Bab 1Pertemuan yang Menyebalkan

16 menit baca•3.2rb kata

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung. Awan kelabu menggantung di antara gedung-gedung pencakar langit, seolah memberikan pertanda bahwa hari itu tidak akan berjalan semulus yang diharapkan.

Alina Putri Wijaya berdiri di depan cermin kamarnya sambil merapikan kerah blus putih yang dikenakannya. Rambut panjangnya diikat sederhana, sementara sebuah map berwarna hitam berada di atas meja rias.

Di dalam map itu terdapat proposal bisnis yang telah ia susun selama hampir dua minggu.

Hari ini adalah kesempatan yang sangat penting baginya.

Perusahaan peninggalan ayahnya, Wijaya Group, memang tidak lagi sebesar dahulu. Setelah mengalami kemunduran bisnis beberapa tahun silam, perusahaan itu kehilangan banyak investor, karyawan, dan kepercayaan dari rekan-rekan bisnisnya.

Namun, bagi Alina, perusahaan itu bukan sekadar tempat mencari keuntungan.

Perusahaan tersebut merupakan satu-satunya peninggalan berharga dari ayahnya.

Pria yang meninggal ketika Alina masih berusia tujuh belas tahun itu telah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk membangun bisnis keluarga. Sayangnya, sebelum sempat melihat putrinya tumbuh dewasa, sebuah tragedi merenggut nyawanya.

Sejak saat itu, kehidupan keluarga Wijaya berubah.

Ibunya, Maya, berusaha mempertahankan perusahaan dengan segala cara. Akan tetapi, keadaan ekonomi yang semakin sulit membuat mereka harus menjual sebagian besar aset keluarga.

Kini, Alina ingin memperbaiki semuanya.

Ia ingin membuktikan bahwa nama Wijaya belum benar-benar berakhir.

"Alina, kamu sudah sarapan?" suara ibunya terdengar dari balik pintu.

Alina menoleh.

"Sebentar lagi, Bu."

Pintu kamar terbuka. Maya muncul dengan membawa secangkir teh hangat. Wajah perempuan itu masih menunjukkan garis-garis kelelahan, tetapi senyumnya tetap lembut seperti biasa.

"Kamu berangkat pagi sekali."

"Hari ini aku ada pertemuan dengan calon investor."

Maya meletakkan cangkir di meja.

"Investor yang kemarin kamu ceritakan itu?"

Alina mengangguk penuh semangat.

"Iya. Mereka bilang proposal kita cukup menarik. Kalau mereka setuju bekerja sama, kita bisa mulai memperbaiki kondisi perusahaan."

Maya terdiam sejenak.

"Semoga semuanya berjalan lancar."

Alina memperhatikan wajah ibunya.

"Ada apa, Bu? Ibu kelihatan khawatir."

"Tidak ada apa-apa."

"Benarkah?"

Maya tersenyum tipis.

"Ibu hanya berharap kamu tidak terlalu memaksakan diri. Kamu sudah bekerja keras selama ini."

Alina menghampiri ibunya, lalu menggenggam kedua tangannya.

"Aku baik-baik saja, Bu. Aku sudah berjanji kepada Ayah untuk menjaga perusahaan ini."

Mendengar nama suaminya, Maya menunduk sesaat.

"Ayahmu pasti bangga kepadamu."

Alina tersenyum.

"Kalau begitu, doakan aku berhasil."

"Tentu, Sayang."

Setelah berpamitan, Alina mengambil map hitamnya dan segera meninggalkan rumah.

Ia tidak tahu bahwa pertemuan hari itu akan menjadi awal dari serangkaian kejadian yang mengubah hidupnya.

Dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang pertama yang akan membuatnya kehilangan kesabaran adalah seorang pria bernama Adrian Mahendra.

---

Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Alina tiba di sebuah hotel mewah di pusat Jakarta.

Gedung itu menjulang tinggi dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Para tamu berpakaian formal berlalu-lalang di lobi, sementara beberapa pegawai hotel berdiri di dekat pintu untuk menyambut pengunjung.

Alina menarik napas panjang.

