Bab 1
BAB 1
Sepuluh Hari yang Tidak Pernah Direncanakan
Hari 1–10
Hari 1 — Nama yang Baru Kudengar
Pagi itu tidak ada sesuatu yang istimewa.
Langit terlihat cukup cerah, meskipun beberapa awan mulai berkumpul di antara cahaya matahari. Seperti biasanya, halaman sekolah sudah dipenuhi siswa yang datang silih berganti. Ada yang berjalan bersama teman-temannya, ada yang sibuk membeli sarapan di kantin, dan ada pula yang masih berdiri di depan kelas sambil membicarakan sesuatu.
Aku datang sekitar lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi.
Namaku James. Saat itu aku duduk di bangku kelas 9 SMP. Sebuah masa ketika sebagian besar siswa mulai sibuk memikirkan ujian, kelulusan, dan sekolah lanjutan.
Namun, berbeda dengan beberapa temanku yang sudah mulai memikirkan masa depan, pikiranku pagi itu masih sederhana. Aku hanya ingin menjalani hari seperti biasanya.
Sesampainya di kelas, aku meletakkan tas di atas meja, mengeluarkan buku, lalu duduk sambil memainkan ponsel.
"James!"
Aku menoleh. Salah satu temanku memanggil dari bangku belakang.
"Apa?"
"PR matematika udah?"
"Udah."
"Serius?"
"Enggak."
"Anjir, kirain."
Aku tertawa melihat ekspresinya. Memang begitulah suasana kelas kami hampir setiap pagi. Selalu ada saja hal yang dijadikan bahan bercandaan.
Beberapa menit kemudian, guru mata pelajaran masuk ke kelas. Setelah mengucapkan salam dan memeriksa kehadiran, beliau mulai menjelaskan materi.
Tidak lama kemudian, beliau memberikan tugas kelompok.
"Untuk tugas kali ini, Ibu sudah menentukan kelompoknya. Silakan kalian bergabung dengan anggota masing-masing."
Satu per satu nama mulai dibacakan.
Aku hanya mendengarkan sambil sesekali melihat teman-teman yang mulai berpindah tempat.
Sampai akhirnya namaku disebut.
"James, kamu satu kelompok dengan ... Marsha."
Aku sempat mengangkat kepala ketika mendengar nama itu.
Marsha.
Sebenarnya aku sudah beberapa kali melihatnya di kelas. Kami memang satu angkatan dan berada di ruangan yang sama, tetapi belum pernah benar-benar berbicara.
Tidak ada alasan khusus. Kami hanya belum memiliki kesempatan untuk saling mengenal.
Beberapa saat kemudian, Marsha datang membawa buku dan duduk bersama kelompok kami.
"Ini kelompoknya di sini, kan?" tanyanya.
"Iya, sini aja," jawab salah satu temanku.
Marsha kemudian duduk tidak jauh dariku.
Kami mulai membaca instruksi tugas yang diberikan guru. Awalnya suasana cukup canggung karena masing-masing masih sibuk memahami materi.
"Ini jawabannya gimana, ya?" tanya Marsha sambil menunjuk bagian soal.
Aku melirik buku yang dipegangnya.
"Kayaknya harus baca bagian sebelumnya dulu."
"Udah, tapi masih nggak ngerti."
"Berarti bukan soalnya yang susah."
"Lah, terus?"
"Kita yang kurang pintar."
Marsha tertawa kecil.
"Ya ampun, malah begitu."
Aku ikut tertawa.
Percakapan itu sederhana. Bahkan mungkin tidak akan diingat oleh siapa pun setelah beberapa hari berlalu.
Namun, hari itu menjadi awal dari sebuah perkenalan yang tidak pernah aku rencanakan.
Setelah tugas selesai, kami kembali ke tempat duduk masing-masing. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pertukaran nomor telepon, dan tidak ada sesuatu yang membuatku berpikir lebih jauh.
Bagiku, Marsha hanyalah teman sekelas yang kebetulan satu kelompok denganku.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan saat itu.
Hari 2 — Percakapan Kecil
Hari kedua berjalan seperti biasanya.
Aku tiba di sekolah, menyapa beberapa teman, lalu duduk di bangku sambil menunggu pelajaran dimulai.
Ketika sedang membuka buku, seseorang tiba-tiba memanggil namaku.
"James."
Aku menoleh.
Ternyata Marsha.
"Kenapa?"
"Kemarin tugas kelompoknya dikumpulin hari ini, kan?"
Aku mencoba mengingat.
"Iya, kayaknya."
"Udah kamu bawa?"
"Belum."
Marsha langsung menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Hah? Terus gimana?"
Aku tertawa.
"Bercanda. Udah."
"Ih, kirain beneran."
