Bab 1Prolog
Sebelum Semuanya Berakhir
Hujan turun sejak sore.
Malam telah mengambil alih hutan, menyisakan suara rintik air yang jatuh dari dedaunan dan hembusan angin yang sesekali menggoyangkan pepohonan tua.
Di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi, seorang pria berjalan sendirian.
Langkahnya berat.
Sepasang sepatu tua yang sudah dipenuhi lumpur terus membawanya melewati tanah basah. Mantelnya telah lama kehilangan warna aslinya, sementara rambut hitamnya yang sedikit berantakan menempel di dahi karena hujan.
Pria itu bernama Zareth Arvellan.
Usianya dua puluh delapan tahun.
Ia berhenti di bawah sebuah pohon besar.
Untuk beberapa saat, Zareth hanya berdiri diam.
Tidak ada suara manusia.
Tidak ada cahaya rumah.
Tidak ada api unggun.
Hanya hutan yang gelap dan suara hujan.
Zareth mengangkat wajahnya.
Air hujan mengalir melewati pipinya.
"Sudah berapa lama aku berjalan seperti ini?"
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Hanya senyum seseorang yang sudah terlalu lelah untuk merasa heran dengan hidupnya sendiri.
Zareth kemudian duduk di akar pohon.
Punggungnya bersandar pada batang yang kasar.
Tangannya perlahan mengepal.
Dulu, ia pernah berpikir bahwa selama dirinya masih hidup, semuanya bisa diperbaiki.
Ternyata ia salah.
Lima tahun.
Hanya lima tahun yang ia miliki sebelum semuanya berubah.
Pada usia dua puluh satu tahun, sebuah bencana datang ke desanya.
Monster.
Satu kata sederhana yang cukup untuk mengubah seluruh hidupnya.
Desa yang selama bertahun-tahun menjadi rumahnya berubah menjadi tempat yang tidak lagi bisa disebut rumah.
Orang-orang berlari.
Teriakan memenuhi malam.
Api membakar bangunan.
Dan pada akhirnya, hanya Zareth yang keluar hidup-hidup dari tragedi itu.
Setelah hari tersebut, hidupnya tidak pernah kembali seperti sebelumnya.
Ia mencoba bertahan.
Ia mencoba bekerja.
Ia mencoba menjadi lebih kuat.
Ia bahkan mencoba mempelajari pedang.
Namun pedang bukan jalan untuknya.
Tubuhnya tidak pernah mampu mengikuti teknik yang diajarkan kepadanya.
Berulang kali ia mencoba.
Berulang kali pula ia gagal.
Pada akhirnya, ia meninggalkan pedang dan memilih jalan lain.
Bela diri.
Tidak ada yang menganggapnya hebat.
Bahkan di dunia yang dipenuhi sihir dan mereka yang mampu menggunakan pedang, bela diri hanyalah kemampuan sederhana yang hampir tidak lagi digunakan untuk pertarungan serius.
Namun Zareth tidak punya banyak pilihan.
Maka ia mempelajarinya.
Sedikit demi sedikit.
Bertahun-tahun.
Ia jatuh.
Bangkit.
Terluka.
Bangkit lagi.
Hidupnya tidak pernah menjadi kisah seorang pahlawan.
Tidak ada gelar.
Tidak ada kejayaan.
Tidak ada kerajaan yang memanggil namanya.
Tidak ada kemenangan besar yang membuat orang-orang menyebutnya legenda.
Hanya seorang pria yang berusaha bertahan hidup.
Dan sekarang, pada usia dua puluh delapan tahun, ia bahkan tidak tahu apakah semua perjuangannya memiliki arti.
Zareth menundukkan kepalanya.
"Lucu."
Suaranya hampir tenggelam oleh hujan.
"Aku masih hidup."
Ia menatap kedua tangannya.
Tangan yang telah berubah karena bertahun-tahun berlatih.
Tangan yang pernah memegang pedang.
Tangan yang pernah mengepal karena marah.
Tangan yang pernah gemetar karena ketakutan.
Tangan yang pernah mencoba menggenggam sesuatu yang akhirnya tetap hilang.
Zareth menarik napas panjang.
Lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku benar-benar masih hidup."
Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya menghilang.
Ia memejamkan mata.
Wajah-wajah dari masa lalu muncul dalam pikirannya.
Desa.
Rumah.
Orang-orang yang pernah ia kenal.
Dan satu nama yang paling sulit untuk dilupakan.
Elara.
Zareth membuka matanya.
Untuk sesaat, tatapannya kosong.
Ia tidak tahu bagaimana keadaan Elara sekarang.
Ia tidak tahu di mana jalan hidupnya membawanya.
Ia hanya tahu satu hal.
Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin ada banyak hal yang ingin ia lakukan secara berbeda.
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur.
Setidaknya, itulah yang selama ini ia percayai.
Zareth berdiri.
Hujan mulai sedikit mereda.
