Bab 1Sepatu Putih dan Kuah Seblak
Senin pagi di SMA Garuda selalu diwarnai dua hal yang saling bertolak belakang: keheningan mencekam saat upacara bendera dan kegaduhan massal beberapa menit menjelang bel masuk. Bagi Alya Kirana, hari ini mestinya berjalan seperti biasa. Ia bangun pukul lima pagi, memastikan seragamnya tersetrika rapi tanpa lipatan kecil pun, dan menyusun buku-buku pelajaran di tasnya sesuai urutan jadwal.
Alya adalah tipe siswi yang hidupnya penuh perhitungan. Ia punya rumus tersendiri untuk segala hal. Berapa menit waktu yang dibutuhkan dari gerbang depan menuju kelas lantai dua, berapa tetes air yang pas untuk menyeduh teh pagi, sampai berapa detik ia harus membiarkan cat kukunya mengering sebelum berangkat sekolah.
Namun, semua perhitungan matematis itu mendadak berantakan begitu kaki kanannya melangkah melewati area kantin belakang sekolah.
"Alya! Lo dengerin gue nggak, sih?"
Suara melengking Nita memecah konsentrasi Alya yang sedang sibuk mengecek lembar tugas Kimia di tangannya. Alya menghentikan langkah, memutar kepala lambat-lambat ke arah sahabatnya itu.
"Apaan sih, Nit? Jangan teriak-teriak, ini masih pagi," sahut Alya datar.
"Gimana gue nggak teriak? Lo liat tuh bawah!" Nita menunjuk ke arah kaki Alya dengan wajah panik yang dipaksakan.
Alya menunduk. Pandangannya jatuh ke ujung sepatu sneakers putih bersih yang baru ia beli minggu lalu dari hasil menabung uang saku dua bulan. Di atas kain putih yang mestinya mulus itu, kini tergenang cairan merah pekat beraroma menyengat. Cabai rawit ulek, potongan kerupuk basah yang sudah lembek, dan minyak merah yang berkilat-kilat di bawah sinar matahari pagi.
Kuah seblak. Lebih tepatnya, seblak level lima ekstra kencur milik Mang Ujang.
Alya membeku di tempat. Dunia di sekitarnya seolah mendadak berjalan dalam mode slow-motion. Bau gurih kencur dan rasa pedas yang menguap dari tanah langsung menusuk hidungnya, mengalahkan aroma parfum lavender yang ia semprotkan di leher tadi pagi.
"Sepatu gue..." bisik Alya pelan. Sangat pelan, tapi mengandung getaran kemarahan yang bisa membuat siapa pun di dekatnya merinding.
"Ya ampun, Al! Kan gue udah bilang tadi, kalau jalan lewat kantin belakang jangan pas jam-jam anak cowok lagi pemanasan basket!" Nita menepuk jidatnya sendiri sambil meringis melihat noda merah yang mulai meresap semakin dalam ke serat kain sepatu Alya.
Belum sempat Alya menarik nafas untuk memproses tragedi sepatu barunya, sebuah suara benturan keras terdengar dari arah lapangan.
BRAY!
Sebuah bola basket berukuran nomor tujuh memantul liar dari papan pantul, menghantam tiang pembatas kantin, lalu mendarat tepat di atas meja kayu tempat mangkuk seblak Alya yang tersisa separuh berada. Mangkuk porselen itu terbalik seketika. Kuah merah yang tersisa menciprat ke udara seperti ledakan kembang api murah, menyemprot bagian depan seragam putih bersih Alya dari dada sampai ke lipatan rok.
Plak.
Suara tetesan kuah seblak yang jatuh dari ujung seragam Alya menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di area kantin selama tiga detik berikutnya.
Alya berdiri kaku. Kedua tangannya yang memegang lembar tugas Kimia mengepal kuat hingga kertas tebal itu remuk di pinggirannya. Matanya berkedip lambat, berusaha meyakinkan diri bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk akibat tidur terlalu malam.
"Aduh! Sori, sori! Nggak sengaja, beneran!"
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah lapangan beraspal. Seorang cowok berpostur tinggi dengan seragam basket bernomor punggung 07 berlari kecil menyeberangi garis lapangan. Keringat masih membintik di sekitar pelipisnya, dan rambut bagian depannya yang sedikit basah berantakan tertiup angin pagi.
Rian Dirgantara.
Nama itu langsung terlintas di otak Alya dengan cetakan huruf tebal berwarna merah. Rian adalah tipe cowok yang berada di spektrum paling bertolak belakang dari Alya. Kalau Alya adalah definisi murid teladan yang hidupnya teratur, Rian adalah kekacauan berwujud manusia—kapten tim basket sekolah yang disukai banyak cewek karena wajah tampan dan humor tengilnya, tapi sekaligus menjadi beban nomor satu para guru karena nilai pelajarannya yang konsisten berada di dasar jurang.
"Sori banget, Al! Tadi si Bima ngoper bolanya terlalu melintir, gue coba tahan tapi malah meledak ke sana..." Rian menghentikan kalimatnya begitu berdiri tepat di depan Alya.
