Bab 1BAB 1 : DESA YANG MEYESAP KE TANAH
Musim kemarau tahun 1526 di pesisirg utama jawa bukanlah kemarau biasa . Hujan yang biasa turun setiap bulan purnama , kiani menghilang sudah tiga musim berturut - turut. sungai - sungai yang dulu menjadi urat nadi kehidupan warga desa TANJUNG JAYA kini tinggal barupa alur limpur retak yang mencium bau belerang. pohon kelapa yang dulu menjulang gagah , kini daun - daun nya menguning dan rontok ,seolah - olah desa itu sedang di telan oleh kemarau yang berujung .
ARKA, seorang pemuda berusia 19 tahun dengan kulit sawo matang yang terbakar , berdiri di tepi sumur tua di tengah desa . ia menatap kedalam , di mana air terahir berupa genangan keruh di dasar yang dalam . "Masih belum ada , Arka? " suara lembut terdengar dari belakang . Itu adalah Mbok sari, dukun desa sekaligus nenek angkat Arka .Wajahnya penuh kerutan ,matanya sayu namun masih memancarkan keteguhan.
Arkan menggeleng pelan."sumur ini sudah mati, Mbok .Airnya menyerap ke tanah , seolah bumi ini tak lagi mau memberi minum."
Mbok sari duduk di atas batu besar ,nafasnya terdengar berat. "Ini buka sekedar kemarau biasa , NAK. ini adalah pertanda . dahulu kala ,leluhur kita pernah berpesan bahwa ketika laut berhenti bernyanyi, daratan akan mati."
Arka mengernyik. " Laut berhenti bernyani ? maksud mbok ombak? itu hanya mitos." "Bukan ombak ,"Mbok sari menatap ke arah utara ,ke arah samudra lepas yang terlihat samar dari kejauhan. "Itu adalah nyanyian paus . Konon, di dasar laut samudra, terdapat sebuah kerajaan yang hidup dari melodi paus. Mereka adalah penjaga keseimbangan laut . Jika mereka berhenti bernyanyi ,air tawar di daratan akan menguap,dan kemarau akan datang ."
Arka tertawa sinis ,meski hati nya gelisa . "Kerajaan di dasar samudra? Mbok terlalu sering mendengar cerita nenek moyang. Kita butuh air, bukan dongeng ." Namun ,hari itu ,kenyataan pahit datang . Kepala Desa Mengumumkan bahwa jika dalam tujuh hari hujan tak turun, separuh warga desa harus pindah ke pedalaman , meninggalkan rumah - rumah yang sudah turun - temurun mereka huni . Arka melihat tetangganya , Pak Budi , duduk di depan rumahnya sambil memeluk anaknya yang demam karena kehausan. pemandangan itu menghancurkan hatinya .
Malam itu , Arka terbangun oleh suara gemuruh aneh. Bukan guntur, melainkan seperti dentuman drum raksasa yang datang dari arah laut. Ia keluar dari gubuknya, dan melihat cayaha biru samar berdenyut di ufuk udara ,di tengah samudra gelap. Rasa penasarannya bercampur keputusan mendorongnya. Ia mengambil perahu kayu kecil milik ayahnya, membekapnya dengan getah damar agar tak bocor , dan menulis kan pesan singkat untuk Mbok sari :
"Aku mencari jawaban di tempat ini yang kau sebut kerajaan dasar samudra . Doakan aku .
Dengan satu tikar, sebungkus nasi bungkus, dan sebilah belati pusaka ayahnya, Arka mendayung ketengah laut. Angin malam bertiup kencang ,ombak menghantam perahunya berkali - kali, namun ia terus maju. Semakin jauh Ia pergi, semakin terang cahaya biru that tadi malam. Hingga akhirnya, Ia