Bab 1The Silent Guilt

2 menit baca389 kata

Ethan Vance meletakkan gelasnya perlahan ketika mendengar suara Shamila yang sedang menceritakan sesuatu kepada Julia di seberang meja.

Wajah wanita itu terlihat lebih tirus daripada yang Ethan ingat enam bulan lalu. Saat mereka masih bekerja di tempat yang sama. Saat Shamila masih menjadi istri seorang pria bernama Hamza Farooqi.

"Aku turut menyesal mendengar perceraianmu, Sham," kata Julia lembut.

Wanita Afro-Amerika itu menepuk punggung tangan Shamila dengan penuh simpati.

"Tak apa, Jules. Aku sudah mulai menerimanya."

Suara Shamila terdengar datar dan tenang. Namun Ethan melihat jemarinya menggenggam erat gelas cola di hadapannya.

Entah kenapa, Ethan tak mampu mengalihkan pandangan.

Ia sedikit mencondongkan tubuh, berusaha menangkap percakapan mereka dengan lebih jelas.

"Tapi kenapa?" tanya Julia lagi. Keningnya berkerut. "Terakhir kali aku melihat kalian, semuanya baik-baik saja."

Sebuah tepukan di bahunya membuat perhatian Ethan teralih sesaat. Derek, salah satu temannya, menyodorkan sebotol bir.

Ethan menggeleng dan mengangkat gelasnya yang masih penuh.

"Cola? Really?"

"Aku menyetir."

Derek mengangkat bahu lalu kembali mengoceh tentang pertandingan baseball yang batal mereka datangi.

Ethan hanya mengangguk sesekali. Ia berpura-pura menikmati mashed potato yang mulai dingin di piringnya, sementara telinganya tetap tertuju pada percakapan di seberang meja.

"Memfitnahmu?"

Suara Julia meninggi.

Ethan kembali menoleh.

Shamila tersenyum tipis. Namun matanya memancarkan kesedihan yang gagal ia sembunyikan.

"Aku tidak tahu siapa," katanya. "Tapi seseorang mengirim pesan anonim kepada Hamza. Katanya aku berselingkuh."

"Jesus. No." Julia menutup mulutnya, tampak tak percaya. "Tega sekali."

Ethan mencengkeram gelasnya. Mashed potato di mulutnya tiba-tiba terasa hambar.

"Kau tidak mencoba mencari tahu siapa yang mengirim pesan itu?"

Shamila menggeleng pelan. "Tidak."

Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lirih.

"Tapi aku juga tidak menyalahkan Hamza."

Sesuatu yang dingin merambat ke dada Ethan.

"Aku hanya kecewa," lanjut Shamila. "Selama lima tahun kami menikah, ternyata Hamza tidak cukup mempercayaiku."

Ethan menunduk.

Derek kembali mengajaknya berbicara, masih tentang pertandingan baseball yang mereka lewatkan. Ethan menjawab seperlunya tanpa benar-benar mendengarkan. Pikirannya tetap tertuju pada wanita di seberang meja.

Shamila masih duduk dengan anggun. Masih tersenyum ketika diajak bicara. Masih berusaha terlihat baik-baik saja meskipun pernikahannya telah hancur.

Dan Ethan tahu persis siapa yang menghancurkannya.

Bukan Hamza.

Bukan Shamila.

Melainkan dirinya sendiri.

Dialah yang mengirim pesan anonim itu.

Karena dia mencintai seorang wanita yang telah menjadi milik orang lain.

Dan dia tidak pernah membayangkan bahwa satu pesan singkat yang dikirim dalam keadaan cemburu akan berakhir dengan sebuah perceraian.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Cerita selesai dibaca

Satu cerita selesai. Mau mulai cerita berikutnya?

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.