"Makanya jangan gampang percaya."
Marsha menggeleng sambil tersenyum, kemudian kembali ke tempat duduknya.
Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik. Akan tetapi, aku mulai menyadari bahwa berbicara dengannya ternyata tidak secanggung yang kubayangkan.
Saat jam istirahat, aku sedang duduk bersama teman-temanku ketika Marsha melewati meja kami.
Salah satu temanku memanggilnya.
"Sha, sini!"
Marsha menghampiri kami.
"Apaan?"
"Udah makan?"
"Belum."
"Yaudah, bareng aja."
Akhirnya kami pergi ke kantin bersama beberapa teman lainnya.
Sepanjang perjalanan, pembicaraan kami dipenuhi candaan. Ada yang membicarakan guru, ada yang membahas tugas, dan ada pula yang sibuk meledek satu sama lain.
Marsha beberapa kali ikut tertawa.
Aku tidak terlalu banyak berbicara dengannya hari itu. Namun, setidaknya kami sudah mulai saling mengenal.
Sepulang sekolah, aku tidak terlalu memikirkan kejadian tersebut.
Hari kedua berakhir tanpa sesuatu yang istimewa.
Hari 3 — Satu Kelompok, Banyak Candaan
Pagi itu guru kembali memberikan tugas lanjutan.
Seperti sebelumnya, kami diminta mengerjakannya bersama kelompok masing-masing.
Aku mengambil buku dari dalam tas, lalu menghampiri teman-teman satu kelompok.
Marsha sudah duduk lebih dahulu.
"James, sini. Kita kerjain sekarang."
Aku menarik kursi.
"Rajin banget."
"Daripada nanti nggak selesai."
"Tenang, masih ada waktu."
"Kalau kamu yang ngomong, aku malah nggak tenang."
Aku tertawa mendengar jawabannya.
Kami mulai membagi tugas. Marsha bertanggung jawab mencari beberapa informasi, sementara aku menulis hasil diskusi di buku.
Sesekali kami berbeda pendapat mengenai jawaban.
"Ini kayaknya salah," kata Marsha.
"Menurutku benar."
"Coba baca lagi."
Aku membaca ulang soal tersebut.
Beberapa detik kemudian, aku menyadari bahwa jawabanku memang keliru.
"Oh, iya juga."
Marsha tersenyum puas.
"Tuh, kan."
"Jangan senang dulu. Sekali benar bukan berarti selamanya benar."
"Setidaknya aku benar hari ini."
Percakapan itu membuat anggota kelompok lainnya ikut tertawa.
Waktu terasa berjalan lebih cepat ketika kami mengerjakan tugas bersama.
Tanpa terasa bel istirahat berbunyi. Kami memutuskan untuk menyelesaikan sisanya setelah kembali ke kelas.
Hari itu aku mulai mengetahui bahwa Marsha termasuk orang yang cukup menyenangkan ketika diajak bekerja sama.
Ia bisa serius ketika mengerjakan sesuatu, tetapi tidak pernah kehilangan kesempatan untuk bercanda.
Dan sepertinya, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Hari 4 — Kebiasaan Saling Meledek
Hari keempat dimulai dengan suasana kelas yang cukup ramai.
Beberapa siswa belum mengeluarkan buku, sementara yang lainnya masih sibuk mengobrol.
Aku sedang berbicara dengan temanku ketika Marsha tiba-tiba menghampiri meja.
"James, pinjam pulpen."
Aku mengambil sebuah pulpen dari kotak pensil dan memberikannya.
"Nih."
Marsha menerimanya.
"Makasih."
"Jangan dibawa pulang."
"Emang aku mau nyolong?"
"Mana tahu."
Marsha tertawa lalu kembali ke tempat duduknya.
Beberapa menit kemudian, ia mengembalikan pulpen tersebut.
"Ini."
Aku menerimanya.
"Wah, masih ingat."
"Iya, cerewet."
Aku hanya tertawa.
Entah sejak kapan percakapan sederhana seperti itu mulai terasa biasa bagi kami.
Tidak ada lagi kecanggungan seperti hari pertama.
Kami mulai bisa saling meledek tanpa perlu memikirkan kata-kata yang harus diucapkan.
Saat pelajaran berlangsung, aku beberapa kali melihat Marsha sedang mencatat materi. Sesekali ia terlihat berbicara pelan dengan teman sebangkunya.
Aku tidak terlalu memedulikannya.
Saat itu, aku belum memiliki alasan untuk memperhatikan seseorang lebih lama dari biasanya.
Hari 5 — Kantin dan Cerita Sederhana
Hari kelima merupakan hari yang cukup melelahkan.
