Bab 1: Rumah Yang Selalu Menunggu

17 menit baca•3.5rb kata

Pukul lima lewat lima belas menit pagi, Meikha sudah berdiri di depan kompor dengan rambut panjang yang diikat asal-asalan. Mengenakan piyama berwarna putih dengan motif bunga kecil, perempuan itu sesekali menguap sambil mengaduk telur di atas wajan.

Rumah masih sepi. Hanya terdengar suara minyak yang mendesis dan bunyi jam dinding dari ruang makan.

Di luar, langit belum sepenuhnya terang. Udara pagi menyusup melalui jendela dapur yang sengaja dibuka Meikha agar aroma masakan tidak terperangkap di dalam rumah.

Hari ini Jevo harus berangkat lebih pagi karena ada rapat dengan jajaran direksi perusahaan.

Laki-laki itu sempat mengatakannya semalam, tepat ketika mereka sedang berbaring di tempat tidur.

“Besok bangunin aku jam lima, ya, Sayang.”

Meikha yang sudah mengantuk saat itu hanya mengangguk.

“Mas mau sarapan apa?”

“Terserah kamu.”

“Kalau terserah aku, berarti nasi goreng.”

Jevo tertawa kecil. “Kok begitu?”

“Karena kalau aku tanya lagi, jawabannya pasti terserah aku.”

“Ya sudah. Nasi goreng buatan istri Mas.”

Meikha tersenyum puas, lalu kembali memejamkan mata ketika Jevo menariknya mendekat.

Percakapan sesederhana itu masih teringat jelas olehnya pagi ini.

Tiga tahun menikah, Meikha sudah hafal hampir seluruh kebiasaan suaminya. Jevo tidak suka sarapan terlalu berat sebelum rapat, selalu minum kopi hitam tanpa gula, dan tidak pernah berangkat kerja sebelum memastikan ponselnya, dompet, serta kunci mobil berada di tempat yang semestinya.

Laki-laki itu juga punya kebiasaan yang tidak pernah berubah: mencium kening Meikha sebelum meninggalkan rumah.

Kadang-kadang Meikha menggodanya karena menurutnya Jevo terlalu berlebihan.

Namun, diam-diam, ia selalu menunggu kebiasaan itu.

Sebab ada sesuatu yang menenangkan dari mengetahui bahwa setiap pagi, sebelum menghadapi dunia di luar sana, Jevo akan menghampirinya terlebih dahulu.

“Sayang.”

Meikha menoleh.

Jevo berdiri di ambang pintu dapur dengan kemeja putih yang belum dikancingkan sampai bagian atas. Rambut cepaknya masih sedikit berantakan, sementara wajahnya tampak mengantuk.

“Mas, kok sudah bangun?”

“Nyari istri.”

Meikha terkekeh. “Istrinya ada di dapur.”

“Makanya Mas ke dapur.”

Jevo berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di belakang istrinya. Kedua tangannya melingkar di pinggang Meikha, dagunya bertumpu sebentar di bahu perempuan itu.

Meikha spontan tertawa kecil ketika Jevo mencium pipinya.

“Mas, minyaknya panas.”

“Memangnya Mas mau menggoreng apa?”

“Mas Jevo.”

“Kalau digoreng, nanti siapa yang nemenin kamu?”

Meikha menggeleng sambil tertawa. “Gombal pagi-pagi.”

Jevo tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya sebentar sebelum melepaskan istrinya.

“Sudah sarapan?”

“Belum. Aku masak buat Mas dulu.”

“Meikha.”

Nada suara Jevo berubah sedikit.

Perempuan itu menoleh. “Apa?”

“Kalau Mas berangkat pagi, bukan berarti kamu harus ikut-ikutan nggak sarapan.”

“Aku nanti makan.”

“Nanti itu kapan?”

“Setelah Mas makan.”

Jevo menghela napas, kemudian mengambil piring dari lemari.

