Bab 1Satu bintang diujung senja

12 menit baca•2.3rb kata

Satu Bintang Diujung Senja

Langit jingga perlahan berubah menjadi biru pekat hanya ada satu bintang paling terang malam itu.

venus

Angin berhembus perlahan mengenai wajahku rasanya segar tetapi seperti ada yang janggal pada malam itu.

dia .. Pria berpenampilan rapih dan berbadan tinggi itu, siapa dia sebenarnya?

Sudah sekitar 3 tahun yang lalu sejak kejadian naas itu, luka itu sudah sembuh ingatan pun mulai sepenuhnya pulih. Tapi, kenapa seperti masih ada part yang belum lengkap dalam puzzle ingatan gadis itu. Pria misterius yang selalu muncul di ingatannya itu, sebenarnya siapa dia dan apakah dia bagian dari ingatannya di masa lalu atau hanya sekedar imajinasi yang terus menerus berulang di kepalanya. Ia bahkan tidak bisa membedakan antara keduanya, yang jelas memori itu selalu menghantui pikirannya.

"Valee ayo masuk, makan malam sudah siap."

Panggil ibu dari dalam rumah

"Iyaa bu, aku masuk."

Baru beberapa langkah menuju pintu rumah tiba tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari ke arahku lalu aku pun menoleh ke belakang.

"Dika?? kenapa kamu lari? kamu gapapa kan?"

Tanya Valerya dengan sedikit cemas

Dengan nafas yang masih tidak beraturan Dika menjawab

"Valee kamu tau gak? murid dari sekolah swasta yang baru pindah kemaren."

"Hah? murid pindahan? baru denger tuh, yang mana yaa.."

Tanya Valerya lagi kali ini bingung

" Aduhh aku lupa, kamu kan di kelas terus, Introvert."

dengan nada sedikit mengejek.

"Ituloh namanya Nirwana dia pindahan dari kota sebelah, gak denger alasan pindahnya sih tapi denger info kalo orang tuanya lumayan berpengaruh di kota ini."

"Teruss.??" duhh kirain kenapa ni orang

"Masa dia baru pindah udah nantangin kita main basket sih. pokoknya aku gamau tau, kamu harus nonton kita tanding besok, ajakin juga tuh temen-temen kamu."

jawab Dika lagi dengan wajah tengilnya.

" Ngapain coba nontonin kalian paling kalah lagi tuh kek kemaren."

" Hehh mulutt jadi orang jangan pesimis gitulah."

Perdebatan pun di mulai, sementara itu ibu yang sedang menunggu di meja makan akhirnya keluar dan mendapati Vale dan Dika berdebat layaknya anak kecil yang sedang rebutan mainan.

"Heh kalian! debat melulu kayak anak kecil aja, udah debatnya sana masuk makan ibu udah masak sop buntut."

Keduanya pun berhenti berdebat lalu bersiap lari berlomba untuk masuk ke dalam rumah dan segera menyantap masakan ibu.

Keesokan harinya .. cahaya mentari masuk melalui celah yang ada pada lorong sekolah. Disana hanya ada satu jiwa yang suram, tidak memiliki semangat dan nampak seperti mayat hidup.

ya ampun males banget deh, nih sekolah boring banget.

Keluh Nirwana dalam hatinya sebelum akhirnya dia terdiam mematung karena melihat pemandangan indah bukan pantai, air terjun, atau gunung. tetapi gadis manis dengan tatapan teduh yang tidak lain dan tidak bukan adalah Valerya. Ia terpanah akan keindahan itu lalu dengan percaya diri ia menyapa Valerya.

"Haii."

sapa Nirwana dengan senyuman lembut dan ramah.

Valerya terdiam mematung sejenak sebelum akhirnya ia menjawab sapaan dari Nirwana

"..Haii?"

Valerya sedikit bingung karna ia belum pernah melihat wajah ini di sekolah sebelumnya.

Siapa nih anak kok kayak gapernah liat ya dia di sekolah ini, apa jangan-jangan ini anak pindahan yang di ceritain Dika kemarin?"

"Kenalin, aku Nirwana siswa pindahan dari kota sebelah."

Nahkan bener, tapi kok kayak biasa aja ya gak keliatan sombong.

"Ohh hai Nirwana, kenalin aku Vale."

"Kelas kamu dimana Vale."

"Aku di kelas IPS 2"

"Ohh IPS 2 okedeh, kalo kamu nyariin aku bisa ke kelas IPA 1"

HAHH nyariin? aneh banget nih anak ngapain coba aku nyariin kita kan baru kenal.

"E-eh iya kalo gitu aku ke kelas dulu."

senyum canggung dari Valerya sebelum akhirnya ia meninggalkan Nirwana sendiri di lorong sekolah dan pergi ke kelasnya.