Sejak pagi, beberapa mata pelajaran memberikan tugas yang harus diselesaikan. Bahkan sebelum jam istirahat, sebagian besar siswa sudah mulai mengeluh karena terlalu banyak pekerjaan.
Ketika bel berbunyi, aku langsung berdiri.
"Ke kantin, nggak?" tanya temanku.
"Ayo."
Kami berjalan keluar kelas. Di dekat pintu, aku melihat Marsha sedang berbicara dengan dua orang temannya.
Salah satu dari mereka kemudian mengajak kami pergi bersama.
Akhirnya, kami berjalan beriringan menuju kantin.
Kantin cukup ramai. Beberapa meja sudah dipenuhi siswa yang sedang makan. Suara percakapan bercampur dengan bunyi piring dan penjual yang memanggil pembeli.
Aku membeli minuman dan duduk bersama teman-teman.
Marsha duduk tidak jauh dariku.
"Kalian tadi pelajaran apa?" tanyanya.
"Matematika," jawab temanku.
"Udah selesai tugasnya?"
"Belum. James yang belum selesai."
Aku langsung menoleh.
"Lah, kok aku?"
Marsha tertawa.
"Memang kamu belum selesai?"
"Udah, kali."
"Yakin?"
"Yakin."
Kami kembali tertawa.
Setelah beberapa menit, pembicaraan mulai beralih ke hal-hal lain. Kami membahas makanan kesukaan, kebiasaan teman-teman, dan beberapa kejadian lucu yang pernah terjadi di sekolah.
Aku mulai mengetahui bahwa Marsha cukup suka bercanda.
Ia juga mudah tertawa ketika mendengar sesuatu yang menurutnya lucu.
Hari itu kami tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Kami hanya makan, mengobrol, lalu kembali ke kelas ketika bel masuk berbunyi.
Namun, ada satu hal yang mulai berubah.
Aku mulai tidak keberatan jika harus menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
Hari 6 — Sapaan yang Mulai Terbiasa
Pagi itu aku datang sedikit lebih awal.
Kelas masih belum terlalu ramai. Beberapa siswa baru mulai berdatangan.
Aku sedang duduk ketika Marsha masuk.
Seperti biasa, ia meletakkan tas di bangkunya sebelum menghampiri beberapa teman.
Saat melewati mejaku, ia menyapa.
"Pagi, James."
Aku mengangkat kepala.
"Pagi."
Hanya dua kata.
Namun, aku membalasnya tanpa berpikir panjang.
Beberapa waktu kemudian, guru belum juga datang. Suasana kelas mulai ramai karena sebagian siswa memanfaatkan waktu untuk mengobrol.
Marsha sedang berbicara dengan temannya ketika tiba-tiba ia menoleh ke arahku.
"James, kamu udah ngerjain tugas?"
"Tugas apa?"
"Yang kemarin."
"Udah."
"Boleh lihat?"
Aku menyerahkan buku kepadanya.
Marsha membuka halaman yang dimaksud dan mulai memperhatikan jawabannya.
"Ini nomor tiga gimana caranya?"
Aku menjelaskan sebisaku.
Setelah beberapa saat, ia mengangguk.
"Ohh, paham."
"Gampang, kan?"
"Iya, kalau dijelasin."
"Berarti gurunya kurang jelas."
Marsha tertawa.
Percakapan kami berlanjut sampai guru akhirnya masuk.
Aku kembali menghadap papan tulis.
Hari itu tidak ada kejadian besar. Namun, aku mulai terbiasa mendengar suaranya memanggil namaku.
Dan tanpa kusadari, sapaan sederhana mulai menjadi bagian dari rutinitas sekolahku.
Hari 7 — Bantuan Kecil
Hari ketujuh menjadi salah satu hari ketika aku dan Marsha cukup banyak berinteraksi.
Saat pelajaran berlangsung, guru memberikan latihan soal yang harus dikerjakan secara individu.
Aku sedang menyelesaikan beberapa nomor ketika Marsha terlihat kebingungan.
Ia beberapa kali menghapus jawabannya, kemudian kembali membaca soal.
"James," panggilnya pelan.
Aku menoleh.
"Kenapa?"
"Nomor lima kamu udah?"
"Udah."
"Gimana jawabannya?"
Aku menunjukkan langkah pengerjaannya tanpa memberikan jawaban begitu saja.
Marsha memperhatikan dengan saksama.
"Oh, jadi begitu?"
"Iya."
"Oke, makasih."
Aku mengangguk lalu kembali mengerjakan soal.
Ketika jam pelajaran berakhir, Marsha kembali menghampiriku.
"Eh, tadi makasih, ya."
"Santai."
"Untung kamu ngerti."
"Ya iyalah."
Marsha tertawa.