Ia pernah memasuki tempat-tempat seperti ini bersama ayahnya ketika masih kecil. Dahulu, orang-orang menyambut keluarga Wijaya dengan penuh hormat.

Sekarang, semuanya berbeda.

Beberapa orang bahkan tidak lagi mengenali namanya.

Namun, Alina tidak ingin larut dalam kenangan.

Ia memeriksa jam tangan, lalu berjalan menuju meja resepsionis.

"Selamat pagi. Saya Alina Putri Wijaya. Saya memiliki jadwal pertemuan dengan pihak perusahaan Mahendra Group."

Petugas resepsionis memeriksa layar komputernya.

"Baik, Nona. Pertemuan tersebut diadakan di ruang konferensi lantai dua puluh tiga. Silakan menggunakan lift di sebelah kanan."

"Terima kasih."

Alina menuju lift dan menekan tombol lantai dua puluh tiga.

Sepanjang perjalanan, ia kembali memeriksa proposalnya.

Presentasi itu telah dipersiapkan dengan matang. Ia sudah menghitung kebutuhan modal, memperbarui rencana pemasaran, dan menyiapkan strategi untuk mengembalikan kepercayaan pelanggan.

Jika Mahendra Group bersedia menjadi mitra bisnis, perusahaan keluarganya memiliki kesempatan untuk bangkit.

Bagi Alina, itu sudah lebih dari cukup.

Pintu lift terbuka.

Ia melangkah keluar dan mendapati beberapa orang berpakaian formal sedang berbicara di dekat ruang konferensi.

Seorang pria berkacamata menghampirinya.

"Selamat pagi. Anda Nona Alina Wijaya?"

"Benar."

"Saya Daniel, asisten direktur Mahendra Group. Silakan ikut saya."

Alina mengikuti Daniel menuju ruang konferensi.

Sebelum memasuki ruangan, Daniel berhenti.

"Direktur utama kami akan segera tiba. Sambil menunggu, Anda bisa menyiapkan dokumen presentasi."

"Baik. Terima kasih."

Alina masuk dan memilih tempat duduk di salah satu sisi meja panjang.

Ruangan itu luas, dilengkapi jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota Jakarta. Di atas meja tersedia air mineral, beberapa gelas, serta perangkat presentasi.

Alina mengeluarkan laptop dan mulai menyiapkan berkasnya.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit berlalu.

Namun, orang yang ditunggunya belum juga datang.

Alina melirik jam tangannya.

Pukul sembilan tepat.

Jadwal pertemuan mereka seharusnya dimulai lima belas menit yang lalu.

Ia mencoba bersabar.

Mungkin ada urusan mendadak, pikirnya.

Namun, ketika waktu menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit, kesabarannya mulai menipis.

Alina berdiri dan menghampiri Daniel yang sedang berbicara dengan seorang staf di luar ruangan.

"Maaf, apakah direktur utama Anda masih lama?"

Daniel tampak sedikit canggung.

"Beliau sedang menyelesaikan urusan penting."

"Saya mengerti. Tetapi jadwal pertemuan ini sudah ditentukan sejak minggu lalu."

"Maaf atas keterlambatannya, Nona."

Alina mengembuskan napas.

"Baiklah. Saya akan menunggu lima belas menit lagi."

Ia kembali ke ruangan.

Dalam hati, ia mulai mempertanyakan keputusan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan sebesar Mahendra Group.

Jika mereka bahkan tidak mampu menghargai waktu orang lain, bagaimana mereka akan menghargai mitra bisnisnya?

Meski demikian, Alina tetap duduk dan menunggu.

Ia tidak boleh membiarkan emosinya merusak kesempatan yang sudah diperjuangkannya.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Sampai akhirnya, pintu ruang konferensi terbuka.

Seorang pria memasuki ruangan dengan langkah tenang.

Ia mengenakan setelan jas hitam yang tampak sempurna, kemeja putih, dan dasi berwarna gelap. Rambutnya tertata rapi, sementara sorot matanya terlihat dingin dan tajam.

Pria itu memiliki penampilan yang sulit diabaikan.

