Bab 1Bab 1 Kamar yang Ditinggalkan
Kamar Aji masih berbau sama seperti setahun lalu campuran aroma deterjen yang samar, kayu lemari tua yang mulai lapuk, dan sedikit wangi buku-buku yang terlalu lama dibiarkan diam di rak. Debu tipis menempel di meja belajar, tetapi semuanya tetap berada di tempat yang sama, seolah waktu sengaja berhenti di ruangan ini. Poster band favorit Aji masih menempel di dinding meski salah satu sudutnya mulai mengelupas, sementara jam dinding yang baterainya sudah habis menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh belas menit untuk waktu yang entah sejak kapan tak lagi bergerak. Ibu pernah beberapa kali mengatakan bahwa kamar itu boleh dipakai Sena sebagai ruang belajar, namun setiap kali berdiri di depan pintunya, langkah Sena selalu berhenti sebelum menyentuh gagang pintu. Ada rasa bersalah yang tidak bisa dijelaskan, seakan memasuki kamar itu berarti menerima kenyataan bahwa pemiliknya benar-benar tidak akan pernah kembali.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah dua belas bulan, pintu kamar dibuka lebar. Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyoroti partikel-partikel debu yang menari pelan di udara. Ibu berdiri di ambang pintu sambil membawa dua kardus bekas mie instan yang sudah dilapisi lakban di bagian bawahnya. Wajahnya tampak tenang, tetapi Sena tahu ketenangan itu dipaksakan. "Tolong bantu Ibu ya," ucapnya lirih. "Barang-barang Aji sebaiknya mulai dirapikan. Kasihan kalau terus dibiarkan berdebu." Kalimat itu terdengar sederhana, namun di baliknya tersembunyi usaha besar untuk belajar melepaskan seseorang yang selama ini hanya bisa dikenang melalui benda-benda yang ditinggalkan.
Sena tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil lalu duduk bersila di lantai. Tangannya bergerak perlahan membuka laci meja belajar. Isinya penuh dengan barang-barang yang tampaknya tidak penting, tetapi entah mengapa semuanya terasa terlalu berharga untuk dibuang. Ada pulpen dengan tinta yang sudah mengering, penghapus yang tinggal separuh, tiket bioskop yang warnanya mulai memudar, kartu pelajar SMA dengan foto Aji yang tersenyum canggung, hingga beberapa struk minimarket yang bahkan mungkin sudah tidak terbaca lagi. Sena tersenyum tipis saat menemukan sebuah gantungan kunci berbentuk dinosaurus kecil. Dulu Aji selalu menggantungnya di tas sekolah dan mengaku dinosaurus itu membawa keberuntungan saat ujian, padahal nilainya tetap saja biasa-biasa saja. Kenangan itu datang begitu cepat hingga membuat dada Sena terasa sesak.
Tangannya terus mengaduk isi laci sampai jemarinya menyentuh sesuatu yang berbeda. Sebuah buku catatan bersampul biru dongker terselip rapi di balik tumpukan buku pelajaran fisika. Sampulnya polos tanpa nama ataupun stiker, hanya sedikit sudut yang mulai terlipat karena usia. Sena mengerutkan kening. Ia cukup yakin belum pernah melihat buku itu sebelumnya. Perlahan ia membukanya, dan seketika mengenali tulisan tangan yang sudah sangat akrab di matanya. Huruf-huruf kecil yang sedikit miring ke kanan itu jelas milik Aji.
Di halaman pertama hanya ada satu judul sederhana.
100 Alasan untuk Bangun Besok
Di bawahnya, tertulis kalimat kecil yang membuat Sena tanpa sadar berhenti bernapas selama beberapa detik.
"Daftar ini nggak akan pernah selesai. Dan itu bagus."
Alis Sena berkerut. Ia membalik halaman berikutnya dan menemukan daftar yang ditulis dengan angka-angka kecil.
1. Rasa hujan pertama di bulan Oktober—yang beda dari hujan bulan lain, entah kenapa.
2. Suara kucing tetangga yang ngambek kalau nggak dikasih ikan tepat waktu.
3. Bau buku baru yang bahkan lebih enak daripada parfum mahal.
4. Mi instan jam dua pagi waktu semua orang sudah tidur.
Tidak ada penjelasan panjang. Hanya kalimat-kalimat pendek yang terdengar sangat sepele, bahkan sedikit konyol. Sena hampir tertawa, tetapi tawanya tidak pernah benar-benar keluar. Ia terus membalik halaman demi halaman. Daftarnya semakin panjang. Ada alasan tentang langit sore yang berubah warna setelah hujan, suara pedagang roti keliling, lagu lama yang tiba-tiba diputar di minimarket, sampai alasan sesederhana menemukan uang lima ribu rupiah di saku celana yang sudah lama tidak dipakai. Beberapa halaman diberi tanggal, dan dari sanalah Sena menyadari bahwa buku ini ditulis selama bertahun-tahun. Setiap kali Aji menemukan sesuatu yang membuat hidup terasa sedikit lebih layak dijalani, ia menambahkannya ke dalam daftar.
