Bab 1: Permintaan Sang Pangeran

19 menit baca•3.7rb kata

Pagi itu, laut di hadapan Kerajaan Mahligai Samudra tampak tenang, seolah-olah tidak pernah menyimpan rahasia.

Cahaya matahari jatuh di atas permukaan air, membentuk jalur keemasan yang membentang dari kaki cakrawala hingga dermaga kerajaan. Perahu-perahu nelayan bergerak perlahan di antara kapal dagang yang baru tiba. Di kejauhan, layar-layar berwarna putih dan cokelat kemerahan mengembang diterpa angin. Suara buruh pelabuhan, pekikan burung laut, dan dentang kayu yang beradu dengan lambung kapal menyatu menjadi irama kehidupan sebuah negeri maritim yang telah tumbuh selama berabad-abad.

Mahligai Samudra kaya oleh hasil laut, rempah, damar, kayu, dan beras dari dataran pedalaman. Kapal-kapalnya berlayar ke negeri-negeri yang jauh, membawa barang dagangan sekaligus kabar tentang dunia luar. Di istana, para pembesar membicarakan pajak pelabuhan, hasil panen, perjanjian dagang, dan keamanan jalur pelayaran.

Namun, di balik kemakmuran itu, ada satu perkara yang tak pernah benar-benar selesai.

Sebuah kapal kerajaan pernah berangkat menuju timur, melewati batas peta yang dikenal, lalu lenyap tanpa meninggalkan kepastian.

Namanya Naga Selatan.

Dan pagi itu, Pangeran Aria Nala kembali membaca kisah kepergiannya.


Ruang arsip kerajaan berada di bagian timur istana, jauh dari balairung utama. Dindingnya tebal, jendelanya sempit, dan rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh ruangan. Gulungan peta, buku catatan pelayaran, surat para nakhoda, serta laporan perdagangan disimpan di sana. Sebagian dokumen telah menguning dimakan usia. Sebagian lainnya masih terawat, dijaga oleh para juru tulis yang menganggap setiap lembar sebagai bagian dari ingatan kerajaan.

Aria Nala berdiri di hadapan sebuah meja panjang. Di atasnya terbentang peta laut lama yang tepinya mulai rapuh.

Usianya dua puluh sembilan tahun. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang, dan matanya menunjukkan kebiasaan seseorang yang lebih suka mengamati sebelum berbicara. Ia bukan putra mahkota. Kedudukan itu telah menjadi hak kakandanya, Pangeran Indera Jaya, yang lebih tua lima tahun dan sejak lama dipersiapkan untuk menggantikan ayahanda mereka.

Aria tidak pernah menginginkan takhta Mahligai Samudra.

Yang diinginkannya justru sesuatu yang belum dimiliki kerajaan itu: kesempatan untuk melihat apa yang terbentang di luar peta.

Jari telunjuknya menyusuri garis pelayaran yang digambar dengan tinta kecokelatan. Jalur itu mengikuti pesisir timur sebelum berbelok menuju hamparan laut luas. Di ujung garis terdapat sebuah tanda kecil, disertai catatan yang hampir tak terbaca.

Daratan terlihat di balik kabut.

Aria mendekatkan lampu minyak ke lembar tersebut.

“Baginda Laksamana Muda Sura Wijaya,” gumamnya, membaca nama yang tercantum pada catatan di samping garis pelayaran. “Apa yang sebenarnya Tuanku temukan?”

Di belakangnya, seseorang berdeham pelan.

“Tuanku Pangeran telah berada di sini sejak matahari terbit.”

Aria menoleh. Seorang lelaki tua berdiri di dekat pintu. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk, tetapi kedua matanya masih tajam. Dialah Encik Rahim, penjaga arsip kerajaan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama dokumen-dokumen lama.

“Patik hanya ingin menyelesaikan bacaan ini,” jawab Aria.

Encik Rahim mendekat dan memandang peta yang terbentang.

“Catatan itu sudah dibaca banyak orang, Tuanku. Akan tetapi, tak seorang pun dapat memastikan apa yang dimaksudkan oleh penulisnya.”

“Karena catatannya tidak lengkap?”

“Karena orang yang menulisnya tidak pernah pulang.”