Buru-buru banget apa dia introvert ya?

"Hm Vale ya.. manis, keliatannya menarik tuh."

Nirwana dengan rencana baru yang muncul di kepalanya pagi itu, baginya ini hanya permainan lama yang terus menerus diulangnya. Tapi ternyata lebih daripada itu. Disinilah takdir yang ditulis berjalan dengan penuh teka teki, pola yang rumit dan terkadang menemui jalan buntu. Hari itu tampak seperti awal dari sesuatu yang baru. Tak seorang pun tahu, Ia justru sedang membuka pintu menuju sesuatu yang telah lama menunggu."

*KRIINGG KRINGG KRINGGG

Bel sekolah berbunyi panjang tiga kali penanda kegiatan belajar mengajar telah selesai, sudah saatnya kembali ke rumah. Tetapi, bukannya kembali ke rumah murid-murid SMA ANTARIKSA kompak berjalan menuju lapangan basket sekolah untuk menyaksikan pertandingan antara anak IPA melawan IPS. Nirwana bersama geng yang baru ia temukan minggu lalu saat pindah ke kota ini sementara Dika dengan geng ambisnya yang juga memiliki jabatan di beberapa organisasi yang ada di sekolah.

"Udah siap kebantai?"

Ucap Nirwana dengan raut wajah tengilnya.

"Udah dong, kita liat sama-sama siapa yang bakal kebantai."

Balas Dika tidak kalah tengil dari Nirwana.

Pertandingan pun dimulai sorak-sorakkan mulai terdengar dari berbagai penjuru lapangan untuk menyemangati kedua tim. Pertandingan berlansung sengit dan situasi pun mulai serius.

"Vale menurut kamu siapa yang bakalan menang?"

"Aduhh gatau yaa, mereka sama-sama jago nih keliatannya."

Sementara itu point terus bertambah dan tampaknya team Nirwana lebih unggul sekarang

"Fiks kalah lagi sih ini."

Duhh kepalaku sakit lagi ..dia..kenapa sih selalu mengahantui pikiran?

Pandangan Vale mulai memudar bersamaan dengan itu ingatan soal pria misterius itu yang terus menerus berputar di kepalanya sampai akhirnya ia jatuh pingsan.

Beberapa jam setelahnya.. Vale membuka matanya ia sadar sudah tidak lagi berada di lapangan basket pada saat itu yang ia lihat sekarang adalah dinding kamarnya dan di samping ranjang tempatnya berbaring terlihat ibu yang sedang cemas menunggunya sadar.

"Vale kamu lupa minum obat lagi ya? udah ibu ingetin tiap hari kok bisa kamu lupa?"

Dengan nada yang cukup lantang ibu memarahi Valerya yang baru saja siuman, bukan cuma kali ini Valerya lupa meminum obatnya sebelumnya juga ia sering lupa meminum obat resep dari dokter. Karena pernah terbentur, kini kepalanya sering terasa sakit. Dokter mengatakan bahwa rasa sakit itu akan sulit hilang ada luka yang tidak bisa sepenuhnya sembuh. Tetapi Valerya tidak pernah memberi tahukan pada siapapun tentang pria misterius yang selalu muncul dalam pikirannya itu, ia takut kalau itu hanyalah imajinasinya yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia nyata.

"Maaf bu, aku beneran gak ingat."

"Lain kali langsung pulang ke rumah gausah ikut-ikut hal yang gak penting, gak ngaruh ke nilai akademik kamu."

"....."

Hufft lagi sakitpun tetap harus lebih mentingin nilai ya?

Satu hal penting bagi ibu adalah ia tidak melahirkan dan membesarkan Valerya dengan cuma-cuma, gadis malang itu harus hidup membayar semua hutang dengan cara mengejar nilai akademik demi memenuhi ambisi ibunya. Tak peduli seberapa keras proses yang harus dilaluinya untuk mendapat nilai terbaik, ia hanya akan dilihat dan dianggap saat ia mampu memenuhi ekspektasi ibunya. Ia banyak mengubur mimpi-mimpinya karena tahu ibu tidak akan mendukungnya. Sudah hampir 6 bulan sejak Vale memilih untuk tidak mendengarkan ibunya untuk sekali ini saja ia memilih masuk ke jurusan yang ia mau yaitu IPS sementara ibu justru menginginkannya masuk ke jurusan IPA. ibu kadang masih marah dengan keputusan yang di ambil Valerya kadang mengungkit hal tersebut tapi di hari-hari lain ia melupakannya seperti tidak terjadi apa-apa hanya saja tetap menekankan Valerya untuk mengejar nilai dan mendapat peringkat pertama. Hanya ada satu orang yang tahu tentang hal itu yaitu sahabatnya yang sudah sangat lama bersamanya, mereka bertumbuh dan berproses bersama sudah banyak hal yang mereka lalui bersama bahkan mereka lebih mengenal satu sama lain daripada diri mereka sendiri. Sejak kecil mereka terbiasa bersama, dan orang itu adalah Dika. Satu hal lagi tentang Valerya dia hanya ingin melihat ibunya bahagia meskipun harus berkorban banyak hal karena ia hanya memiliki ibunya di sepanjang hidupnya.

