Bab 1TANAH YANG BELUM BERNAMA
Jauh di sebuah negeri yang dikelilingi laut biru dan hutan lebat, berdirilah sebuah kampung kecil bernama Teluk Arwana.
Penduduknya hidup dari laut dan tanah. Para nelayan berangkat sebelum matahari terbit, sementara para petani menanam padi di tanah yang subur di pinggir sungai.
Namun negeri itu tidak selalu damai.
Bajak laut sering datang dari laut lepas. Mereka merampas hasil tangkapan, membakar rumah, dan membawa pergi barang-barang berharga.
Di tengah keadaan itu hiduplah seorang pemuda bernama Raja Zainal. Ia bukan raja. Ia hanya anak seorang kepala kampung yang telah meninggal ketika melindungi penduduk dari serangan bajak laut.
Zainal dikenal sebagai pemuda yang berani, tetapi ia tidak gegabah.
Suatu malam, ketika penduduk sedang berkumpul di balai kampung, seorang lelaki tua bernama Datuk Hamzah berdiri.
"Kalau kita terus hidup seperti ini, sampai kapan pun kita akan menjadi mangsa."
Zainal menatap orang-orang di sekelilingnya.
"Kita membutuhkan persatuan."
"Persatuan dengan siapa?" tanya seorang nelayan.
"Dengan kampung-kampung di sepanjang sungai."
Zainal kemudian mengusulkan agar beberapa kampung membentuk satu pemerintahan bersama. Ia mengirim utusan ke berbagai daerah.
Tidak semua menerima.
Namun perlahan, satu demi satu kampung bergabung.
Beberapa tahun kemudian, di atas sebuah bukit yang menghadap selat, Zainal berdiri di hadapan rakyat.
Hari itu, bendera pertama mereka dikibarkan.
"Mulai hari ini," ucap Zainal, "kita bukan lagi kumpulan kampung yang terpisah."
Ia memandang lautan.
"Kita adalah satu negeri."
Negeri itu kemudian diberi nama Kesultanan Darul Samudra.
Dan Zainal dinobatkan sebagai sultan pertamanya.
Tidak seorang pun menyadari bahwa kerajaan kecil itu kelak akan menjadi salah satu kekuatan terbesar di kawasan tersebut.