Aria terdiam.

Dua puluh tujuh tahun sebelumnya, Naga Selatan meninggalkan pelabuhan bersama dua kapal pengiring dan sekitar seratus awak serta petugas kerajaan. Pelayaran itu bukan ekspedisi penaklukan. Tugasnya memetakan arus, mencari pelabuhan aman, dan menyelidiki kabar tentang daratan jauh yang sesekali disebut para pedagang.

Mereka membawa bekal untuk perjalanan panjang, juru peta, tabib, ahli perbintangan, dan sejumlah prajurit. Semuanya dipimpin Laksamana Muda Sura Wijaya, seorang pelaut berpengalaman yang dikenal cermat membaca angin dan gelombang.

Mereka dijadwalkan kembali sebelum musim angin berubah.

Mereka tidak pernah kembali.

Dua kapal pengiring pun hilang bersama mereka.

“Apakah benar ada pedagang yang melihat layar mereka?” tanya Aria.

“Benar, Tuanku. Seorang saudagar dari pesisir utara pernah bersumpah melihat kapal dengan bentuk layar serupa di dekat gugusan batu karang. Namun, ia tidak dapat memastikan lambang pada layarnya.”

“Dan papan berukir lambang kerajaan?”

Encik Rahim menarik napas.

“Seorang nakhoda lain melaporkan menemukan papan kayu dengan ukiran lambang Mahligai Samudra. Katanya, papan itu hanyut jauh dari jalur perdagangan biasa. Tetapi laporan tersebut tidak pernah sampai langsung ke tangan Baginda. Salinannya baru ditemukan beberapa tahun kemudian, dan asal-usul papan itu tak dapat diperiksa.”

“Jadi, kita memiliki kabar yang tidak pasti, kesaksian yang saling berjauhan, dan sebuah kapal yang tak pernah pulang.”

“Begitulah adanya, Tuanku.”

Aria menatap peta itu sekali lagi.

“Kadang-kadang, patik berpikir bahwa kegagalan kita bukan karena daratan itu tak ada. Mungkin kita hanya berhenti mencarinya.”

Encik Rahim tidak segera menjawab. Ia telah cukup lama hidup untuk mengetahui bahwa keberanian dan kebijaksanaan tidak selalu berjalan seiring.

“Laut tidak memberi jawaban hanya karena manusia berani bertanya, Tuanku,” katanya akhirnya. “Ada kalanya laut memberi jalan. Ada kalanya ia mengambil segala sesuatu yang dibawa manusia kepadanya.”

“Kalau demikian, kita harus belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Aria menggulung peta dengan hati-hati. Ia telah mempelajari catatan itu selama berbulan-bulan. Kini ia tahu apa yang harus dilakukannya.

Ia harus menghadap ayahandanya.


Balairung utama Mahligai Samudra berdiri di atas tiang-tiang kayu besar dengan ukiran sulur dan bunga. Lantainya dipoles hingga memantulkan cahaya. Di sepanjang dinding tergantung panji-panji kerajaan, sementara dua baris pengawal berdiri tegak di dekat pintu masuk.

Di ujung balairung, Sultan Mahendra Syah duduk di singgasana.

Usianya hampir enam puluh tahun. Rambutnya mulai memutih, dan garis-garis usia terlihat jelas di wajahnya. Namun, sorot matanya masih tegas. Selama puluhan tahun memerintah, ia telah menghadapi perang perbatasan, perselisihan antarpembesar, wabah, gagal panen, dan persaingan dagang yang nyaris memutus hubungan kerajaan dengan sekutu-sekutunya.

Ia bukan raja yang menganggap semua persoalan dapat diselesaikan dengan titah.

Ia tahu bahwa sebuah keputusan yang terdengar gagah di balairung bisa berakhir sebagai kelaparan di desa, utang di pelabuhan, atau kematian para pelaut yang tak pernah diketahui keluarganya.

Di sisi kanan singgasana berdiri Pangeran Indera Jaya, putra mahkota Mahligai Samudra. Wajahnya lebih keras daripada wajah adindanya, tetapi sikapnya menunjukkan ketenangan seorang lelaki yang terbiasa memikul tanggung jawab.

