Bab 1Bab 1 Perempuan yang bernama ibu
SOSOK IBU
BAB 1 — PEREMPUAN YANG BERNAMA IBU
Hujan turun perlahan membasahi atap rumah sederhana di ujung gang. Di dalam rumah itu, seorang perempuan berdiri di depan kompor tua, mengaduk sayur yang hampir matang sambil sesekali melirik jam dinding.
Namanya Ratna.
Seorang perempuan berusia empat puluh tahun yang memiliki tiga orang anak. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanyalah perempuan biasa dengan kehidupan sederhana. Namun, bagi ketiga anaknya, ia adalah seseorang yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.
Sayangnya, tidak semua anak memahami hal itu ketika mereka masih memiliki kesempatan.
"Arga! Nisa! Dimas! Makan dulu, Nak. Sebentar lagi Ibu berangkat kerja!"
Suara Ratna menggema dari dapur.
Tak lama kemudian, seorang pemuda berusia dua puluh tahun keluar dari kamarnya. Namanya Arga, anak pertama Ratna. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang, sementara matanya sibuk menatap layar ponsel.
"Bu, lauknya apa?" tanyanya sambil membuka tudung saji.
"Sayur bening sama tempe goreng. Ibu sengaja masak agak banyak supaya kalian bisa makan sebelum berangkat."
Arga menghela napas.
"Tempe lagi, Bu?"
Ratna terdiam sesaat. Ia menoleh sambil memberikan senyum kecil.
"Iya, Nak. Maaf, ya. Uang Ibu belum cukup kalau harus beli ayam setiap hari."
"Teman-temanku saja setiap hari bisa makan enak. Masa aku begini terus?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arga.
Ratna menunduk, berpura-pura sibuk merapikan piring.
"Iya, Nak. Nanti kalau Ibu punya uang lebih, Ibu belikan makanan yang kamu suka."
Arga tidak menjawab. Ia mengambil sepotong tempe, memakannya dengan terburu-buru, lalu kembali masuk ke kamar.
Ratna memandangi punggung anak sulungnya sampai menghilang di balik pintu.
Ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya. Bukan karena ia tidak mampu membeli makanan yang lebih mahal, melainkan karena ia mulai menyadari bahwa anaknya belum memahami keadaan yang sedang mereka hadapi.
Namun, ia tidak marah.
Ia hanya berharap suatu hari nanti Arga mengerti.
---
Di kamar sebelah, Nisa sedang berdiri di depan cermin. Gadis berusia enam belas tahun itu sibuk merapikan seragam sekolahnya.
"Bu!" panggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Uang untuk kegiatan sekolahku sudah ada?"
Ratna yang sedang membersihkan meja makan segera menghampirinya.
"Berapa yang harus dibayar, Nak?"
"Seratus lima puluh ribu. Hari ini terakhir."
Ratna terdiam.
Uang yang ada di dompetnya hanya cukup untuk membeli kebutuhan dapur dan ongkos perjalanan selama beberapa hari ke depan. Sementara itu, ia masih harus membayar tagihan listrik yang belum lunas.
"Tunggu sebentar, ya, Nak. Ibu usahakan."
Nisa mengerutkan kening.
"Kenapa selalu begitu, sih, Bu? Teman-temanku tidak pernah kesulitan kalau soal uang."
Ratna menarik napas panjang.
"Ibu minta maaf. Ibu akan mencoba mencari uangnya hari ini."
"Sudahlah, Bu. Aku malu kalau harus bilang belum bayar lagi."
Nisa mengambil tasnya dan meninggalkan kamar.
Ratna berdiri sendirian di depan pintu.
Ia ingin menjelaskan bahwa bukan karena tidak mau memberikan uang, bukan pula karena tidak memikirkan masa depan anak-anaknya. Ia hanya sedang berusaha bertahan dengan apa yang dimilikinya.
Sayangnya, tidak semua perjuangan bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Terkadang, seorang ibu hanya bisa diam ketika anak-anaknya salah memahami pengorbanannya.