"Yaudah sekarang bersih-bersih biar segar, setelah itu makan dan minum obat"

"Baik, bu"

Marah kali ini singkat yaa, tapi syukurlah ibu tidak semarah itu. Eh pertandingan tadi yang menang siapa ya? Ah besok aja deh tanyain di sekolah.

Lega melihat ibunya sudah kembali tenang valerya kemudian lekas membersihkan dirinya, makan, minum obat dan lekas istirahat agar sakit kepalanya tidak kambuh lagi.

Keesokan paginya Valerya kembali bertemu lagi dengan Nirwana kali ini di halaman sekolah. Tapi Nirwana terlihat khawatir saat melihat Valerya kemudian Nirwana pun mendekat dan bertanya.

"Vale, kamu udah ga sakit? kok kamu ga izin sakit aja?"

"Eh Nirwana, engga aku udah gapapa kok."

Lahh? dia tau aku sakit? berarti kemarin banyak yang notice aku pingsan dong.

"Beneran? ohh iya aku lupa bilang kamu panggil aja aku Niro."

"Okedeh Niro, aku ke kelas dulu ya.. bentar lagi masuk terus mau ada ulangan geografi."

"Ohh iya Vale... istirahat kamu gamau bareng?"

"Emm aku bawa bekal."

"...hm gitu yaa yaudah deh mungkin lain kali aja."

"Iyaa aku duluan ya."

"Iya hati-hati."

Valerya hanya membalas dengan senyuman sebelum akhirnya lanjut berjalan ke kelasnya.

Hmm lumayan dingin ya tuh orang, kirain bakal gampang.

Nirwana pun kembali berjalan menuju kelasnya.

Hari berganti hari kegiatan yang di lakukan Valerya terus menerus berulang hingga akhirnya dia pun bosan. Rasa ingin kembali memulai hobi lamanya pun hadir kembali dalam dirinya. Disatu sisi ia ingin kembali melukis tetapi di sisi lain ibu pasti akan memarahinya karena ia di anggap tidak fokus belajar. Ibu tahu jika Valerya kembali melukis Valerya dapat menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk melakukan hal tersebut sementara ibu menginginkan ia untuk hanya fokus belajar, belajar dan belajar.

Bosan deh gini-gini mulu..ohh iya Dika kemana ya udah 2 minggu gak ada kabar, apa aku samperin aja ya ke rumahnya?

Valerya pun memutuskan untuk pergi ke rumah Dika.

Sesampainya di rumah Dika yang ia lihat dari sela-sela pagar hanyalah rumah yang hening, terkunci ,dan nampak seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia sudah memanggil Dika beberapa kali dari luar juga memencet tombol bel tetapi tidak ada yang keluar lalu kemudian ia menyadari bahwa pintu gerbang rumah itu tergembok.

Loh ke gembok? berarti mereka sekeluarga lagi keluar kota dong?

Belum sempat ia berpikir panjang tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Nyari siapa mba?"

"E-ehh.. saya, saya nyari keluarga yang tinggal di rumah ini pak, Bapak tau mereka kemana?"

"Ohh mereka.. saya gak tau sih mereka kemana tapi rumah ini emang udah kosong dari dua minggu yang lalu mba."

Hahh? dua minggu yang lalu? mereka kemana sampe udah dua minggu gak balik minggu depan kan udah ujian semester.

"Ohh begitu ya pak, makasih atas informasinya."

"Iya sama-sama mba."

Kemudian Valerya mengeluarkan handphone dari dalam sakunya untuk menghubungi Dika tetapi tidak ada jawaban darinya. tiga hari berlalu tapi masih belum ada balasan dari Dika, semua akun sosmednya tidak aktif lagi. Valerya pun memutuskan untuk bertanya pada teman Dika yang lain tapi jawabannya sama seperti yang telah dicobanya. Belum menyerah sampai disitu Valerya masih terus berusaha mencari tahu keberadaan Dika dan keluarganya tetapi yang ia dapat hanya kebuntuan, ia mengahabiskan hari-harinya untuk mencari kabar tentang Dika dan keluarganya sampai ia mengabaikan waktu belajarnya. Ibu yang sadar tentang hal itu lagi-lagi memarahi Valerya

"Buat apa sih kamu nyariin Dika sampe segitunya, sampe lupa belajar, kamu mau nilai kamu jadi jelek? mau jadi apa kamu nanti? jangan bikin ibu malu ya!! VALERYA AGATHA."

