Bab 1Bab 1

22 menit baca•4.4rb kata

Sinar matahari masuk lewat celah gorden kamar bernuansa pastel dan jatuh tepat di atas selimut tebal, membentuk garis cahaya keemasan. Ponsel di atas nakas sudah berdering tanpa jeda sejak seperempat jam lalu. Getarannya beradu dengan kayu, menciptakan kebisingan yang kontras di kamar yang masih tenang itu.

Aurora Hazel Vallene mengeliat di balik tumpukan selimut. Sinar matahari mengenai kulit sawo matangnya, sementara rambut hitam bergelombangnya berantakan di atas bantal. Matanya masih setengah sadar dengan rasa kantuk yang belum sepenuhnya menghilang. Jemari lentiknya meraba nakas sampai akhirnya menemukan ponsel yang masih saja bergetar.

Aurora paling tidak suka basa-basi, apalagi kalau diganggu sepagi ini. Ia gampang kesel, jadi selimutnya langsung ditendang begitu saja. Ia tumbuh dengan kasih sayang penuh dari keluarga Vallene yang utuh, dan itu membuatnya jadi pribadi yang mandiri, tegas, dan punya pendirian kuat. Bagi Aurora, hidupnya sudah lengkap. Ia tidak merasa butuh laki-laki untuk melengkapi atau menyelamatkannya.

Begitu layarnya menyala, puluhan notifikasi langsung masuk. Grup-grup obrolan mendadak ramai oleh pesan yang muncul bertubi-tubi. Ia menggeser layar, lalu membuka obrolan paling atas yang sudah dipin, yaitu grup resmi angkatannya.

[OFFICIAL] ANGKATAN XII SMK KESEHATAN SERENOVA

PENGUMUMAN KELULUSAN RESMI

Selamat pagi, anak-anak kelas XII SMK Kesehatan Serenova.

Berdasarkan hasil rapat dewan guru dan kepala sekolah, kami umumkan bahwa seluruh siswa-siswi kelas XII tahun ajaran ini dinyatakan:

LULUS 100%

Selamat atas kelulusan kalian! Semoga semangat dan kerja keras kalian membawa kesuksesan di jenjang pendidikan berikutnya. Tetap jaga nama baik sekolah, pegang teguh etika profesi kesehatan, dan terus kejar cita-cita kalian.

Salam hangat,

Jajaran Pengajar & Staf SMK Kesehatan Serenova

Aurora menghela napas lega, lalu tersenyum tipis. Beban yang selama ini menekan dadanya hilang begitu saja. Tiga tahun ia berjuang dengan tumpukan buku tebal, ujian yang bikin stres, dan jam-jam melelahkan saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) di rumah sakit. Hari ini, semua akhirnya terbayar.

“Huft….akhirnya bebas juga,” gumam Aurora pelan. Suaranya masih serak khas bangun tidur.

Tanpa pikir panjang, ibu jarinya membuka obrolan pribadi yang posisinya persis di bawah grup tadi. Di sana tertera sebuah nama, dengan foto profil seorang cowok berjaket hitam yang sedang tertawa lepas.

Fernando Devano Sinclair.

Cowok seusianya yang tumbuh bareng dia sejak mereka belum tahu apa-apa soal dunia. Nando, begitu ia biasa dipanggil, adalah anak tunggal dari keluarga Sinclair yang terpandang. Berpostur tinggi tegap dengan bahu bidang serta rahang tegas warisan sang ayah, wajahnya yang rupawan selalu berhasil mencuri perhatian. Wajar saja kalau masa SMA-nya di Cendekia Utama dipenuhi gerombolan penggemar fanatik yang menamakan diri mereka Nandoholic.

Nando dan Aurora seperti gak bisa dipisahkan. Rumah mereka berseberangan di kompleks perumahan mewah. Karena orang tua mereka bersahabat dekat sejak muda, ikatan keduanya juga jadi lebih dari sekadar teman biasa. Ayah Reksa dan Bunda Maya bahkan sering bercanda kalau aurora sudah ‘ketempelan’ Nando, seolah cowok itu memang sudah jadi bagian dari hidup gadis itu.

Di balik keakraban itu, Nando menyimpan perasaan cinta untuk Aurora. Sayangnya, sifat yang sabar dan tahu diri membuatnya memilih diam. Ia tidak berani menyetakan isi hatinya karena takut persahabatan belasan tahun mereka jadi hancur. Setiap sikap lembut yang ia tunjukkan ke Aurora adalah caranya untuk terus melindungi gadis itu, diam-diam.