---
Berbeda dengan kedua kakaknya, Dimas masih berusia sepuluh tahun. Ia berlari kecil menghampiri Ratna sambil membawa buku pelajaran.
"Bu, nanti malam temani Dimas belajar, ya?"
Ratna tersenyum. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum yang muncul di wajahnya terasa sedikit lebih ringan.
"Tentu, Sayang. Kalau Ibu sudah pulang kerja, kita belajar bersama."
"Janji?"
"Janji."
Dimas mengulurkan jari kelingkingnya. Ratna menyambutnya, lalu mengecup kening anak bungsunya itu.
"Anak Ibu harus rajin belajar. Biar nanti bisa menjadi orang yang hebat."
Dimas mengangguk penuh semangat.
"Kalau Dimas sudah besar dan punya banyak uang, Dimas akan belikan Ibu rumah yang besar!"
Ratna tertawa kecil.
"Memangnya Ibu butuh rumah besar?"
"Iya! Biar Ibu enggak capek lagi."
Tawa Ratna perlahan mereda.
Ia menatap wajah polos anaknya. Ada kehangatan yang menjalar di dalam hatinya, sekaligus rasa sakit yang tidak mampu ia ungkapkan.
Bahkan seorang anak kecil bisa melihat kelelahan yang sering kali tidak disadari oleh kedua kakaknya.
Ratna mengusap kepala Dimas.
"Ibu tidak perlu rumah besar, Sayang. Ibu cuma ingin kalian tumbuh menjadi anak-anak yang baik."
"Kalau begitu, Dimas akan jadi anak baik!"
"Iya. Itu sudah cukup membuat Ibu bahagia."
Ratna memeluknya erat.
Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya menikmati kehangatan itu sebelum kembali menghadapi dunia yang tidak selalu ramah kepadanya.
---
Tidak banyak orang mengetahui bahwa Ratna dahulu memiliki kehidupan yang jauh berbeda.
Lima tahun lalu, rumah kecil itu selalu dipenuhi tawa. Suaminya, Bima, adalah seorang pekerja keras yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Meskipun mereka tidak hidup mewah, Ratna tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang.
Bima selalu pulang dengan senyum yang sama.
Terkadang, ia membawa makanan kesukaan anak-anaknya. Pada hari libur, ia mengajak mereka berjalan-jalan meskipun hanya ke taman kota.
Malam hari adalah waktu yang paling disukai Ratna.
Setelah anak-anak tidur, ia dan Bima akan duduk di teras sambil berbincang tentang masa depan.
"Mas," ujar Ratna suatu malam, "menurutmu, anak-anak kita nanti akan menjadi seperti apa?"
Bima tersenyum sambil menggenggam tangannya.
"Aku berharap mereka menjadi orang baik."
"Kalau mereka sudah besar, mungkin mereka tidak akan membutuhkan kita lagi."
Bima tertawa pelan.
"Mereka boleh tumbuh dewasa, tetapi mereka akan selalu menjadi anak-anak kita."
Ratna menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Saat itu, ia percaya bahwa kebahagiaan mereka akan berlangsung lama.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, ia harus menjalani semuanya seorang diri.
---
Semuanya berubah pada suatu sore yang tidak pernah bisa dilupakan Ratna.
Bima mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya. Ratna menerima kabar itu ketika sedang menyiapkan makan malam.
Ia masih mengingat bagaimana tangannya gemetar ketika mendengar suara seseorang di ujung telepon.
Ia masih mengingat bagaimana langkahnya terasa begitu berat ketika tiba di rumah sakit.
Dan ia masih mengingat saat seorang dokter menyampaikan bahwa suaminya tidak berhasil diselamatkan.
Dunia Ratna seolah berhenti berputar.
Ia berdiri terpaku, berusaha memahami kalimat yang baru saja didengarnya.
"Tidak mungkin, Dokter," bisiknya. "Tadi pagi suami saya masih berpamitan sebelum berangkat kerja."
