Bab 1BAB 1 Nama Yang Seharusnya Tidak Ada
Bab 1 — Nama yang Seharusnya Tidak Ada
Genre: Misteri, Balas Dendam, Identitas Rahasia
Pukul sebelas malam, Jakarta masih belum tidur.
Lampu-lampu gedung menjulang seperti bintang buatan manusia. Kendaraan berbaris di jalanan, klakson bersahutan, dan orang-orang bergegas mengejar kehidupan yang seolah tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk berhenti.
Di antara keramaian itu, seorang pemuda berjalan sendirian dengan jaket hitam yang mulai pudar.
Namanya Arga Pradipta.
Usianya dua puluh empat tahun. Ia bukan anak orang kaya, bukan pula seseorang yang dikenal banyak orang. Setiap pagi, ia berangkat bekerja sebagai staf administrasi kontrak di sebuah perusahaan kecil. Setiap malam, ia pulang ke kamar kos sederhana yang bahkan tidak memiliki cukup ruang untuk menyimpan semua barangnya.
Hidupnya biasa saja.
Setidaknya, begitulah yang ia yakini selama ini.
Ponsel di saku celananya bergetar.
Arga mengeluarkannya sambil terus berjalan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Nomor Tidak Dikenal:
Berhenti menggunakan nama itu jika kau masih ingin hidup tenang.
Langkah Arga terhenti.
Ia membaca pesan itu sekali lagi, kemudian mengernyit.
“Nama apa?”
Ia membalas singkat.
Siapa ini?
Pesannya terkirim, tetapi tidak ada jawaban.
Arga hendak memasukkan ponselnya kembali ketika sebuah foto muncul dari nomor yang sama.
Foto itu memperlihatkan seorang bayi yang dibungkus selimut putih. Di samping bayi tersebut berdiri seorang perempuan muda dengan wajah pucat, sementara seorang pria berjas hitam berdiri di belakangnya.
Pada bagian bawah foto terdapat tulisan tangan.
17 Oktober 2002 — Arga Pradipta.
Arga membeku.
Tanggal itu adalah tanggal lahirnya.
Namun, bukan tanggal yang membuatnya terkejut.
Wajah pria di dalam foto itu terasa sangat familiar. Ia pernah melihatnya di televisi, di majalah bisnis, bahkan di papan iklan gedung-gedung besar di Jakarta.
Pria itu adalah Surya Pradipta, pendiri sekaligus pemimpin Pradipta Group, salah satu kelompok perusahaan terbesar di Indonesia.
Arga memperbesar foto tersebut.
Ada sesuatu yang aneh pada wajah pria itu. Bentuk matanya, garis rahangnya, bahkan lekukan kecil di dekat alis kirinya terasa begitu mirip dengan dirinya sendiri.
Arga menelan ludah.
“Ini pasti lelucon.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tetapi tangannya justru semakin erat menggenggam ponsel.
Pesan kedua masuk.
Periksa arsip keluarga Pradipta. Namamu pernah tercatat di sana.
Kemudian pesan ketiga.
Lalu tanyakan kepada Ratih mengapa ia membawamu pergi.
Arga tidak lagi bergerak.
Ratih.
Perempuan yang membesarkannya sejak kecil. Perempuan yang selalu mengatakan bahwa orang tua kandungnya telah meninggal ketika ia masih bayi. Perempuan yang bekerja keras agar Arga bisa bersekolah dan menjalani hidup layak meskipun mereka tidak pernah memiliki banyak uang.
Selama dua puluh empat tahun, Arga tidak pernah meragukan cerita itu.
Ia tidak pernah meminta lebih banyak penjelasan karena baginya, Ratih adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, malam itu, seseorang baru saja melemparkan sebuah pertanyaan yang membuat seluruh hidupnya terasa seperti kebohongan.
Arga mencoba menghubungi nomor tersebut.
Panggilan tidak tersambung.
Ketika ia memeriksa kembali percakapannya, foto bayi itu masih ada. Akan tetapi, pesan-pesan sebelumnya telah menghilang.