Ketika Aria memasuki balairung, para pembesar menoleh kepadanya.

Ia berjalan hingga batas tempat menghadap, lalu menundukkan kepala dan menyembah hormat.

“Ampun beribu ampun, Tuanku. Patik datang menghadap untuk mempersembahkan suatu perkara kepada Tuanku.”

Sultan memandang putranya cukup lama sebelum menjawab.

“Kemarilah, anakanda. Beta dengar anakanda telah beberapa hari menekuni catatan pelayaran lama. Bahkan penjaga arsip pun mengadu bahwa anakanda hampir lupa waktu.”

Beberapa pembesar tersenyum tipis. Aria membalasnya dengan senyum kecil, tetapi segera kembali bersikap hormat.

“Benarlah demikian, Tuanku.”

“Duduklah dan katakan apa yang hendak anakanda persembahkan. Beta mendengar.”

Aria duduk di tempat yang disediakan, tetapi punggungnya tetap tegak.

“Tuanku, patik memohon perkenan untuk memimpin sebuah ekspedisi pelayaran ke timur, melewati batas peta kerajaan. Patik hendak mencari daratan yang pernah disebut dalam catatan para pelaut, menyelidiki kemungkinan adanya pelabuhan aman, dan apabila keadaan mengizinkan, mendirikan sebuah permukiman di sana.”

Suasana balairung berubah.

Seorang pembesar mengangkat alis. Yang lain saling berpandangan. Dari barisan penasihat terdengar bisikan singkat yang segera mereda ketika Sultan mengangkat tangan.

Sultan Mahendra Syah tidak langsung menjawab.

“Daratan yang belum tentu ada,” katanya perlahan, “hendak anakanda tuju dengan kapal, harta kerajaan, dan nyawa rakyat beta?”

“Patik mengetahui risikonya, Tuanku.”

“Mengetahui bahwa risiko itu ada tidak sama dengan mengetahui besarnya.”

“Benar, Tuanku. Sebab itulah patik datang untuk memohon izin menyusun rencana yang dapat diperiksa, bukan meminta agar kapal-kapal dilepaskan ke laut tanpa perhitungan.”

Sultan menyandarkan tubuhnya.

“Jelaskan maksud anakanda.”

Aria membuka gulungan peta yang dibawanya. Ia meletakkannya di atas meja rendah di hadapan singgasana, lalu menunjuk jalur yang telah ditandai.

“Patik tidak hendak berlayar hanya untuk mencari kemasyhuran. Apabila daratan itu benar-benar ada, patik ingin menilai apakah tanahnya dapat ditanami, apakah air tawarnya mencukupi, apakah teluknya aman bagi kapal, dan apakah permukiman dapat bertahan tanpa terus-menerus bergantung kepada Mahligai Samudra.”

“Anakanda hendak mendirikan kerajaan baru?” tanya salah seorang pembesar.

“Belum tentu, Datuk,” jawab Aria. “Patik hendak mendirikan permukiman yang mampu menghidupi dirinya sendiri. Apa yang kelak tumbuh darinya harus ditentukan oleh keadaan, bukan oleh angan-angan patik seorang.”

Jawaban itu membuat beberapa orang terdiam.

Pangeran Indera Jaya maju selangkah.

“Ampun, Ayahanda. Izinkan Kakanda menyampaikan pandangan.”

Sultan mengangguk.

“Silakan, anakanda.”

Indera Jaya memandang peta di hadapannya, kemudian kepada adindanya.

“Adinda Aria, niatmu patut didengar. Namun, sebuah permukiman tidak dibangun dengan keberanian semata. Kita harus menghitung berapa banyak beras yang dibawa, berapa lama persediaan itu bertahan, bagaimana kapal diperbaiki, dan siapa yang menjaga orang-orang ketika para petani belum dapat memanen hasil pertama.”

“Patik sependapat, Kakanda,” jawab Aria. “Justru hal-hal itulah yang hendak patik masukkan ke dalam rencana.”

“Dan jika pelayaran berlangsung lebih lama daripada perkiraan?”

“Persediaan harus disusun untuk menghadapi keterlambatan. Kita juga harus membawa benih, alat pertanian, perlengkapan penangkapan ikan, dan orang-orang yang mengetahui cara mengolah tanah. Patik tidak ingin permukiman itu hidup semata-mata dari bekal kapal.”