“Sudah. Kita makan sama-sama.”

“Tapi nasi gorengnya belum selesai.”

“Mas bantu.”

Meikha sempat hendak menolak, tetapi Jevo sudah mengambil spatula dari tangannya.

Akhirnya, pagi itu mereka menghabiskan waktu beberapa menit lebih lama di dapur. Jevo yang biasanya hanya duduk menunggu sesekali membantu mengaduk nasi, meskipun ujung-ujungnya Meikha harus memperbaiki rasa masakannya karena suaminya terlalu banyak menambahkan kecap.

“Mas, ini nasi goreng atau kecap goreng?”

Jevo menatap wajan.

“Kurang, ya?”

“Masih mau ditambah?”

“Nggak jadi.”

Meikha tertawa sampai bahunya berguncang.

Jevo memandanginya dengan senyum kecil.

Ia menyukai suara tawa itu.

Entah sejak kapan, hal-hal sederhana seperti ini menjadi bagian yang paling ia sukai dari rumahnya. Tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, tidak ada rapat yang harus diselesaikan, tidak ada tuntutan untuk menjadi seseorang yang selalu tahu jawaban atas setiap persoalan.

Di rumah, ia hanya Jevo.

Suami dari seorang perempuan yang selalu berhasil membuat pagi terasa lebih ringan.

Pukul enam lewat sepuluh menit, mereka sudah duduk berhadapan di meja makan.

Meikha mengenakan cardigan tipis karena udara pagi terasa dingin. Di hadapannya ada segelas susu hangat, sementara Jevo menikmati kopi hitam yang baru dibuatnya.

“Rapatnya sampai sore, Mas?” tanya Meikha.

“Belum tahu. Mungkin sampai jam empat.”

“Berarti pulangnya?”

“Kalau nggak ada urusan lain, sebelum magrib sudah di rumah.”

Meikha mengangguk.

“Kenapa?” Jevo mengangkat wajah. “Kangen?”

Meikha mendengus pelan. “Baru juga mau berangkat.”

“Memangnya kangen harus nunggu berapa jam?”

“Mas Jevo, deh.”

Jevo tertawa.

Setelah selesai makan, ia mengeluarkan dompet dari saku celana dan meletakkan beberapa lembar uang di dekat piring istrinya.

Meikha langsung mengernyit.

“Ini apa?”

“Uang belanja.”

“Mas, kemarin aku masih punya.”

“Ya sudah, berarti buat besok.”

“Aku masih punya uang gaji juga.”

Jevo menatap istrinya.

“Terus?”

“Ya, nggak usah banyak-banyak.”

“Meikha.” Jevo menyandarkan punggung ke kursi. “Mas kerja buat apa?”

“Ya buat hidup.”

“Terus hidup Mas buat siapa?”

Meikha terdiam sebentar.

“Ya … buat kita.”

“Nah.”

Jevo mendorong uang itu sedikit lebih dekat kepada istrinya.

“Mas tahu kamu bisa cari uang sendiri. Mas juga tahu kamu nggak suka bergantung sama orang lain. Tapi selama Mas masih bisa memenuhi kebutuhan rumah ini, biarkan Mas melakukannya.”

Meikha menunduk menatap uang tersebut.

Ia tahu Jevo tidak sedang meremehkan pekerjaannya di Toko Roti Bobby. Suaminya justru selalu mendukungnya bekerja, bahkan ketika Meikha pernah berpikir untuk berhenti karena merasa lelah.

Jevo mengatakan bahwa selama ia masih menikmati pekerjaannya, tidak ada alasan untuk berhenti hanya karena sudah menikah.

Laki-laki itu tidak pernah meminta Meikha menjadi istri yang hanya menunggu di rumah.

Namun, Jevo juga tidak pernah membiarkannya merasa harus menanggung semuanya sendirian.

“Terima kasih, Mas.”

Jevo mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala istrinya.

