Bab 1Tawaran di Tengah Hujan
Hujan turun deras sejak sore, membasahi jalanan Kota Jakarta yang dipenuhi kendaraan. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di atas aspal yang basah, sementara orang-orang bergegas mencari tempat berteduh.
Di antara kerumunan itu, seorang gadis berlari sambil memeluk tas lusuh di dadanya.
Namanya Alya Putri.
Gadis berusia dua puluh tahun itu mengenakan seragam kerja sebuah kedai kopi. Rambut hitamnya yang diikat sederhana mulai berantakan karena hujan. Sepatu yang dipakainya sudah basah, tetapi dia tidak peduli.
Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat.
Rumah sakit.
Ponsel di dalam tasnya bergetar berkali-kali. Alya berhenti di bawah atap sebuah toko yang telah tutup, lalu mengeluarkan benda itu dengan tangan gemetar.
Ada tiga panggilan tak terjawab dari nomor rumah sakit.
Jantungnya berdegup kencang.
Alya segera menelepon kembali.
"Halo, selamat malam. Saya Alya Putri. Tadi ada panggilan dari nomor ini?"
"Selamat malam, Nona Alya. Kami dari bagian administrasi rumah sakit. Kami ingin mengingatkan bahwa biaya perawatan ibu Anda masih memiliki tunggakan."
Alya memejamkan mata.
"Iya, Bu. Saya tahu. Saya sedang berusaha mengumpulkan uangnya. Bisa minta waktu beberapa hari lagi?"
"Kami memahami keadaan Anda, tetapi kami membutuhkan kepastian pembayaran. Silakan datang besok pagi untuk membicarakan kelanjutannya."
Alya menggigit bibir bawahnya.
"Baik, Bu. Terima kasih."
Panggilan terputus.
Untuk beberapa saat, Alya hanya berdiri memandangi layar ponselnya.
Dia ingin menangis, tetapi air matanya seolah sudah habis sejak beberapa hari lalu.
Sejak ayahnya meninggal dua tahun silam, hidup Alya berubah drastis. Ayahnya dahulu bekerja sebagai sopir sebuah perusahaan kecil. Penghasilannya memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Semuanya berubah setelah kecelakaan yang merenggut nyawa sang ayah.
Sejak itu, Alya menjadi tulang punggung keluarga. Dia bekerja di kedai kopi pada siang hari dan mengambil pekerjaan tambahan sebagai pembungkus barang di sebuah toko daring pada malam hari.
Namun, penghasilannya tetap tidak cukup.
Terlebih lagi, ibunya jatuh sakit tiga bulan lalu.
Dokter mengatakan bahwa ibunya membutuhkan perawatan lanjutan. Alya tidak memahami semua istilah medis yang dijelaskan kepadanya, tetapi dia mengerti satu hal: ibunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Dan dia tidak punya cukup uang.
"Aku harus bagaimana, Bu?" bisiknya.
Dia mengusap wajahnya, menarik napas panjang, lalu kembali berlari menuju halte.
Malam itu, Alya mendapatkan pesan dari pemilik kedai kopi. Dia diminta datang lebih awal keesokan paginya karena ada karyawan yang mengundurkan diri.
Alya sebenarnya ingin menolak. Tubuhnya lelah, kepalanya pening, dan perutnya belum terisi sejak siang.
Namun, dia tidak memiliki kemewahan untuk beristirahat.
Setiap rupiah sangat berarti baginya.
---
Pukul delapan malam, Alya akhirnya tiba di rumah sakit.
Dia berjalan melewati lorong yang berbau antiseptik. Suara langkah kaki dan percakapan pelan terdengar dari berbagai arah. Beberapa orang duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas, sementara perawat berjalan tergesa-gesa membawa berkas.
Alya berhenti di depan sebuah kamar.
Di dalamnya, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun terbaring dengan selimut putih menutupi tubuhnya.
Perempuan itu adalah Ratna, ibunya.
Alya membuka pintu perlahan.
"Bu?"
Ratna menoleh. Senyum tipis langsung muncul di wajahnya ketika melihat putri satu-satunya.
"Alya? Kamu datang, Nak?"
Alya menghampiri tempat tidur, lalu duduk di kursi di samping ibunya.
"Iya, Bu. Bagaimana keadaan Ibu sekarang?"
"Sudah lebih baik." Ratna berusaha tersenyum. "Kamu sendiri bagaimana? Sudah makan?"