Hanya tersisa satu kalimat.
Jangan percaya kepada orang yang paling kau sayangi.
Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Ia tidak tahu siapa pengirim pesan itu. Ia juga tidak tahu alasan seseorang menghubunginya dengan cara seperti ini.
Tetapi satu hal mulai tumbuh di dalam pikirannya.
Ia harus mencari tahu kebenarannya.
Dan ia harus memulainya dari rumah.
Ratih sedang duduk di ruang tengah ketika Arga tiba.
Perempuan berusia lima puluh tahun itu biasanya sudah tidur pada jam seperti ini. Namun, malam itu ia masih terjaga, menonton televisi dengan suara kecil.
“Sudah pulang?” tanyanya.
“Iya, Bu.”
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Arga melepas sepatu, lalu duduk di kursi seberang.
Ia memperhatikan wajah Ratih beberapa saat. Kerutan di sekitar matanya semakin jelas seiring bertambahnya usia. Perempuan itu terlihat lelah, tetapi selalu berusaha menyembunyikannya setiap kali Arga pulang.
Biasanya, pemandangan itu membuat Arga merasa tenang.
Malam ini, justru sebaliknya.
“Bu, aku mau tanya sesuatu.”
Ratih menoleh. “Apa?”
Arga mengeluarkan ponselnya, membuka foto bayi tadi, lalu menyerahkannya kepada Ratih.
“Apa Ibu pernah melihat foto ini?”
Reaksi Ratih terjadi terlalu cepat untuk diabaikan.
Senyumnya lenyap.
Wajahnya kehilangan warna. Tangannya yang memegang ponsel bergetar kecil, sementara matanya terpaku pada foto tersebut seolah-olah ia baru saja melihat seseorang yang seharusnya sudah lama mati.
Arga memperhatikan semuanya.
“Ibu kenal orang di foto itu?”
Ratih segera mengembalikan ponsel tersebut.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Jadi, Ibu mengenalnya?”
“Arga, jawab pertanyaan Ibu!”
Suara Ratih meninggi.
Arga terdiam sesaat. Selama hidupnya, ia hampir tidak pernah mendengar Ratih berbicara dengan nada seperti itu kepadanya.
“Ada nomor tidak dikenal yang mengirimkannya,” jawab Arga. “Dia bilang namaku pernah tercatat di arsip keluarga Pradipta.”
Ratih berdiri.
“Jangan pernah mencari tahu tentang keluarga itu.”
“Kenapa?”
“Karena mereka bukan orang-orang yang seharusnya kamu dekati.”
“Kenapa, Bu?”
“Pokoknya jangan!”
Keheningan memenuhi ruangan.
Arga memandangi perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai tempat paling aman di dunia.
“Ibu bilang orang tua kandungku sudah meninggal.”
Ratih tidak menjawab.
“Kalau memang mereka sudah meninggal, kenapa aku tidak boleh mencari tahu siapa mereka?”
“Karena masa lalu tidak selalu membawa sesuatu yang baik.”
“Itu bukan jawaban.”
Ratih memalingkan wajah.
Arga berdiri perlahan.
“Selama ini aku percaya sama Ibu. Aku tidak pernah menuntut apa pun. Aku juga tidak pernah memaksa Ibu menceritakan sesuatu yang tidak ingin Ibu ceritakan.”
Suaranya mulai bergetar, tetapi ia tetap berusaha berbicara dengan tenang.
“Sekarang aku cuma ingin tahu satu hal. Apa yang sebenarnya terjadi ketika aku masih bayi?”
Mata Ratih berkaca-kaca.
Untuk beberapa detik, Arga mengira perempuan itu akan mengatakan semuanya.
Namun, Ratih hanya menggeleng.
“Lupakan foto itu. Anggap kamu tidak pernah melihatnya.”
“Kalau aku tidak bisa?”
Ratih menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah Arga lihat sebelumnya.
Ketakutan.
Bukan kemarahan. Bukan kebencian.