“Sama-sama, Sayang.”

Meikha tersenyum.

Kalau ada yang bertanya kepadanya seperti apa rasanya dicintai, mungkin ia akan menjawab bahwa cinta tidak selalu harus berupa kejutan besar atau kalimat manis yang diucapkan setiap hari.

Terkadang, cinta adalah seseorang yang menyadari bahwa uang belanjamu hampir habis tanpa harus kamu minta.

Seseorang yang mengingatkanmu sarapan.

Seseorang yang rela menggoreng nasi dengan kecap terlalu banyak hanya supaya kamu tidak perlu berdiri sendirian di dapur.

Dan bagi Meikha, Jevo adalah semua itu.

Sebelum berangkat, Jevo kembali ke kamar untuk mengambil jam tangannya.

Meikha mengikutinya sambil membawa kunci mobil yang tertinggal di meja ruang keluarga.

“Mas, ini.”

Jevo menerima kunci itu.

“Makasih.”

Meikha berdiri di depan suaminya, memperhatikan laki-laki itu merapikan manset kemejanya.

“Mas ganteng.”

Jevo mengangkat alis.

“Baru sadar?”

Meikha mencubit pelan lengannya.

“Percaya diri banget.”

“Kan istri sendiri yang bilang.”

“Iya, tapi jangan senyum begitu.”

“Begitu gimana?”

“Nyebelin.”

Jevo tertawa, lalu menarik tangan Meikha agar perempuan itu berdiri lebih dekat.

“Mas berangkat, ya.”

“Iya. Hati-hati.”

Jevo mencium keningnya.

“Jangan lupa sarapan. Kalau sudah sampai toko, kabari Mas.”

“Siap, Pak Direktur.”

“Jangan lupa makan siang.”

“Siap.”

“Kalau capek, istirahat.”

“Siap.”

“Kalau”

“MAS!”

Jevo tertawa keras.

“Iya, iya. Mas pergi.”

Meikha mengantarnya sampai teras. Ia berdiri di sana sambil memperhatikan suaminya masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di halaman.

Kaca mobil turun.

Jevo melambaikan tangan.

Meikha membalasnya.

Mobil itu perlahan meninggalkan halaman, melewati gerbang, lalu menghilang di ujung jalan.

Perempuan itu masih berdiri beberapa saat sebelum akhirnya kembali masuk ke rumah.

Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kebiasaan mengantar Jevo pergi akan menjadi salah satu hal yang paling menyakitkan untuk dikenang.

Bukan karena Jevo tidak lagi pulang.

Melainkan karena suatu hari, Meikha akan menyadari bahwa selama ini ada bagian dari kehidupan suaminya yang tidak pernah ikut pulang bersamanya.

Toko Roti Bobby sudah cukup ramai ketika Meikha tiba pukul delapan kurang lima belas menit.

Aroma roti yang baru matang menyambutnya begitu ia masuk melalui pintu belakang. Beberapa pegawai sudah sibuk menata produk di etalase, sementara Renata, teman dekatnya di tempat kerja, sedang memeriksa pesanan pelanggan.

“Selamat pagi, Nyonya Jevo!”

Meikha yang baru menggantung tasnya langsung menoleh.

“Apaan, sih, Renata?”

Renata menyeringai. “Wah, baru datang sudah senyum-senyum.”

“Aku memang senyum.”

“Biasanya senyum kamu biasa saja. Ini senyum istri yang tadi pagi dicium suami sebelum berangkat kerja.”

Meikha melemparkan kain lap kecil ke arah temannya.

“Berisik!”

Renata tertawa sambil menghindar.

Mereka memang sudah berteman cukup lama sehingga Renata tahu banyak hal tentang kehidupan Meikha. Ia tahu betapa sayangnya Meikha kepada Jevo, tahu kebiasaan mereka saling berkirim pesan, dan tahu bahwa sesibuk apa pun Jevo, laki-laki itu hampir selalu menyempatkan diri menghubungi istrinya.