Pertanyaan itu membuat dada Alya terasa sesak.
Bahkan ketika dirinya sedang kesulitan, ibunya tetap mengkhawatirkannya.
"Sudah, Bu," jawab Alya berbohong.
Ratna menatapnya lama.
"Kamu bohong."
Alya terdiam.
"Ibu tahu kamu belum makan. Wajahmu pucat sekali."
"Alya baik-baik saja."
"Jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Ibu tidak ingin kamu jatuh sakit juga."
Alya menggenggam tangan ibunya.
"Kalau Alya tidak bekerja, siapa yang akan membayar biaya rumah sakit?"
Ratna terdiam.
"Alya bisa mengurus semuanya. Ibu tidak perlu khawatir."
"Tapi, Nak—"
"Sudah, Bu." Alya tersenyum, meskipun matanya mulai berkaca-kaca. "Ibu cukup fokus untuk sembuh. Nanti kalau Ibu sudah sehat, kita pulang bersama, lalu makan masakan kesukaan Ibu."
Ratna mengusap punggung tangan putrinya.
"Kamu sudah tumbuh menjadi perempuan yang kuat."
Alya menunduk agar ibunya tidak melihat air matanya.
"Alya hanya ingin Ibu sembuh."
Mereka terdiam cukup lama.
Sampai akhirnya Ratna kembali berbicara.
"Alya, kalau suatu hari kamu merasa tidak sanggup lagi, jangan memaksakan diri hanya demi Ibu."
Alya menggeleng cepat.
"Alya tidak akan menyerah."
Dia mengucapkan kalimat itu dengan penuh keyakinan.
Namun, jauh di dalam hatinya, Alya tahu bahwa dirinya mulai kehabisan pilihan.
---
Keesokan paginya, Alya datang ke kedai kopi lebih awal dari biasanya.
Kedai itu berada di lantai dasar sebuah gedung perkantoran. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi selalu ramai oleh pegawai kantor yang membeli kopi sebelum memulai pekerjaan.
Alya mengenakan celemek cokelat, merapikan rambutnya, lalu mulai membersihkan meja.
"Al, kamu kelihatan capek banget."
Alya menoleh.
Seorang perempuan berambut sebahu berdiri sambil membawa dua gelas kopi. Namanya Sinta, rekan kerja Alya yang sudah mengenalnya selama hampir satu tahun.
"Aku memang sedikit kurang tidur," jawab Alya.
Sinta mengerutkan kening.
"Sedikit? Lingkaran matamu kelihatan jelas. Kamu masih bolak-balik ke rumah sakit?"
Alya mengangguk.
"Bagaimana keadaan ibumu?"
"Masih dirawat."
Senyum Sinta perlahan menghilang.
"Aku turut prihatin, Al."
"Terima kasih."
Sinta menarik kursi dan duduk di belakang meja kasir.
"Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja. Aku mungkin nggak bisa membantu banyak, tetapi setidaknya kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian."
Alya tersenyum tulus.
"Terima kasih, Sin. Kamu sudah banyak membantuku."
Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, bel pintu kedai berbunyi.
Seorang pria masuk bersama dua orang lainnya.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang tampak sempurna. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara jam tangan di pergelangan kirinya terlihat elegan. Langkahnya tenang, tetapi kehadirannya seolah membuat suasana di sekitarnya berubah.
Beberapa pelanggan menoleh.
Alya juga sempat memperhatikannya, tetapi hanya sekilas sebelum kembali mengambil pesanan.
"Selamat pagi. Mau pesan apa, Pak?"
Pria itu mengangkat pandangannya.
Mata mereka bertemu.
Alya tidak mengetahui siapa pria di hadapannya. Dia hanya melihat seorang pelanggan dengan wajah serius dan sorot mata yang sulit ditebak.
"Americano tanpa gula," jawab pria itu.
"Ukuran sedang atau besar, Pak?"
"Besar."
"Baik. Ada tambahan lain?"
"Tidak."
Alya memasukkan pesanan ke mesin kasir.
"Totalnya tiga puluh ribu rupiah, Pak."
Pria itu mengeluarkan kartu pembayaran.
Setelah transaksi selesai, Alya memberikan struk.
"Silakan menunggu sebentar."
Pria itu mengangguk singkat, lalu duduk di dekat jendela.
Salah seorang rekannya mendekat dan berbicara pelan.
