Bab 1: MADU ITU DATANG KE RUMAHKU
Namaku Nayla Putri, umur 27 tahun. Dan aku sudah menjadi istri yang bodoh selama 365 hari. Tepat satu tahun.
Satu tahun aku tahu suamiku punya wanita lain. Satu tahun aku pura-pura tidak tahu. Satu tahun aku menjadi detektif bodoh di rumahku sendiri.
Aku tahu suamiku punya wanita lain. Aku tahu persis, bukan karena firasat, tapi karena bukti yang terlalu jelas untuk dibantah.
Awalnya dari hal kecil. Sangat kecil. Parfum wanita yang bukan parfumku menempel di kemeja kerjanya. Parfum mahal, manis, menusuk, seperti parfum yang dipakai wanita-wanita di mall mahal. Bukan parfum vanilla murah milikku yang hanya 50 ribu di Indomaret yang aromanya hilang setelah 2 jam.
Aku mencium kemeja itu saat aku mau masukkan ke mesin cuci. Aku diam. Aku bilang ke diriku sendiri, mungkin itu parfum rekan kerjanya yang tidak sengaja menempel di lift.
Lalu dari struk. Struk hotel bintang lima di SCBD. 2 malam, 4,5 juta, dengan tambahan room service dan minibar. Struk itu ada di saku celana bahan kerja Bima yang aku mau setrika. Padahal dia bilang minggu itu dia dinas ke Surabaya dan menginap di mess kantor yang gratis karena untuk menghemat budget kantor.
Aku foto struk itu diam-diam. Tanganku gemetar. 4,5 juta. Uang itu bisa untuk cicilan rumah kami selama 2 bulan.
Lalu dari handphone. Ini yang paling menyakitkan. Bima mulai membawa handphone ke kamar mandi. Dulu dia tidak pernah begitu. Dulu handphonenya tergeletak begitu saja di meja makan. Sekarang, dia membawa handphone kemanapun dia pergi. Bahkan ke dapur untuk ambil air minum pun dia bawa.
Dia mengunci handphone dengan password yang baru. Dulu passwordnya tanggal pernikahan kami. Sekarang dia ganti dengan sidik jari saja. Dan dia tertawa kecil saat membalas chat jam 2 pagi sambil duduk di toilet selama 30 menit. Tertawa yang tidak pernah lagi dia berikan padaku selama setahun terakhir.
Aku bukan bodoh. Aku lulusan S1 Akuntansi. Aku tahu cara membaca pola. Dan pola suamiku jelas: dia telah memiliki istri kedua. Atau setidaknya, wanita simpanan yang dia anggap istri dan dia biayai hidupnya dengan uang yang seharusnya untuk rumah tangga kami.
Aku pernah mencoba bicara. Satu kali. Hanya satu kali aku memberanikan diri.
Malam itu, setelah dia pulang kerja, aku tunjukkan foto struk hotel yang sudah aku foto itu. Dengan suara pelan dan bergetar aku bertanya, "Mas, ini apa? Kamu kan bilangnya di Surabaya? Ini struk hotel di SCBD."
Wajah Bima langsung merah. Bukan karena malu ketahuan, tapi karena marah karena aku berani memeriksa sakunya.
Dia merebut handphoneku dengan kasar dan menghapus foto itu, lalu merobek struk aslinya di depan wajahku sampai jadi serpihan-serpihan kecil.
"Kamu ngapain buka-buka saku celana saya? Kamu tidak percaya sama saya? Kamu jadi istri kok jadi detektif! Saya kerja keras dari pagi sampai malam buat kamu, buat keluarga ini, banting tulang di kantor, kamu malah nuduh macam-macam! Kamu itu sudah tidak bersyukur!"
Ibu mertuaku, yang kebetulan menginap di rumah kami selama seminggu karena ada acara arisan keluarga, ikut masuk kamar karena mendengar suara ribut.