Namun, hal pertama yang diperhatikan Alina bukanlah wajah tampannya.

Melainkan sikapnya.

Pria itu berjalan menuju kursi di ujung meja tanpa meminta maaf atas keterlambatannya.

Ia bahkan tidak langsung menatap Alina.

"Anda Nona Wijaya?" tanyanya singkat sambil membuka berkas di hadapannya.

Alina mengerutkan kening.

"Benar. Dan Anda?"

Pria itu mengangkat wajah.

"Adrian Mahendra."

Alina terdiam sesaat.

Adrian Mahendra.

Nama itu bukan nama asing baginya.

Mahendra Group merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Perusahaan tersebut memiliki bisnis di berbagai bidang, mulai dari properti hingga perhotelan.

Namun, bagi Alina, nama Mahendra memiliki arti yang jauh lebih pribadi.

Perusahaan itu pernah menjadi mitra bisnis ayahnya sebelum Wijaya Group mengalami kemunduran.

Hubungan kedua keluarga dikabarkan berakhir buruk setelah muncul perselisihan mengenai sebuah proyek besar.

Sejak saat itu, ayah Alina tidak pernah lagi menyebut nama Mahendra di rumah.

Alina menatap pria di hadapannya dengan lebih saksama.

Jadi, inikah orang yang akan menentukan nasib perusahaan keluarganya?

Adrian membolak-balik dokumen proposal tanpa menunjukkan ketertarikan.

"Silakan duduk. Kita langsung ke pokok pembicaraan."

Alina yang sejak tadi berdiri akhirnya duduk kembali.

"Sebelum memulai, saya ingin menyampaikan bahwa saya sudah menunggu hampir setengah jam."

Adrian tidak mengangkat wajah.

"Jadwal saya cukup padat."

"Jadwal saya juga tidak kosong, Pak Adrian."

Barulah pria itu menatapnya.

Daniel yang berdiri di dekat pintu tampak terkejut mendengar jawaban tersebut.

Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Kalau begitu, mari kita gunakan waktu yang tersisa dengan efisien."

Alina menahan keinginan untuk membalas.

Ia membuka laptop dan memulai presentasinya.

---

Selama dua puluh menit berikutnya, Alina menjelaskan rencana pemulihan Wijaya Group.

Ia memaparkan strategi pemasaran baru, peluang ekspansi, dan proyeksi keuangan perusahaan. Ia juga menjelaskan bagaimana kerja sama dengan Mahendra Group dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Alina berbicara dengan percaya diri.

Setiap angka telah diperiksa. Setiap strategi telah dipertimbangkan.

Ia tidak datang ke sana untuk meminta belas kasihan.

Ia datang membawa sebuah rencana bisnis.

Ketika presentasinya berakhir, Alina menutup laptop.

"Demikian proposal yang ingin saya ajukan. Saya yakin kerja sama ini dapat memberikan keuntungan bagi kedua perusahaan."

Adrian terdiam.

Ia kembali memeriksa dokumen di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja.

"Menurut Anda, berapa lama Wijaya Group bisa bertahan dalam kondisi keuangan seperti sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Alina mengerutkan kening.

"Kami telah menyiapkan langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi perusahaan."

"Itu bukan jawaban."

Alina menarik napas.

"Kami masih memiliki pelanggan tetap, aset yang bisa dikembangkan, dan peluang pasar yang belum dimanfaatkan."

Adrian mengangguk kecil.

"Namun, perusahaan Anda memiliki utang, kehilangan beberapa investor utama, dan mengalami penurunan pendapatan selama beberapa tahun terakhir."

"Saya mengetahui kondisi perusahaan saya sendiri."

"Kalau begitu, Anda seharusnya tahu bahwa rencana ini terlalu berisiko."

Alina menatapnya tajam.

"Risiko bukan alasan untuk menghentikan usaha sebelum mencoba."

"Dan optimisme bukan jaminan bahwa sebuah perusahaan akan berhasil."

Suasana ruangan berubah tegang.

Adrian mengambil pena, mencoret beberapa bagian proposal, lalu mendorong dokumen itu ke arah Alina.