Indera Jaya mengangguk kecil, tetapi belum selesai.

“Bagaimana jika kapal rusak sebelum mencapai tujuan? Bagaimana jika penyakit menyebar? Bagaimana jika daratan yang ditemukan ternyata tandus?”

“Pelayaran harus memiliki tempat persinggahan yang telah dinilai sebelumnya. Kita perlu membawa tabib, tukang kayu kapal, pandai besi, dan orang yang memahami bangunan. Jika tanahnya tidak layak, ekspedisi harus mencari tempat lain atau kembali. Patik tidak akan memaksa orang bertahan di tempat yang jelas-jelas tidak dapat menghidupi mereka.”

Sultan memperhatikan kedua putranya.

Indera Jaya tidak sedang berusaha menjatuhkan adindanya. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kelak harus dijawab oleh seorang pemimpin, bukan sekadar oleh seorang penjelajah.

“Bagaimana dengan penduduk yang mungkin telah tinggal di sana?” tanya Sultan.

Aria terdiam sesaat.

“Patik tidak dapat mengatakan siapa yang akan kami temui, Tuanku. Catatan kita tidak cukup untuk menjelaskan keadaan daratan itu. Karena itulah patik tidak ingin menganggap tanah yang belum kita kenal sebagai tanah yang tidak dimiliki siapa pun.”

Sultan sedikit mencondongkan tubuh.

“Lanjutkan.”

“Jika ada penduduk setempat, patik akan mengutamakan pengamatan dan perundingan. Kita harus memahami tempat tinggal, kebiasaan, serta cara mereka menggunakan tanah dan sungai. Patik tidak ingin memulai pelayaran ini dengan merampas sesuatu yang bahkan belum kita pahami.”

Seorang panglima tua di sisi balairung mengerutkan kening.

“Tuanku Pangeran, niat baik tidak selalu dibalas dengan niat baik. Bagaimana jika mereka menyerang?”

“Jika mereka mengancam keselamatan rombongan, patik akan melindungi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab patik. Tetapi kita tidak boleh menyamakan kehati-hatian dengan permusuhan. Tidak semua orang yang belum kita kenal adalah musuh.”

Sultan tidak segera memberi tanggapan.

Ada sesuatu dalam jawaban itu yang membuatnya teringat pada dirinya sendiri ketika masih muda—sebelum takhta mengajarinya bahwa niat baik pun dapat membawa akibat yang tak pernah dibayangkan.


“Anakanda tahu mengapa beta tidak mudah memberikan izin untuk pelayaran seperti ini?” tanya Sultan setelah beberapa saat.

“Patik menduga karena risikonya besar, Tuanku.”

“Bukan hanya itu.”

Sultan memberi isyarat kepada seorang pelayan. Pelayan itu membawa sebuah kotak kayu kecil dan meletakkannya di hadapan baginda. Kotak tersebut tidak dihiasi ukiran mewah. Permukaannya kusam, dengan bekas goresan pada bagian tutupnya.

Sultan membukanya.

Di dalamnya terbaring sebuah kompas tua, pecahan kayu berukir lambang kerajaan, dan seutas tali yang warnanya telah berubah menjadi cokelat gelap.

“Dua puluh tujuh tahun yang lalu,” kata Sultan, “beta masih belum lama duduk di singgasana ketika Laksamana Muda Sura Wijaya memohon izin memimpin pelayaran ke timur. Ia seorang pelaut yang cermat. Ia tidak mudah terpukau oleh cerita saudagar dan tidak suka menjanjikan sesuatu yang belum dapat dibuktikan.”

Aria memandang benda-benda di dalam kotak.

“Apakah benda-benda itu berasal dari Naga Selatan, Tuanku?”

“Tidak semuanya dapat dipastikan. Pecahan kayu itu ditemukan oleh seorang nelayan. Lambangnya menyerupai lambang kapal kerajaan pada masa itu. Kompas ini milik Sura Wijaya. Beta mengenalinya karena pernah melihatnya di tangannya sendiri.”

Sultan mengangkat kompas itu, kemudian meletakkannya kembali.

