Bab 1Bab 1. Anting di dalam mobil

6 menit baca•1.3rb kata

Bab 1 — Anting di Dalam Mobil

Hujan turun sejak sore ketika Nadira berdiri di depan jendela ruang tamu. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi Adrian belum juga pulang.

Di atas meja makan, dua piring yang telah disiapkannya sejak pukul tujuh mulai dingin. Sup kesukaan suaminya masih tertutup tudung saji, sementara segelas teh yang dibuat khusus untuk Adrian telah kehilangan uapnya.

Nadira mengambil ponsel dan membuka percakapan mereka.

Pesan terakhir yang dikirimkannya dua jam lalu hanya dibaca tanpa balasan.

Mas, kamu pulang jam berapa? Aku sudah menyiapkan makan malam.

Ia mengetik pesan baru, kemudian menghapusnya lagi.

Dahulu, Adrian selalu memberi kabar meskipun hanya untuk mengatakan bahwa ia terlambat. Dahulu, lelaki itu akan menelepon sekadar mendengar suaranya, bahkan ketika sedang berada di tengah rapat.

Sekarang, Nadira merasa seperti orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.

Suara mobil akhirnya terdengar dari halaman.

Nadira segera berdiri. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahan, lalu berjalan menuju pintu ketika Adrian masuk dengan kemeja yang kusut dan aroma parfum asing melekat samar pada tubuhnya.

“Kamu sudah pulang?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.

Adrian meletakkan tas kerja di sofa.

“Menurutmu aku pulang dari mana?”

Nadira terdiam sejenak. “Aku cuma bertanya.”

“Kalau cuma bertanya, jangan mulai dengan nada seperti sedang menginterogasiku.”

Jawaban itu membuat Nadira kehilangan kata-kata.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa menyambut suaminya sendiri bisa terasa seperti melakukan kesalahan.

“Makan malam sudah kusiapkan,” katanya akhirnya.

“Aku sudah makan di luar.”

“Kalau begitu, setidaknya duduklah sebentar. Aku ingin bicara.”

Adrian melirik jam tangannya. “Aku lelah, Nadira. Besok saja.”

“Besok selalu menjadi jawabanmu.”

Lelaki itu berhenti berjalan.

“Apa maksudmu?”

Nadira menatapnya. “Sudah hampir sebulan kita tidak makan malam bersama. Setiap kali aku mengajak bicara, kamu selalu bilang lelah. Apa memang sesulit itu meluangkan waktu untuk istrimu sendiri?”

Adrian mengembuskan napas panjang.

“Bisnisku sedang banyak masalah. Aku bekerja untuk keluarga ini.”

“Aku tahu. Aku tidak pernah melarangmu bekerja.”

“Lalu apa lagi yang kamu inginkan?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menusuk hati Nadira.

Ia ingin suaminya pulang dengan sukarela. Ia ingin ditanya bagaimana harinya, ingin dipeluk tanpa harus meminta, dan ingin merasa bahwa dirinya masih menjadi perempuan yang dicintai Adrian.

Namun, bagaimana mungkin ia menjelaskan kebutuhan itu kepada seseorang yang bahkan tidak lagi berusaha memahaminya?

“Tidak ada,” jawabnya lirih.

Adrian langsung berjalan menuju kamar.

Nadira tetap berdiri di ruang tamu, mendengar langkah suaminya menjauh. Ketika pintu kamar tertutup, ia memandang meja makan yang tak tersentuh.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa kesepian meskipun suaminya berada di rumah.

Keesokan paginya, Adrian berangkat terburu-buru.

Ia bahkan tidak menyentuh sarapan yang disiapkan Nadira. Sebelum pergi, lelaki itu hanya berkata bahwa ada pertemuan penting di kantor.

Setelah mobilnya keluar dari halaman, Nadira melihat sebuah map hitam tertinggal di meja dekat pintu.

Ia berniat menyusul Adrian, tetapi teringat bahwa kunci mobil cadangan masih tersimpan di laci. Akhirnya, ia mengambil map itu dan memutuskan mengantarkannya sendiri.

Perjalanan menuju kantor Adrian memakan waktu hampir empat puluh menit.

Namun, ketika tiba di gedung perkantoran itu, Nadira mengetahui bahwa suaminya belum datang.

Resepsionis mengatakan Adrian sedang menuju lokasi pertemuan di tempat lain.

Nadira mengangguk, berusaha tidak menunjukkan kekecewaan. Ia kembali ke mobil dan meletakkan map tersebut di kursi penumpang.

Saat hendak menyalakan mesin, matanya menangkap sesuatu di dekat rel kursi belakang.

Sebuah anting kecil berwarna emas.

Nadira mengambilnya.

Anting itu bukan miliknya. Ia tidak pernah memakai perhiasan berbentuk bunga dengan batu merah di tengahnya.

Ia memandangi benda tersebut lama sekali.

Mungkin milik klien Adrian. Mungkin tertinggal setelah seseorang menumpang mobil itu. Ada banyak kemungkinan yang masuk akal, dan Nadira berusaha memegang salah satunya.

Sampai ia teringat pada Selina.

Sahabatnya itu baru saja membeli sepasang anting dengan model serupa. Selina bahkan sempat memperlihatkannya saat mereka minum kopi beberapa hari lalu.

Nadira merasakan telapak tangannya mulai dingin.

Ia segera menggeleng, seolah bisa mengusir pikiran buruk hanya dengan gerakan kecil.

Tidak mungkin.