"Saya tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk menyetujui kerja sama ini."

Alina menatap proposalnya.

"Apakah Anda sudah memeriksa seluruh perhitungan yang saya berikan?"

"Sudah."

"Dan Anda menolak hanya berdasarkan proyeksi keuangan tahun-tahun sebelumnya?"

"Saya menolak karena rencana Anda tidak memberikan jaminan yang memadai bagi perusahaan kami."

Alina mengatupkan rahang.

"Bisnis tidak selalu berjalan berdasarkan jaminan. Terkadang, perusahaan perlu mengambil risiko yang diperhitungkan untuk berkembang."

Adrian tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak terlihat ramah.

"Kalimat yang bagus. Sayangnya, bank tidak menerima kalimat seperti itu sebagai pembayaran utang."

Wajah Alina memanas.

Ia tahu bahwa perusahaannya sedang kesulitan. Ia juga tahu bahwa mereka membutuhkan bantuan.

Namun, ia tidak datang ke sana untuk dipermalukan.

"Saya datang untuk membicarakan peluang kerja sama, bukan mendengarkan Anda merendahkan usaha keluarga saya."

Adrian menutup berkasnya.

"Kalau Anda menganggap penilaian bisnis sebagai penghinaan, mungkin Anda belum siap menjalankan perusahaan."

Alina berdiri.

"Dan kalau Anda menganggap kesombongan sebagai bentuk profesionalisme, mungkin Anda belum belajar cara menghargai orang lain."

Daniel yang sejak tadi diam langsung menundukkan kepala.

Adrian menatap Alina tanpa berkedip.

Untuk beberapa detik, keduanya saling memandang dalam keheningan.

Kemudian Adrian berkata dengan suara datar, "Pertemuan selesai."

Alina hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Anda serius?"

"Saya tidak melihat alasan untuk melanjutkannya."

Alina mengambil mapnya dengan gerakan cepat.

"Baik. Saya juga tidak ingin membuang waktu lebih lama di sini."

Ia memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berjalan menuju pintu.

Namun, sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.

"Satu hal lagi, Pak Adrian."

Pria itu mengangkat alis.

"Saya mungkin tidak memiliki perusahaan sebesar milik Anda. Saya mungkin tidak memiliki kekayaan atau koneksi yang sama. Tetapi saya tahu satu hal yang tampaknya Anda lupakan."

"Apa itu?"

"Perusahaan dibangun oleh manusia, bukan hanya angka-angka di atas kertas. Orang-orang yang bekerja di dalamnya memiliki keluarga, impian, dan kehidupan yang bergantung pada keputusan Anda."

Adrian terdiam.

Alina melanjutkan, "Jadi, sebelum meremehkan usaha seseorang, pastikan Anda benar-benar memahami apa yang sedang mereka perjuangkan."

Setelah mengatakan itu, Alina meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup di belakangnya.

Daniel menatap Adrian dengan hati-hati.

"Pak, apakah saya perlu menjadwalkan ulang pertemuan dengan pihak Wijaya?"

"Tidak perlu."

"Baik, Pak."

Daniel hendak pergi ketika Adrian kembali membuka proposal yang ditinggalkan di meja.

Ia memeriksa beberapa halaman, lalu berhenti pada bagian analisis pasar.

Alina memang memiliki banyak kekurangan dalam rencananya. Namun, beberapa gagasan yang ditulisnya cukup menarik.

Terutama strategi untuk mengembangkan kembali jaringan pelanggan lama.

Adrian membaca bagian itu sekali lagi.

Kemudian ia menutup dokumen tersebut.

"Daniel."

Asistennya segera berbalik.

"Ya, Pak?"

"Cari tahu semua informasi terbaru tentang Wijaya Group."

Daniel tampak terkejut.

"Semua informasi, Pak?"

"Termasuk kondisi keuangan mereka, daftar pemegang saham, dan proyek-proyek yang pernah mereka kerjakan bersama perusahaan kita."

"Baik, Pak."

"Dan satu lagi."

Daniel menunggu.