Ketakutan yang begitu dalam hingga Arga merasa perempuan itu bukan sedang menyembunyikan sebuah rahasia kecil, melainkan sesuatu yang bisa menghancurkan kehidupan mereka.
“Kalau kamu terus mencari tahu,” bisik Ratih, “kamu mungkin akan kehilangan lebih banyak daripada yang bisa kamu bayangkan.”
Arga tidak membalas.
Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Di balik pintu itu, ia duduk di tepi tempat tidur, menatap foto bayi yang masih tersimpan di ponselnya.
Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan masa kecilnya sendiri.
Malam semakin larut.
Ratih berdiri sendirian di dapur. Ia memastikan Arga sudah masuk kamar sebelum mengeluarkan sebuah ponsel lama dari laci.
Nomor yang dihubunginya tersimpan tanpa nama.
Panggilan tersambung setelah dering kedua.
“Dia sudah melihat fotonya,” bisik Ratih.
Suara pria terdengar dari seberang.
“Bagaimana bisa?”
“Saya tidak tahu. Ada seseorang yang menghubunginya.”
“Apakah dia tahu tentang keluarga Pradipta?”
“Dia mulai curiga.”
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon.
“Kita sudah sepakat bahwa identitas anak itu tidak boleh diketahui siapa pun.”
“Saya tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.” Suara pria itu berubah dingin. “Kalau dia sampai bertemu Surya, semua yang kita lakukan selama ini akan terbongkar.”
Ratih memejamkan mata.
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Pastikan dia tidak pergi ke keluarga Pradipta.”
“Dia sudah dewasa. Saya tidak bisa mengurungnya selamanya.”
“Kalau begitu, pastikan dia tidak memiliki alasan untuk pergi.”
Ratih menggenggam ponsel lebih erat.
“Bagaimana kalau dia mengetahui semuanya?”
Hening selama beberapa detik.
Kemudian pria itu menjawab dengan suara pelan.
“Kalau Arga mengetahui siapa dirinya sebenarnya, bukan hanya hidupmu yang akan berakhir.”
Panggilan terputus.
Ratih berdiri terpaku.
Ia menatap pintu kamar Arga dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan Ibu,” bisiknya. “Ibu hanya ingin kamu tetap hidup.”
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Ratih.
Arga belum tidur.
Dari balik pintu kamarnya, pemuda itu mendengar sebagian percakapan tersebut.
Ia tidak mendengar semuanya. Tetapi cukup banyak untuk menyadari bahwa foto itu bukan lelucon.
Ada orang-orang yang mengetahui identitas aslinya.
Ada orang-orang yang takut jika ia menemukan kebenaran.
Dan Ratih, perempuan yang membesarkannya, mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini ia katakan.
Arga menatap langit-langit kamar.
Malam itu, ia membuat keputusan.
Ia akan menemukan keluarga Pradipta.
Keesokan paginya, Arga datang ke kantor lebih awal daripada biasanya.
Ia menyelesaikan pekerjaan administrasi dengan cepat, kemudian membuka laptop ketika suasana mulai sepi.
Ia mengetik sebuah nama di mesin pencari.
Surya Pradipta.
Puluhan hasil pencarian muncul.
Berita bisnis, wawancara, foto peresmian gedung, hingga laporan tentang perkembangan Pradipta Group. Perusahaan tersebut bergerak di berbagai bidang, mulai dari properti hingga investasi.
Arga membaca satu per satu.
Pada sebuah artikel, ia menemukan foto keluarga Surya Pradipta yang diambil dalam acara ulang tahun perusahaan.
Di samping Surya berdiri seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Namanya Dimas Pradipta.
Putra yang selama ini dikenal publik sebagai pewaris utama Pradipta Group.
Dimas memiliki wajah tampan, penampilan rapi, dan senyum percaya diri. Artikel itu menyebutnya sebagai calon pemimpin generasi berikutnya yang telah dipersiapkan untuk mengambil alih perusahaan.
Arga menatap foto tersebut lama-lama.
Jika pesan anonim itu benar, lalu siapa dirinya?
Mengapa namanya pernah tercatat dalam arsip keluarga Pradipta?