“Suami kamu sudah berangkat?” tanya Renata.

“Sudah. Tadi rapat pagi.”

“Terus kamu dianter?”

“Nggak. Mas Jevo berangkat lebih awal. Aku bawa motor sendiri.”

Renata mengangguk, kemudian memperhatikan wajah Meikha.

“Bahagia banget, ya, kamu?”

Meikha terdiam sebentar.

Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tetapi entah mengapa membuatnya berpikir.

Ia memandangi etalase roti di hadapannya, kemudian tersenyum kecil.

“Iya.”

“Alhamdulillah.”

Renata melanjutkan pekerjaannya.

Meikha pun mulai membantu menata roti dan melayani pelanggan yang datang silih berganti.

Pagi berjalan seperti biasanya. Ada pelanggan yang meminta roti untuk sarapan anaknya, ada yang membeli beberapa kotak untuk rapat kantor, dan ada pula seorang ibu yang cukup lama memilih kue karena ingin membawanya ke rumah saudara.

Di sela kesibukannya, ponsel Meikha bergetar.

Satu pesan masuk dari Jevo.

Jevo:
Sudah sampai toko?

Meikha langsung tersenyum.

Meikha:
Sudah, Mas. Ini lagi kerja.

Jevo:
Sudah sarapan?

Meikha:
Sudah.

Jevo:
Makan apa?

Meikha menahan tawa.

Meikha:
Nasi goreng kecap buatan koki kesayangan Mas.

Balasan Jevo datang tidak lama kemudian.

Jevo:
Jangan menghina koki yang sudah membantu istrinya.

Meikha:
HAHAHAHA. Mas, kecapnya kebanyakan.

Jevo:
Nanti malam Mas masak lagi.

Meikha:
Nggak usah. Nanti rumah kita jadi pabrik kecap.

Jevo mengirimkan emoji tertawa.

Meikha membaca percakapan itu dua kali sebelum meletakkan ponselnya kembali.

Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan setiap kali Jevo menghubunginya tanpa alasan khusus.

Laki-laki itu tidak harus mengirimkan kata-kata romantis. Terkadang, sekadar bertanya apakah ia sudah makan sudah cukup membuat Meikha merasa diingat.

Ia kembali bekerja dengan hati ringan.

Sementara itu, di sebuah ruang rapat di pusat kota, Jevo duduk di antara beberapa orang yang sedang membahas laporan operasional perusahaan.

Wajahnya kembali serius. Tatapannya terarah pada layar presentasi, dan sesekali ia memberikan tanggapan ketika menemukan sesuatu yang perlu diperbaiki.

Tidak ada yang aneh dari pagi itu.

Tidak ada yang bisa membuat Meikha menduga bahwa kehidupan suaminya menyimpan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan.

Dan Jevo sendiri belum menyadari bahwa satu pesan yang akan diterimanya beberapa jam kemudian akan menjadi awal dari kebohongan-kebohongan kecil yang kelak tumbuh menjadi masalah besar.

Menjelang pukul dua belas siang, Meikha sedang beristirahat di ruang belakang ketika panggilan video dari Jevo masuk.

Ia langsung mengangkatnya.

Wajah suaminya muncul di layar. Jevo sudah melepas jasnya dan menggulung sedikit lengan kemeja.

“Sayang, lagi istirahat?”

“Iya, Mas. Mas sendiri?”

“Baru selesai rapat pertama. Sebentar lagi lanjut lagi.”

Meikha memperhatikan wajah suaminya.

“Capek?”

“Sedikit.”

“Sudah makan?”

“Belum. Ini mau makan.”

“Ya sudah, makan dulu. Jangan cuma minum kopi.”

Jevo tersenyum.

“Iya, Bu.”

Meikha mengerutkan hidung. “Jangan panggil Bu.”