Sebenarnya Aurora bukan tipe cewek yang gampang melewatkan detail. Ia paham betul perhatian yang Nando tunjukkan, tapi ia memilih pura-pura tidak tahu. Bagi Aurora yang blak-blakan dan benci kerumitan, pura-pura gak tahu itu cara paling aman supaya kedekatan mereka gak berubah jadi canggung.

Sejak TK sampai SMP, mereka selalu satu sekolah, bahkan sering sebangku. Jalur mereka baru sedikit berbeda waktu masuk SMA. Aurora yang tertarik pada dunia kesehatan mendaftar ke SMK Kesehatan Serenova, sedangkan Nando diarahkan untuk meneruskan bisnis besar keluarganya di SMA Negeri 1 Cendekia Utama. Karena sekolah mereka jauh berbeda arah, Aurora mulai berangkat sendiri sejak SMA, sementara Nando sesekali masih menyempatkan diri mampir dulu ke rumahnya sebelum berangkat ke sekolahnya sendiri.

Aurora membuka chat pribadinya sama Nando. Ternyata cowok itu sudah kirim beberapa pesan sejak setengah jam lalu.

Nando: Selamat pagi Roraaa cantikkk

Nando: Ihhhh, pasti belum bangun kannn? Kebo bangettt

Nando: Siap-siap yahhh, aku jemput jam 10.00 WIB nanti buat ke sekolah kamu. Urus Surat Keterangan Lulus (SKL). Kata Bunda, besok kamu mau mulai daftar berkas kuliah kan?

Aurora mendengus geli membaca rentetan pesan bertubi-tubi dari sahabatnya. Jemarinya cepat-cepat mengetik balasan yang singkat dan langsung ke intinya.

Aurora: Iya Nan, udah bangun

Aurora: Terus kamu gimana? SKL kamu belum diurus, tapi anter aku? Kata Bunda kamu juga mau daftar kuliah besok.

Aurora: Gak usah anterin aku, aku berangkat sama Pak Tresno aja.

Belum lim adetik, tanda ‘sedang mengetik’ muncul di layar ponsel Aurora. Balasan langsung masuk dari cowok yang memang selalu sigap menuruti kemauannya.

Nando: GAKKK ADA YAHHH! Kamu bareng aku! Nanti habis dari sekolah kamu, temani aku ke sekolahku juga lah yahhhh. Seklaian biar aku ada temannya.

Aurora: Bilang aja mau jadiin aku tameng buat ngusir fans fanatik kamu itu.

Nando: Nahhhh! Itu tauuuu! Selain cantik ternyata Rora-ku ini juga pintar banget yah?

Aurora: Oke, tapi nanti jajan dulu. Bosan kalau kelamaan nungguin kamu urus berkas.

Nando: Yaelahhh, aku tauuu Roraaa. Aku kenal kamu udah 18 tahun kalau kamu lupa. Tahu banget isi perut kamu.

Aurora: Yaudah, aku mau siap-siap dulu. Kabarin kalau udah di depan pagar.

Nando: Okeyyy, siap Boss!

Suasana pagi yang tak kalah sibuk juga terasa di rumah keluarga Sinclair yang berdiri megah tepat di seberang rumah Aurora. Usai membalas pesan terakhir, Nando masuk ke kamar mandi untuk bersiap. Setelah itu, ia pergi ke ruang makan untuk sarapan bareng kedua orang tuanya.

Nando menyapa kedua orang tuanya dengan nada bicara yang selalu lembut dan sopan. “Selamat pagi, Ayah, Bunda,” katanya riang sambil menarik kursi dan duduk untuk sarapan.

“Pagi, Nak. Hari ini ada agenda apa?” tanya ayahnya, Reksa Sinclair, pemilik Sinclair Development di Bawah Sinclair Group, pengem properti elit skala besar.

“Oh iya, Nak, selamat atas kelulusannya yaa,” tambah bundanya, Maya Sinclair, pemilik butik fashion ternama, sambil tersenyum hangat. “ Mau kado apa dari Ayah sama Bunda?”

“Kadonya nanti aja deh, Yah, Bun. Nando masih bingung mau apa,” kata Nando santai sambil mengoles mentega ke rotinya pelan-pelan. “Oh iya, Yah, Nnado jam 10 nnati mau jemput Rora. Mau ngurus Surat Keterangan Lulus ke sekolahnya Rora, sekalian mau minta Rora nemenin ke sekolah Nando juga, hehehhe.”

“Ya sudah, nanti kalau udah tahu mau apa bilang ke Ayah atau Bunda aj aya,” jawab ayahnya penuh pengertian. Ia merapikan koran paginya, lalu menatap putra tunggalnya itu. “Kamu rencana mau kuliah di mana? Mau satu kota lagi sama Rora?