Pandangan Rian turun dari wajah Alya yang sudah memerah, menuju ke dada seragam cewek itu, lalu berakhir di sepatu putih yang kini berubah warna menjadi merah bata. Rian meringis kecil, menyenggol hidungnya dengan ibu jari—kebiasaan refleksnya setiap kali merasa canggung.
"Wah... Al," gumam Rian dengan polosnya. "Seragam lo jadi kayak peta pulau di buku Geografi. Itu yang di bagian dada bentuknya agak mirip Pulau Kalimantan nggak sih?"
Beberapa anak cowok yang menyusul di belakang Rian langsung menutup mulut, menahan tawa yang hampir meledak. Nita di sebelah Alya hanya bisa mengelus dada sambil berbisik pelan, "Sabar, Al... memukul anak orang itu ada pasal pidananya..."
Alya menarik nafas panjang melalui hidung, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia menatap Rian tepat di manik matanya.
"Rian," panggil Alya. Suaranya terdengar begitu tenang dan halus, jenis ketenangan yang justru jauh lebih menakutkan daripada bentakan keras.
Rian refleks mundur setengah langkah. "Ya?"
"Lo tahu nggak ini jam berapa?"
Rian melirik jam tangan digital hitam di pergelangan tangan kirinya. " delapan kurang sepuluh?"
"Artinya sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi," lanjut Alya, langkah kakinya maju satu tindak mendekati Rian. "Dan di jam pertama, gue harus berdiri di depan kelas untuk presentasi tugas Kimia di hadapan Bu Ratna. Dengan seragam yang baunya mirip bumbu kencur dan sepatu yang warnanya mirip bumbu balado."
Rian tertawa garing sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Ya... anggap aja itu konsep penyesalan, Al. Biar presentasi lo lebih berkesan?"
"Rian Dirgantara!" suara Alya akhirnya melengking, memotong celotehan konyol cowok di depannya.
"Iya, iya! Sori!" Rian buru-buru melepas jaket almamater sekolah berwarna biru dongker yang tadinya melilit di pinggangnya. Tanpa meminta izin, ia membentangkan jaket itu dan menyampirkannya ke bahu Alya, menutupi bagian depan seragam cewek itu yang bernoda parah.
Alya tertegun sejenak. Bau kencur yang tadinya mendominasi hidungnya mendadak terhalang oleh aroma harum deterjen dan wangi citrus yang khas dari kain jaket Rian. Ukuran jaket itu terlalu besar untuk tubuh Alya yang mungil, membuat ujung lengannya menjuntai melewati jemari tangannya.
"Pakai jaket gue dulu buat nutupin nodanya," kata Rian, kali ini suaranya terdengar agak lebih serius dibanding tadi. "Nanti seragam sama sepatu lo gue bawa ke laundry pas jam istirahat. Nanti sore gue kembalikan dalam kondisi kinclong. Sekalian gue beliin seblak porsi baru deh. Gimana?"
Alya menatap Rian curiga, menarik tepi jaket itu rapat-rapat ke dadanya. "Seblaknya harus dari tempat Mang Ujang. Ekstra kerupuk, level lima."
"Siap, Ibu Kanjeng. Apapun buat keselamatan nyawa gue hari ini," sahut Rian sambil memamerkan cengiran khasnya yang memperlihatkan deretan gigi rapinya.
Alya memutar badannya dengan menghentakkan kaki, berjalan cepat menuju tangga lantai dua tanpa menguncapkan terima kasih. Nita mengekor di belakangnya sambil menahan senyum-senyum sendiri.
"Cie... yang dipakain jaket sama kapten basket," goda Nita begitu mereka menjauh dari area kantin.
"Diem lo, Nit," dengus Alya sambil membetulkan posisi jaket yang melorot dari bahunya. "Gue cuma nggak mau kejatuhan reputasi gara-gara bau seblak. Lagian jaketnya kebesaran begini, berasa pakai karung beras."
Tapi di balik omelannya, Alya tidak menampik kalau kain tebal jaket itu terasa sangat hangat di tengah dinginnya pendingin ruangan kelas yang baru saja mereka masuki.
Suasana kelas XII IPA 2 jam pelajaran ketiga terasa begitu berat. Kipas angin di langit-langit berputar lambat, menciptakan bunyi berdecit yang makin menambah rasa kantuk para siswa. Di depan papan tulis hitam, Pak Bambang—guru Fisika paling disegani di SMA Garuda—sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam menatap satu per satu murid melalui kacamata berbingkai kotak.
"Saya sudah selesai mengoreksi lembar jawaban ulangan harian bab Dinamika Rotasi minggu lalu," kata Pak Bambang dengan suara beratnya yang selalu berhasil membungkam seisi ruangan. "Dan seperti biasa, ada yang menunjukkan kapasitas otak sebagai murid IPA sejati, tapi ada juga yang sepertinya salah masuk jurusan."
Beberapa anak di baris belakang mulai saling bisik dengan wajah cemas. Alya yang duduk di baris kedua dari depan tetap tenang. Untuk urusan rumus dan angka, ia tidak pernah punya alasan untuk panik.