"Kamu cuma disuruh sekolah gak disuruh nyari duit, semua udah ibu sediain makan tinggal makan, sekolah pun gitu udah ibu usahain semuanya kamu pikir gampang besarin kamu sendirian?!"

Perkataan itu pun terus menerus berulang dalam kepala Valerya hingga membuatnya terpaksa menyerah dan berhenti mencari keberadaan Dika.Satu-satuya yang Valerya tau saat itu adalah Dika benar-benar menghilang tanpa pesan ataupun jejak sedikitpun.

Layaknya ombak yang menghanyutkan kerang di tepi pantai ia tidak memerlukan izin siapapun untuk membawa kerang tersebut bersamanya, begitupun saat kembalinya ombak ke tepi pantai tak ada satu pun yang dapat memastikan ia akan membawa kembali kerang yang sudah hanyut bersamanya itu atau justru menggantikannya dengan benda asing lain, selalu ada yang datang bersama dengan ombak aku harap yang datang setelah ini adalah mutiara yang berkilauan.

Fikirku selama ini tak ada yang lebih hening dari pada malam-malam yang bertabur dengan bintang, ternyata tidak adanya kamu di tengah ramai riuh juga salah satu hening yang sulit dipecah oleh siapapun yang datang.

Hal yang tak pernah terpikirkan oleh Valerya, kini ia hanya memiliki dirinya sendiri dan terus mencoba mengingat memorinya saat bersama Dika berharap suatu saat ia kembali dan menceritakan semua yang telah terjadi.

Dihari-hari selanjutnya setelah hilangnya Dika kehidupan terus berlanjut meskipun tak lagi sama, Nirwana perlahan mulai mendekatkan diri pada Valerya awalnya hanya percakapan ringan di sekolah namun di sela-sela percakapan itu mulai tumbuh rasa yang asing bagi Valerya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, rasa yang hanya ia rasakan saat berada di dekat Nirwana. Dan Nirwana? hanya tuhan yang tahu apa yang ada dalam pikirannya saat itu ia terlihat sangat menikmati setiap momen bersama Valerya.

3 bulan berlalu orang-orang mulai menyadari kedekatan Valerya dan Nirwana, banyak rumor mulai menyebar di setiap sudut sekolah salah satunya adalah rumor tentang hubungan mereka berdua yang di anggap orang-orang sedang backstreet. Valerya sendiri tidak tahu tentang rumor tersebut ia terlalu sibuk belajar , Sementara Nirwana ia jelas tahu tentang hal itu tapi hanya mengabaikannya sampai pada suatu hari anak-anak tongkrongannya tak sengaja membahas hal itu saat mereka sedang kumpul di markas geng motor mereka.

Malam itu setelah tanding basket dengan tim basket sekolah lain Nirwana berkumpul bersama teman-temannya di markas. Disana ada Morgan, Vegar, Aksa, Danendra dan tentunya Nirwana mereka sedang membahas berbagai topik dan tanpa sadar topik yang mereka bahas sekarang mengarah ke hubungan Nirwana dan Valerya.

"Eh iya bro, lu sama tuh anak IPS gimana? siapa sih namanya?"

Vegar bertanya dengan senyum janggalnya.

"Maksud lo Valerya? ya ga gimana-gimana sih kenapa emangnya?"

Nirwana menjawab dengan nada datar dan nonchalant.

"Serius? gue biasa denger tuh gosip di sekolah kalo lo lagi backstreet sama dia"

Sambung Morgan, Aksa dan Danendra hanya fokus menyimak percakapan mereka.

Nirwana diam sejenak ia terlihat seperti sedang berfikir sebelum ia akhirnya memberitahukan tujuan sebenarnya ia mendekati Valerya pada teman-temannya.

"Gua sebenarnya suka sama di-"

"Lahh gua kira lu mainin doang"

Aksa memotong perkataan Nirwana yang belum sempat selesai itu. Nirwana hanya terdiam ia tidak melanjutkan lagi kalimatnya hanya saja dalam hatinya berkata..

Untuk hal ini kayaknya gue gaakan percaya sama mereka.

Setelah percakapan mereka berhenti disitu dan digantikan oleh topik lain, ternyata ada seseorang yang masih penasaran dengan jawaban Nirwana yang menggantung, ia tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya tapi ia memilih diam dan mungkin akan terus mengamati pergerakan Nirwana.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.