“Terus panggil apa?”

“Sayang.”

“Sayang.”

Jevo mengucapkannya dengan nada sengaja dibuat manja.

Meikha tertawa.

“Mas, ih!”

“Apa? Kan disuruh.”

Mereka tertawa bersama, meskipun hanya melalui layar ponsel.

Beberapa menit kemudian, seorang staf mengetuk pintu ruang kerja Jevo, mengingatkan bahwa ada dokumen yang perlu ditandatangani.

Jevo mengangguk.

“Mas lanjut kerja, ya. Nanti kalau sudah selesai, Mas kabari.”

“Iya. Semangat, suamiku.”

Jevo tersenyum lebih lebar.

“Kamu juga, istriku.”

Panggilan berakhir.

Meikha masih memandangi layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tas.

Ia tidak pernah berpikir bahwa kebahagiaan harus selalu berupa sesuatu yang besar. Baginya, panggilan singkat seperti itu sudah cukup.

Ia merasa memiliki seseorang yang memikirkannya di tengah kesibukan.

Seseorang yang selalu menyempatkan diri untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Seseorang yang, menurut keyakinannya, tidak akan pernah dengan sengaja membuatnya merasa tidak berharga.

Keyakinan itu begitu kuat hingga Meikha tidak pernah merasa perlu memeriksa ponsel Jevo, mempertanyakan ke mana suaminya pergi, atau mencurigai setiap keterlambatannya pulang.

Selama ini, mereka membangun pernikahan dengan kepercayaan.

Dan Meikha percaya bahwa kepercayaan adalah salah satu hal yang membuat sebuah rumah tangga tetap berdiri.

Ia tidak tahu bahwa kepercayaan yang diberikan dengan tulus pun bisa disalahgunakan oleh orang yang menerimanya.

Sore harinya, Jevo pulang lebih cepat daripada perkiraannya.

Meikha baru saja selesai mandi ketika mendengar suara mobil memasuki halaman. Ia segera keluar dari kamar, rambutnya masih setengah basah.

“Mas?”

Jevo yang baru masuk rumah mengangkat wajah.

“Sudah pulang, Sayang.”

Meikha menghampirinya.

“Kok cepat?”

“Rapatnya selesai lebih awal.”

Jevo meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu menatap rambut istrinya.

“Kenapa rambutnya basah?”

“Baru mandi.”

“Sudah makan?”

Meikha mengangguk.

“Sudah. Mas?”

“Belum.”

“Ya sudah, aku siapkan makan.”

Meikha berbalik menuju dapur, tetapi Jevo menangkap tangannya pelan.

“Nanti saja.”

“Kenapa?”

“Sini dulu.”

Jevo menarik istrinya ke dalam pelukan.

Meikha sempat terkejut, kemudian tersenyum ketika merasakan dagu suaminya bertumpu di atas kepalanya.

“Mas kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Terus?”

“Nggak boleh peluk istri sendiri?”

Meikha tertawa kecil.

“Boleh.”

“Ya sudah.”

Jevo tidak segera melepaskannya.

Ada kelelahan yang menumpuk sejak pagi, tetapi saat memeluk Meikha, ia merasa seperti akhirnya bisa meletakkan semua beban itu untuk sementara waktu.

Rumah ini selalu menyambutnya dengan cara yang sama.

Ada sandal rumah yang sudah disiapkan di dekat pintu. Ada aroma sabun dari kamar mandi. Ada suara Meikha yang bertanya apakah ia sudah makan.

Hal-hal kecil yang tidak pernah ia pikirkan ketika masih muda, tetapi kini justru terasa begitu penting.

Jevo menyayangi istrinya.

Ia menyukai kehidupan mereka.

Ia menyukai cara Meikha menunggunya pulang, cara perempuan itu bercerita tentang pelanggan toko roti yang cerewet, bahkan cara istrinya mengomel ketika ia lupa meletakkan handuk di tempat semestinya.