"Kenapa ribut-ribut? Malam-malam berisik! Nayla, kamu itu jadi istri harus nurut. Bima itu lelaki, wajar kalau punya kenalan banyak, relasi bisnis. Kamu jangan cari gara-gara. Kamu itu harusnya introspeksi diri, kenapa suami sampai begitu? Jangan-jangan kamu kurang pelayanan sama suami."
Ibuku mertua melanjutkan dengan kata-kata yang sampai hari ini masih terngiang di telingaku, "Kalau Bima ceraikan kamu, kamu mau jadi apa? Kamu kan cuma ibu rumah tangga, tidak kerja, ijazahmu tidak kamu pakai. Mau hidup dari mana? Mau balik ke rumah orang tuamu yang di kampung itu? Malu!"
Aku diam. Sejak malam itu, aku memilih diam. Aku tidak mau diceraikan. Bukan karena aku masih cinta mati, tapi karena aku tidak punya apa-apa. Rumah ini masih cicilan atas nama bersama. Tabunganku hanya 3 juta. Aku tidak bekerja selama 5 tahun pernikahan karena Bima yang minta aku fokus di rumah.
Madu dalam diam. Itu yang kulakukan. Itu strategi baruku.
Aku tetap masak sarapan untuk Bima setiap pagi jam 5. Nasi goreng, telur dadar, kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Tetap setrika kemejanya sampai licin tanpa ada kerutan sedikitpun. Tetap cium tangannya saat dia berangkat kerja jam 7 pagi dan berkata, "Hati-hati di jalan ya, Mas." Tetap jadi istri sempurna di depan keluarganya, di depan tetangga, di depan dunia.
Padahal setiap malam, saat dia bilang "Aku lembur ya, sayang, ada laporan yang harus selesai, jangan tungguin," aku tahu dia tidak lembur. Aku tahu dia pergi ke apartemen wanitanya itu di daerah Kuningan. Aku tahu karena aku pernah diam-diam mengikuti taksi online yang dia pesan. Aku melihatnya masuk ke apartemen mewah dengan wanita itu.
Aku tahu nama wanitanya itu. Sinta Maharani. Umur 23 tahun. Mantan SPG minuman di club. Aku tahu dari akun fake Instagram yang aku buat dengan nama @kucinglucu123. Sinta sering posting foto di restoran mahal, di hotel mewah, dengan caption "Dinner with my king" dan "Thanks my bear for the gift" dengan foto tangan seorang pria yang memakai jam tangan persis milik Bima. Jam tangan Fossil coklat yang kubelikan untuk hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ke-4 dengan uang THR yang kukumpulkan.
Sakit? Sakit sekali. Rasanya seperti ditusuk pisau setiap hari, tapi lukanya tidak terlihat, jadi aku harus tetap tersenyum. Aku harus tetap terlihat bahagia di Instagram story. Padahal setiap malam aku menangis di kamar mandi sambil menyalakan shower kencang-kencang biar tidak terdengar.
Sampai hari ini tiba. Hari di mana diamku tidak ada gunanya lagi. Hari di mana semua kesabaranku diinjak-injak.
Hari ini hari Sabtu. Bima bilang dia ada meeting golf dengan klien penting dari Singapura di Bogor, tidak pulang sampai malam, mungkin menginap karena sudah pesan hotel. Aku di rumah sendirian, sedang mengepel lantai ruang tamu dengan pel kesayanganku. Lantai yang aku pel setiap hari supaya bersih.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ting Tong.
Aku buka pintu sambil masih memegang gagang pel. Di depan pintu berdiri seorang wanita muda. Cantik. Putih mulus. Memakai dress ketat berwarna merah maroon yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya panjang di-blow dengan sempurna. Bibirnya merah merona. Dan di gendongannya, ada seorang bayi laki-laki, mungkin umur 6 bulan, memakai baju biru mahal.
Wanita itu tersenyum padaku. Senyum manis yang dibuat-buat, senyum kemenangan.
"Mba Nayla ya? Saya Sinta," katanya dengan suara manja.
Dunia seakan berhenti berputar. Darahku berhenti mengalir. Kain pel di tanganku hampir jatuh.