“Naga Selatan berangkat bersama dua kapal pengiring. Mereka ditugaskan memetakan arus, mencari tempat berlindung bagi kapal, dan menyelidiki kabar tentang daratan yang berada jauh di balik jalur dagang. Mereka membawa cukup bekal untuk perjalanan panjang. Menurut perhitungan para nakhoda, mereka seharusnya telah kembali sebelum musim angin berubah.”

“Tetapi mereka tidak kembali,” ujar Aria pelan.

“Benar.”

Suara Sultan tidak meninggi. Justru ketenangan itulah yang membuat kata-katanya terasa berat.

“Ketika kabar pertama tentang keterlambatan mereka tiba, beta mengirim kapal pencari. Beberapa pekan kemudian, kapal-kapal itu kembali tanpa hasil. Beta memerintahkan pencarian kedua, lebih jauh dari jalur semula. Cuaca memburuk. Persediaan menipis. Kapal-kapal dagang membutuhkan pengawalan, sementara di perbatasan utara terjadi perselisihan yang dapat berubah menjadi perang.”

Baginda berhenti sejenak.

“Beta masih mengingat hari ketika laporan terakhir dibacakan di hadapan beta. Tidak ada mayat. Tidak ada kapal yang dapat dikenali. Tidak ada saksi yang mengetahui nasib mereka. Hanya laut yang luas dan kabar yang saling bertentangan.”

“Tuanku telah mengerahkan pencarian,” kata Aria. “Patik tidak menyalahkan Tuanku.”

“Beta tidak menceritakan ini untuk meminta anakanda menghibur hati beta.”

Sultan menatap putranya.

“Beta menghentikan pencarian karena kerajaan tidak mungkin mempertaruhkan semua yang dimilikinya untuk mengejar sesuatu yang tak diketahui. Rakyat harus makan. Pelabuhan harus dijaga. Perbatasan harus dipertahankan. Raja tidak boleh membiarkan seluruh negeri tenggelam dalam satu kehilangan.”

Ia menghela napas.

“Namun, keputusan yang benar bagi kerajaan belum tentu menghapus penyesalan dari hati seorang ayah, seorang pemimpin, atau seorang manusia.”

Aria menundukkan kepala. Baru saat itulah ia memahami bahwa kisah Naga Selatan bukan sekadar catatan pelayaran yang gagal. Di baliknya terdapat luka yang selama bertahun-tahun disimpan oleh ayahandanya.

“Apakah Tuanku percaya mereka menemukan daratan itu?”

Sultan memandang ke arah jendela balairung. Dari sana, laut terlihat membentang hingga cakrawala.

“Beta tidak tahu. Dan seorang raja yang baik harus sanggup mengatakan bahwa ia tidak tahu.”

Jawaban itu membuat Aria terdiam.

“Jika anakanda berangkat,” lanjut Sultan, “jangan berangkat untuk membuktikan bahwa beta dahulu keliru. Jangan pula berangkat untuk mengembalikan orang-orang yang telah hilang. Anakanda tidak dapat mengubah masa lalu dengan mempertaruhkan nyawa orang lain.”

“Patik mengerti, Tuanku.”

“Benarkah?”

“Patik tidak dapat menjanjikan bahwa semua orang akan pulang. Patik juga tidak dapat menjanjikan bahwa daratan itu akan ditemukan. Namun, patik dapat berjanji bahwa setiap keputusan akan dibuat dengan memperhitungkan keselamatan orang-orang yang dipercayakan kepada patik. Patik tidak akan menjadikan mereka korban bagi ambisi pribadi.”

Sultan menatap Aria cukup lama.

“Janji seperti itu mudah diucapkan di dalam istana.”

“Karena itulah patik bersedia menyusun perhitungan dan menyerahkannya kepada para penasihat Tuanku. Biarlah rencana patik diperiksa. Jika tidak layak, patik akan menerimanya.”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, tampak bayangan senyum pada wajah Sultan.

“Anakanda meminta izin untuk berangkat, tetapi bersedia menerima kemungkinan bahwa beta akan menolaknya.”

“Patik memohon perkenan, Tuanku. Bukan memaksa kehendak.”

Sultan mengangguk perlahan.