Dan mengapa seseorang sampai berusaha menghapus keberadaannya?
Ia membuka tab baru dan mencari informasi mengenai sejarah keluarga tersebut. Namun, hampir semua sumber hanya menyebut Surya, istrinya, dan Dimas.
Tidak ada satu pun yang menyebut anak lain.
Seolah-olah Arga memang tidak pernah ada.
Ia mengembuskan napas perlahan.
Lalu, matanya menangkap sebuah berita.
Pradipta Group Akan Menggelar Perayaan Ulang Tahun Perusahaan ke-25.
Acara itu akan dihadiri para petinggi perusahaan, mitra bisnis, investor, dan sejumlah tokoh penting. Perusahaan juga membuka perekrutan tenaga kerja sementara untuk membantu administrasi dan persiapan acara.
Arga membaca pengumuman itu dua kali.
Kemudian ia membuka formulir pendaftaran.
Posisi yang tersedia adalah staf administrasi sementara.
Ia memenuhi sebagian besar persyaratannya.
Arga tidak memiliki hubungan dengan keluarga kaya. Ia juga tidak memiliki akses khusus ke perusahaan besar.
Namun, ia memiliki satu kelebihan.
Ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Dan jika seseorang sengaja menghapus namanya dari sejarah keluarga Pradipta, pasti ada jejak yang tertinggal.
Ia mengisi formulir pendaftaran dan mengirimkan lamaran.
Beberapa jam kemudian, sebuah surel masuk.
Lamaran Anda diterima.
Arga membaca pesan itu dengan tenang.
Untuk pertama kalinya sejak menerima foto tersebut, ia tersenyum tipis.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena ia baru saja menemukan pintu pertama menuju kebenaran.
Dua hari kemudian, Arga berdiri di depan gedung utama Pradipta Group.
Bangunan kaca itu menjulang tinggi, memantulkan cahaya matahari pagi. Logo perusahaan terpasang di bagian depan, terlihat jelas dari jalan raya.
Orang-orang berpakaian formal keluar masuk melalui pintu utama.
Beberapa menggunakan mobil mewah. Sebagian lainnya berjalan cepat sambil berbicara melalui telepon.
Arga berdiri di antara mereka dengan kemeja putih sederhana dan celana hitam.
Ia merasa kecil di tempat itu.
Namun, ia tidak membiarkan perasaan tersebut menguasainya.
Ia datang bukan untuk mengagumi kekayaan keluarga Pradipta.
Ia datang untuk menemukan jawaban.
Setelah menyelesaikan proses registrasi, Arga diarahkan ke lantai tempat tim persiapan acara bekerja.
Tugas pertamanya adalah membantu memeriksa dokumen tamu undangan, daftar mitra perusahaan, dan beberapa berkas administrasi internal yang telah disiapkan untuk keperluan acara.
Pekerjaan itu tampak biasa.
Sampai ia menemukan sebuah map berwarna hitam di antara dokumen yang seharusnya sudah disusun berdasarkan kategori.
Map tersebut tidak memiliki label.
Arga membukanya untuk memastikan apakah isinya perlu dipindahkan.
Di halaman pertama, terdapat lambang keluarga Pradipta.
Di bawahnya tertulis:
ARSIP INTERNAL KELUARGA — AKSES TERBATAS.
Arga hendak menutup map tersebut ketika sebuah nama menarik perhatiannya.
ARGA PRADIPTA.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Di samping nama itu terdapat beberapa kolom administrasi.
Tanggal lahir: 17 Oktober 2002.
Jenis kelamin: Laki-laki.
Status: Dihapus dari catatan resmi.
Arga membaca baris tersebut berulang kali.
Tangannya mulai dingin.
Di bawahnya terdapat catatan singkat.
Subjek dinyatakan tidak boleh mengetahui keberadaannya sampai keputusan akhir disetujui oleh ketua keluarga.
Pada bagian paling bawah, terdapat tanda tangan.
Surya Pradipta.
Arga menutup map tersebut dengan perlahan.