"Tuan Adrian, rapat dengan direksi dimajukan menjadi pukul sembilan."
Pria bernama Adrian itu memeriksa jam tangannya.
"Kalau begitu, kita berangkat pukul delapan empat puluh lima."
"Baik, Tuan."
Alya tidak sengaja mendengar percakapan tersebut. Dia mulai menduga bahwa pria itu adalah seorang eksekutif perusahaan.
Namun, dia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh.
Pesanan terus berdatangan, dan dia harus menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, Alya membawa secangkir Americano ke meja Adrian.
"Ini pesanannya, Pak."
Adrian mengangguk.
Alya hendak berbalik ketika suara pria itu menghentikannya.
"Tunggu."
Alya menoleh.
"Ya, Pak?"
"Namamu Alya?"
Adrian menunjuk tanda pengenal yang tergantung di celemeknya.
Alya mengangguk bingung.
"Iya, Pak."
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"
Alya mengerutkan kening.
"Hampir satu tahun. Memangnya ada yang salah dengan pesanan saya, Pak?"
"Tidak."
Adrian mengambil cangkirnya.
"Aku hanya bertanya."
Alya merasa pertanyaan itu sedikit aneh, tetapi dia tidak ingin memperpanjang percakapan.
"Kalau begitu, silakan menikmati kopinya, Pak."
Dia kembali ke meja kasir.
Adrian memperhatikan gadis itu selama beberapa detik sebelum membuka ponselnya.
Ada sebuah pesan dari sekretarisnya.
Pesan itu berkaitan dengan sebuah masalah keluarga yang sudah berhari-hari memenuhi pikirannya.
Adrian menghela napas.
Dia tidak pernah menyukai urusan pernikahan yang diatur oleh keluarganya. Baginya, pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan hanya demi menjaga nama baik perusahaan.
Namun, kali ini situasinya berbeda.
Kakeknya, pemilik utama Mahendra Group, baru saja memberinya ultimatum.
Jika Adrian tidak menikah dalam waktu tiga bulan, sebagian hak pengelolaan perusahaan akan dialihkan kepada sepupunya, Dimas.
Adrian tidak takut kehilangan jabatan. Yang membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa keluarganya terus berusaha mengendalikan hidupnya.
Dia membutuhkan jalan keluar.
Sebuah gagasan mulai muncul di benaknya.
Sebuah pernikahan kontrak.
Tidak ada cinta. Tidak ada tuntutan emosional. Hanya sebuah kesepakatan dengan batas waktu yang jelas.
Namun, dia belum menemukan perempuan yang tepat.
Adrian kembali melirik Alya yang sedang membantu seorang pelanggan lanjut usia.
Gadis itu terlihat lelah, tetapi tetap tersenyum ketika menyerahkan pesanan.
Adrian belum tahu apa pun tentang kehidupannya.
Dia juga belum tahu bahwa gadis sederhana itu sedang menghadapi kesulitan yang mungkin membuat tawarannya kelak menjadi sangat berarti.
---
Pukul dua siang, giliran kerja Alya akhirnya selesai.
Dia mengganti seragamnya, mengambil tas, lalu berpamitan kepada Sinta.
"Aku pulang dulu, ya."
Sinta mengangguk.
"Hati-hati. Jangan lupa makan."
"Iya, bawel."
Keduanya tertawa kecil.
Namun, senyum Alya segera menghilang setelah dia memeriksa saldo rekeningnya.
Jumlahnya masih jauh dari cukup.
Dia telah menghubungi beberapa kerabat, tetapi tidak banyak yang bisa membantu. Sebagian memiliki keluarga sendiri, sementara sebagian lainnya tidak menjawab pesannya.
Alya berjalan menuju halte dengan kepala tertunduk.
Di tengah perjalanan, ponselnya kembali berdering.
Kali ini, panggilan berasal dari rumah sakit.
"Halo?"
"Nona Alya, kami ingin meminta Anda datang ke rumah sakit hari ini jika memungkinkan."
"Apakah ada masalah dengan ibu saya?"
"Kondisinya sedang dipantau oleh dokter. Kami juga perlu membicarakan administrasi perawatannya dengan Anda."
Alya menggenggam ponsel lebih erat.
"Baik. Saya akan datang secepatnya."
Setelah menutup telepon, Alya langsung mencari kendaraan yang bisa membawanya ke rumah sakit.
