponsel di tempat semula. Aku mengusap air mata, menarik napas, lalu berjalan keluar kamar.

Pintu terbuka.

Bayu masuk dengan wajah panik.

Dia menatapku.

Lalu menatap ponselnya di kamar.

“Mona…” suaranya serak. “Kamu… pegang HP aku?”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku tidak takut.

Aku hanya bertanya satu hal.

“Siapa anak itu, Bayu?”

Bayu terdiam.

Hujan masih turun.

Dan di malam itu, pernikahanku mulai retak.

Bayu tidak menjawab.

Dia hanya berdiri di depan pintu, basah kuyup karena hujan, dengan wajah pucat seperti orang yang baru saja ditabrak truk.

“Bayu,” panggilku. “Aku tanya. Siapa anak itu?”

Dia menelan ludah.

“Mona… kamu salah paham.”

Aku tertawa. Tawa yang pahit, sampai air mataku ikut jatuh.

“Salah paham? Bayu, aku bukan bocah SD. Aku bukan bodoh.”

“Mona, dengar dulu—”

“Anak itu siapa?”

Suaraku naik. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun menikah, aku berani meninggikan suara ke dia.

Bayu menutup pintu. Dia melepas sepatu, lalu berjalan mendekat pelan-pelan, seperti mendekati binatang buas yang siap menggigit.

“Jangan berisik,” katanya. “Nanti tetangga dengar.”

Aku tertawa lagi.

“Sekarang kamu takut tetangga dengar? Padahal kamu berani punya anak di luar nikah?”

“Mona!”

“Jawab aku!” Aku menunjuk arah kamar. “Foto itu siapa? Bayi itu siapa? Nadia itu siapa?!”

Bayu menghela napas panjang. Dia duduk di sofa, menutup wajah dengan kedua tangan.

Lama.

Terlalu lama.

Aku berdiri di depannya, menunggu.

Hujan masih menghantam atap. Suara petir menyambar, membuat jantungku ikut tersentak.

Akhirnya, Bayu mengangkat wajah.

“Anak itu anakku.”

Dada seperti dihantam palu.

Aku mundur satu langkah.

“Anakmu?”

“Iya.”

“Dengan siapa?”

Bayu menatapku, lalu menunduk.

“Nadia.”

Aku merasa lantai di bawah kakiku hilang.

Nadia.

Sahabatku.

Wanita yang pernah memelukku di hari pernikahanku.

Wanita yang pernah bilang, “Mona, kamu beruntung punya suami kayak Bayu.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Tubuhku gemetar.

“Sejak kapan?” tanyaku pelan.

Bayu diam.

“SEJAK KAPAN?!” teriakku.

“Dua tahun,” jawabnya cepat. “Dua tahun yang lalu.”

Dua tahun.

Aku teringat waktu itu.

Waktu ibuku sakit dan aku hampir tiap hari di rumah sakit.

Waktu Bayu bilang dia sibuk kerja.

Waktu dia pulang tengah malam dengan alasan rapat.

Waktu aku curiga, tapi dia bilang aku paranoid.

Aku menatap suamiku.

“Jadi selama aku sibuk urus ibuku… kamu main sama sahabatku?”

Bayu tidak menjawab.

“Jawab!” teriakku.

“Iya!” dia berdiri. “Iya, Mona! Tapi kamu juga nggak pernah ada buat aku!”

Aku terpaku.

“Maksud kamu apa?”

“Kamu sibuk sama ibumu, sibuk sama toko online, sibuk sama tetangga. Aku pulang, rumah sepi. Kamu nggak pernah tanya aku capek atau nggak.”

Aku menatapnya dengan tidak percaya.

“Jadi salahku?”

“Bukan begitu—”

“Jadi salahku kamu selingkuh?!”

“Mona, jangan teriak!”

“Kenapa? Takut ketahuan?”

Bayu menghampiriku. Wajahnya merah. Tangannya mengangkat, seperti mau memukul.

Aku tidak mundur.

Aku menatap matanya.