Sinta. Madu dalam diamku itu. Wanita yang selama ini hanya aku lihat di layar Instagram. Sekarang dia ada di depan mataku, nyata.
Dia datang ke rumahku. Rumah yang aku cicil bersama Bima selama 5 tahun dengan menahan tidak beli baju baru, tidak jajan kopi mahal, demi bisa nabung untuk DP rumah.
"Maaf saya datang tiba-tiba, Mba. Tapi Mas Bima yang suruh saya kesini," lanjutnya, tanpa diminta masuk, dia langsung melangkah masuk ke rumahku dengan sepatu high heels merahnya yang masih terpasang. Menginjak lantai yang baru saja aku pel dengan jejak sepatu yang kotor. Dia tidak peduli.
"Mas Bima bilang, saya dan Arka, anak kami, sudah tidak nyaman tinggal di apartemen. Apartemennya kecil, cuma 1 kamar. Arka butuh rumah yang besar untuk merangkak. Jadi mulai hari ini, saya tinggal di sini juga ya, Mba. Kita kan sama-sama istri Mas Bima. Kita harus rukun. Kata Mas Bima, Mba itu orangnya baik dan pengertian."
Dia meletakkan tas brandednya di atas sofa ruang tamu. Tas LV berwarna coklat yang harganya mungkin 20 juta. Tas yang tidak akan pernah mampu kubeli bahkan jika aku menabung setahun.
Lalu dia meletakkan bayi itu di sofa. Bayi itu menangis. Dan dia menatapku dari atas sampai bawah. Menatap daster murahku yang sudah lusuh, yang harganya 35 ribu di pasar, dengan rambutku yang masih diikat asal-asalan karena sedang mengepel.
"Mba Nayla yang sabar ya. Saya tahu Mba sudah tahu lama. Mas Bima cerita semua. Katanya Mba itu istri yang baik, yang diam saja, tidak banyak nuntut. Makanya Mas Bima sayang sama Mba. Makanya saya juga jadi sayang sama Mba. Kita kan nanti sama-sama merawat Mas Bima."
Anak bayi di sofa itu menangis semakin kencang. Bayi itu... wajahnya. Astaga. Wajahnya mirip sekali dengan Bima waktu kecil. Aku hafal wajah Bima kecil karena foto Bima kecil yang ada di album pernikahan kami sering aku lihat. Hidungnya, matanya, bahkan bentuk bibirnya sama.
Itu anak Bima. Darah daging suamiku dengan wanita lain. Bukti hidup dari pengkhianatan suamiku selama ini.
Aku berdiri di depan pintu, tanganku masih memegang kain pel, air pel menetes ke lantai. Tubuhku gemetar hebat. Bukan karena takut. Karena marah yang sudah kutahan selama 365 hari, yang aku kubur dalam-dalam di perutku, akhirnya meledak di dalam dadaku seperti gunung berapi.
Setahun aku diam. Setahun aku pura-pura bodoh. Setahun aku mengalah, mengecilkan diriku sendiri demi pernikahan yang ternyata hanya aku yang menjaga.
Dan balasannya ini? Madunya dibawa pulang ke rumahku? Disuruh tinggal seatap denganku? Menyuruhku berbagi suami secara resmi di rumahku sendiri?
Aku menatap Sinta yang sedang sibuk menaruh botol susu bayinya yang bermerek mahal di atas meja makan. Meja makan yang kubeli dengan uang tabunganku sendiri hasil jualan kue online diam-diam.
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah setahun, aku tersenyum dengan tulus, tapi senyumku pasti terlihat mengerikan.
"Oke," kataku pelan, hampir berbisik.
Sinta menoleh, kaget. "Oke, Mba? Mba izinin?"
"Oke. Kamu tinggal di sini. Rumah ini besar. Ada 3 kamar. Kamu pakai kamar tamu di belakang ya. Kamar yang dekat dapur dan kamar mandi luar. Biar gampang kalau mau bikin susu buat anakmu tengah malam. Biar Arka juga nyaman."