“Yaiyalahhhh! Ayah kayak gak tahu aja, Rora bakalan kangen aku kalau aku gak sekampus sama dia,” sahut Nando percaya diri, meski sebenarnya di balik kata-katanya itu ada alasan lain: ia memang sellau ingin dekat dengan Aurora.

“Halahhh! Bilang aja kamu yang mau dekat-dekat sama Roraaa! Kayak kami gak tahu aja kelakuan kamu Nando,” goda Bunda Maya sambil tertawa geli melihat tingkah anak laki-lakinya yang selalu diam-diam menyimpan perasaan itu.

“Iya tuh! Untung pas SMK Rora milih masuk kesehatan. Kalau enggak, bakal diintilin terus sama Nando, Bund,” timpal ayahnya.

Tawa kecil pun pecah di meja makan keluarga Sinclair.

“Tapi Ayah serius loh, Nando,” lanjut ayahnya sambil menatap Nando. “Kalau kamu mau sekota sama Rora, biar Ayah dan Bunda ngomong sama Papa dan Mamanya Rora soal tempat tinggal kalian berdua di sana.”

“Iyaaa, nanti Nando tanyain ke Rora,” jawab Nando sambil mengangguk mengerti, nada suaranya tetap tenang dan sabar.

Setelah selesai makan, orang tua Nando pamit berangkat kerja. Begitu orang tuanya pergi, Nando melangkah ke garasi, mengeluarkan sepeda motor sport hitamnya, dan bersiap menuju rumah Aurora.

Sementara itu di seberang jalan, di rumah keluarga Vallene, Aurora menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum setelah bertukar pesan dengan Nando. Hampir tidak ada hari yang ia lewati tanpa Nando. Cowok itu sudah jadi bagian penting dalam hidupnya, sampai-sampai Aurora kadang sulit membayangkan harinya tanpa dia. Tapi dengan sifatnya yang mandiri, Aurora tetap gak pernah mau merasa terlalu bergantung sama siapa pun, termasuk Nando.

Aurora bangkit dari tempat tidur, masih setengah sadar. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi dalam untuk membersihkan diri sesuai janjinya ke Nando.

Tiga puluh menit kemudian, Aurora turun ke lantai dasar dengan pakaian kasual namun tetap terkesan elegan: celana kulot warna krem dipadu kaus rajut lengan panjang broken white yang pas di tubuhnya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi, dengan sisa aromsampo vanilla yang masih tercium. Langkah kakinya tegas dan mantap.

Langkahnya membawanya ke ruang makan keluarga Vallene yang luas. Suasana hangat langsung menyambutnya. Di sana, papa dan mamanya sudah duduk di meja makan mahoni, menikmati sarapan sebelum beraktivitas.

“Selamat pagi, Ma, Papa,” sapa Aurora riang. Ia membungkuk sedikit, mengecup pipi mama dan papanya bergantian, llau duduk di kursi samping papanya.

“Selamat pagi, Sayang. Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?” tanya papanya, Hendra Vallene, pria paruh baya yang tetap terlihat karismatik dengan kemeja kerjanya. Ia adalah pemilik seklaigus pendiri PT Vallene Build Pratama, salah satu perusahan kontraktor dan konstruksi besar yang bergerak di bidang pembangunan rumah dan properti.

“Nyenyak bangett, Papa,” jawab Aurora sambil terkekeh. Tangannya mulai mengambil selembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai cokelat.

Sebelum Aurora menyuap rotinya, papa dan mamanya saling melempar senyum hangat. Papanya mengusap lembut kepala putri bungsu kesayangannyaitu dengan tatapan penuh bangga.

“Selamat atas kelulusannya ya, Putri Cantik Papa,” ucap Hendra dengan suara baritonnya yang hangat. “Papa bangga banget sama kamu. Tiga tahun berangkat pagi-pagi, PKL di rumah sakit sampai malam, dan sekarang kamu resmi lulus dengan nilai yang memuaskan.”

Mamanya, dr. Arini Vallene, Sp.A, ikut mengelus lengan Aurora, matanya berbinar penuh kasih sayang. Sebagai dokter spesialis anak yang juga pemilik RSIA Valora Medika, ia tahu betul beratnya perjuangan di dunia medis, jadi rasa bangganya ke Aurora terasa lebih dalam.

“Selamat ya, Sayangku… Mama bangga banget sama Aurora,” tambah Arini lembut. “Satu tahp menuju cita-citamu sudah terbuka lebar.”

“Makasih banyak ya, Papa, Mama…” sahut Aurora terharu, senyum lebar terukir manis di wajahnya. “Berkat dukungan Papa sama Mama, Rora bisa lulus lancar begini.”