"Jangan beri tahu siapa pun tentang permintaan ini."

"Baik."

Setelah Daniel meninggalkan ruangan, Adrian kembali menatap proposal di hadapannya.

Nama Wijaya membawa kenangan yang tidak pernah ingin ia ingat.

Ia masih mengingat pertengkaran besar antara ayahnya dan seorang pria bernama Hendra Wijaya bertahun-tahun lalu.

Pertengkaran itu berakhir dengan putusnya hubungan bisnis kedua keluarga.

Namun, ada sesuatu yang tidak pernah dijelaskan ayahnya secara terperinci.

Sebuah proyek yang gagal.

Dokumen yang menghilang.

Dan sebuah tuduhan yang membuat kedua keluarga saling menjauh.

Adrian mengusap wajahnya.

Ia tidak menyukai urusan yang belum selesai.

Terlebih lagi jika urusan tersebut menyangkut masa lalu keluarganya sendiri.

---

Sementara itu, Alina berjalan cepat menyusuri koridor hotel.

Wajahnya masih memerah karena marah.

Ia telah membayangkan banyak kemungkinan sebelum menghadiri pertemuan tersebut. Ia tahu bahwa proposalnya mungkin ditolak. Ia bahkan telah menyiapkan jawaban untuk berbagai pertanyaan sulit.

Namun, ia tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan seseorang yang begitu menyebalkan.

"CEO sombong," gumamnya.

Ia menekan tombol lift beberapa kali, meskipun sebenarnya tahu bahwa tindakan itu tidak akan membuat lift datang lebih cepat.

"Merasa paling pintar hanya karena punya perusahaan besar."

Ketika pintu lift terbuka, Alina masuk dan bersandar pada dinding.

Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan logam lift.

"Tenang, Alina. Kamu tidak boleh menyerah hanya karena satu orang menyebalkan."

Pintu lift hampir tertutup ketika sebuah tangan menahannya.

Alina mendongak.

Adrian berdiri di luar.

Pria itu melangkah masuk tanpa mengatakan apa-apa.

Alina langsung memalingkan wajah.

Sungguh, dari semua orang yang bisa menggunakan lift yang sama, mengapa harus dia?

Suasana menjadi canggung.

Alina menatap angka-angka lantai yang terus berubah, berusaha mengabaikan keberadaan pria di sampingnya.

Namun, Adrian tiba-tiba berbicara.

"Anda selalu berbicara seperti itu kepada orang yang baru dikenal?"

Alina menoleh.

"Seperti apa?"

"Seolah-olah Anda tidak memiliki apa pun untuk kehilangan."

Alina tertawa kecil tanpa humor.

"Setidaknya saya tidak berpura-pura menghormati seseorang hanya karena dia memiliki banyak uang."

Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Anda memiliki keberanian."

"Terima kasih. Anda juga memiliki kesombongan yang luar biasa."

Adrian menoleh kepadanya.

"Kebanyakan orang tidak akan berani mengatakan itu kepada saya."

"Kalau begitu, mungkin mereka terlalu takut untuk jujur."

Tatapan Adrian berubah tajam.

"Kita lihat apakah keberanian Anda masih sama ketika keadaan perusahaan Anda semakin memburuk."

Alina mengepalkan tangan.

"Jangan mengancam saya."

"Itu bukan ancaman. Itu kenyataan."

Pintu lift terbuka di lantai dasar.

Alina segera melangkah keluar.

Namun, sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi.

"Saya akan mengingat nama Anda, Adrian Mahendra."

Adrian berdiri di dalam lift, menatapnya tanpa ekspresi.

"Silakan."

"Suatu hari nanti, saya akan membuat Anda menyesali keputusan hari ini."

Untuk pertama kalinya, Adrian memperlihatkan senyum kecil.

"Saya tunggu."

Alina berbalik dan berjalan meninggalkan hotel dengan langkah cepat.

Ia tidak tahu bahwa pria itu sedang memperhatikannya sampai ia menghilang di balik pintu kaca.

---

Di luar hotel, hujan mulai turun.

Alina berdiri di bawah kanopi sambil menatap langit yang semakin gelap.

