Bab 1Prolog

5 menit baca982 kata

Lula duduk di lantai kamarnya ketika sore mulai menguning di balik jendela.

Cahaya datang lembut, tipis, seperti kain yang diseret pelan di atas permukaan meja. Di genggamannya, sebuah album foto terbuka. Ibu jari Lula mengusap satu foto, lalu satu lagi, membiarkan waktu jatuh dari tangannya dalam bentuk yang paling rapuh. Foto-foto masa lalu yang tak mampu bicara, tetapi cukup keras untuk membuat dadanya terasa sesak.

Ia selalu menyukai hal-hal yang tidak berubah cepat.

Bingkai. Bayangan. Garis cahaya pada dinding. Tatapan seseorang sebelum ia sadar sedang dilihat. Dunia baginya memang tidak pernah datang dalam bentuk suara yang utuh; ia lebih sering hadir sebagai gerak, warna, dan getar yang tak terlihat. Karena itu, Lula belajar mencintai dengan mata yang sabar. Ia belajar menyimpan momen seperti orang menyimpan api kecil di telapak tangan. Hati-hati, takut padam, takut juga terlalu terang.

Di antara foto-foto itu, ada satu wajah yang membuat jemarinya berhenti.

Kala.

Bukan karena fotonya paling indah. Bukan karena ia tersenyum paling sempurna. Justru sebaliknya, Kala hampir selalu tampak seperti seseorang yang tidak benar-benar ingin ditangkap kamera. Wajahnya kerap berpaling sedikit, sorotnya sering melayang ke arah lain, seolah hidup memanggilnya dari tempat yang tidak pernah sempat Lula lihat. Namun, justru di situlah Lula jatuh. Pada cara Kala terlihat paling nyata saat ia tidak berusaha menjadi apa-apa.

Lula menyentuh tepi foto itu perlahan.

Kala berdiri di dekat jendela, cahaya sore jatuh di bahunya seperti sisa emas yang enggan pergi. Ada sesuatu yang tenang pada gambar itu, sesuatu yang membuat Lula ingin menahan napas lebih lama dari biasanya. Seolah-olah momen itu sendiri tahu bahwa ia sedang disimpan untuk suatu masa yang belum diberi nama.

Ia menatapnya lama.

Di luar jendela, angin menggerakkan daun-daun pohon dengan suara yang tak pernah bisa ia dengar, hanya ia lihat dari cara cabang bergeser dan bayangan menari di dinding. Rumah itu sunyi, tetapi bukan sunyi yang asing. Lula terbiasa hidup di dalam keheningan seperti ini, keheningan yang tidak kosong, melainkan penuh oleh benda-benda yang berbicara dengan caranya sendiri.

Gadis itu menutup album dengan senyum melekat di bibir.

Ada masa ketika ia mengira kenangan adalah tempat yang aman untuk pulang. Bahwa selama sesuatu masih bisa disimpan, maka ia belum benar-benar hilang. Namun semakin lama, ia belajar bahwa kenangan juga bisa menjadi hujan yang menetap di tanah, membuatnya basah bahkan setelah langit sudah cerah.

Kala pernah berkata sesuatu, bukan dengan suara, melainkan dengan cara seseorang tinggal terlalu lama di dalam hidup orang lain.

Lula tidak ingat kapan tepatnya semuanya mulai berubah. Barangkali di antara satu sore dan sore berikutnya. Barangkali pada waktu-waktu kecil yang tampak biasa. Hidup memang suka merenggut dengan cara yang halus; ia tidak selalu datang seperti badai. Kadang ia hanya mengambil satu hal kecil dari meja, lalu meninggalkan kekosongan yang lambat laun membesar seperti lubang di kain.

Tatapan hangat itu masih tak ingin lepas dari cover album. Membawa Lula kembali pada masa dimana ia mengabadikan momen itu.

Perlahan tubuhnya memutar dengan kamera tepat di wajah. Mencari cahaya yang jatuh dengan benar. Beberapa mahasiswa duduk berkelompok di bangku semen, sebagian lain berlalu-lalang sambil membawa map, buku, dan gelas plastik yang mengembun di tangan. Udara sore terasa lembap, membawa sisa panas siang yang belum sepenuhnya pergi.

