Bab 1Bab 1: Kabut yang Menelan Kota

6 menit baca•1.2rb kata

Rama Wijaya berdiri di dermaga Kota Senja, angin laut menyapu wajahnya yang kecokelatan. Dia turis biasa dari Ibu Kota, 32 tahun, datang sendirian untuk “melarikan diri dari rutinitas kantor”. Kamera mirrorless-nya tergantung di leher, tas ransel penuh lensa cadangan. Kota Senja adalah surga kecil di pantai utara: 85.000 penduduk, rumah-rumah beratap merah, pasar ikan yang selalu ramai, dan lampu-lampu warna-warni di sepanjang pantai setiap malam. Rama sudah tiga hari di sini. Dia suka kesunyian pagi, saat nelayan baru pulang dan anak-anak sekolah berlarian.

Hari itu, 17 Maret 2026, pukul 06:45 pagi. Rama memotret matahari terbit yang merah darah. “Sempurna” gumamnya. Dia tidak tahu, itu adalah foto terakhirnya di dunia lama.

Kabut datang dari laut. Bukan kabut biasa. Ini tebal, putih keabu-abuan, bergerak seperti makhluk hidup. Rama merasa dingin menusuk tulang. Bau garam bercampur sesuatu yang busuk... seperti ikan mati yang terlalu lama di pantai. Dalam hitungan menit, kabut menelan dermaga, lalu pasar, lalu seluruh kota. Suara klakson motor, tawa anak kecil, dan ombak… semuanya lenyap. Hanya ada suara napas Rama sendiri yang tiba-tiba terdengar terlalu keras.

Dia berjalan pelan, tangan meraba dinding toko kelontong yang biasanya ramai. “Halo? Ada orang?” Suaranya bergema aneh, seperti ada dua suara yang menjawab dari kejauhan.

Ketika kabut mulai menipis... bukan hilang, hanya mundur pelan seperti napas raksasa... Rama melihat kota masih di tempatnya. Rumah-rumah sama. Jalan raya sama. Tapi ada yang salah. Langit bukan biru lagi. Hitam pekat, tanpa matahari, tanpa awan. Seperti layar TV yang mati. Dan laut… laut hilang. Di ujung pantai kini hanya jurang hitam tak berujung, seolah kota ini sekarang mengambang di ruang kosong.

Rama berlari ke tengah kota. Jantungnya berdegup kencang. Di alun-alun utama, ratusan orang sudah berkumpul. Wajah-wajah yang Rama kenal dari dua hari terakhir: Pak Lurah Suryo, Bu Rina pemilik warung kopi, dokter muda Dr. Nadia, keluarga Pak Hadi yang punya anak kecil bernama Rara, dan ratusan warga lain. Semua berdiri diam, mata lebar, mulut terbuka.

“Apa ini?!” jerit seorang ibu. Dia memeluk anaknya erat-erat. Anak itu menangis tanpa suara.

Pak Lurah Suryo, pria 55 tahun dengan suara berat dan berwibawa, naik ke panggung kecil. “Tenang! Ini pasti… bencana alam! Kabut tebal dan… mungkin listrik padam. Kita tetap di sini, saling bantu!”

Tapi listrik tidak padam. Lampu jalan masih menyala redup, berkedip pelan seperti mata yang mengantuk. Telepon genggam semua orang tidak ada sinyal. Tidak ada internet. Tidak ada satelit. Bahkan jam tangan berhenti berputar pada pukul 06:47.

Rama berdiri di pinggir kerumunan. Sebagai turis, dia merasa seperti orang asing yang tiba-tiba jadi bagian dari mimpi buruk orang lain. Tapi saat matanya bertemu dengan Dr. Nadia... wanita 28 tahun berhijab, mata tajam dan tenang... dia tahu dia tidak bisa lari.

“Kita semua di sini,” kata Nadia pelan saat mendekati Rama. “Seluruh kota. 85.000 jiwa. Tidak ada yang hilang. Tapi… tidak ada yang bisa keluar.”

Mereka mencoba. Sepanjang pagi itu, ratusan mobil dan motor menuju batas kota. Semua berhenti di jalan lingkar yang tiba-tiba berakhir di jurang hitam yang sama. Mobil-mobil menabrak “tembok tak kasat mata” yang membuat mesin mati seketika. Beberapa orang nekat berjalan kaki. Mereka kembali dua jam kemudian, wajah pucat, berkata hanya ada kegelapan dan suara bisikan yang memanggil nama mereka.

Rama ikut salah satu tim eksplorasi kecil bersama Pak Hadi dan anaknya Rara (8 tahun). Mereka sampai di pinggir jurang. Rara menunjuk ke bawah. “Om… ada orang di sana.”

Rama menunduk. Di kegelapan jurang, ribuan titik cahaya kecil bergerak pelan... seperti mata. Ribuan mata yang menatap ke atas. Lalu suara datang: bisikan lembut, seperti ibu memanggil anaknya. “Rara… pulanglah… mama di sini…”

Rara menangis. Pak Hadi menarik anaknya mundur, tangannya gemetar. “Itu bukan mama. Mama sudah meninggal tahun lalu.”

Itu adalah tanda pertama. Makhluk-makhluk itu sudah mengamati.