Dia tidak tahu bagaimana harus mendapatkan uang yang dibutuhkan.
Tetapi dia tahu bahwa dia tidak bisa berhenti berusaha.
---
Sore harinya, hujan kembali turun.
Alya keluar dari rumah sakit dengan langkah lemas setelah mendengar penjelasan mengenai biaya perawatan ibunya.
Dia membutuhkan waktu tambahan untuk mengurus pembayaran, tetapi dia juga harus memberikan kepastian kepada pihak rumah sakit.
Di bawah atap gedung, Alya menatap langit kelabu.
"Aku harus mencari pekerjaan tambahan lagi," gumamnya.
Dia membuka aplikasi pencarian kerja di ponselnya. Sebagian besar pekerjaan yang tersedia membutuhkan pengalaman atau jam kerja yang bertabrakan dengan jadwalnya di kedai kopi.
Ketika sedang mencari, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Alya mundur sedikit karena terkejut.
Pintu belakang mobil terbuka.
Seorang pria keluar sambil membawa payung hitam.
Alya langsung mengenal wajahnya.
Pria yang memesan Americano pagi tadi.
Adrian Mahendra.
Namun, Alya belum mengetahui nama pria itu.
"Permisi," kata Adrian.
Alya menoleh.
"Maaf, Pak. Saya menghalangi jalan?"
"Tidak. Aku ingin berbicara denganmu."
Alya memandangnya dengan bingung.
"Dengan saya?"
Adrian mengangguk.
"Namamu Alya Putri, benar?"
"Iya. Tapi, maaf, kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tadi pagi. Di kedai kopi."
"Oh."
Alya mengangguk pelan.
"Memangnya ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Adrian mengamati wajahnya sejenak.
"Aku ingin menawarkan pekerjaan."
Alya langsung memperhatikan pria itu.
"Pekerjaan?"
"Ya."
"Pekerjaan apa, Pak?"
Adrian menyebutkan sebuah jabatan administratif di salah satu perusahaannya. Namun, setelah melihat ekspresi Alya yang masih ragu, dia melanjutkan penjelasannya.
"Kamu tidak perlu memutuskan sekarang. Aku hanya ingin tahu apakah kamu tertarik mendengar penawaranku."
Alya terdiam.
Dia tidak mengenal pria ini. Dia juga tidak tahu mengapa seorang eksekutif perusahaan tiba-tiba menawarkan pekerjaan kepadanya.
"Maaf, Pak. Saya tidak punya pengalaman bekerja di perusahaan besar."
"Aku tahu."
Alya mengerutkan kening.
"Bapak tahu?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Dia menyadari bahwa pendekatannya terlalu mendadak.
"Aku akan menjelaskan semuanya kalau kamu bersedia berbicara denganku di tempat yang lebih tenang. Kalau tidak, kamu boleh menolak."
Alya menatap pria itu dengan hati-hati.
Dia membutuhkan pekerjaan. Dia membutuhkan uang. Tetapi dia juga tahu bahwa tidak semua tawaran yang terdengar menguntungkan benar-benar aman.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa ikut dengan orang yang baru saya kenal."
Adrian terdiam sejenak.
Kemudian, dia mengangguk.
"Itu keputusan yang masuk akal."
Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Alya.
"Kalau kamu berubah pikiran, hubungi nomor yang tertera di sana. Kantor saya berada di gedung Mahendra Group. Kamu bisa datang pada jam kerja dan menemui sekretaris saya."
Alya menerima kartu itu dengan ragu.
Di atasnya tertulis nama yang membuat matanya membesar.
ADRIAN MAHENDRA.
Presiden Direktur Mahendra Group.
Alya pernah melihat nama perusahaan itu di berita ekonomi dan papan iklan gedung perkantoran.
Dia menatap kartu nama tersebut, lalu memandang pria di hadapannya.
"Jadi, Bapak CEO?"
Adrian membetulkan posisi jasnya.
"Kurang lebih."
"Kenapa Bapak menawarkan pekerjaan kepada saya?"
Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.
Dia belum siap menjelaskan alasan sebenarnya.
"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan. Kamu akan mengetahui semuanya kalau kita bertemu lagi."
Setelah mengatakan itu, Adrian kembali masuk ke mobil.
Sebelum pintu tertutup, dia menambahkan, "Jangan merasa harus menerima tawaran apa pun hanya karena kamu sedang membutuhkan pekerjaan. Pikirkan baik-baik."