Lalu ia melihat laki-laki itu.

Bukan dengan sengaja.

Lebih seperti seseorang yang tanpa permisi masuk ke dalam bingkai yang belum selesai dibentuk.

Seorang pemuda tengah berbaring di sebuah bangku tanpa sandaran yang tingginya hanya beberapa senti dari permukaan tanah. Kedua tangannya bertaut di atas perut. Wajahnya tertutup topi, dan tak lupa sebuah tas yang ia jadikan penyangga kepala.

Jemari Lula bergerak lebih cepat dari pikirannya.

Klik.

Satu foto.

Ia bahkan tidak sadar ia sudah menekan tombol itu sebelum suara rana kecil kamera menyusul seperti bisikan yang jatuh di antara daun.

Lelaki itu bergerak pelan. Meraih topi lantas menoleh ke arah Lula.

Lula sempat membeku.

Bukan karena takut, melainkan karena sorot mata itu bukan marah, bukan juga heran berlebihan. Hanya menatap sekejap ke arah kamera, lalu ke arah Lula. Ada sesuatu yang tenang pada wajahnya. Sesuatu yang membuat Lula justru ingin memotretnya lagi.

Lula tidak langsung pergi.

Ia mengangkat kamera sedikit lebih tinggi, lalu memandang Kala dari balik lensa. Dunia di sekelilingnya seketika mengecil, menyisakan potongan yang paling penting: garis bahu Kala, bayang pohon yang jatuh di sekujur tubuhnya, cahaya sore yang menggesek sisi wajahnya seperti emas yang nyaris padam.

Kala mulai duduk seraya merapikan rambutnya.

Dan Lula, yang biasanya cukup pandai menahan diri, justru merasa jarinya enggan menurunkan kamera. Ada semacam tarikan halus yang sulit dijelaskan, seperti tanah basah yang menahan langkah seseorang sebelum benar-benar pergi. Kala tidak berusaha menjadi indah. Mungkin justru karena itu ia tampak begitu mudah disimpan.

Lula memotret lagi.

Pemuda itu akhirnya memiringkan kepala sedikit, seolah hendak bertanya tanpa suara. Lula menurunkan kamera perlahan, dan untuk sesaat mereka hanya saling pandang di tengah taman yang mulai lengang. Daun-daun bergerak pelan di atas kepala mereka. Rumput di sekeliling bangku tampak lebih hijau karena sisa hujan semalam.

Lula melangkah mendekati dengan tangan yang kini sibuk beralih pada smartphone dengan ibu jari yang menari-nari di layar.

Ketika sampai di hadapannya, Lula menunjukkan layar ponselnya yang saat ini ada di aplikasi catatan.

Maaf, aku gak sengaja foto. Tapi bagus, jadi aku foto lagi, hehe.

Mau liat fotonya?

Dia menatap layar dan mulai membaca. Kemudian menggeleng dengan senyum yang terbit di bibirnya yang sedikit gelap.

Melihat itu, dengan cepat Lula kembali mengetik.

Jurusan apa?

Aku Lula dari DKV

Pemuda itu membaca lagi lantas menjawab, "Kala, akuntansi." Gerak bibirnya pelan, seperti berusaha agar lawan bicara bisa menangkap ucapannya.

Lula mengangguk semangat.

Kala dari Akuntansi.

Kala mengangguk takjub.

Lula menutup mata sebentar, lalu mendapati kembali album yang masih di genggamannya.

Malam mulai turun ketika Lula berdiri dan mengembalikan foto itu ke sudut kamar. Di permukaan kaca jendela, bayangannya sendiri tampak samar. Lalu, di sela bayang-bayang itu, ia merasa seolah ada satu wajah yang masih tinggal sedikit lebih lama dari yang lain.

Kala.

Seperti cahaya terakhir sebelum langit benar-benar gelap.

📷

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Cerita selesai dibaca

Satu cerita selesai. Mau mulai cerita berikutnya?

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.