“Ayuh,” bisikku. “Pukul. Biar semua orang tahu suamiku bukan cuma pengkhianat, tapi juga pengecut.”

Tangan Bayu berhenti di udara.

Dia menurunkannya perlahan.

“Kamu nggak ngerti,” katanya lelah. “Nadia ngerti aku.”

Aku tertawa pahit.

“Nadia ngerti kamu? Nadia yang jadi pelakor di rumah tanggaku?”

“Jangan sebut dia begitu!”

“Kenapa? Sakit? Kamu sayang dia?”

Bayu terdiam.

Dan diamnya itu menjawab semuanya.

Aku merasa seperti dibakar dari dalam.

“Anak itu berumur berapa?” tanyaku.

“Enam bulan.”

“Enam bulan…”

Aku menghitung dalam kepala.

Kalau anak itu enam bulan, artinya Bayu menghamili Nadia sekitar setahun yang lalu.

Setahun yang lalu…

Aku teringat malam ulang tahun pernikahan kami.

Bayu memberiku bunga.

Dia bilang, “Mona, maaf ya kalau aku sering nggak ada. Tapi aku janji, aku nggak akan tinggalin kamu.”

Aku menangis malam itu.

Karena bahagia.

Sekarang aku tahu, dia bilang begitu sambil menunggu anaknya lahir dari wanita lain.

Aku menatap Bayu.

“Kamu janji nggak akan tinggalin aku.”

Bayu menunduk.

“Tapi kamu sudah tinggalin aku sejak dua tahun lalu, kan?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengusap air mata dengan kasar.

“Oke,” kataku. “Aku ngerti.”

Bayu mendongak. “Mona—”

“Aku ngerti sekarang. Kamu nggak pernah sayang aku. Kamu cuma butuh pembantu. Butuh orang yang masak, nyuci, ngepel, dan diam waktu kamu pulang pagi.”

“Bukan begitu.”

“Terus apa?”

Bayu menghela napas. “Mona, aku nggak mau cerai. Aku masih sayang kamu.”

Aku tertawa.

Kali ini tawaku lebih keras.

“Sayang? Kamu bilang sayang sambil punya anak sama sahabatku?”

“Mona, dengar—”

“Bayu,” potongku. “Kalau kamu sayang aku, kamu nggak akan selingkuh. Kalau kamu sayang aku, kamu nggak akan sembunyiin anak dari wanita lain. Kalau kamu sayang aku, kamu nggak akan bilang aku cuma istri rumahan yang nggak ngerti apa-apa.”

Bayu terdiam.

Aku menarik napas.

“Malam ini aku mau tidur di kamar tamu.”

“Mona—”

“Jangan dekati aku.”

Aku berjalan ke kamar tamu.

Bayu mengejar.

“Mona, kita bisa bahas ini.”

Aku berbalik.

“Tidak. Malam ini aku nggak mau dengar alasanmu.”

“Kalau kamu cerai, kamu dapat apa? Kamu nggak punya apa-apa.”

Kalimat itu seperti pisau.

Aku menatapnya.

“Kamu pikir aku takut?”

“Kamu nggak punya pekerjaan tetap. Rumah ini atas namaku. Mobil juga atas namaku. Kamu cuma istri di rumah.”

Aku tersenyum.

Senyum yang dingin.

“Berarti kamu sudah siap ya, Bayu?”

“Siap apa?”

“Siap kehilangan aku.”

Bayu terdiam.

Aku masuk kamar tamu dan menutup pintu.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku duduk di lantai, memeluk lutut, menatap ponselku yang mati.

Di kepalaku, foto bayi itu terus muncul.

Bayi itu anak Bayu.

Anak dari Nadia.

Sahabatku.

Aku menggigit bibir sampai hampir berdarah.

“Bayu,” bisikku dalam gelap. “Kamu pikir aku akan diam?”

Aku mengangkat wajah.

Air mata masih ada, tapi matanya sudah berubah.

“Tunggu saja. Aku akan membuat kamu menyesal.”

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.