Setelah itu, kami kembali melakukan aktivitas masing-masing.
Bagiku, membantu teman bukan sesuatu yang istimewa. Aku juga sering membantu teman-teman lainnya.
Namun, aku mulai menyadari bahwa interaksi kecil seperti ini membuat kami semakin mudah berkomunikasi.
Hari 8 — Candaan yang Tidak Ada Habisnya
Hari kedelapan berlangsung cukup menyenangkan.
Sejak pagi, suasana kelas dipenuhi candaan. Bahkan beberapa kali guru harus mengingatkan siswa agar tidak terlalu berisik.
Aku sendiri sedang bercanda dengan teman ketika Marsha ikut bergabung.
Entah bagaimana, pembicaraan kami berubah menjadi saling meledek.
"James, kamu tuh kalau ngomong suka asal," kata Marsha.
"Emang kenapa?"
"Ya asal aja."
"Berarti aku berbakat."
"Bakat bikin orang kesel."
Aku tertawa.
"Setidaknya aku menghibur."
Marsha menggeleng sambil tersenyum.
Teman-teman di sekitar kami ikut tertawa.
Tidak ada yang benar-benar serius dari perkataan tersebut.
Kami hanya menikmati suasana kelas seperti anak-anak SMP pada umumnya.
Ketika bel istirahat berbunyi, kami kembali berkumpul bersama teman-teman lainnya.
Hari itu aku merasa suasana kelas menjadi lebih menyenangkan.
Dan Marsha menjadi salah satu orang yang ikut menciptakan suasana tersebut.
Hari 9 — Hal-Hal Kecil yang Mulai Diingat
Hari kesembilan berjalan sedikit berbeda.
Aku mulai menyadari beberapa kebiasaan Marsha yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan.
Ia sering datang ke kelas sambil membawa minuman.
Ia juga punya kebiasaan bertanya kepada teman-temannya ketika tidak memahami tugas.
Selain itu, ia cukup sering tertawa ketika mendengar candaan sederhana.
Hal-hal kecil seperti itu perlahan mulai kuketahui.
Saat jam istirahat, kami kembali mengobrol bersama teman-teman.
Marsha bercerita mengenai sesuatu yang terjadi sebelum berangkat sekolah.
Aku mendengarkan sambil sesekali menanggapi.
"Terus akhirnya gimana?" tanyaku.
"Ya akhirnya selesai."
"Lah, kirain ada lanjutannya."
"Emang kamu mau dengar sampai kapan?"
"Ya sampai tamat."
Marsha tertawa.
Percakapan itu kemudian berlanjut dengan topik lain.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi mendengarkan ceritanya terasa menyenangkan.
Mungkin karena kami mulai terbiasa berbicara.
Atau mungkin karena aku memang mulai menyukai suasana ketika berada di dekatnya.
Namun, aku belum ingin memikirkan hal itu terlalu jauh.
Hari 10 — Sepuluh Hari Pertama
Sepuluh hari telah berlalu sejak pertama kali aku benar-benar berbicara dengan Marsha.
Jika dipikirkan kembali, tidak ada sesuatu yang luar biasa dari sepuluh hari tersebut.
Kami hanya bertemu di kelas, mengerjakan tugas, bercanda, saling menyapa, dan sesekali menghabiskan waktu bersama teman-teman.
Tidak ada janji untuk selalu bersama.
Tidak ada percakapan tentang perasaan.
Bahkan, aku belum pernah berpikir untuk menjadikannya seseorang yang lebih dari sekadar teman.
Namun, ada satu hal yang mulai kusadari.
Aku sudah tidak merasa asing ketika mendengar namanya.
Ketika ia datang ke kelas, aku tidak lagi merasa bahwa ia hanya salah satu dari sekian banyak teman seangkatan.
Kami memang belum terlalu dekat, tetapi setidaknya sudah mulai mengenal satu sama lain.
Sore itu, setelah pulang sekolah, aku meletakkan tas di kamar dan beristirahat.
Ponselku tergeletak di samping bantal.
Aku membukanya sebentar, memeriksa beberapa pesan, lalu kembali meletakkannya.
Belum ada percakapan khusus dengan Marsha.
Dan memang belum ada alasan bagiku untuk menunggunya.
Aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, nama yang sekarang hanya menjadi bagian dari daftar teman sekelas akan menjadi nama yang paling sering muncul dalam pikiranku.
Aku juga belum tahu bahwa sepuluh hari sederhana ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang akan kuingat jauh lebih lama daripada yang pernah kubayangkan.
Hari kesepuluh selesai.
Dan aku masih belum tahu bahwa seseorang bisa menjadi begitu berarti, hanya karena terbiasa hadir dalam hari-hari kita.







