Bab 1Bab 1 Pertemuan yang tidak direncanakan

7 menit baca•1.4rb kata

PERTEMUAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Ada pertemuan yang tidak pernah kita minta, tetapi justru menjadi awal dari cerita yang paling sulit dilupakan.

---

Pukul 06.15 WIB.

Sinar matahari perlahan menembus celah tirai sebuah kamar mewah yang didominasi warna hitam dan abu-abu. Di atas tempat tidur berukuran besar, seorang laki-laki masih terlelap dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

Suara alarm ponsel terdengar nyaring.

Namun, pemilik kamar itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

Hingga akhirnya, sebuah suara terdengar dari balik pintu.

"Alvaro! Bangun! Kamu mau terlambat sekolah?"

Tidak ada jawaban.

"Alvaro Dirgantara!"

Laki-laki itu akhirnya membuka matanya perlahan. Ia meraih ponsel di samping bantal, mematikan alarm, kemudian mengembuskan napas panjang.

"Pagi-pagi sudah berisik," gumamnya.

Namanya Alvaro Dirgantara.

Usianya tujuh belas tahun. Ia merupakan siswa kelas XII di SMA Adiwangsa, salah satu sekolah swasta ternama di kotanya.

Alvaro memiliki wajah yang mudah menarik perhatian, nilai akademik yang tinggi, serta latar belakang keluarga yang membuat namanya cukup dikenal di sekolah.

Ayahnya, Adrian Dirgantara, merupakan pengusaha sukses yang memiliki sejumlah perusahaan besar. Sementara ibunya, Eleanor Wijaya, adalah perempuan elegan yang selalu menjaga nama baik keluarganya.

Dari luar, kehidupan Alvaro tampak sempurna.

Rumah besar, mobil mewah, pakaian bermerek, dan masa depan yang sudah direncanakan dengan matang.

Namun, ada satu hal yang tidak dimiliki Alvaro: kebebasan untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Ayahnya selalu menginginkan kesempurnaan. Nilai harus bagus, pergaulan harus terjaga, dan setiap keputusan harus mempertimbangkan nama keluarga.

Termasuk soal cinta.

Sejak kecil, Alvaro terbiasa mendengar bahwa perasaan tidak boleh mengalahkan logika.

Akibatnya, ia tumbuh menjadi laki-laki yang pendiam, sulit didekati, dan tidak mudah mempercayai orang lain.

Baginya, menjaga jarak jauh lebih mudah daripada memberikan seseorang kesempatan untuk mengenal dirinya.

"Alvaro, sarapan sudah siap!" suara ibunya kembali terdengar.

"Iya, Ma. Sebentar!"

Alvaro bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Hari itu seharusnya menjadi hari biasa.

Ia tidak pernah menyangka bahwa sebuah pertemuan sederhana akan perlahan mengubah pandangannya tentang kehidupan.

Terlebih lagi tentang cinta.

---

SEBUAH PAGI YANG BERBEDA

Pukul 06.45 WIB.

Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan gerbang SMA Adiwangsa.

Seorang gadis turun dengan tergesa-gesa sambil memeluk beberapa buku di dadanya.

"Ya ampun, jangan sampai terlambat lagi!" keluhnya.

Gadis itu bernama Naura Adeline.

Berbeda dengan Alvaro yang berasal dari keluarga kaya raya, Naura tumbuh dalam keluarga sederhana yang penuh kehangatan.

Ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan ibunya memiliki usaha kecil di rumah.

Naura bukan gadis yang selalu mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Ia harus berusaha untuk meraih apa yang diinginkannya.

Namun, keadaan itu tidak pernah membuatnya merasa rendah diri.

Ia dikenal ramah, ceria, dan memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapatnya.

Sayangnya, Naura juga terkenal sedikit ceroboh.

Seperti pagi itu.

"Ra! Tunggu!"

Seorang gadis berlari menghampirinya.

Naura menoleh dan tersenyum lebar.

"Keisya! Cepat sedikit! Sebentar lagi bel masuk!"

Keisya Maharani adalah sahabat Naura sejak kelas X. Mereka sudah terbiasa menghadapi berbagai kejadian bersama, mulai dari tugas kelompok yang menumpuk hingga hukuman karena terlambat masuk kelas.

"Ini gara-gara kamu, tahu!" protes Keisya.