Selina mengenalnya sejak kuliah. Perempuan itu hadir ketika Nadira kehilangan ayahnya, membantu persiapan pernikahannya, dan berdiri di sampingnya ketika ia mengucapkan janji suci kepada Adrian.

Selina adalah orang yang paling dipercayainya setelah suaminya.

Tidak mungkin perempuan itu tega melakukan sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya.

Ponsel Nadira bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Selina.

Dira, nanti malam kamu di rumah? Aku mau mampir. Ada sesuatu yang ingin kuceritakan.

Nadira membaca pesan itu berulang kali.

Jarinya bergerak, mengetik pertanyaan tentang anting tersebut. Namun, ia berhenti sebelum mengirimkannya.

Ia membutuhkan kepastian, bukan tuduhan.

Maka, ia menyimpan anting itu di dalam tas dan pulang dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan.

Malamnya, Selina benar-benar datang.

Perempuan itu mengenakan gaun sederhana dan membawa sekotak kue kesukaan Nadira. Senyumnya masih sama seperti biasanya, hangat dan mudah membuat orang merasa nyaman.

“Dira!” Selina memeluknya. “Kamu kelihatan capek.”

Nadira membalas pelukan itu, tetapi pikirannya tertuju pada benda kecil di dalam tas.

“Aku kurang tidur,” jawabnya.

Mereka duduk di ruang tamu. Selina bercerita tentang pekerjaannya, tentang rencana liburan, dan tentang seorang lelaki yang belakangan sering mengajaknya makan malam.

Nadira mendengarkan tanpa benar-benar menyerap kata-katanya.

Lalu, ketika Selina mengangkat tangan untuk merapikan rambut, Nadira melihat telinganya.

Anting yang dikenakannya hanya satu.

Bentuknya bunga kecil dengan batu merah di tengah.

Nadira merasakan dadanya seperti diremas.

“Sel,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kamu kehilangan anting?”

Senyum Selina perlahan memudar.

“Kenapa bertanya begitu?”

Nadira membuka tasnya, mengeluarkan anting yang ditemukan di mobil Adrian, lalu meletakkannya di atas meja.

“Aku menemukan ini di mobil Adrian.”

Ruangan mendadak sunyi.

Selina memandang anting tersebut. Wajahnya berubah pucat, dan tangannya yang semula santai kini menggenggam ujung gaunnya.

Nadira memperhatikan setiap perubahan itu.

“Ini milikmu, kan?”

Selina tidak langsung menjawab.

“Selina?”

Perempuan itu menelan ludah. “Dira, aku bisa menjelaskan.”

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penyangkalan.

Nadira menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.

“Menjelaskan apa? Kenapa barangmu ada di mobil suamiku?”

Selina menunduk.

“Aku tidak bermaksud membuatmu terluka.”

Nadira merasa dunia di sekelilingnya mendadak kehilangan suara.

“Jadi, memang benar?”

Air mata mulai menggenang di mata Selina. Ia mencoba meraih tangan Nadira, tetapi perempuan itu menarik tangannya sebelum sentuhan tersebut terjadi.

“Jangan sentuh aku.”

Selina terisak.

“Aku tahu aku salah.”

Nadira berdiri. Kakinya terasa lemah, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegak.

“Sejak kapan?”

Selina menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Dira, kumohon. Dengarkan aku dulu.”

“Sejak kapan?” ulang Nadira, kali ini dengan suara lebih keras.

Selina akhirnya mengangkat wajah.

“Enam bulan.”

Enam bulan.

Selama setengah tahun, Nadira menunggu suaminya pulang, menyiapkan makan malam, dan menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak lagi dicintai.

Selama itu pula, dua orang yang paling dipercayainya menyimpan sesuatu yang menghancurkan pernikahannya.

Nadira berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Pulanglah, Selina.”

“Dira, aku minta maaf.”

“Aku bilang pulang!”

Selina tersentak. Ia mengambil tasnya, lalu berjalan menuju pintu dengan air mata membasahi pipi.

Namun, sebelum melangkah keluar, ia berhenti.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Nadira tidak menjawab.

Selina menggigit bibir, tampak berjuang melawan ketakutannya sendiri.

“Adrian bukan satu-satunya orang yang menyimpan rahasia darimu.”

Nadira menatapnya tajam.

“Apa maksudmu?”

Selina menggeleng pelan.

“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tanyakan sendiri kepada Adrian tentang malam sebelum pernikahan kalian.”

Setelah mengatakan itu, Selina pergi.

Nadira berdiri di ambang pintu, tidak bergerak. Kalimat terakhir sahabatnya terus berputar di kepala.

Malam sebelum pernikahan mereka.

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Ponselnya bergetar di atas meja.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Jika kamu ingin mengetahui siapa suamimu sebenarnya, datanglah ke rumah tua di ujung desa besok pukul tujuh malam. Datang sendiri. Jangan beri tahu Adrian.

Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto.

Foto Adrian sedang mencium Selina di depan sebuah rumah tua.

Namun, yang membuat darah Nadira terasa membeku bukanlah foto itu.

Di sudut gambar, berdiri seorang lelaki lain yang wajahnya sangat dikenalnya.

Rendra.

Lelaki yang pernah menjadi cinta pertamanya.

Lelaki yang menghilang dari kehidupannya tepat satu minggu sebelum ia menerima lamaran Adrian.

Nadira memperbesar foto tersebut dengan tangan gemetar.

Kemudian, pesan kedua masuk.

Perselingkuhan itu bukan rahasia terbesar suamimu.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.