“Nah, karena anak gadis Papa sudah lullus…” Hendra meletakkan cangkir kopinya dan menatap Aurora dengan senyum jahil. “Papa sama Mama mau tanya, Aurora mau hadiah kelulusan apa dari Papa dan Mama? Sebut saja, mau mobil baru, liburan ke luar negeri sebelum masuk kuliah, atau barang apa pun yang kamu mau? Nanti Papa siapkan.”

Aurora menggeleng pelan mendengar tawaran papanya, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Gak usah repot-repot, Pa. nanti aja kalau Rora butuh sesuatu.”

“Boleh, tapi jangan lama-lama mikirnya, ya. Kapan aja kamu butuh, bilang aja ke Papa,” kekeh Hendra.

Matanya kemudian mengedar ke sekeliling meja makan yang sepi. “Btw, Kak Iel mana, Ma? Kok gak sarapan bareng kita?”

“Kakakmu udah berangkat ke kampus dari jam tujuh pagi tadi, Rora,” sahut mamanya sambil menyodorkan segelas susu hangat ke Aurora. “Katanya ada janji bimbingan revisi skripsi sama dosen pembimbingnya. Kasihan, belakangan ini tidurnya makin sedikit.”

Aurora hanya manggut-manggut mendengar cerita soal kakaknya. Gabriel Zayden Vallene, yang akrab dipanggil Iel oleh keluarga dan Kak Iel oleh Aurora, saat ini ada di semester akhir jurusan Teknik Sipil. Sebagai anak sulung keluarga Vallene, ia disiapkan matang oleh papanya untuk melanjutkan dan memimpin bisnis kontraktor keluarganya kelak.

“Oh iya, Ma, Pa… Hari ini Aurora mau ke sekolah bareng Nando jam 10 nanti,” izin Aurora sambil menatap kedua orang tuanya bergantian. “Mau ngurus SKL buat berkas pendaftaran kuliah besok. Nanti dijemput Nando, terus habis itu Nando minta ditemenin balik ke sekolahnya juga. Boleh, Pa?”

Hendra terkekeh pelan, meletakkan cangkir kopinya ke tatakan porselen. “Boleh, Sayang. Kalau perginya sama Nando, Papa dan Mama gak pernah khawatir. Toh, kamu sama Nando udah tempel dari kecil kayak perangko.” Ia tersenyum kecil ke arah Aurora. “Oh iya, Rora… Kamu sama Nando rencananya mau kuliah di kampus yang sama lagi?”

Aurora mengunyah rotinya sejenak sebelum menjawab tanpa beban, “Gak tahu deh, Pa. katanya Nando mau ikut ke mana pun Rora daftar, tapi gak tahu juga. Anak itu kadang gak jelas pikirannya.”

"Lho, justru bagus kalau bisa satu kampus atau setidaknya satu kota lagi, Sayang,” potong mamanya. “Setidaknya Mama sama Papa gak terlalu cemas kalau kamu jauh dari rumah, apalagi ada Nando yang bisa jagain kamu 24 jam di sana.”

“Mama percaya banget sama Nando,” sahut Aurora datar. “Dia itu konyol. Kadang malah Rora yang jagain dia kalau fans-fansnya aneh-aneh.” Tapi di dalam hati, ia tahu keberadaan Nando memang selalu bikin dia merasa aman.

“Kamu ini, dibilangin orang tua malah bercanda,” tambah papanya sambil tersenyum geli. “Nanti coba kamu tanyakan lagi sama Nando, fix-nya dia mau ambil jurusan apa dan di mana. Kalau memang satu kota, kabarin Papa ya. Kemarin Ayah Reksa juga sempat singgung soal itu ke Papa.”

Aurora langsung menangkap arah pembicaraan itu, alisnya bertaut. Ia gak suka kalau hidupnya diatur-atur begitu saja. Ia meletakkan rotinya dan menatap papanya lugas.

“Soal tempat tinggal, Rora mau ngekos aja. Kayak Kak Iel dulu,” kata Aurora datar. “Gak usah disiapin apartemen atau rumah baru. Rora mau mandiri.”

Meski lahir dan dibesarkan di keluarga yang berada dan dihormati, papa mama Aurora sellau menanamkan nilai kesederhanaan dan kemandirian. Tapi Aurora paham betul, kalau sudah menyangkut dirinya sebagai anak bungsu, naluri protektif mereka bisa berlebihan.

Papa dan mamanya saling berpandangan sejenak, menahan senyum melihat wajah kalem tapi keras kepala dari putri mereka.

“Yaudah,” sahut Hendra akhirnya. “Boleh ngekos, tapi ada syaratnya.”