"Lho, kok aku?"

"Kamu yang semalam meneleponku sampai hampir tengah malam!"

Naura terkekeh.

"Ya, kan, kamu juga ikut cerita!"

Keisya memutar bola matanya.

"Sudahlah. Ayo, cepat!"

Keduanya berlari melewati gerbang sekolah.

Naura terus memperhatikan jam tangannya sambil berusaha menghindari siswa lain yang berjalan di sepanjang koridor.

Sampai akhirnya—

BRAK!

Tubuhnya menabrak seseorang.

Buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan di lantai.

"Aduh! Maaf, maaf!" ucap Naura spontan.

Ia segera berjongkok untuk mengumpulkan buku-bukunya.

Namun, orang yang ditabraknya tidak langsung menjawab.

Naura mendongak.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki dengan seragam putih abu-abu yang terlihat rapi. Rambut hitamnya tertata sedikit berantakan, sementara tatapannya begitu dingin hingga membuat Naura kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

Laki-laki itu adalah Alvaro Dirgantara.

"Kalau jalan, lihat depan," katanya datar.

Naura mengerjap.

Apa?

Ia sudah meminta maaf, tetapi laki-laki itu justru memarahinya?

"Aku sudah minta maaf, kok," jawab Naura sambil mengambil bukunya. "Aku juga nggak sengaja."

Alvaro menatapnya sekilas.

"Seharusnya kamu lebih berhati-hati."

Naura menarik napas panjang.

Biasanya, ia tidak suka memperpanjang masalah. Namun, sikap laki-laki di hadapannya benar-benar membuatnya kesal.

"Memangnya kamu nggak bisa menerima permintaan maaf dengan baik?"

Alvaro mengangkat sebelah alis.

"Apa?"

"Aku bilang, aku sudah minta maaf. Kalau kamu masih marah, memangnya aku harus bagaimana? Sujud di depan kamu?"

Keisya yang berdiri beberapa langkah dari mereka langsung menutup mulut.

Ya Tuhan, Naura! Kamu sedang bicara dengan siapa, sih?

Alvaro terdiam.

Sepanjang yang ia ingat, hampir tidak ada siswa yang berani berbicara kepadanya seperti itu.

Kebanyakan orang memilih bersikap sopan secara berlebihan atau berusaha mengambil hatinya.

Namun, gadis di hadapannya justru berani menentangnya.

"Mulutmu selalu seperti itu kepada orang yang baru kamu temui?" tanya Alvaro.

Naura tersenyum tipis.

"Tergantung. Kalau orangnya menyebalkan, mungkin."

Keisya nyaris tersedak menahan tawa.

Alvaro menatap Naura beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Terserah."

Ia berbalik dan berjalan meninggalkan mereka.

Naura mendengus.

"Sombong banget."

Namun, baru beberapa langkah, Alvaro berhenti.

Sebuah buku kecil tertinggal di lantai dekat kakinya.

Ia mengambil buku itu dan melihat sampul depannya.

NAURA ADELINE — XII IPS 2.

Alvaro mengangkat pandangannya.

Gadis yang baru saja menentangnya ternyata berasal dari kelas XII IPS 2, kelas yang berada tidak jauh dari ruangannya.

Ia memandang buku itu sejenak, lalu berjalan kembali ke arah Naura.

"Hei."

Naura menoleh.

"Apa lagi?"

Alvaro mengulurkan buku tersebut.

"Punyamu."

Naura terdiam sesaat sebelum mengambilnya.

"Oh. Makasih."

Kali ini, suaranya sedikit lebih lembut.

Alvaro hanya mengangguk, kemudian kembali berjalan tanpa mengatakan apa-apa.

Naura memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh.

"Ra," panggil Keisya pelan.

"Apa?"

"Kamu tahu nggak siapa dia?"

Naura menggeleng.

"Memangnya dia artis?"

Keisya menatapnya tidak percaya.

"Astaga! Itu Alvaro Dirgantara!"

Naura mengernyit.

"Terus?"

"TERUS?! Dia itu salah satu siswa paling populer di sekolah kita! Pintar, kaya, ganteng, kapten tim basket, dan anak tunggal keluarga Dirgantara!"

Naura terdiam beberapa detik.

Kemudian, ia mengangkat bahu.