Ia tidak lagi memiliki alasan untuk menganggap semua ini sebagai kesalahpahaman.
Namanya benar-benar pernah tercatat dalam arsip keluarga Pradipta.
Seseorang telah menghapusnya.
Dan keputusan itu ditandatangani oleh pria yang mungkin merupakan ayah kandungnya sendiri.
“Sedang mencari sesuatu?”
Suara itu terdengar tepat di belakangnya.
Arga berbalik.
Seorang pria muda berdiri beberapa langkah darinya. Jas hitamnya terlihat mahal, rambutnya tertata rapi, dan tatapannya menyimpan keyakinan seseorang yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Arga langsung mengenalinya.
Dimas Pradipta.
Pewaris yang namanya tercatat di seluruh berita bisnis.
Dimas melirik map hitam di tangan Arga.
“Aku tidak ingat pernah melihatmu di tim inti perusahaan.”
“Saya staf administrasi sementara, Pak.”
“Kalau begitu, seharusnya kamu tahu bahwa dokumen itu bukan untuk dibaca sembarang orang.”
Arga menahan diri agar tidak menunjukkan keterkejutannya.
“Maaf. Saya menemukannya di antara dokumen acara. Saya hanya memastikan penempatannya.”
Dimas mengambil map itu dari tangannya.
Ia membuka halaman pertama, memeriksa isinya, lalu menatap Arga.
“Namamu siapa?”
“Arga.”
“Nama lengkap?”
Arga diam sepersekian detik.
“Arga Pradipta.”
Ekspresi Dimas berubah.
Perubahan itu sangat singkat, hampir tidak terlihat. Namun, Arga menangkapnya.
Tatapan Dimas turun ke wajahnya, seolah-olah sedang membandingkan sesuatu yang telah lama tersimpan dalam ingatannya.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Nama yang menarik.”
Dimas menutup map dan menyerahkannya kepada seorang staf yang baru datang.
“Pastikan dokumen ini disimpan di ruang arsip.”
“Baik, Pak.”
Sebelum pergi, Dimas kembali menatap Arga.
“Nasihat dariku, Arga. Di perusahaan ini, jangan terlalu penasaran dengan urusan keluarga pemiliknya.”
Arga menatapnya tanpa mengubah ekspresi.
“Kenapa, Pak?”
Senyum Dimas menghilang.
“Karena beberapa pertanyaan tidak akan membuat hidupmu lebih baik.”
Ia berbalik dan berjalan pergi.
Arga memperhatikannya hingga menghilang di balik pintu.
Ancaman itu tidak membuatnya mundur.
Justru sebaliknya.
Reaksi Dimas telah memberikan petunjuk baru.
Pria itu mengenali nama Arga.
Atau setidaknya, ia mengetahui sesuatu tentang nama tersebut.
Sore harinya, ketika sebagian besar staf mulai meninggalkan gedung, seorang petugas menghampiri Arga.
“Pak Arga, Anda diminta datang ke ruang direktur utama.”
Arga menoleh.
“Siapa yang meminta?”
“Bapak Surya Pradipta.”
Untuk beberapa detik, Arga tidak menjawab.
Ia telah membayangkan pertemuan itu berkali-kali sejak menemukan foto bayi. Namun, ia tidak pernah menyangka kesempatan tersebut datang secepat ini.
Ia mengikuti petugas menuju lift khusus.
Lantai tertinggi gedung itu jauh lebih tenang daripada lantai lainnya. Karpet tebal membungkam suara langkah kaki. Dindingnya dihiasi lukisan mahal, sementara jendela-jendela besar memperlihatkan pemandangan Jakarta yang mulai diselimuti cahaya senja.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di dekat jendela.
Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Jas yang dikenakannya sederhana, tetapi setiap detail menunjukkan kemewahan yang tidak perlu dipamerkan.
Surya Pradipta.
Pria itu berbalik ketika Arga masuk.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap.
Arga memperhatikan wajah Surya.
Ia menemukan kemiripan yang sama seperti pada foto bayi itu. Bentuk mata, garis rahang, dan lekukan kecil di dekat alis kiri.