“Apa syaratnya, Pa?” tanya Aurora singkat.

“Syaratnya, kamu boleh ngekos kalau nanti tempat kuliahmu sekampus atau sekawasan sama Nando. Dan kamar kos kamu sama Nando harus bersebelahan atau di gedung yang sama. Baru Papa sama Mama bisa tenang,” tegas Hendra.

Aurora akhirnya mengangguk singkat, meski dalam hati ia sedikit keberatan diatur-atur begini. “Iya, iya…. Nanti Rora tanyain Nando mau kuliah di mana sebenarnya.”

Suasana meja makan kembali hening selama beberapa saat, hanya terdengar gemerincing halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

Seusai sarapan mamanya merapikan tas kerja. Sebagai dokter anak yang berdedikasi tinggi, ia selalu memprioritaskan pasien-pasien ciliknya. Meski jadi pemilik rumah sakit itu sendiri, ia lebih memilih turun tangan langsung melayani pasien di poliklinik daripada duduk diam di kursi manajerial.

“Mama pamit dulu ya, Sayang,” ucap mamanya sambil mengusap lembut rambut Aurora. “Udah lumayan antre pagi ini di sana. Nanti berangkatnya hati-hati, ya. Tolong bilangin ke Nando, bawa motornya jangan ngebut ngebut. Kebiasaan anak itu kalau bawa kendaraan suka bikin jantungan.”

“Siap, Ma. Nanti Rora jewer kalau dia ngebut,” jawab Aurora.

Hendra pun bangkit dari duduknya, mengenakan jas kerja dengan rapi. Sebagai pimpinan tertinggi perusahannya, jadwal rapatnya hari ini padat, termasuk mengevaluasi proyek pembangunan kawasan perumahan elit yang bekerja sama dengan perusahan milik Ayah Reksa, sahabat lamanya sendiri.

Hendra mendekati Aurora, lalu mengecup singkat keningnya. “Kabarin Papa kalau butuh apa-apa ya, Sayang. Soal hadiah kelulusan kamu, nnati malam kita bahas lagi bareng Kak Iel dan Mama.”

“Makasih, Pa. Hati-hati di jalan.”

Setelah kedua orang tuanya pergi kerja, Aurora melangkah ke ruang keluarga sambil menyalakan televisi buat ngisi waktu. Karena gak sabaran, sesekali matanya melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 09.00 WIB. Masih ada waktu satu jam sebelum Nando datang menjemput.

Baru sekitar lima belas menit Aurora nonton TV, suara mesin mobil terdengar masuk ke garasi, disusul suara pintu pagar otomatis yang berdecit pelan.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat dan lesu terdengar mendekat. Sosok laki-laki jangkung dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah digulung hingga siku masuk ke dalam ruang keluarga. Wajahnya yang tampan, mirip papanya, tapi lingkaran hitam di bawah matanya gak bisa disembunyikan.

“Loh, Rora? Tumben jam segini udah rapi?” sapa Kak Iel sambil menghempaskan tubuhnya yang tampak tak berdaya ke sofa, tepat di samping adiknya.

Aurora menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan geli sekaligus kasihan. “Iya, Kak. Hari ini Rora mau ke sekolah, ngurus SKL.” Ia memiringkan kepala, memperhatikan raut wajah kakaknya yang layu. “Giman bimbingan skripsinya tadi? Lancar atau ada kendala?”

Iel memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menghembuskan napas berat yang terdengar memelas. "Yahh... gitu deh, Ra. Revisi lagi di Bab 4 sama Bab 5! Dosen pembimbingnya koreksinya detail banget sampai ke rumus-rumus struktur betonnya. Beneran pengen nangis rasanya..."

Aurora menyenggol pelan lengan kakaknya. "Kasihan juga, calon bos muda begini." Ia menatap wajah Iel sejenak. "Istirahat gih ke kamar. Mukamu kayak kurang tidur tiga hari."

Kak Iel membuka sebelah matanya, menatap adiknya dengan senyum tipis. "Kamu berangkat sekolah naik apa nanti? Mau kuantar, atau bareng Pak Tresno?"

"Gak usah, Kak. Nando yang jemput jam 10. Lagi nunggu orangnya," jawab Aurora.

Mendengar nama Nando disebut, Kak Iel mengangguk paham. "Ya udah kalau sama Nando. Kakak mau naik ke kamar dulu, mau tidur sebentar. Kepala Kakak rasanya mau pecah." Ia bangkit dari sofa, lalu mengusap puncak kepala Aurora. "Selamat ya, Dik. Udah resmi lulus." Iel berhenti sejenak di tangga. "Btw, kamu mau hadiah apa dari Kakak? Tabungan hasil magang masih ada, nih."