Wajah Sinta berseri-seri, dia tidak menyangka akan semudah ini. "Beneran, Mba? Mba baik banget! Saya kira Mba bakal marah-marah, jambak-jambakan kayak di sinetron-sinetron di TV! Ternyata Mba emang sebaik yang diceritain Mas Bima! Makasih ya Mba!"
Aku masih tersenyum. Senyum yang mulai dingin, senyum yang tidak sampai ke mata.
"Tentu. Kita kan sama-sama istri Bima. Harus rukun. Kamu istirahat aja dulu. Aku mau ke dapur buatin kamu minum. Kamu pasti haus habis di jalan."
Aku berjalan ke dapur, dengan langkah pelan. Aku membuka laci dapur, mengambil pisau dapur yang paling tajam. Pisau yang baru aku asah minggu lalu untuk potong daging kurban. Kilauannya tajam.
Bukan untuk menusuk Sinta. Belum. Belum waktunya.
Aku butuh pisau itu untuk memotong buah semangka di kulkas. Untuk menyambut tamu baruku dengan baik. Sebagai istri sah yang baik dan pengertian.
Sinta tidak tahu. Dia sama sekali tidak tahu.
Bahwa diamku selama setahun bukan karena aku bodoh, lemah, dan tidak berdaya.
Diamku selama setahun adalah karena aku sedang menyiapkan sesuatu. Aku sedang mengumpulkan bukti. Aku sedang mengumpulkan uang dari jualan kue. Aku sedang mencari pengacara. Aku sedang menunggu momen yang tepat.
Dan hari ini, saat dia menginjakkan kaki di rumahku dengan anak haram suamiku, dengan sepatu kotormu menginjak harga diriku, adalah hari yang tepat untuk memulai rencanaku.
Jika Bima mau madu dalam diam, akan aku kasih dia neraka dalam diam juga. Neraka yang tidak akan pernah dia bayangkan. Neraka yang akan aku bangun pelan-pelan di dalam rumah ini.
Sinta, selamat datang di rumahku. Selamat datang di nerakamu.
Aku meletakkan pisau itu dengan pelan di atas talenan. Tangan kiriku gemetar, tapi tangan kananku menggenggam gagang pisau itu erat-erat. Bukan karena aku mau melukai Sinta. Aku tidak sebodoh itu. Jika aku melukainya sekarang, akulah yang akan masuk penjara, akulah yang akan kalah. Bima akan bebas, Sinta akan jadi korban, dan aku akan jadi istri sah yang dipenjara karena cemburu buta. Tidak. Itu bukan rencanaku.
Rencanaku jauh lebih panjang. Jauh lebih sakit daripada sekedar tusukan pisau.
Aku ingat malam-malam saat aku menangis sendirian. Saat Bima bilang dia lembur, tapi aku melihat Instagram story Sinta sedang makan steak wagyu di restoran mahal dengan Bima. Aku ingat saat aku harus pinjam uang ke ibuku di kampung hanya untuk bayar cicilan listrik karena Bima bilang bulan ini uangnya seret, padahal minggu itu Sinta posting unboxing tas baru seharga 15 juta. Tas yang dibelikan Bima dari uang yang seharusnya untuk rumah kami.
Aku ingat semua rasa sakit itu. Aku simpan semua bukti itu. Screenshot transferan Bima ke Sinta yang tidak sengaja aku lihat saat Bima tertidur. Foto-foto mereka berdua di hotel yang Sinta upload di second accountnya dan lupa di private. Rekaman suara Bima yang menelepon Sinta dengan panggilan "Sayang, istriku yang cantik" sementara aku, istri sahnya, dipanggil "Nay, tolong ambilin kaos kaki saya."
Semua aku simpan di Google Drive rahasia yang tidak akan pernah Bima temukan. Di email rahasia yang aku buat khusus untuk menyimpan semua pengkhianatannya.
Sinta masih di ruang tamu. Aku mendengar dia sedang video call dengan seseorang. Dengan suara manja dia berkata, "Sayang, aku sudah sampai rumah Mba Nayla. Mba nya baik banget loh, dia izinin aku tinggal. Iya, rumahnya lumayan besar, tapi agak kotor ya, beda sama apartemen kita kemarin yang bersih. Iya, nanti kamu pulang jam berapa? Aku kangen."