Kemiripan yang terlalu jelas untuk diabaikan.
“Duduklah,” kata Surya.
Arga tetap berdiri.
“Saya lebih suka berdiri.”
Surya memandangnya beberapa detik, kemudian mengangguk kecil.
“Baik.”
Ia mengambil sebuah amplop dari meja dan mengeluarkan foto yang sama dengan foto yang dikirimkan kepada Arga.
Foto bayi.
Tanggal lahir.
Nama yang selama ini tidak pernah dipertanyakan Arga.
“Kurasa kamu sudah mengetahui sebagian kecil dari apa yang terjadi,” ujar Surya.
Arga mengepalkan tangannya.
“Kalau Bapak mengetahui sesuatu, saya ingin mendengarnya langsung.”
Surya meletakkan foto itu di atas meja.
“Apakah kamu tahu mengapa namamu tidak pernah muncul dalam catatan resmi keluarga Pradipta?”
“Tidak.”
“Apakah Ratih pernah memberitahumu siapa ayah kandungmu?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Ia teringat wajah Ratih ketika melihat foto tersebut. Ia teringat percakapan rahasia di dapur. Ia juga teringat peringatan Dimas.
“Saya datang ke sini untuk mendapatkan jawaban, bukan pertanyaan baru.”
Surya tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya.
“Kamu memiliki keberanian yang cukup besar untuk seseorang yang tidak mengetahui siapa yang sedang dihadapinya.”
“Saya hanya ingin mengetahui kebenaran.”
“Dan jika kebenaran itu menghancurkan hidupmu?”
Arga menatapnya lurus-lurus.
“Setidaknya itu hidup saya sendiri. Saya berhak mengetahuinya.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Surya berubah.
Ia tampak melihat sesuatu dalam diri Arga yang tidak bisa ia abaikan.
Mungkin kemiripan wajah mereka.
Mungkin keberanian pemuda itu.
Atau mungkin sebuah kesalahan dari masa lalu yang akhirnya kembali mengetuk pintunya.
Surya membuka laci meja dan mengeluarkan selembar dokumen.
Dokumen itu diletakkan di hadapan Arga.
Di bagian atas terdapat nama Ratih.
Di bagian bawah, sebuah tanda tangan terlihat jelas.
Arga mengenalinya.
Ia pernah melihat tanda tangan itu pada dokumen sekolah dan berbagai surat yang ditandatangani Ratih selama bertahun-tahun.
Surya mendorong dokumen tersebut ke arahnya.
“Orang yang mengambil identitasmu bukanlah orang yang kamu kira.”
Arga menatap dokumen itu.
Napasnya terasa berat.
“Siapa yang mengambil saya?”
Surya tidak langsung menjawab.
Ia berjalan kembali ke dekat jendela, memandang gedung-gedung yang mulai menyala di bawah langit senja.
“Jika aku memberitahumu sekarang, kamu mungkin akan membenci orang yang selama ini kamu anggap sebagai ibumu.”
Arga mengangkat wajah.
“Apakah Ratih menculik saya?”
Surya menoleh.
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Lalu apa yang sebenarnya terjadi?”
Surya menatapnya lama sekali.
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh keyakinan Arga runtuh.
“Arga, selama dua puluh empat tahun, ada seseorang yang berusaha memastikan kamu tidak pernah kembali ke keluarga ini.”
Arga menatap dokumen di hadapannya.
Nama Ratih masih terpampang jelas.
Namun, tepat di bawah tanda tangannya, terdapat sebuah kalimat tambahan yang membuat darahnya terasa membeku.
Pemindahan anak dilakukan atas persetujuan pihak keluarga.
Di bagian akhir dokumen itu terdapat dua tanda tangan.
Satu milik Ratih.
Satu lagi milik seseorang yang namanya tidak pernah ia bayangkan akan muncul di sana.
Surya Pradipta.
Arga perlahan mengangkat kepalanya.
“Kalau Bapak ikut menandatangani dokumen ini,” katanya dengan suara bergetar, “berarti Bapak juga terlibat.”