Aurora menatap kakaknya. "Makasih, Kak. Soal hadiah, nanti Rora pikirin lagi." Ia mendorong pelan lengan Kak Iel. "Udah, sana tidur."

"Dasar pemeras," kekeh Kak Iel sebelum akhirnya melangkah naik menuju kamarnya di lantai dua dengan tubuh yang tampak amat lelah.

Setelah Kak Iel naik ke kamar, rumah kembali hening. Aurora kembali fokus ke layar televisi yang menayangkan acara musik pagi. Tapi rasa kantuk sisa bangun kepagian tadi mendadak menyerang lagi. Hembusan angin AC dan empuknya sofa bikin matanya makin berat. Tanpa sadar, ia tertidur di sana.

Suara raungan halus dari mesin sepeda motor sport bervolume besar bergema di halaman luar rumah keluarga Vallene tepat ketika jarum jam menunjuk ke angka 09.25 WIB.

Nando mematikan mesin motor Kawasaki Ninja hitamnya. Ia melepas helm full face, menyibak rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jari-jari tangan. Ia tampil menarik pagi ini: kaus polos hitam dibalut jaket denim light blue, dipadukan celana jins hitam dan sepatu sneakers bersih. Aura maskulinnya tetap terpancar kuat, sisa-sisa pesona yang bikin dia jadi incaran banyak orang semasa SMA dulu.

Tanpa perlu mengetuk pintu, Nando berjalan santai memasuki rumah keluarga Vallene. Bagi Nando, rumah ini sudah seperti rumah keduanya sendiri. Para asisten rumah tangga yang berpapasan dengannya di lorong depan hanya tersenyum dan menyapa ramah tanpa rasa canggung.

"Den Nando, Non Aurora ada di ruang keluarga tuh," bisik Mbak Asih.

"Siap, Mbak. Terima kasih," jawab Nando ramah, senyumnya hangat seperti biasa.

Nando melangkah pelan menuju ruang keluarga. Matanya langsung tertuju pada sosok gadis yang tengah berbaring meringkuk di sofa. Aurora tertidur lelap dengan posisi salah satu tangannya memeluk bantal sofa, sementara napasnya teratur dan halus.

Nando menghentikan langkahnya. Bibirnya mengukir senyum tipis yang hangat. Pandangan matanya melembut, tatapan yang gak pernah ia perlihatkan ke siapa pun selain gadis itu. Sejak dulu, cuma Aurora yang bisa bikin dia begini.

Nando berjalan tanpa suara mendekati sofa. Ia berlutut di sampingnya, menyejajarkan posisi dengan wajah Aurora yang tertidur. Ditatapnya lekat-lekat paras gadis di hadapannya itu: bulu matanya yang lentik, hidungnya yang bangir, serta bibir alaminya yang sedikit terbuka.

"Kebiasaan banget... Dasar kebo," bisik Nando pelan, penuh sayang.

Tangan Nando terulur secara impulsif, menyelipkan sehelai rambut Aurora yang menutupi sebagian wajah gadis itu ke belakang telinganya. Sentuhan halus kulit jemari Nando yang hangat ternyata cukup untuk mengusik tidur lelap Aurora.

Bulu mata Aurora bergetar pelan sebelum matanya terbuka. Ia sedikit tersentak saat sadar ada wajah yang begitu dekat dengannya, sepasang mata cokelat gelap milik Nando, hanya berjarak belasan sentimeter dari wajahnya.

"Eh." Aurora langsung duduk, mengusap matanya yang masih berat. "Sejak kapan kamu di situ?"

Nando tertawa lepas, lalu berdiri santai sambil bersedekap. "Sejak negara api menyerang! Lagian kamu ini gimana sih, disuruh siap-siap malah molor di sofa. Untung aku yang masuk, kalau maling gimana?"

Aurora merapikan kaus dan rambutnya yang sedikit kusut. “Aku nungguin kamu,” katanya. “Lagian kepagian banget sih.”

Nando melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Pagi dari mananya, Rora sayang? Ini udah jam 10.00 pas! Tepat waktu sesuai janji kan?"

Aurora mendongak, melirik jam dinding yang memang sudah menunjukkan angka sepuluh tepat. Ia mengangkat bahu. "Ya udah, ayo berangkat sebelum sekolah makin ramai."

"Tunggu dulu," cegat Nando saat Aurora hendak berdiri. Ia menatap wajah Aurora teliti dari atas ke bawah. "Kamu belum dandan, kan? Bedaknya blepotan gitu abis bangun tidur."

Aurora refleks memegang kedua pipinya. “Masa sih?”

