Bab 1
Bab 1 — Rumah Kecil dan Tiga Hati
Rumah itu kecil. Dinding kayunya mulai lapuk, atap sengnya berlubang di beberapa bagian, dan lantainya sering basah ketika hujan turun terlalu deras. Di sudut ruang tamu, sebuah foto perempuan tersenyum tergantung di dinding. Perempuan itu adalah ibu Naira dan Raka, yang telah meninggal beberapa tahun lalu.
Di rumah sederhana itu, tinggal Naira, seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas satu SMA, kakaknya Raka, dan ayah mereka, Arman.
Setiap pagi, Naira selalu terbangun oleh suara batuk ayahnya dari dapur.
“Sudah bangun, Nak?” tanya Ayah ketika melihat Naira keluar kamar sambil mengucek mata.
“Sudah, Yah. Ayah masak apa?”
“Nasi sama telur. Sederhana, tapi semoga cukup buat sarapan kita.”
Naira tersenyum, lalu melirik piring di atas meja. Ada satu telur yang telah digoreng dan dibagi menjadi tiga bagian.
“Ayah, kok bagian Ayah sedikit sekali?”
Ayah tertawa kecil. “Ayah sudah makan tadi.”
“Bohong. Naira dari tadi belum dengar Ayah makan.”
Ayah terdiam sesaat, lalu mengusap kepala putrinya.
“Sudah, makan saja. Ayah senang kalau kalian kenyang.”
Naira akhirnya memindahkan sebagian telurnya ke piring ayah.
“Kalau begitu, kita makan sama banyak. Naira nggak mau Ayah lapar.”
Ayah menatap putrinya dengan mata berbinar. “Anak Ayah sekarang sudah pintar berdebat, ya?”
Naira tertawa. Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, mereka memulai hari dengan makanan sederhana dan kasih sayang yang tidak pernah sederhana.
Raka, kakak Naira, biasanya menghabiskan waktu di rumah. Sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu membuat kedua kakinya lumpuh sehingga ia tidak bisa berjalan seperti dahulu. Sebelum kecelakaan itu, Raka dikenal sebagai anak yang aktif. Ia gemar bermain sepak bola dan sering mengajak Naira berkeliling kampung.
Namun, setelah kecelakaan tersebut, banyak hal berubah. Raka menjadi pendiam. Ia sering menghabiskan waktu di dekat jendela, memandangi anak-anak yang bermain di halaman.
Meski begitu, ada satu hal yang selalu membuat rumah kecil itu terasa hangat: kenangan mereka bersama ayah dan ibu.
Dahulu, ketika ibu masih hidup, ayah sering mengajak mereka berjalan-jalan ke pasar malam. Uang yang dimiliki ayah tidak banyak, tetapi ia selalu berusaha membelikan sesuatu untuk anak-anaknya.
“Yah, Naira mau es krim!” pinta Naira kecil sambil menunjuk gerobak es krim.
“Kalau Raka mau apa?” tanya ayah.
“Raka juga mau es krim!” jawab kakaknya bersemangat.
Ayah tertawa. “Wah, kalau begitu, Ayah harus bekerja lebih rajin supaya bisa membelikan kalian es krim lagi.”
Ibu yang berjalan di samping mereka menggeleng sambil tersenyum.
“Jangan dibiasakan semua keinginan dituruti, Yah.”
“Sesekali saja, Bu. Lihat wajah mereka, masa Ayah tega menolak?”
Mereka tertawa bersama.
Malam-malam di rumah juga tidak kalah menyenangkan. Mereka sering berkumpul di ruang tamu, mendengarkan cerita lucu Raka yang terkadang berakhir dengan tawa Naira sampai perutnya sakit.
Kenangan itu selalu membuat Naira tersenyum. Namun, ketika ia menyadari bahwa ibu tidak akan pernah kembali, senyumnya perlahan memudar.
Kini, hanya ayah yang mereka miliki.
Dan bagi Naira, ayah adalah rumah tempatnya pulang.







