Bab 1PROLOG: GENESIS OF THE SILENT APOCALYPSE

5 menit baca•961 kata
 Lokasi: Ruang Bawah Tanah "The Void", Markas Besar Illuminati-Uroboros, Swiss Alps.
Waktu: H-24 Sebelum Incident Batam.

Kegelapan di ruangan itu bukan sekadar ketiadaan cahaya; ia adalah kehadiran fisik yang menekan dada. Di tengah ruang bundar berlapis beton hitam, delapan sosok duduk mengelilingi meja obsidian. Mereka tidak mengenakan jubah putih seperti di film-film murah. Mereka mengenakan setelan jas Italia seharga mobil mewah, dengan lencana kecil berbentuk mata terbelah di kerah kemeja mereka.

Di ujung meja, berdiri Julian Vane, arsitek utama Proyek Uroboros. Wajahnya dingin, matanya menatap hologram bumi yang berputar pelan di atas meja.

"Manusia adalah virus," suara Vane tenang, namun bergema di dinding kedap suara. "Mereka mengonsumsi sumber daya, mencemari langit, dan berperang demi ego suku dan agama mereka. Kita telah mencoba mengendalikannya melalui ekonomi, melalui perang proxy, melalui media. Tapi mereka tetap saja... berisik."

Salah satu anggota dewan, seorang wanita tua dengan tatapan tajam bernama Elena, mengangkat alisnya. "Dan solusi Anda adalah membunuh mereka semua, Julian? Itu bukan tatanan dunia baru. Itu adalah kuburan massal."

Vane tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya. "Bukan membunuh, Elena. Menyaring. Uroboros bukan senjata pemusnah massal dalam arti tradisional. Ia adalah alat seleksi alam buatan. Hanya mereka yang 'layak'—mereka yang memiliki ketenangan batin, mereka yang tidur dalam kepasrahan total—yang akan selamat dari fase pertama. Sisanya? Mereka akan menjadi pasukan pembersih alami. Zombie-zombie yang hanya merespons kebisingan ego manusia: suara, gerakan, amarah."

Dia menekan sebuah tombol. Hologram bumi zoom-in ke Asia Tenggara, lalu ke Indonesia, dan berhenti tepat di pulau Batam.

"Kenapa Batam?" tanya anggota lain, seorang jenderal pensiunan dari NATO.

"Karena Batam adalah mikrokosmos dunia," jawab Vane. "Padat, industri, multikultural, dan penuh dengan kebisingan aktivitas manusia. Jika Uroboros berhasil di sini, ia bisa direplikasi di mana saja. Selain itu..." Vane menatap layar yang menampilkan data cuaca satelit. "...malam ini, Batam akan mengalami gerimis ringan. Kelembapan udara 85%. Kondisi sempurna untuk aerosolisasi virus lewat ledakan stratosfer."

"Elena," Vane menoleh pada wanita tua itu. "Pastikan 8000 liter konsentat Uroboros sudah dimuat ke dalam hulu ledak ICBM yang kita 'pinjam' dari jaringan bawah tanah Iran. Target koordinat: 1.130° LU, 104.050° BT. Ketinggian ledakan: 30 kilometer di atas atmosfer. Waktu eksekusi: 01.30 WIB."

Elena mengangguk pelan. "Dan apa yang terjadi pada mereka yang selamat? Yang tidur pulas saat embun turun?"

Vane mematikan hologram. Ruangan kembali gelap gulita, hanya tersisa cahaya merah dari lampu darurat.

"Mereka akan mewarisi dunia yang sunyi, Elena. Dunia tanpa perang, tanpa kemacetan, tanpa teriakan. Dunia di mana setiap suara adalah pilihan hidup atau mati. Itu adalah tatanan baru. Tatanan di mana keheningan adalah ibadah tertinggi, dan kebisingan adalah dosa yang dihukum mati."

Di luar, angin Alpen menderu. Tapi di dalam ruangan itu, keheningan terasa lebih menakutkan daripada badai mana pun. Karena di keheningan itulah, akhir umat manusia sedang dihitung mundur.