Nando tertawa lagi, puas berhasil mengerjai sahabatnya itu. Tangannya terulur, mengacak pelan rambut Aurora dengan gemas. “Bercanda! Kamu gak dandan juga udah cantik kok. Udah, ayo! Nanti keburu siang dan panas.”

Aurora mendelik ke arah Nando, memukul pelan lengannya. “Dasar jahat. Tunggu, aku ambil tas dulu.”

Aurora segera berlari kecil masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ia kembali dengan tas yang sudah tersampir di bahunya.

“Nih, udah. Ayo berangkat.”

Nando yang sejak tadi menunggu hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia mengambil sebuah helm dari jok motor, lalu menyerahkannya kepada Aurora.

“Pakai dulu.”

Aurora menerima helm itu sambil menatap Nando dengan wajah kesal. “Kamu sendiri?”

“Helm aku udah ada.”

“Cih. Mentang-mentang yang bawa motor.”

“Banyak protes. Sini, aku pasangin.”

“Gak usah. Aku bisa sendiri.”

“Ya udah, pakai sendiri.”

Aurora mendengus pelan sebelum memasang helmnya. Setelah memastikan tali pengaitnya terpasang dengan benar, ia naik ke jok belakang.

“Nando.”

“Hm?”

“Jangan ngebut.”

“Takut?”

“Bukan takut. Aku cuma gak mau mati muda gara-gara kamu.”

Nando terkekeh. “Tenang aja, Rora. Aku gak bakal bikin kamu kenapa-kenapa.”

“Janji?”

“Janji.”

Aurora terdiam sejenak, lalu memegang erat sisi jok sebelum akhinya menggeleng.

“Ya udah. Berangkat.”

Nando menyalakan mesin motornya dan mulai melajukan kendaraan meninggalkan halaman rumah.

Perjalanan menuju sekolah Aurora ditempuh dalam waktu 15 menit menggunakan motor. Aurora duduk di belakang, memegang erat pinggang Nando saat cowok itu membelah jalanan kota yang cukup padat.

Nando menghentikan motornya di halaman depan sekolah Aurora. Kedatangan motor Ninja hitam itu tak pelak menyedot perhatian banyak pasang mata. Terutama ketika Nando melepas helmnya, lalu dengan telaten membantu melepas tali helm yang tersangkut di dagu Aurora.

Begitu memasuki area sekolah, suasana tampak sangat ramai. Puluhan siswa-siswi kelas XII berkumpul di koridor dan depan ruang tata usaha untuk mengurus berkas SKL, sambil ngobrol santai menikmati hari-hari terakhir mereka di sekolah.

"Nando, semua orang ngeliatin kita," kata Aurora, tanpa peduli beberapa siswi menatap ke arah mereka dengan penasaran.

"Biarin aja. Kan emang ganteng temannya," sahut Nando santai, tangannya alami merangkul bahu Aurora, menuntun gadis itu berjalan melewati koridor sekolah menuju ruang Tata Usaha. "Udah, makin cepet kamu urus SKL-nya, makin cepet kita bisa jajan boba."

Di ruang Tata Usaha, proses legalisir dan pengambilan SKL berjalan cukup lancar. Guru-guru serta staf sekolah mengenal Aurora sebagai salah satu murid berprestasi di jurusan Keperawatan dengan nilai akademik yang sangat memuaskan.

"Selamat ya, Aurora. Kamu selalu jadi kebanggaan sekolah," puji Pak Bambang, kepala TU, sembari menyerahkan amplop berisi dokumen resmi kelulusan Aurora. "Rencananya mau melanjutkan kuliah di mana?"

Aurora menjawab tegas, "Terima kasih banyak, Pak Bambang. Rencananya Aurora mau ambil jurusan Penata Anestesi, Pak."

Nando yang berdiri di samping Aurora menoleh sejenak mendengar pilihan jurusan itu. Ada rasa bangga yang jelas kelihatan di wajahnya, meski ia cuma diam.

Setelah seluruh urusan administrasi di sekolahnya selesai, kini giliran Aurora yang harus memenuhi janjinya: menemani Nando ke sekolahnya, yang terkenal sebagai salah satu sekolah favorit di kota itu.

Begitu motor Nando memasuki gerbang besi sekolah itu yang megah, atmosfernya terasa sangat berbeda dari sekolah Aurora. Area parkirnya dipenuhi ratusan kendaraan, dan koridor dipadati murid-murid berseragam putih-abu yang saling berpelukan, berfoto bersama, dan mencoret-coret seragam dengan cat semprot sebagai tradisi perayaan kelulusan.

Baru saja Nando memarkirkan motornya di bawah pohon rindang, beberapa siswi SMA dengan riasan modis langsung berbisik-bisik dan mengarahkan pandangan mereka ke arah Nando.