“Baiklah. Beta akan mempertimbangkannya.”


Pertemuan itu belum berakhir ketika Indera Jaya meminta izin untuk berbicara lagi.

“Ampun, Ayahanda. Jika rencana Adinda Aria hendak diperiksa, izinkan patik turut menelaah perhitungan perbekalan dan biaya. Kita perlu mengetahui bukan hanya berapa banyak yang harus dibawa, tetapi juga berapa banyak yang dapat disediakan tanpa mengurangi kebutuhan rakyat.”

“Beta berkenan,” jawab Sultan. “Namun, jangan jadikan perhitungan itu sekadar alasan untuk menutup jalan sebelum ia diperiksa.”

“Tidak, Ayahanda. Patik hanya hendak memastikan bahwa apabila perjalanan ini diizinkan, ia tidak akan mengorbankan negeri yang ditinggalkannya.”

Aria menoleh kepada kakandanya.

“Terima kasih, Kakanda.”

Indera Jaya menepuk bahunya dengan ringan.

“Jangan berterima kasih dahulu, Adinda. Aku akan menjadi orang pertama yang bertanya jika hitunganmu tidak masuk akal.”

“Patik akan menunggu pertanyaan Kakanda.”

“Dan jangan mengira aku akan membiarkanmu membawa seribu orang hanya karena kau pandai berbicara di hadapan Ayahanda.”

Aria tersenyum tipis.

“Patik berharap Kakanda menanyakan lebih banyak daripada itu.”

Keduanya saling memandang. Tidak ada kecemburuan di antara mereka, tetapi ada perbedaan yang tak dapat dihapus. Indera Jaya bertugas menjaga kerajaan yang telah ada. Aria ingin mencari tempat bagi sesuatu yang belum pernah dibangun.

Mereka sama-sama mencintai Mahligai Samudra, tetapi cinta itu membawa mereka ke arah yang berbeda.

Sultan memperhatikan keduanya sebelum akhirnya berdiri.

“Dengarkan titah beta. Belum ada izin keberangkatan. Dalam empat puluh hari, Pangeran Aria Nala harus menyerahkan rencana lengkap. Perbekalan, jumlah kapal, biaya, awak, persenjataan, tempat persinggahan, dan kemungkinan jalan pulang harus dihitung dengan cermat.”

“Daulat, Tuanku,” jawab Aria.

“Beta juga menghendaki penjelasan tentang orang-orang yang akan ikut. Siapa yang berangkat dengan sukarela, siapa yang dibutuhkan karena keahliannya, dan bagaimana keluarga mereka akan ditanggung apabila terjadi sesuatu.”

“Patik akan menyusunnya, Tuanku.”

“Jangan lupa para tabib, ahli bangunan, petani, juru tulis, dan orang-orang yang dapat memperbaiki kapal. Prajurit saja tidak akan membangun permukiman. Dan jangan pula anakanda mengira bahwa membawa banyak orang berarti menjamin keselamatan mereka.”

“Patik menjunjung titah Tuanku.”

Sultan kemudian menatap seluruh pembesar yang hadir.

“Beta tidak hendak mendengar kabar tentang pelayaran ini menyebar ke seluruh pelabuhan sebelum rencananya selesai diperiksa. Bukan karena beta hendak menyembunyikan kebenaran, melainkan karena kabar yang belum pasti dapat mendatangkan harapan dan ketakutan yang tidak perlu.”

Para pembesar menyembah hormat.

Ketika pertemuan dibubarkan, Aria kembali menyembah kepada ayahandanya.

“Ampun, Tuanku. Patik mohon diri.”

“Pergilah, anakanda. Dan ingatlah, laut tidak berutang apa-apa kepada manusia.”

“Patik akan mengingat titah Tuanku.”

Aria melangkah keluar dari balairung dengan membawa lebih banyak pekerjaan daripada yang ia bawa ketika masuk. Ia belum memperoleh izin berangkat. Namun, untuk pertama kalinya, gagasannya telah diterima sebagai sesuatu yang patut diperiksa, bukan sekadar angan-angan seorang pangeran.


Menjelang petang, Aria kembali ke ruang kerjanya.