Tidak ada yang salah dengan perasaannya kepada Meikha.

Setidaknya, itulah yang ia yakini.

“Sayang,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Sabtu nanti kita keluar, yuk.”

Meikha mendongak.

“Ke mana?”

“Terserah kamu.”

“Mas, jangan terserah aku terus.”

Jevo tertawa.

“Ya sudah. Mas ajak makan malam.”

“Di mana?”

“Nanti Mas cari tempatnya.”

Mata Meikha berbinar.

“Serius?”

“Iya.”

“Janji?”

Jevo mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.”

Meikha mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Jevo, lalu tersenyum puas.

“Kalau begitu, aku mau pakai baju yang baru.”

“Silakan.”

“Mas harus pakai kemeja yang aku belikan bulan lalu.”

“Baik, Bu.”

“Mas!”

Jevo tertawa sambil kembali memeluknya.

Sore itu, mereka menghabiskan waktu bersama di rumah. Meikha memasak makan malam, sedangkan Jevo duduk di meja dapur sambil bercerita tentang rapatnya.

Setelah makan, Jevo membantu mencuci piring. Ia bahkan bersikeras mengeringkan piring-piring itu sendiri karena menurutnya istrinya sudah terlalu lama berdiri.

Mereka kemudian menonton televisi di ruang keluarga.

Meikha bersandar pada lengan Jevo, sesekali mengomentari acara yang sedang mereka tonton. Jevo mendengarkan sambil memainkan ujung rambut istrinya.

Ketika Meikha menguap untuk ketiga kalinya, Jevo menoleh.

“Sudah ngantuk?”

“Sedikit.”

“Kalau begitu, tidur.”

“Sebentar lagi.”

“Kenapa?”

“Masih mau sama Mas.”

Jevo terdiam sejenak.

Kemudian, ia mencium puncak kepala istrinya.

“Mas juga masih mau sama kamu.”

Meikha tersenyum tanpa membuka mata.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak ada janji besar di dalamnya. Tidak ada sesuatu yang istimewa bagi orang lain.

Namun, malam itu Meikha menyimpannya sebagai salah satu alasan untuk merasa bahagia.

Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kalimat yang sama mungkin akan terdengar berbeda.

Bukan karena Jevo berhenti menyayanginya.

Melainkan karena Meikha akhirnya memahami bahwa seseorang bisa ingin tetap bersamamu tanpa bersedia memberikan seluruh kesetiaannya kepadamu.

Pukul sebelas malam, Meikha sudah tertidur di samping Jevo.

Perempuan itu tidur menghadap suaminya, satu tangannya terletak di dada Jevo. Napasnya teratur, wajahnya tampak tenang setelah melewati hari yang melelahkan.

Jevo belum tidur.

Ia baru saja menyelesaikan beberapa pesan pekerjaan ketika ponselnya bergetar di atas nakas.

Sebuah notifikasi muncul.

Nama pengirimnya membuat gerakan jari Jevo terhenti.

Aprilia Putri.

Jevo menatap layar itu beberapa detik.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat nama tersebut muncul di ponselnya pada jam seperti ini.

Hubungan mereka memang sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Setidaknya, begitu yang selama ini ia katakan kepada orang lain.

Mereka pernah menjadi dua orang yang saling mengenal begitu dekat. Mereka pernah membicarakan masa depan, memilih tempat-tempat yang ingin dikunjungi bersama, dan membuat rencana-rencana yang pada akhirnya tidak pernah terwujud.

Lalu, kehidupan berjalan ke arah yang berbeda.

Jevo menikah dengan Meikha.

April juga melanjutkan kehidupannya sendiri.

Mereka tidak lagi memiliki hubungan seperti dahulu.

Sampai delapan bulan lalu, ketika mereka kembali bertemu dalam sebuah urusan pekerjaan.

Awalnya hanya percakapan singkat.