Siang hari, mereka berkumpul di balai kota. Pak Lurah membentuk tim: Tim Eksplorasi, Tim Kesehatan, Tim Keamanan, dan Tim Logistik. Rama, karena dia turis dan punya kamera bagus, dimasukkan ke Tim Eksplorasi bersama Nadia, seorang polisi bernama Pak Joko, dan guru SD bernama Bu Sinta.

“Kita harus bertahan bersama,” kata Pak Lurah dengan suara bergetar. “Kota ini adalah rumah kita. Kita cari jalan keluar. Kita ungkap apa yang terjadi.”

Malam pertama adalah neraka.

Lampu-lampu kota masih menyala, tapi bayangan menjadi lebih panjang. Rama dan Nadia berpatroli di sekitar pasar. Udara dingin sekali, napas mereka mengeluarkan uap. Tiba-tiba mereka mendengar jeritan dari gang belakang toko roti.

Mereka lari. Di ujung gang, tubuh Pak Tono... penjual ikan yang ramah... tergeletak. Lehernya tidak putus. Tidak ada darah. Tapi wajahnya… wajahnya seperti dicairkan. Kulit meleleh seperti lilin, mata copot keluar, mulut terbuka lebar seolah sedang menjerit dalam diam. Di dada bajunya tertulis dengan sesuatu yang seperti tinta hitam: AKU SUDAH DENGAR NAMAMU

Nadia muntah. Rama memotret mayat itu dengan tangan gemetar. Foto di kamera menunjukkan sesuatu yang tidak ada di dunia nyata: di belakang mayat Pak Tono, ada bayangan tinggi kurus dengan terlalu banyak lengan, berdiri tepat di belakang mereka saat foto diambil.

“Itu bukan manusia,” bisik Rama.

Malam itu, tiga orang lagi mati dengan cara sama. Semua di rumah mereka sendiri. Pintu terkunci dari dalam. Jendela tertutup. Tapi mayat mereka ditemukan dengan wajah meleleh dan tulisan yang sama: AKU SUDAH DENGAR NAMAMU.

Penduduk panik. Beberapa mulai saling tuduh. “Pasti ada pembunuh di antara kita!” teriak seorang pria. Kerumunan hampir ricuh. Pak Lurah naik ke panggung lagi, suaranya parau. “Kita tidak boleh saling curiga! Kita harus bersatu!”

Rama berdiri di belakang, memegang kamera. Dia memperbesar foto terakhir. Di bayangan makhluk itu, ada wajah samar... wajah Pak Tono sendiri, tapi tersenyum. Seolah makhluk itu memakai wajah korban sebagai topeng.

Dr. Nadia mendekati Rama di sudut balai kota. Matanya merah karena menangis diam-diam. “Rama… aku takut. Aku punya ibu di rumah sakit. Kalau makhluk itu datang lagi malam ini…”

Rama memegang bahu Nadia. “Kita akan jaga satu sama lain. Seluruh kota. Kita buat aturan. Patroli malam. Tidak boleh sendirian.”

Tapi di dalam hati, Rama tahu: ini baru permulaan. Kota Senja yang indah telah ditelan dimensi lain. Dan dimensi itu lapar.

Pukul 03:14 dini hari, jeritan lagi terdengar dari rumah Bu Sinta... guru SD yang ikut tim eksplorasi. Rama, Nadia, dan Pak Joko berlari ke sana. Pintu depan terbuka lebar. Di dalam, Bu Sinta duduk di kursi makan, tubuhnya tegak. Wajahnya meleleh seperti lilin lagi. Tapi kali ini, tangannya masih memegang pisau dapur yang menancap di perutnya sendiri.

Di dinding, dengan darahnya sendiri, tertulis kalimat baru: KALIAN TIDAK AKAN PERNAH PULANG. KOTA INI SEKARANG MILIK KAMI.

Dan di bawah tulisan itu, ada gambar kasar yang seperti digores dengan kuku: bentuk kota Senja, tapi di tengahnya ada sebuah menara hitam yang tidak pernah ada sebelumnya.

Rama memotret. Kamera bergetar di tangannya. Saat flash menyala, untuk sepersekian detik, dia melihat di lensa: seluruh penduduk kota sedang berdiri di belakang mereka... tapi semua wajah mereka meleleh, semua mulut terbuka, semua mata kosong.

Nadia mengamati sekitar lalu berkata di sebelah Rama. “Apa yang kita lakukan sekarang?”

Rama menatap langit hitam di luar jendela. Suara bisikan mulai terdengar lagi dari kegelapan... ratusan suara memanggil nama setiap penduduk.

“Kita bertahan,” jawabnya pelan, suara bergetar. “Kita ungkap misteri apa arti gambar menara itu. Dan kita cari jalan pulang… sebelum kota ini membunuh kita semua.”

Malam pertama berakhir dengan 7 mayat. Penduduk Kota Senja yang dulu selalu tersenyum kini saling pandang dengan ketakutan. Rama, turis yang seharusnya hanya lewat, kini menjadi salah satu bagian dari mereka.

Tapi di kegelapan jurang di pinggir kota, ribuan mata itu masih menatap. Dan mereka sudah hafal nama setiap orang.

 

Bersambung

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.