Ia memanggil beberapa orang yang kelak mungkin menjadi bagian dari ekspedisi: Laksamana Bentara, seorang pemimpin armada berpengalaman; Nakhoda Sura, pelaut yang mengenal perubahan arus dan angin; Bendahara Tun Mahkota, yang bertugas menelaah biaya dan persediaan; serta Panglima Jaya Kesuma, yang memahami pertahanan darat dan disiplin pasukan.

Ia juga berencana menemui Tengku Guru Abdul Hakim, seorang alim ulama yang dihormati karena pengetahuan agama, hukum, dan kemampuannya menengahi perselisihan. Aria menginginkan seseorang yang dapat mengingatkan rombongan bahwa keberanian tidak membebaskan manusia dari kewajiban moralnya.

Daftar awalnya memuat sekitar dua puluh dua kapal dan seribu lima ratus orang. Angka itu masih berupa perkiraan. Jumlah sesungguhnya akan bergantung pada kapasitas kapal, persediaan makanan, ketersediaan air, kemampuan membawa keluarga, serta lamanya perjalanan.

Aria tahu bahwa semakin banyak orang yang dibawa, semakin besar pula kebutuhan air, pangan, tempat berlindung, dan obat-obatan. Ia tidak ingin mengisi kapal dengan manusia hanya agar ekspedisi terlihat megah.

Ia baru saja mulai menulis daftar kebutuhan ketika terdengar ketukan di pintu.

Encik Rahim berdiri di ambang ruangan. Kali ini wajahnya tidak setenang biasanya.

“Ampun, Tuanku Pangeran. Patik memohon maaf karena mengganggu.”

“Ada apa, Encik Rahim?”

“Patik menemukan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan Naga Selatan.”

Aria meletakkan penanya.

“Apa yang Encik temukan?”

Penjaga arsip itu masuk dan menutup pintu. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang dibalut kain kelabu. Kainnya berbau lembap, seolah-olah telah lama disimpan di tempat yang tidak terkena udara.

“Bungkusan ini ditemukan ketika peti arsip lama diperiksa kembali,” jelasnya. “Peti itu pernah dipindahkan beberapa kali. Tidak ada catatan yang menjelaskan dari mana bungkusan ini berasal atau siapa yang meletakkannya di sana.”

“Sudahkah Encik membukanya?”

“Baru sebentar tadi, Tuanku. Patik merasa perkara ini harus disampaikan langsung kepada Tuanku Pangeran.”

Aria membuka ikatan kain dengan hati-hati.

Di dalamnya terdapat tiga benda: sepotong peta yang rusak, selembar catatan yang sebagian tulisannya telah luntur, dan sebuah keping logam kecil dengan lambang yang menyerupai ukiran pada lambung Naga Selatan.

Aria mengambil peta terlebih dahulu. Garis pantai tergambar dengan bentuk yang berbeda dari peta-peta kerajaan. Ada sebuah sungai besar, beberapa tanda menyerupai bukit, dan sebuah teluk yang terlindung oleh dua tanjung.

Di tepi peta terdapat garis pendek yang mungkin menunjukkan jalur pelayaran. Garis itu berakhir mendadak sebelum mencapai daratan.

“Dari mana peta ini berasal?” tanyanya.

“Patik belum dapat memastikan.”

Aria beralih kepada catatan. Kertasnya rapuh dan berlubang di beberapa bagian. Ia membacanya perlahan, berhati-hati agar tidak merobek serat yang telah melemah.

Persediaan air tinggal untuk sebelas hari.

Di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil:

Laksamana memerintahkan agar kita tidak menyalakan api setelah matahari terbenam.

Aria merasakan tengkuknya menegang.

Ia melanjutkan membaca.

Penduduk di seberang sungai melihat kapal kita.

Kalimat berikutnya telah rusak. Yang tersisa hanya beberapa goresan tinta dan potongan kata yang tidak dapat dipastikan maknanya.

“Penduduk?” gumam Aria. “Mereka benar-benar bertemu seseorang.”

“Atau setidaknya melihat tanda keberadaan mereka, Tuanku,” jawab Encik Rahim hati-hati. “Kita tidak tahu siapa yang menulis catatan ini. Kita juga tidak tahu apakah catatan itu ditulis sebelum atau sesudah mereka berpisah dari kapal-kapal lain.”