Ia tidak membawa payung.

Biasanya, ia akan memesan kendaraan melalui ponselnya dan menunggu sampai hujan reda. Namun, hari itu, ia merasa perlu menghirup udara segar sebelum kembali menghadapi kenyataan.

Ponselnya berdering.

Nama Kevin muncul di layar.

Alina segera mengangkat panggilan tersebut.

"Halo?"

"Bagaimana pertemuannya?" tanya Kevin dari seberang.

Alina memejamkan mata.

"Buruk."

"Seberapa buruk?"

"Sangat buruk."

Kevin tertawa kecil.

"Investor menolak proposalmu?"

"Lebih buruk dari itu. Aku bertemu dengan manusia paling menyebalkan di dunia."

"Siapa?"

"Adrian Mahendra."

Tawa Kevin langsung berhenti.

"Adrian Mahendra?"

"Iya. Memangnya kenapa?"

Kevin terdiam beberapa saat.

"Alina, kamu tahu siapa keluarganya, kan?"

"Tentu saja aku tahu. Itu sebabnya aku ingin memastikan kerja sama ini berjalan baik."

"Kalau begitu, kamu harus berhati-hati."

Alina mengerutkan kening.

"Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama setiap kali aku menyebut nama Mahendra?"

"Aku hanya tidak ingin kamu terlibat masalah."

"Aku sudah terlibat masalah sejak perusahaan Ayah mengalami kehancuran."

Kevin menghela napas.

"Aku tahu. Tapi jangan mengambil keputusan hanya karena marah."

Alina memandang kendaraan yang berlalu-lalang di jalan.

"Aku tidak marah."

"Alina."

"Baiklah, aku marah. Sangat marah."

Kevin tertawa pelan.

"Nah, itu baru terdengar seperti kamu."

Alina akhirnya ikut tersenyum meskipun hanya sebentar.

"Sudahlah. Aku akan pulang dulu."

"Kalau butuh bantuan, hubungi aku."

"Pasti."

Setelah menutup telepon, Alina memesan kendaraan dan menunggu beberapa menit sampai mobil yang dipesannya tiba.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya terus dipenuhi kejadian di ruang konferensi.

Ia mengingat setiap perkataan Adrian.

Terutama kalimat yang mengatakan bahwa dirinya mungkin belum siap menjalankan perusahaan.

Alina menatap hujan yang membasahi jendela.

"Aku akan membuktikan bahwa kamu salah," bisiknya.

Ia tidak akan membiarkan seorang pria sombong menghancurkan tekadnya.

Sekalipun pria itu memiliki kekuasaan, kekayaan, dan nama keluarga yang jauh lebih besar daripada miliknya.

---

Malam harinya, Alina tiba di rumah dengan tubuh lelah.

Maya sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah lama. Ketika melihat putrinya masuk, ia langsung meletakkan majalah tersebut.

"Bagaimana pertemuannya?"

Alina melepaskan sepatu dan duduk di sofa.

"Ditolak."

Maya tampak kecewa, tetapi berusaha menyembunyikannya.

"Sayang sekali."

"Bukan hanya ditolak. Aku juga dipermalukan oleh CEO mereka."

Maya menatap putrinya.

"Siapa nama CEO itu?"

Alina mengambil segelas air di meja.

"Adrian Mahendra."

Gelas di tangan Maya hampir terlepas.

Alina segera menoleh.

"Ibu?"

Maya meletakkan gelasnya sendiri dengan gerakan kaku.

"Kamu bilang siapa?"

"Adrian Mahendra. Kenapa?"

Maya terdiam.

Wajahnya mendadak pucat, dan matanya memandang Alina seolah-olah baru saja mendengar kabar buruk.

"Ibu kenal dia?" tanya Alina.

Maya tidak segera menjawab.

Ia justru berdiri dan berjalan menuju jendela.

"Alina, mulai sekarang, jangan pernah berurusan dengan keluarga Mahendra."

Alina mengerutkan kening.

"Apa maksud Ibu?"

"Jauhi mereka."