Pasti dia menelepon Bima. Pasti dia melaporkan keberhasilannya telah masuk ke rumahku.
Aku mengambil semangka dari kulkas. Aku potong dengan pisau itu. Satu irisan, dua irisan, tiga irisan. Setiap irisan adalah simbol kesabaranku yang selama ini aku potong-potong sendiri.
Aku harus tenang. Aku tidak boleh meledak sekarang. Jika aku meledak sekarang, aku kalah.
Aku membawa piring berisi semangka itu keluar. Aku letakkan di meja depan Sinta.
"Makan dulu, Sin. Pasti capek di jalan," kataku dengan suara yang kubuat selembut mungkin. Selembut mungkin padahal hatiku ingin berteriak.
Sinta menatapku, lalu tersenyum. "Makasih ya Mba. Mba baik banget. Aku bersyukur Mba tidak kayak istri-istri di TikTok yang galak-galak itu. Pantesan Mas Bima betah sama Mba."
Aku duduk di seberangnya. Menatap bayi Arka yang sekarang sudah tertidur di gendongan Sinta.
"Arka umur berapa, Sin?" tanyaku.
"6 bulan, Mba. 6 bulan 10 hari," jawab Sinta sambil mengelus kepala bayinya. "Mirip Mas Bima banget kan Mba? Hidungnya, matanya."
Aku mengangguk. "Iya, mirip banget."
"Doain ya Mba, semoga Arka nanti bisa akur sama kakaknya. Maksudku, kalau Mba sama Mas Bima punya anak nanti, jadi Arka ada teman main," kata Sinta dengan polos, atau pura-pura polos.
Kalimat itu. Kalimat itu yang membuat darahku mendidih sampai ke ubun-ubun.
Kalau Mba sama Mas Bima punya anak nanti.
Dia tidak tahu bahwa aku dan Bima sudah 5 tahun menikah dan belum punya anak karena Bima yang selalu bilang "Nanti dulu, karir dulu." Dia tidak tahu bahwa aku divonis dokter ada kista kecil yang membuatku agak sulit hamil dan Bima malah menggunakannya sebagai alasan untuk tidak punya anak denganku. Tapi dengan Sinta, hanya pacaran setahun, langsung jadi anak.
Aku mengepalkan tanganku di bawah meja. Kukuku menancap di telapak tanganku sampai hampir berdarah.
Tapi aku tetap tersenyum.
"Amin," jawabku singkat.
Di dalam kepalaku, sebuah rencana baru terbentuk. Rencana yang lebih kejam dari yang sudah aku siapkan selama setahun.
Sinta pikir dia menang karena berhasil masuk ke rumah ini. Bima pikir dia menang karena berhasil membuat istri sahnya diam dan menerima madunya.
Mereka tidak tahu, bahwa rumah ini adalah medan perangku. Dan aku sudah menghafal setiap sudutnya.
Mulai malam ini, tidak akan ada lagi Nayla yang bodoh. Tidak akan ada lagi Nayla yang menangis di kamar mandi.
Yang ada hanya Nayla yang akan membuat mereka berdua merasakan apa yang aku rasakan selama 365 hari. Pelan-pelan. Dalam diam.
Aku berdiri, "Aku beresin kamar belakang dulu ya Sin, biar kamu bisa istirahat. Spreinya aku ganti yang baru."
"Ya ampun, makasih banget Mba! Mba emang istri idaman!" seru Sinta.
Aku berjalan ke kamar belakang. Kamar kecil yang lembab, yang AC nya sudah rusak setahun dan tidak pernah diperbaiki Bima karena katanya buang-buang uang. Kamar yang akan aku berikan pada Sinta.
Sambil mengganti sprei, aku berbisik pada diriku sendiri.
"Selamat datang di rumahku, Sinta. Kamu akan betah
di sini. Sampai kamu memohon-mohon untuk keluar dari rumah ini."