Aria mengambil keping logam kecil. Lambang kapal terukir di permukaannya. Pada sisi belakangnya terdapat goresan angka yang menyerupai penanda tahun.

Ia memiringkannya ke arah cahaya lampu.

Angka itu tidak sepenuhnya jelas, tetapi tampaknya menunjukkan waktu yang lebih muda daripada tanggal keberangkatan Naga Selatan. Jika pembacaannya benar, benda itu mungkin dibuat atau ditandai setelah kapal tersebut seharusnya telah kembali ke Mahligai Samudra.

“Encik Rahim,” kata Aria perlahan, “apakah angka ini pernah diperiksa?”

“Belum, Tuanku. Patik bahkan tidak tahu apakah goresan itu memang angka penanggalan. Bisa jadi penanda lain yang hanya dipahami oleh pembuatnya.”

Aria mengangguk, tetapi pandangannya belum beralih dari keping logam tersebut.

Ada satu benda lagi di dasar bungkusan: secarik kertas yang begitu kecil hingga hampir tersembunyi di lipatan kain.

Ia membukanya.

Hanya ada satu kalimat pendek, ditulis dengan tinta yang jauh lebih gelap daripada tulisan pada catatan sebelumnya.

Jangan kirim kapal melalui jalur yang sama.

Aria membacanya sekali.

Lalu sekali lagi.

Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang menulisnya atau kepada siapa pesan itu ditujukan.

Di luar jendela, angin petang mulai bertiup. Layar-layar kapal di pelabuhan bergoyang perlahan, sementara cahaya matahari tenggelam di balik garis laut.

Selama bertahun-tahun, kisah Naga Selatan dianggap sebagai kisah kehilangan. Kapal itu pergi, para awaknya tidak kembali, dan kerajaan akhirnya belajar hidup dengan ketiadaan jawaban.

Namun, benda-benda di atas meja itu membuka kemungkinan lain.

Mungkin seseorang dari ekspedisi tersebut pernah bertahan hidup cukup lama untuk menulis catatan. Mungkin ada kapal yang menemukan jalan pulang, tetapi tidak pernah mencapai pelabuhan kerajaan. Mungkin seseorang sengaja membawa benda-benda itu kembali dan menyembunyikannya di dalam arsip.

Atau mungkin semua itu tidak berkaitan satu sama lain—sebuah kebetulan yang baru sekarang tampak seperti petunjuk.

Aria tidak memiliki cukup bukti untuk memilih salah satu kemungkinan.

Ia menggulung kembali peta, membungkus catatan dan keping logam, lalu memandang Encik Rahim.

“Jangan sebarkan kabar ini dahulu. Patik hendak mengetahui asal-usul setiap benda sebelum membuat kesimpulan.”

“Daulat, Tuanku Pangeran.”

“Periksa kembali catatan pemindahan arsip. Cari siapa saja yang pernah memiliki akses ke peti itu. Dan jangan mengubah atau membersihkan benda-benda ini sebelum kita mengetahui bagaimana cara merawatnya.”

“Patik akan melaksanakannya.”

Setelah Encik Rahim pergi, Aria tetap duduk di hadapan meja.

Di luar sana, laut masih tampak tenang.

Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang cakrawala hanya sebagai batas dunia yang dikenal. Di baliknya mungkin terbentang daratan yang dapat menjadi rumah bagi ribuan manusia. Mungkin juga terdapat sesuatu yang pernah membuat sebuah ekspedisi kerajaan kehilangan jalan pulang.

Aria menyentuh ujung peta yang telah rusak.

Ia belum tahu apakah dirinya akan memperoleh izin berangkat. Ia belum tahu apakah rencana yang sedang disusunnya akan bertahan ketika diuji oleh angka, cuaca, dan kepentingan kerajaan. Bahkan jika ia berhasil berlayar, ia belum tahu apakah daratan yang dicarinya benar-benar layak dihuni.

Tetapi sekarang ada pertanyaan lain yang tidak dapat diabaikannya.

Siapa yang mengembalikan benda-benda ini ke Mahligai Samudra—dan mengapa mereka tidak pernah menceritakan apa yang terjadi?

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.