******************

Budd menggosok matanya yang perih. Lampu neon di ruang kontrol QC berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang di dinding baja yang berkarat. Di tangannya, ada clipboard berisi laporan inspeksi las sambungan pipa utama. Angka-angka di kertas itu mulai kabur.

"Satu shift lagi, Bud," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya serak karena kurang tidur dan terlalu banyak menghirup debu logam selama tiga bulan terakhir.

Dia bukan pahlawan. Dia bukan tentara. Dia hanyalah seorang quality control officer berusia 28 tahun yang bekerja lembur demi membayar cicilan rumah dan biaya pengobatan ibunya di Jakarta. Hidupnya hanyalah rutinitas: bangun jam 4 pagi, naik bus kota, memeriksa ribuan sambungan las, pulang jam 9 malam, tidur empat jam, ulangi besok.

Tidak ada yang spesial tentang dirinya. Tidak ada firasat aneh. Tidak ada mimpi buruk tentang kiamat. Yang dia rasakan hanya kelelahan kronis dan nyeri punggung bawah yang tak kunjung sembuh.

Jam dinding menunjukkan pukul 01.15 WIB. Lima belas menit lagi menuju waktu eksekusi yang tidak diketahui siapa pun di pabrik ini.

Budd meletakkan clipboard di atas meja besi. Dia berjalan menuju jendela kaca buram yang menghadap ke area produksi. Di luar sana, ratusan pekerja masih sibuk mengelas, mesin-mesin berat menderu, forklift lalu-lalang. Suara kebisingan industri yang biasa dia anggap sebagai soundtrack hidupnya.

Tiba-tiba, langit di luar jendela berubah warna.

Bukan fajar. Bukan senja.

Sebuah kilatan cahaya putih menyilaukan meledak di ufuk timur, jauh di atas atmosfer. Cahaya itu begitu terang hingga menembus kaca buram dan memaksa Budd menutup mata. Selama satu detik, seluruh pabrik tenggelam dalam silau absolut.

Lalu, keheningan.

Bukan keheningan biasa. Ini adalah keheningan yang salah. Mesin-mesin masih berputar, forklift masih bergerak, tapi tidak ada suara deru. Tidak ada dentuman. Tidak ada teriakan pekerja. Seolah-olah dunia telah kehilangan frekuensi suaranya.

Budd membuka mata. Napasnya tercekat.

Di luar jendela, para pekerja yang tadi masih mengelas kini berdiri mematung. Beberapa memegang kepala, wajah mereka扭曲 dalam ekspresi kesakitan yang tidak wajar. Yang lain jatuh berlutut, mulut terbuka lebar tapi tidak mengeluarkan bunyi.

Dan kemudian, secara bersamaan, mereka semua menoleh ke arah ruang kontrol QC. Ke arah Budd.

Mata mereka kosong. Pupil melebar hingga hampir tidak terlihat irisnya. Mulut mereka menganga, menampilkan gigi-gigi yang tiba-tiba tampak lebih tajam, lebih runcing, lebih... lapar.

Salah satu pekerja di dekat jendela—pria yang tadi pagi masih bercanda dengan Budd soal bola liga Inggris—mulai mengetuk kaca. Bukan dengan tangan. Dengan dahinya. Dug. Dug. Dug. Ritme yang mekanis, tanpa emosi, tanpa kesadaran.

BAM!

Kaca retak.

Insting Budd yang selama ini tertidur lelap oleh rutinitas kantor tiba-tiba terbangun. Bukan insting pahlawan. Instink hewan buruan yang menyadari bahwa dia bukan lagi di puncak rantai makanan.

Dia mundur selangkah. Clipboard jatuh dari tangannya, menghantam lantai besi dengan dentuman yang terdengar sangat keras di tengah keheningan yang salah itu.

Suara itu seperti peluit starting pistol.

Semua wajah di luar jendela serentak berbalik sepenuhnya ke arahnya. Dan dari mulut-mulut yang menganga itu, akhirnya keluar suara. Bukan kata-kata. Bukan teriakan. Tapi desisan rendah, basah, dan lapar yang membuat bulu kuduk Budd berdiri tegak.

Shift terakhirnya baru saja dimulai. Dan kali ini, tidak ada jam pulang.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

1 komentar

BU
Buddy@fendierie200029 Agu 2026

silahkan menikmati