Kemudian, sesekali bertukar kabar.

Setelah itu, makan siang bersama ketika kebetulan berada di tempat yang sama.

Jevo selalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semua itu tidak berarti apa-apa.

Bahwa ia hanya sedang berbicara dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.

Bahwa ia sudah menikah dan tahu batasan yang seharusnya tidak dilanggar.

Namun, ia juga tahu bahwa ada sesuatu yang berubah setiap kali berbicara dengan April.

Ada bagian dari dirinya yang terasa begitu akrab ketika mendengar suara perempuan itu. Ada kenangan yang kembali muncul tanpa diminta. Ada perasaan yang selama ini ia kira sudah selesai, tetapi ternyata tidak benar-benar hilang.

Jevo menurunkan pandangan ke arah Meikha.

Istrinya masih tertidur dengan tenang.

Perempuan yang setiap pagi menyiapkan sarapannya. Perempuan yang selalu mengingatkan dirinya untuk makan. Perempuan yang beberapa jam lalu tersenyum bahagia hanya karena dia mengajaknya makan malam pada akhir pekan.

Jevo mengusap pipi Meikha dengan punggung jarinya.

Ia tidak ingin menyakiti perempuan itu.

Ia sungguh tidak ingin.

Tetapi ketika ponselnya kembali bergetar, Jevo mengalihkan pandangannya ke layar.

Kali ini, ia membuka pesan tersebut.

April:

Jev. Aku tadi melewati tempat yang dulu sering kita datangi. Masih ingat, kan? Tempat yang kopinya selalu kamu bilang terlalu pahit, tapi kamu tetap mengajakku ke sana setiap Jumat sore.

Jevo terdiam.

Senyum kecil muncul di sudut bibirnya sebelum sempat ia sadari.

Ia masih ingat tempat itu.

Sebuah kedai kopi kecil yang dulu berada tidak jauh dari kampus mereka. Meja dekat jendela yang selalu mereka pilih. Jalanan yang ramai menjelang sore. Dan April yang selalu tertawa ketika Jevo menghabiskan kopinya sambil mengeluh tentang rasanya.

Kenangan itu terasa begitu dekat, seolah-olah tidak pernah ada tahun-tahun yang memisahkan mereka.

Jevo mengetik balasan.

Menghapusnya.

Mengetik lagi.

Kemudian, akhirnya, mengirimkan sebuah pesan singkat.

Jevo:

Masih ingat.

Hanya dua kata.

Namun, setelah mengirimkannya, Jevo tidak langsung meletakkan ponsel.

Ia menunggu.

Dan beberapa saat kemudian, balasan April masuk.

April:

Aku kangen masa-masa itu, Jev.

Jantung Jevo terasa berdegup sedikit lebih cepat.

Ia membaca pesan itu sekali.

Kemudian sekali lagi.

Di sampingnya, Meikha bergerak kecil dalam tidurnya. Tangannya mencari tubuh Jevo, lalu kembali terletak di dada laki-laki itu.

Jevo mematikan layar ponselnya sejenak dan menggenggam tangan istrinya.

“Masih di sini, Sayang,” bisiknya pelan, meskipun Meikha tidak mendengarnya.

Ia mengecup kening perempuan itu.

Lalu, ketika Meikha kembali tertidur dengan tenang, Jevo membuka ponselnya sekali lagi.

Jarinya bergerak di atas layar.

Jevo:

Aku juga.

Dua kata yang seharusnya tidak perlu dikirimkan.

Dua kata yang mungkin terlihat sederhana bagi siapa pun yang membacanya.

Tetapi malam itu, tanpa disadari Meikha, Jevo baru saja membuka kembali sebuah pintu yang selama bertahun-tahun ia biarkan tertutup.

Dan di balik pintu itu, ada seseorang yang ternyata masih ingin ia temui.

Jevo meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu memejamkan mata.

