Bab 1Bab 1 - Angin Silang
Hangarnya bau baja, kerosin, dan hantu-hantu yang kukira telah kutinggalkan. Aku membetulkan kaca mata terbangku, mendengarkan suara deru mesin yang samar di luar. Bagi kebanyakan orang itu hanya suara latar, tapi bagiku itu adalah detak jantung, suara yang kurindukan sejak kecelakaan itu. Tulang rusukku masih nyeri kalau cuaca dingin─sebuah pengingat tetap bahwa hari-hariku sebagai pilot pesawaat tempur telah berakhir.
Sekarang di sinilah aku, di Korea, mengajari orang-orang amatir dan pilot-pilot komersil bagaimana menaklukkan langit. Seharusnya aku berterima kasih. Masih bisa terbang, meskipun tidak sama.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini, muridku bukan siswa biasa yang memiliki mimpi.
“Andrew Monroe,” gumamku, kubolak-balik jadwalnya. Tentu saja, aku tahu siapa dia. Semua orang tahu. Sang aktor dengan mata tajam dan pandangan yang membuat orang meleleh khususnya para gadis. Dia telah memerankan berbagai karakter, penjahat, detektif, pendeta, tukang judi, dukun, bahkan pembunuh. Karakter-karakter yang diperankannya sanggup membuatmu lupa itu hanya fiksi. Dia sedang mempersiapkan untuk film barunya, Penakluk Langit, dan produksinya telah memutuskan akulah orang terbaik untuk memastikan dia bisa menerbangkan pesawat.
Atau setidaknya terlihat begitu.
"Sungguh beruntungnya aku. Mengasuh seorang bintang film." batinku.
Suara langkah kaki menggema di hanggar, menarikku dari lamunanku. Dia berjalan biasa—memakai celana jeans warna gelap, kemeja putih, kaca mata hitam bertengger di rambutnya. Tanpa rombongan, tanpa sambutan.
Hanya dia.
Dan tetap saja, dia membawa diri seolah dia tahu setiap pasang mata akan mengikutinya.
“Evangeline Lee?” suaraya alam, halus, penuh percaya diri.
Aku mengangkat daguku. "Seharusnya kau panggil Instruktur Lee."
Sebersit rasa terkejut melintas di wajahnya sebelum bibirnya ditekuk, sedikit.
"Instruktur Lee," katanya, seolah dia sedang mencoba bagaimana kedengarannya. "Aku dengar kau seharusnya bisa menjadikan aku pilot dalam dua bulan."
Kusilangkan lenganku di dada. "Tidak. Aku akan membuatmu tampak seperti seorang pilot. Jangan sombong. Terbang itu tidak sama dengan penghargaan-penghargaan yang telah kau menangkan. Satu kesalahan saja, kau bisa mati."
Dia mengangkat alisnya. "Kalau begitu baguslah ini hanya film."
Kesombongan dalam nada bicaranya membuat rahangku tegang. Tapi aku menunjuk ke arah kokpit.
"Masuklah. Ayo kita lihat apakah kau bisa membedakan kiri dan kanan."
Dia masuk ke kursi pilot dengan keanggunan yang membuatku semakin sebal. Lalu secara tak sengaja jari-jarinya menyentuh panel kendali, matanya tampak lebih tajam, fokusnya menyempit. Raut wajah seorang bintang film yang malas hilang. Dia bukan hanya pura-pura—melainkan menyerap segalanya, seolah pesawat itu adalah bagian dari peran yang telah terpatri di tulangnya.
Aku tidak menyangka dia akan menganggap serius instruksi-instruksiku, setidaknya tidak di hari pertama. Kebanyakan aktor hanya akan memilih jalan pintas yang membuat mereka tampak bagus di depan kamera.
Tapi Andrew tidak setengah-setengah.
“Throttle di sini. Pedal rudder ada di kakimu. Kiri untuk yaw ke kiri, kanan untuk yaw ke kanan,” jelasku sambil menunjuk satu per satu kontrol di depannya ketika dia duduk di kokpit.
Dia mengangguk perlahan. Matanya berpindah dari panel instrumen ke tanganku, lalu kembali ke kontrol.
“Paham.”
“Kau tidak paham,” sahutku cepat. “Kau bahkan hampir tidak tahu di mana tombol untuk menyalakan pesawat.”
Dia menatap panel.
“Ada tiga tombol yang bentuknya seperti tombol start.”
Aku menatapnya datar.
Dia balas menatapku dengan wajah polos.
“Kau bercanda?”
“Mungkin.”
“Itu tidak lucu.”
“Tapi tadi kau hampir tersenyum.”
“Aku tidak tersenyum.”
“Hampir.”
Aku mengabaikannya dan kembali menunjuk kontrol.
“Pegang yoke di posisi jam sepuluh dan jam dua.”
Dia menyesuaikan tangannya.
“Seperti ini?”
“Tidak. Lebih rileks.”
“Aku sudah rileks.”
“Kau sedang mencekiknya.”
“Aku kira pilot harus memegang kendali dengan kuat.”
“Dengan mantap, bukan seperti ingin membunuh yoke-nya.”