"Nilai tertinggi diraih oleh Alya Kirana. Seratus bulat," ucap Pak Bambang sambil meletakkan kertas ujian Alya di sudut meja.
Alya mengangguk sopan, mengambil kertas ujiannya saat dipanggil ke depan. Beberapa teman di sekitarnya memberikan tepuk tangan pelan.
"Dan untuk nilai terendah..." Pak Bambang menghentikan kalimatnya, sengaja memberi jeda dramatis sambil mengalihkan pandangannya ke pojok paling belakang kelas. "Rian Dirgantara. Nilai kamu dua puluh lima."
Ledakan tawa langsung menyembur dari anak-anak cowok di baris belakang. Rian yang bersandar santai di kursinya hanya terkekeh pelan, lalu mengangkat dua jarinya membentuk lambang v-sign ke udara tanpa rasa dosa sedikit pun.
"Kamu bangga dapat nilai dua puluh lima, Rian?" tegur Pak Bambang dengan nada semakin rendah dan berbahaya.
Rian buru-buru menurunkan tangannya, membetulkan posisi duduknya menjadi tegak. "Ya nggak bangga-bangga amat sih, Pak. Tapi setidaknya angka dua sama limanya kalau dijumlahin jadi tujuh. Angka keberuntungan, Pak."
"Jangan bercanda!" bentak Pak Bambang pendek. "Bulan depan ada turnamen basket tingkat provinsi. Sekolah tidak akan memberikan izin jalan untuk atlet yang nilai akademiknya di bawah KKM. Kamu tahu itu, kan?"
Raut wajah Rian berubah seketika. Cengiran konyol yang biasanya nempel di wajahnya menghilang tanpa sisa. Turnamen bulan depan adalah ajang terakhirnya sebelum fokus menghadapi ujian nasional. Kalau ia dilarang bertanding, seluruh usahanya dan timnya selama satu tahun terakhir akan terbuang percuma.
"Saya udah belajar kok, Pak..." bela Rian pelan, meski suaranya terdengar ragu.
"Belajar apa? Belajar memutar bola di ujung jari?" tembak Pak Bambang telak. "Aturan sekolah sudah jelas. Kalau dalam ujian susulan minggu depan nilai kamu tidak mencapai angka delapan puluh, nama kamu otomatis dicoret dari daftar pemain."
Rian menghela nafas berat, bahunya terkulai. "Saya harus gimana dong, Pak? Waktunya tinggal seminggu."
Pak Bambang tidak langsung menjawab. Ia mengambil lembar rekap nilai di mejanya, membolak-balik halaman kertas itu sebentar, lalu mengarahkan pandangannya tepat ke arah Alya yang sedang memasukkan pulpen ke dalam tempat pensilnya.
"Alya," panggil Pak Bambang.
Alya mendongak. "Iya, Pak?"
"Mulai hari ini sampai hari Kamis depan, kamu bertugas menjadi tutor pribadi Rian. Kamu yang jawab atas peningkatan nilai Fisikanya."
Ruang kelas XII IPA 2 mendadak hening selama dua detik sebelum akhirnya meledak oleh suara riuh godaan siswa-siswa di baris belakang.
Alya langsung berdiri dari kursinya, matanya membelalak sempurna. "Pak! Nggak bisa gitu dong! Saya kan harus fokus persiapan seleksi olimpiade bulan depan! Saya nggak ada waktu buat ngajarin anak yang... yang..." Alya menunjuk ke arah Rian di belakang, kehilangan kata-kata yang tepat tanpa terdengar kasar.
"Yang nilai Fisikanya dua puluh lima?" potong Rian dari belakang sambil tersenyum tipis, tampak menikmati kepanikan Alya.
"Keputusan saya sudah bulat, Alya," tegas Pak Bambang tanpa bisa dibantah. "Ini bagian dari penilaian sikap kamu. Lagipula, dari tadi pagi kamu sudah pakai jaket Rian, artinya kalian berdua sudah punya komunikasi yang baik, kan?"
"Pak! Ini jaket gara-gara dia menumpahkan seblak ke baju saya!" protes Alya histeris, pipinya mendadak terasa panas akibat siulan teman-temannya yang semakin menjadi-jadi.
"Tidak ada alasan," pungkas Pak Bambang sambil merapikan tas kulitnya saat bel pergantian pelajaran berbunyi. "Rian, manfaatkan tutor kamu dengan baik. Alya, pastikan dia paham konsep dasar sebelum hari Kamis."
Pak Bambang melangkah keluar kelas meninggalkan Alya yang masih berdiri terpaku di samping mejanya dengan wajah merah padam. Di sudut belakang kelas, Rian menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Alya sambil menaikkan sebelah alisnya. Senyum tipis yang penuh arti mengembang di bibir cowok itu.
Alya menarik nafas dalam-dalam, menatap Rian dengan tatapan paling tajam yang bisa ia berikan. Satu hal yang kini diyakininya dengan sangat pasti: semester terakhirnya di SMA Garuda tidak akan pernah berjalan sesuai dengan rumus yang pernah ia perhitungkan.