Ia tidak berniat meninggalkan Meikha.

Ia masih ingin bangun esok pagi di rumah yang sama, sarapan bersama istrinya, mencium kening perempuan itu sebelum bekerja, dan pulang untuk mendengarkan ceritanya setelah seharian berada di luar rumah.

Ia masih ingin semua itu.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia juga ingin kembali duduk di hadapan April, mendengarkan perempuan itu bercerita, dan mengetahui seperti apa kehidupannya selama mereka tidak bersama.

Jevo tahu bahwa keinginannya itu tidak sesederhana yang ingin ia percayai.

Ia tahu dirinya sudah menikah.

Ia tahu ada seorang perempuan yang tidur di sampingnya, mempercayainya tanpa syarat, dan tidak pernah sekalipun memintanya membuktikan cinta dengan cara yang berlebihan.

Tetapi pengetahuan itu belum cukup untuk membuatnya berhenti.

Malam semakin larut.

Di dalam kamar yang sama, Meikha tidur dengan perasaan aman, sementara Jevo berbaring dengan mata terbuka, memikirkan dua perempuan yang menempati bagian berbeda dalam hidupnya.

Satu perempuan adalah rumah yang telah ia bangun.

Satu perempuan lagi adalah masa lalu yang diam-diam kembali ingin ia miliki.

Dan untuk saat ini, Jevo masih percaya bahwa ia bisa mempertahankan keduanya tanpa harus kehilangan siapa pun.

Ia belum mengerti bahwa ada kebohongan yang paling kejam bukanlah kebohongan yang diucapkan dengan kemarahan, melainkan kebohongan yang tumbuh di tengah kasih sayang, disembunyikan di balik perhatian, dan dibiarkan hidup di dalam sebuah rumah yang penghuninya tidak pernah merasa sedang terancam.

Meikha tidak mengetahui percakapan itu.

Ia tidak melihat senyum Jevo ketika membaca pesan April.

Ia juga tidak tahu bahwa nama perempuan tersebut baru saja kembali muncul di layar ponsel suaminya.

Yang ia tahu hanyalah bahwa suaminya ada di sampingnya.

Bahwa sebelum tidur, Jevo sempat mengecup keningnya.

Bahwa besok pagi, kemungkinan besar, laki-laki itu akan kembali bertanya apakah ia sudah sarapan.

Dan Meikha akan menjawab seperti biasanya.

Dengan senyum kecil.

Dengan suara lembut.

Dengan kepercayaan yang sama.

Sebab malam itu, Meikha belum memiliki alasan untuk meragukan suaminya.

Sementara Jevo, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mulai menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada istrinya.

Malam itu, rumah mereka masih utuh.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada air mata. Tidak ada pintu yang dibanting atau suara yang meninggi.

Jevo masih menggenggam tangan Meikha ketika akhirnya memejamkan mata.

Dan Meikha masih tertidur di samping laki-laki yang dicintainya, tanpa mengetahui bahwa sebuah pesan singkat telah membawa seseorang dari masa lalu kembali masuk ke dalam pernikahan mereka.

Seseorang yang mungkin tidak akan pernah ia takuti jika saja ia tahu bahwa suaminya sedang membuka pintu untuknya.

Sebab yang paling menakutkan dari sebuah pengkhianatan bukanlah selalu perubahan sikap seseorang.

Terkadang, yang paling menakutkan adalah ketika semuanya masih terasa sama.

Sarapan masih disiapkan.

Pelukan masih diberikan.

Kening masih dicium sebelum berangkat kerja.

Dan perempuan yang dikhianati itu masih bisa berkata dengan tulus bahwa ia bahagia.

Tanpa mengetahui bahwa di dalam hati laki-laki yang dipeluknya setiap malam, ada sebuah cerita lain yang baru saja dimulai.

Bersambung.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Sukai atau simpan cerita ini agar tidak ketinggalan bab berikutnya.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.