Dia terkekeh.
“Kau selalu bicara seperti ini kepada muridmu?”
“Hanya kepada murid yang merasa dirinya terlalu hebat untuk mendengarkan.”
Dia menyandarkan tubuhnya sedikit.
“Mungkin aku hanya tidak suka diremehkan.”
“Kalau begitu, berhentilah memberiku alasan untuk meremehkanmu.”
Dia tersenyum kecil.
“Mungkin kau harus memberiku kesempatan.”
“Kau baru duduk di sini selama lima menit.”
“Lima menit dan aku masih hidup.”
“Nyaris.”
Dia tertawa pelan.
Aku menunjuk panel instrumen.
“Baik. Mari kita lihat seberapa banyak yang benar-benar kau pelajari. Apa itu?”
“Ketinggian.”
“Bagus. Kalau itu?”
“Kecepatan udara.”
“Dan yang itu?”
Dia terdiam.
Aku menyipitkan mata. “Jangan bilang kau sudah lupa.”
“Aku sedang berpikir.”
“Kau sedang mengulur waktu.”
“Mungkin aku hanya menikmati melihatmu mulai tidak sabar.”
Aku melipat kedua tangan di dada.
“Kau menikmatinya?”
“Sedikit.”
“Kau benar-benar menyebalkan.”
“Begitu kata orang-orang.”
Aku mendekat dan mengetuk salah satu instrumen.
“Indikator sikap.”
“Indikator sikap,” ulangnya.
“Sekali lagi.”
“Indikator sikap.”
“Bagus. Setidaknya masih ada harapan untukmu.”
Dia menoleh kepadaku.
“Kau terdengar kecewa.”
“Aku memang kecewa.”
“Keji sekali.”
“Terbang itu kejam. Pesawat tidak peduli apakah perasaanmu terluka.”
Dia tersenyum tipis.
“Begitu juga kau, rupanya.”
“Benar.”
Untuk sesaat, mata kami bertemu.
Tatapannya membuatku tidak nyaman—terlalu tajam untuk seseorang yang seharusnya hanya berpura-pura bisa menerbangkan pesawat. Ada sesuatu dalam caranya memperhatikanku, seolah dia bukan hanya sedang menghafalkan letak kontrol.
Aku segera memutus kontak mata dan menyodorkan daftar pemeriksaan kepadanya.
“Baca. Keras-keras.”
Dia mengambil checklist itu.
“Pemeriksaan sebelum penerbangan.”
“Lebih keras.”
“Pemeriksaan sebelum penerbangan.”
“Bagus. Lanjutkan.”
Dia melirikku.
“Kau memang selalu sebawel ini?”
“Hanya kalau nyawa seseorang bergantung padaku.”
“Kalau nyawanya tidak bergantung padamu?”
“Lebih parah.”
Dia tertawa kecil.
“Baterai?”
“Aktif.”
“Bahan bakar?”
“Sudah diperiksa.”
“Tekanan hidraulik?”
“Dalam batas normal.”
Aku mengangguk.
Dia melanjutkan membaca beberapa poin sebelum kembali menatapku.
“Apa?”
“Kau memperhatikanku.”
“Aku mengawasimu.”
“Bukankah itu sama saja?”
“Tidak. Mengawasi berarti memastikan kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh.”
“Lalu memperhatikan?”
Aku mengangkat sebelah alis.
Dia tersenyum.
“Itu terdengar lebih pribadi.”
“Lanjutkan membaca.”
Dia tersenyum semakin lebar.
“Baik, Bu.”
Aku menunjuk checklist di tangannya.
“Jangan baik, Bu. Baca.”
“Baik, Bu.”
Aku menghela napas panjang.
“Ini akan menjadi hari yang panjang.”
Dia menahan senyum.
“Entah kenapa, aku merasa aku akan menikmatinya.”
Dia menghela napas, tapi suaranya tenang ketika dia membaca langkah-langkah sebelum terbang. Pelafalannya hati-hati, tepat, seolah setiap kata adalah naskah yang tidak ingin dibantainya. Aku tidak seharusnya terkesan. Tapi aku terkesan.
Beberapa jam kemudian, setelah sesi itu, aku berjalan mengantarnya keluar hanggar. Matahari terbenam, melukis langit dengan warna api. Dia berhenti sejenak, matanya menyipit.
“Apakah kau masih terbang?" tanyanya tiba-tiba.
Aku membeku. Tak seorang pun berani menanyakan itu padaku. Tidak sejak kecelakaan itu.
“Kadang," aku bohong. Tenggorokanku tercekat.
Dia mengamatikau seoalah dia bisa melihat menembus topeng yang telah kupasang bertahun-tahun. Lalu dia mengangguk kecil seolah mengerti hal-hal yang tidak kukatakan.
“Sampai besok kalau begitu," gumamnya. "Jangan kasih aku ampun."
Dia mengerling.
Dan dia berjalan begitu saja, meninggalkan aku dalam cahaya temaram, tidak tenang. Aku tidak ingin mengakuinya, tapi dia sudah membuatku gelisah.