Ia melanjutkan langkahnya lebih dalam ke hutan.
Tidak ada tujuan khusus.
Ia hanya ingin menemukan tempat untuk beristirahat malam itu.
Namun setelah berjalan beberapa menit, Zareth berhenti.
Alisnya berkerut.
Sesuatu terasa aneh.
Hutan di depannya tampak berbeda.
Bukan karena ada monster.
Bukan karena ada seseorang.
Melainkan karena udara.
Zareth menatap lurus ke depan.
"......"
Ia tidak bergerak.
Ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Udara di depannya seperti bergetar.
Awalnya sangat samar.
Seperti panas yang terlihat di atas tanah pada siang hari.
Namun semakin Zareth memperhatikannya, semakin jelas getaran itu.
Ruang di depannya mulai terlihat seperti kaca yang retak.
Retakan tipis muncul tanpa suara.
Zareth mundur satu langkah.
"Apa ini?"
Ia belum pernah melihat sesuatu seperti itu.
Tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada cahaya yang biasa muncul dari penggunaan sihir.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan monster.
Hanya sebuah retakan.
Di udara.
Di dalam ruang yang seharusnya kosong.
Zareth secara naluriah mengambil posisi bertahan.
Tubuhnya masih menyimpan kebiasaan bertahun-tahun berlatih.
Namun kali ini, bahkan tubuhnya sendiri seperti mengatakan bahwa ia sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa dipahami.
Retakan itu semakin melebar.
Suara samar terdengar.
Krek.
Seperti kaca yang pecah.
Zareth menatapnya.
Kemudian dunia di sekelilingnya terasa berubah.
Suara hujan menghilang.
Angin berhenti.
Daun-daun yang sebelumnya bergerak kini seolah membeku.
Bahkan tubuh Zareth terasa semakin berat.
"Apa yang..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tanah di bawah kakinya berubah.
Bukan runtuh.
Bukan bergeser.
Melainkan seperti kehilangan bentuk.
Zareth mencoba mundur.
Namun kakinya tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rasa takut yang berbeda muncul di dalam dirinya.
Bukan takut mati.
Ia sudah terlalu sering melihat kematian.
Yang membuatnya takut adalah ketidakmampuan untuk memahami apa yang sedang terjadi.
"Ini bukan sihir..."
Mata kirinya tiba-tiba terasa panas.
Zareth refleks menutup sebelah matanya.
Rasa sakit menusuk dari sekitar matanya hingga ke kepalanya.
"Agh..."
Ia berlutut.
Tangannya menekan tanah.
Namun tanah itu terasa semakin jauh.
Suara-suara mulai muncul.
Tidak jelas.
Tidak beraturan.
Suara seseorang tertawa.
Suara seseorang menangis.
Suara langkah kaki.
Suara pedang beradu.
Suara api.
Suara angin.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Zareth memegang kepalanya.
"Apa... yang terjadi?"
Kemudian ia mendengar sebuah suara.
Suara yang sangat ia kenal.
"Zareth."
Tubuhnya membeku.
Ia mengangkat kepala.
Tidak ada siapa pun.
Namun suara itu kembali terdengar.
"Zareth."
Elara.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, nama itu terdengar begitu dekat.
Zareth mengulurkan tangan.
"Elara?"
Tidak ada siapa pun di sana.
Hanya retakan ruang yang semakin besar.
Cahaya muncul di baliknya.
Zareth menatap cahaya tersebut.
Anehnya, tidak ada rasa panas.
Tidak ada rasa dingin.
Hanya sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya terasa ringan.
Ia mencoba berdiri.
Namun tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga.
Retakan itu tiba-tiba menariknya.
Zareth terkejut.
"Ugh!"
Tangannya mencoba meraih akar pohon.
Jarinya mencengkeram tanah.
Tidak cukup.
Tubuhnya terseret perlahan.
Tanah, pohon, dan hutan di sekelilingnya mulai menjauh.
Zareth menggertakkan giginya.
Ia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa.
Ia tidak tahu apakah ia akan mati.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia berharap dirinya masih memiliki kesempatan.
Bukan untuk menjadi kuat.
Bukan untuk mendapatkan kekayaan.
Bukan untuk menjadi seseorang yang dikenal dunia.
Ia hanya ingin satu hal.
Kesempatan untuk menjalani hidup yang berbeda.
Jari-jarinya terlepas dari tanah.
Tubuh Zareth
jatuh ke dalam retakan itu.
Dalam sekejap, seluruh suara menghilang.
Tidak ada hujan.
Tidak ada angin.
Tidak ada hutan.
Tidak ada tanah.
Tidak ada langit.
Tidak ada arah.
Zareth membuka matanya.
Namun yang ia lihat hanyalah kegelapan.
Dan di dalam kegelapan itu...
waktu seolah berhenti.
Zareth Arvellan tidak tahu bahwa malam tersebut bukanlah akhir dari hidupnya.
Melainkan awal dari kehidupan keduanya.