"Tapi, Bu, aku bahkan belum menyelesaikan urusanku dengan perusahaan itu."

"Tidak penting!"

Alina terkejut mendengar ibunya meninggikan suara.

Maya jarang sekali berbicara seperti itu.

Beberapa detik kemudian, Maya tampak menyadari reaksinya sendiri. Ia mengembuskan napas dan mencoba menenangkan diri.

"Maafkan Ibu," katanya lirih.

Alina berdiri.

"Bu, kenapa Ibu begitu membenci keluarga Mahendra?"

Maya menatapnya, tetapi tidak memberikan jawaban.

"Apakah ini ada hubungannya dengan Ayah?"

Keheningan menyelimuti ruangan.

Alina menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Namun, Maya tetap diam.

"Ibu, tolong jawab."

Maya akhirnya mendekati putrinya dan menggenggam tangannya.

"Ada beberapa hal dari masa lalu yang tidak perlu kamu ketahui sekarang."

"Bagaimana aku bisa melindungi perusahaan Ayah kalau Ibu terus menyembunyikan sesuatu dariku?"

Maya tampak terkejut.

Alina melanjutkan, "Aku sudah dewasa, Bu. Aku berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Maya menggeleng pelan.

"Belum, Alina."

"Kenapa?"

"Karena Ibu tidak ingin kamu terluka."

Alina menarik tangannya perlahan.

"Aku tidak bisa terus hidup dalam ketidaktahuan."

Ia berbalik dan berjalan menuju kamar.

Sebelum menutup pintu, Alina menatap ibunya sekali lagi.

"Kalau keluarga Mahendra memang bersalah, aku akan menemukan buktinya sendiri."

Pintu kamar tertutup.

Maya berdiri sendirian di ruang keluarga.

Beberapa saat kemudian, ia kembali duduk di sofa dan membuka laci kecil di bawah meja.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang telah menguning.

Foto itu memperlihatkan dua pria yang berdiri di depan sebuah gedung perkantoran.

Salah satunya adalah Hendra Wijaya, ayah Alina.

Pria lainnya adalah Richard Mahendra.

Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang hampir pudar.

Untuk persahabatan yang tidak akan pernah berakhir.

Maya menatap tulisan itu dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan aku, Hendra," bisiknya. "Aku sudah berusaha melindungi Alina."

Ia menggenggam foto itu erat-erat.

"Semoga dia tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Namun, Maya tidak menyadari bahwa malam itu, sebuah pesan baru saja masuk ke ponsel Alina.

Pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Jangan percaya pada keluarga Mahendra. Jika kamu ingin mengetahui kebenaran tentang kematian ayahmu, datanglah ke alamat yang akan kukirimkan besok. Datanglah sendirian.

Alina membaca pesan itu berulang kali.

Jantungnya berdebar.

Kematian ayahnya?

Selama ini, ia mengetahui bahwa ayahnya meninggal akibat kecelakaan. Tidak pernah ada alasan baginya untuk meragukan cerita tersebut.

Lalu, siapa pengirim pesan itu?

Dan apa hubungannya dengan Adrian Mahendra?

Alina menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya membalas.

Siapa kamu?

Pesan itu terkirim.

Namun, tidak ada jawaban.

Alina meletakkan ponselnya di atas meja dan berjalan menuju jendela kamar.

Hujan masih turun di luar.

Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum memiliki jawaban.

Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu.

Ia juga tidak tahu apakah pesan tersebut benar atau hanya jebakan seseorang yang ingin memanfaatkannya.

Namun, satu hal mulai ia pahami.

Pertemuannya dengan Adrian Mahendra bukan sekadar pertemuan bisnis yang berakhir buruk.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik hubungan kedua keluarga mereka.

Sesuatu yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Dan Alina bertekad untuk menemukan kebenarannya.

Sekalipun ia harus kembali bertemu dengan pria paling menyebalkan yang pernah dikenalnya.

Pria yang belum ia ketahui akan menjadi musuh terbesarnya.

Sekaligus seseorang yang suatu hari nanti mungkin akan menjadi orang paling penting dalam hidupnya.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.