"Eh, lihat deh! Itu Fernando!"

"Ganteng banget anjir... Tapi tunggu, cewek yang diboncengnya siapa?"

"Itu kan cewek SMK yang katanya temen deket Nando dari kecil!"

Aurora mendengar bisik-bisik itu, tapi gak peduli. Ia cuma menatap Nando yang sedang merapikan jaketnya.

"Kan... apa aku bilang. Beneran dijadiin tumbal dan tameng di sini," gumam Aurora pelan.

Nando tertawa pelan, suaranya mengalun lembut menenangkan. Tanpa rasa canggung, ia meraih pergelangan tangan Aurora dan menggenggam jemarinya erat, di hadapan puluhan pasang mata yang memperhatikan mereka.

"Biarin aja, Rora. Mending pegangan yang kuat biar kamu gak hilang diculik Nandoholic," kelakar Nando santai sambil menarik lembut tangan Aurora, mengajaknya berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju ruang panitia kelulusan.

Sentuhan tangan Nando yang hangat membuat jantung Aurora berdetak sedikit lebih cepat. Tapi ia gak terlalu memikirkannya—toh Nando memang udah begini sejak kecil, selalu nempel dan perhatian. Baginya itu hal biasa. Sementara bagi Nando sendiri, ia cuma menikmati setiap detik genggaman itu, tanpa berani melangkah lebih jauh karena takut merusak pertemanan mereka.

Proses pengambilan SKL milik Nando berlangsung relatif cepat, karena ia salah satu murid yang berkasnya sudah disiapkan khusus oleh wali kelasnya. Namun, tantangan sebenarnya baru terjadi saat mereka hendak berjalan kembali menuju area parkiran motor.

Di tengah lapangan basket, langkah mereka terhenti ketika seorang siswi berparas jelita dengan rambut bergelombang sebahu tiba-tiba mencegat jalan mereka. Gadis itu adalah Clarissa, salah satu siswi paling populer di sekolah itu yang dikenal terang-terangan menyukai Fernando sejak kelas X.

"Fernando!" panggil Clarissa dengan suara agak manja. Matanya melirik sinis ke arah genggaman tangan Nando dan Aurora, sebelum kembali menatap wajahnya. "Selamat atas kelulusannya ya! Oh iya, nanti malam anak-anak angkatan mau bikin prom party dan makan malam kelulusan di restoran. Lo datang kan? Gue mau ngajak lo jalan bareng..."

Nando menghentikan langkahnya, genggaman tangannya pada jemari Aurora gak sedikit pun mengendur. Wajah hangat yang tadi ditunjukkannya pada Aurora langsung berubah dingin saat menoleh ke Clarissa.

"Makasih," jawab Nando datar, tanpa basa-basi. "Tapi gue gak bisa datang nanti malam. Udah ada acara sama keluarga dan Rora."

Clarissa merengut kecewa. Matanya menatap Aurora dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang kurang bersahabat. "Lo selalu aja ngeduluin dia, Fernando. Padahal ini kan momen perpisahan angkatan kita."

Aurora memperhatikan situasi di depannya tanpa ekspresi berlebih, lalu mencoba menarik pelan tangannya dari genggaman Nando. "Kalau kamu mau ikut acara sekolahmu, gak apa-apa. Aku bisa—"

"Gak," potong Nando cepat, nadanya dingin tanpa basa-basi. Ia justru mempererat genggaman tangannya pada jemari Aurora, menolak melepaskannya. Ditatapnya Clarissa dengan senyum tipis yang terkesan menjaga jarak. "Maaf ya, Cla. Janji gue sama Rora jauh lebih penting dari acara party manapun. Kami duluan."

Tanpa menunggu balasan dari Clarissa yang membeku menahan malu dan kekesalan, Nando langsung menuntun Aurora berjalan melangkah melewatinya begitu saja menuju area parkiran.

Begitu mereka tiba di samping motor Nando, Aurora yang gak suka basa-basi langsung bersuara.

Begitu mereka tiba di samping motor Nando, Aurora langsung bersuara. "Kayak gitu terus setiap hari? Capek gak sih diributin orang kayak tadi."

Nando mengenakan helmnya, lalu menatap Aurora dengan sabar. Ia tersenyum tipis. "Namanya juga udah biasa, Rora. Kamu aja yang jarang liat soalnya."

"Terserah," sahut Aurora singkat, naik ke jok belakang. "Cepetan jalan, kelamaan di sini."

Nando hanya tertawa pelan, geli melihat sikap bossy Aurora. "Iya, iya, Bos."

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.