"Terus kenapa?"

Keisya memegangi dahinya.

"Kadang-kadang aku heran sama kamu."

Naura tertawa kecil.

"Memangnya aku harus bersikap bagaimana? Meminta tanda tangannya?"

"Naura!"

"Iya, iya. Ayo masuk kelas!"

Naura menarik tangan sahabatnya dan berlari menuju ruang kelas.

Di sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak memikirkan Alvaro lagi.

Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Padahal, entah mengapa, tatapan dingin laki-laki itu masih terlintas di benaknya.

Bukan karena ia terpesona.

Melainkan karena ia belum pernah bertemu seseorang yang begitu menyebalkan sejak pagi hari.

---

NAMA YANG TERTULIS DI PAPAN

Pukul 07.00 WIB.

Bel masuk berbunyi.

Naura dan Keisya berhasil tiba di kelas tepat sebelum guru mereka datang.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Selamat pagi, Bu!"

Bu Ratna, wali kelas XII IPS 2, meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja.

"Sebelum memulai pelajaran, Ibu ingin menyampaikan pengumuman. Minggu depan, sekolah akan mengadakan proyek antarkelas. Setiap kelas akan bekerja sama dengan kelas lain untuk membuat sebuah kegiatan sosial."

Suasana kelas langsung ramai.

"Akan ada pembagian kelompok lintas kelas," lanjut Bu Ratna. "Nama anggota kelompok akan Ibu umumkan hari ini."

Naura yang semula sedang merapikan alat tulisnya langsung mengangkat kepala.

Ia cukup menyukai kegiatan kelompok, selama tidak mendapatkan anggota yang hanya mengandalkan orang lain.

Bu Ratna mulai membacakan daftar nama.

"Kelompok pertama..."

Satu per satu nama disebutkan.

Hingga akhirnya, Bu Ratna berhenti pada kelompok berikutnya.

"Kelompok empat terdiri atas Naura Adeline dari XII IPS 2, Keisya Maharani dari XII IPS 2, Alvaro Dirgantara dari XII IPS 1, dan Dimas Pratama dari XII IPS 1."

Naura membeku.

Perlahan, ia menoleh ke arah Keisya.

Keisya menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan.

"Ra..."

"Jangan bilang apa-apa."

"Tapi..."

"Keisya."

Keisya menahan tawa.

"Kamu satu kelompok sama laki-laki menyebalkan itu!"

Naura menjatuhkan dahinya ke atas meja.

Dari sekian banyak siswa di sekolah ini, kenapa harus dia?

Sementara itu, di kelas XII IPS 1, Alvaro juga baru menerima pengumuman yang sama dari wali kelasnya.

Dimas, sahabatnya sejak kelas X, langsung menyenggol lengannya.

"Bro, kamu satu kelompok sama Naura Adeline."

Alvaro mengernyit.

"Siapa?"

"Gadis yang tadi kamu tabrak di koridor."

Alvaro menoleh tajam.

"Dia yang menabrakku."

Dimas mengangkat kedua tangannya.

"Iya, iya. Terserah kamu. Yang jelas, mulai minggu depan kalian bakal sering ketemu."

Alvaro kembali memandang ke depan.

"Selama dia mengerjakan tugasnya dengan baik, aku tidak peduli."

Dimas tersenyum jahil.

"Kita lihat saja nanti."

Alvaro tidak menanggapi.

Ia tidak pernah percaya pada kebetulan.

Namun, hari itu, takdir seolah memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan dua orang yang sangat berbeda.

Seorang laki-laki yang menutup hatinya rapat-rapat.

Dan seorang gadis yang tidak pernah berniat mengetuk pintu hati siapa pun.

Mereka belum mengetahui nama perasaan yang kelak tumbuh di antara keduanya.

Mereka juga belum mengetahui bahwa hubungan itu akan diuji oleh masa lalu, penolakan keluarga, dan sebuah kesalahpahaman yang mengancam segalanya.

Untuk saat ini, mereka hanya dua orang asing yang terpaksa bekerja sama.

Tanpa menyadari bahwa pertemuan sederhana tersebut akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka.

Sebab, terkadang, seseorang datang bukan ketika kita sedang mencari cinta, melainkan ketika kita paling tidak percaya bahwa cinta itu ada.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.