Dokter itu hanya menundukkan kepala.
Ratna menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi seorang istri, ia tidak tahu kepada siapa harus meminta pertolongan.
Orang yang selama ini menjadi tempatnya bersandar telah pergi.
Namun, kesedihannya harus ia simpan ketika mengingat bahwa di rumah ada tiga anak yang menunggunya.
Arga baru berusia lima belas tahun saat itu. Nisa sebelas tahun, sedangkan Dimas baru lima tahun.
Mereka belum memahami sepenuhnya arti kehilangan seorang ayah.
Malam itu, Ratna memeluk ketiga anaknya di ruang tengah.
"Ayah ke mana, Bu?" tanya Dimas sambil menatap wajah ibunya.
Ratna berusaha tersenyum meskipun air matanya terus mengalir.
"Ayah sudah tidak bisa pulang, Sayang."
"Kenapa?"
Ratna tidak mampu menjawab.
Ia hanya memeluk Dimas lebih erat, sementara Arga dan Nisa mulai menangis di sampingnya.
Malam itu, rumah mereka kehilangan seseorang.
Dan sejak malam itu pula, Ratna harus belajar menjadi dua orang sekaligus: seorang ibu yang memberikan kasih sayang dan seorang ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia tidak memiliki banyak pilihan.
Ketiga anaknya masih membutuhkan dirinya.
Maka, meskipun hatinya hancur, Ratna memutuskan untuk tetap berdiri.
Demi mereka.
---
Lima tahun berlalu sejak kepergian Bima.
Kini, Ratna bekerja serabutan. Terkadang ia membantu mencuci pakaian tetangga, terkadang membersihkan rumah orang lain, dan pada hari-hari tertentu ia menerima pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Ia tidak pernah mengeluh tentang beratnya pekerjaan.
Baginya, selama ketiga anaknya masih bisa makan dan bersekolah, ia akan terus berusaha.
Namun, ada satu hal yang perlahan berubah.
Anak-anaknya mulai tumbuh dewasa, sementara kehidupan mereka tidak kunjung membaik.
Arga mulai membandingkan dirinya dengan teman-temannya yang memiliki kendaraan dan barang-barang mahal.
Nisa mulai merasa malu ketika teman-temannya mengetahui bahwa ia tinggal di rumah sederhana.
Hanya Dimas yang masih sering memeluk Ratna tanpa alasan, seolah kehadiran ibunya adalah sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
Ratna menyadari perubahan itu.
Ia tahu bahwa anak-anaknya menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Dan sebagai seorang ibu, ia juga menginginkan hal yang sama.
Ia hanya berharap mereka memahami bahwa dirinya sedang melakukan segala sesuatu yang ia mampu.
Pagi itu, sebelum berangkat bekerja, Ratna berdiri sejenak di depan foto keluarga yang tergantung di dinding.
Dalam foto itu, Bima tersenyum sambil merangkulnya. Arga dan Nisa berdiri di samping mereka, sedangkan Dimas yang masih kecil berada dalam gendongan Bima.
Ratna menyentuh bingkai foto itu dengan lembut.
"Mas, aku masih berusaha," bisiknya. "Aku akan menjaga anak-anak kita. Aku janji."
Matanya berkaca-kaca.
"Aku cuma berharap mereka tidak membenci kehidupan yang sedang aku perjuangkan."
Ia kemudian mengambil tas lusuhnya dan melangkah keluar rumah.
Hujan telah berhenti, tetapi jalanan masih basah.
Ratna berjalan menuju tempat kerjanya, membawa harapan yang sama seperti hari-hari sebelumnya: pulang dengan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Ia tidak tahu berapa lama lagi tubuhnya mampu bertahan.
Ia juga tidak tahu bahwa suatu hari nanti, rumah sederhana itu akan menjadi tempat yang paling dirindukan oleh anak-anaknya.
Sebab, ada seseorang yang selama ini mereka anggap akan selalu ada.
Seseorang yang mereka panggil dengan satu kata sederhana.
Ibu.