Surya tidak menyangkal.
Keheningan di ruangan itu terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Arga mundur selangkah.
Selama ini, ia mengira dirinya adalah anak yang kehilangan keluarga.
Sekarang, ia mulai menyadari kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.
Mungkin ia bukan kehilangan keluarga.
Mungkin ia telah diambil dari keluarganya sendiri.
Dan orang-orang yang seharusnya melindunginya justru menjadi bagian dari rahasia itu.
Surya mengambil kembali dokumen tersebut.
“Pulanglah malam ini. Jangan ceritakan pertemuan kita kepada siapa pun.”
Arga menatapnya tajam.
“Kenapa?”
“Karena mulai sekarang, setiap orang yang mengetahui kamu masih hidup bisa menjadi ancaman.”
Arga tidak menjawab.
Ia berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti.
“Satu pertanyaan lagi.”
Surya menoleh.
“Apakah saya benar-benar anak Bapak?”
Untuk pertama kalinya, pria yang dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berkuasa itu terlihat kehilangan kata-kata.
Ia memandangi Arga dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Kemudian, perlahan, ia menjawab.
“Ya.”
Satu kata.
Hanya satu kata.
Namun, kata itu cukup untuk mengubah seluruh hidup Arga.
Ia keluar dari ruangan tanpa mengucapkan apa pun lagi.
Di dalam lift, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan baru muncul dari nomor yang sama dengan pengirim foto sebelumnya.
Nomor Tidak Dikenal:
Sekarang kau sudah bertemu Surya. Bagus.
Arga segera mengetik balasan.
Siapa kamu?
Pesan berikutnya masuk hampir seketika.
Orang yang berusaha menyelamatkanmu.
Arga menatap layar.
Lalu pesan terakhir muncul.
Jika kau ingin mengetahui mengapa namamu dihapus, jangan pulang malam ini.
Arga mengerutkan kening.
Sebuah foto menyusul.
Foto Ratih.
Perempuan itu terlihat berdiri di depan rumah mereka, berbicara dengan seorang pria yang wajahnya sengaja tertutup bayangan.
Di belakang foto terdapat tulisan:
Malam ini, ibumu akan menghilang.
Arga merasakan darahnya seolah berhenti mengalir.
Ia segera menekan nomor Ratih.
Tidak ada jawaban.
Ia menelepon sekali lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Pintu lift terbuka.
Arga berlari keluar gedung, menembus keramaian lobi tanpa memedulikan panggilan petugas keamanan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi berlari mencari jawaban.
Ia berlari karena takut kehilangan satu-satunya orang yang pernah ia sebut keluarga.
Namun, ketika Arga tiba di rumah, pintunya sudah terbuka.
Lampu ruang tengah menyala.
Televisi masih hidup.
Di atas meja terdapat ponsel lama milik Ratih.
Tetapi perempuan itu tidak ada di mana-mana.
Arga melangkah masuk dengan napas memburu.
“Bu?”
Tidak ada jawaban.
“Bu Ratih!”
Keheningan menyambutnya.
Di lantai dekat pintu dapur, ia menemukan sebuah amplop putih.
Di atasnya tertulis namanya.
Dengan tangan gemetar, Arga membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang ia kenal sejak kecil.
Arga, maafkan Ibu. Jika kamu membaca surat ini, berarti mereka akhirnya menemukanmu. Jangan percaya kepada Surya Pradipta. Dia bukan satu-satunya orang yang menginginkanmu mati.
Arga membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu ia menemukan baris terakhir.
Dan satu hal yang harus kamu ketahui: kamu bukan satu-satunya anak yang dihapus dari keluarga Pradipta.
Arga menjatuhkan surat itu.
Di luar rumah, sebuah mobil hitam berhenti tanpa menyalakan lampu.
Seseorang turun dari dalamnya.
Ia berdiri di balik pagar, mengamati Arga melalui celah pintu yang terbuka.
Ponsel Arga bergetar sekali lagi.
Pesan baru.
Selamat datang kembali, pewaris yang hilang.