Mobil itu kemudian meninggalkan halaman rumah sakit.
Alya berdiri di tempatnya, memandangi kartu nama di tangan.
Dia tidak tahu apakah pertemuan itu merupakan awal dari kesempatan baru atau justru masalah yang lebih besar.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa mungkin masih ada jalan keluar dari kesulitannya.
Malam itu, Alya kembali ke kamar kosnya yang sederhana.
Dia meletakkan tas di atas meja, mengganti pakaian, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Kartu nama Adrian masih berada di tangannya.
Dia membaca nama itu sekali lagi.
Adrian Mahendra.
Seorang CEO yang mungkin bisa memberinya pekerjaan dengan gaji lebih baik.
Alya mengambil ponsel dan membuka kalkulator. Dia menghitung pengeluaran bulanannya, biaya transportasi, kebutuhan makan, dan biaya rumah sakit ibunya.
Angka-angka itu membuat kepalanya pening.
Jika pekerjaan baru itu benar-benar menawarkan gaji yang lebih baik, mungkin dia bisa membayar tunggakan rumah sakit secara bertahap.
Namun, dia tidak ingin berharap terlalu banyak.
Alya meletakkan kartu nama di meja dan mencoba tidur.
Sayangnya, pikirannya terus berputar.
Mengapa Adrian memilih dirinya?
Bukankah perusahaan sebesar Mahendra Group bisa mencari karyawan yang lebih berpengalaman?
Dan mengapa pria itu terlihat begitu serius ketika berbicara dengannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggunya sampai akhirnya dia tertidur menjelang tengah malam.
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah di pusat kota, Adrian berdiri di depan jendela besar yang menghadap gemerlap Jakarta.
Sekretarisnya, Kevin, baru saja selesai menyampaikan laporan mengenai jadwal rapat keesokan hari.
"Tuan, apakah ada hal lain yang perlu saya siapkan?"
Adrian berbalik.
"Kevin, aku ingin kamu memeriksa latar belakang seorang perempuan."
Kevin mengangkat alis.
"Siapa, Tuan?"
Adrian mengambil sebuah catatan kecil dari meja.
"Alya Putri. Dia bekerja di kedai kopi dekat kantor kita."
Kevin tampak terkejut, tetapi segera kembali bersikap profesional.
"Baik, Tuan. Apa yang ingin Anda ketahui?"
"Informasi pekerjaan dan kontak profesionalnya. Jangan mengganggu kehidupan pribadinya."
"Baik."
Kevin hendak pergi ketika Adrian kembali memanggilnya.
"Satu lagi."
"Ya, Tuan?"
"Besok, hubungi pengacara perusahaan. Aku ingin membicarakan kemungkinan sebuah perjanjian pernikahan."
Kevin terdiam.
"Perjanjian pernikahan?"
Adrian mengangguk.
"Kakek tidak akan mengubah keputusannya. Kalau aku harus menikah demi mempertahankan kendali atas perusahaan, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."
Kevin menatap atasannya dengan hati-hati.
"Apakah perempuan itu mengetahui rencana Anda?"
"Belum."
"Kalau begitu, apakah Anda yakin dia akan bersedia?"
Adrian terdiam beberapa saat.
"Tidak. Aku bahkan belum tahu apakah dia akan menerima tawaran pekerjaan itu."
Dia kembali menatap kota dari balik jendela.
"Karena itu, jangan membuat kesimpulan apa pun sebelum aku berbicara dengannya."
Kevin mengangguk dan meninggalkan ruangan.
Adrian kini sendirian.
Di atas meja kerjanya tergeletak sebuah dokumen dari kakeknya. Dokumen itu berisi syarat yang harus dipenuhinya untuk mempertahankan hak pengelolaan perusahaan.
Pernikahan.
Sebuah kata yang selama ini tidak pernah menjadi prioritas dalam hidupnya.
Adrian mengambil dokumen tersebut, lalu menutupnya dengan ekspresi dingin.
Dia tidak mencari cinta.
Dia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia membuat kesepakatan dengannya.
Namun, ada satu hal yang belum dia ketahui.
Alya Putri bukan perempuan yang mudah menerima sesuatu tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Dan jika suatu hari mereka benar-benar terikat dalam sebuah pernikahan kontrak, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Termasuk Adrian Mahendra sendiri.