Jantung Sena berdetak semakin pelan ketika matanya tanpa sengaja sampai pada tanggal-tanggal yang semakin mendekati tahun lalu. Ia buru-buru menutup buku itu sebelum membaca lebih jauh. Tangannya sedikit gemetar. Ada sesuatu yang tidak siap ia hadapi. Bagaimana mungkin seseorang yang membuat daftar tentang alasan untuk bangun besok justru tidak pernah melihat hari-hari berikutnya? Pertanyaan itu menggantung begitu saja di kepalanya tanpa jawaban.
"Nemu apa?"
Suara Ibu membuat Sena tersentak. Ia buru-buru menyelipkan buku itu ke dalam tas sekolah yang berada di sampingnya. "Nggak... cuma buku catatan biasa," jawabnya terlalu cepat. Ibu hanya mengangguk, tidak bertanya lagi, lalu kembali sibuk melipat pakaian-pakaian lama Aji. Namun kebohongan kecil itu meninggalkan rasa bersalah yang mengganjal di dada Sena sepanjang sore.
Malam datang lebih cepat daripada biasanya. Hujan belum turun, tetapi angin membawa aroma tanah yang lembap melalui jendela kamar. Sena berbaring tanpa benar-benar bisa memejamkan mata. Sejak Aji pergi, tidur selalu menjadi sesuatu yang sulit. Pikiran-pikiran buruk datang setiap malam seperti tamu yang tak pernah diundang. Saat jarum jam melewati pukul sebelas, ia akhirnya bangkit, mengambil buku biru itu dari dalam tas, lalu menyalakan lampu ponsel di bawah selimut agar tidak terlihat dari luar kamar.
Ia membaca ulang daftar itu dengan lebih pelan. Kalimat-kalimat sederhana tersebut terasa berbeda saat dibaca di tengah malam yang sunyi. Tidak ada cita-cita besar, tidak ada mimpi menjadi orang sukses, tidak ada cerita tentang menemukan cinta sejati. Hanya hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah diperhatikan orang lain. Sena berhenti lagi di alasan pertama.
"Rasa hujan pertama di bulan Oktober."
Ia melirik layar ponselnya. Ramalan cuaca menunjukkan ikon hujan deras untuk besok pagi. Tanpa sadar, ia menutup aplikasi itu sambil mengembuskan napas panjang. Mungkin besok ia akan mencari tahu apa yang dimaksud Aji. Mungkin hanya rasa penasaran. Atau mungkin... ia hanya ingin merasakan dunia dengan cara yang pernah dirasakan kakaknya.
Pagi berikutnya, langit benar-benar menepati ramalannya. Baru setengah perjalanan menuju halte bus, hujan turun deras tanpa peringatan. Dalam hitungan detik seragam Sena basah, sepatu kainnya menyerap air, dan tasnya mulai terasa berat. Ia berlari kecil menuju halte terdekat, tetapi atap halte yang sudah tua justru bocor di beberapa tempat sehingga air tetap menetes ke bahunya. Sena mendengus kesal. Kalau ini yang dimaksud alasan untuk bangun besok, menurutnya alasan itu sangat buruk. Tidak ada yang indah dari kaki yang kedinginan dan kaus kaki yang basah sejak pagi.
"Kamu nggak bawa payung?"
Suara perempuan itu terdengar lembut di tengah derasnya hujan. Sena menoleh dan melihat seorang gadis berdiri hanya beberapa langkah darinya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, tas sekolahnya penuh gantungan kunci warna-warni, dan di tangannya ada dua payung. Satu sudah terbuka menaungi dirinya, sementara satu lagi masih terlipat rapi.
"Nggak," jawab Sena singkat.
Gadis itu langsung mengulurkan payung cadangan tanpa ragu sedikit pun. "Pakai aja."
Sena memandang benda itu beberapa detik. "Kenapa?"
"Karena kamu kehujanan."
"Bukannya nanti kamu yang repot?"
Gadis itu tertawa kecil, suara tawanya ringan seperti hujan yang mulai berubah menjadi gerimis. "Makanya aku selalu bawa dua. Satu buat aku, satu lagi buat orang yang lupa."
Sena menerima payung itu perlahan. "Kamu kenal aku?"
"Sedikit. Kita pernah sekelompok waktu kegiatan sekolah, tapi kayaknya kamu lupa." Gadis itu mengangkat bahu santai. "Aku Ratri."
"Oh..."
"Aku juga hampir selalu telat," lanjut Ratri sambil tersenyum jahil. "Jadi jangan heran kalau nanti lihat aku lari-lari di koridor."
Sena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya membuka payung pemberian Ratri dan memperhatikan suara hujan yang kini memukul kain payung dengan ritme yang pelan. Anehnya, untuk pertama kali setelah waktu yang terasa sangat lama, pagi yang awalnya menyebalkan itu tidak lagi terasa seburuk tadi. Hanya karena sebuah payung pinjaman dari gadis yang bahkan nyaris tidak dikenalnya.
Saat bus sekolah datang dari kejauhan, Sena tanpa sadar melirik tasnya. Di dalam sana, buku biru milik Aji masih tersimpan rapi. Untuk pertama kalinya sejak menemukannya, ia bertanya-tanya apakah daftar itu memang bukan tentang hal-hal besar. Mungkin hidup tidak selalu diselamatkan oleh keajaiban. Mungkin kadang cukup oleh seseorang yang membawa satu payung lebih banyak daripada yang ia butuhkan.