Bab 1: KAKI YANG MELUPAKAN CARA BERJALAN

12 menit baca•2.5rb kata

PROLOG

Manusia yang Kembali lemah

 

Katanya, manusia dilahirkan dalam keadaan lemah.

Kita bahkan tidak mampu membuka mata tanpa bantuan orang lain. Kita tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, bahkan tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup.

Lalu, perlahan, kita tumbuh.

Kita belajar berdiri setelah berkali-kali terjatuh. Kita belajar berjalan meskipun langkah pertama kita selalu diikuti tangisan. Kita belajar berlari, mengejar sesuatu yang kita inginkan, dan meyakini bahwa suatu hari nanti, kita akan menjadi cukup kuat untuk menghadapi dunia.

Namun, tidak ada yang pernah memberi tahu bahwa manusia bisa kembali menjadi lemah.

Bahwa kaki yang dahulu membawanya berlari mengejar matahari suatu hari bisa berhenti bergerak.

Bahwa tangan yang dahulu digunakan untuk menggenggam mimpi bisa berakhir hanya mampu menggenggam harapan.

Dan bahwa seseorang yang dahulu merasa mampu melakukan apa pun, suatu hari bisa menangis hanya karena tidak sanggup bangkit dari tempat tidurnya sendiri.

Namaku Alana.

Dulu, aku suka berlari.

Aku suka hujan, suka mendaki bukit kecil di belakang rumah, dan suka membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan pergi ke tempat-tempat yang hanya bisa kulihat melalui layar ponselku.

Aku memiliki begitu banyak rencana untuk masa depan.

Sampai suatu kecelakaan mengambil sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari begitu berharga.

Kemampuanku untuk berjalan.

Sejak hari itu, dunia tidak benar-benar berubah. Matahari masih terbit dari arah yang sama. Orang-orang masih berangkat bekerja. Anak-anak masih tertawa ketika bel sekolah berbunyi.

Hanya saja, aku tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan yang dahulu kukenal.

Aku menyaksikan semuanya dari balik jendela.

Mendengar tawa orang-orang dari kejauhan.

Melihat teman-temanku tumbuh, melanjutkan sekolah, jatuh cinta, dan mengejar cita-cita mereka.

Sementara aku masih berada di tempat yang sama.

Kadang-kadang, aku bertanya-tanya apakah hidup memang sebercanda itu.

Kita menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar menjadi kuat, tetapi ternyata hanya membutuhkan satu kejadian untuk membuat kita merasa kehilangan segalanya.

Malam itu, di hadapan jendela kamar yang terbuka, aku memandang kedua kakiku.

Kaki yang dahulu membawaku berlari.

Kaki yang dahulu membuatku percaya bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang terlalu jauh untuk kudatangi.

Sekarang, keduanya hanya diam.

Aku tersenyum kecil, meskipun air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

"Manusia itu aneh, ya?"

Suaraku terdengar begitu asing di kamar yang sunyi.

"Awalnya lemah. Lalu tumbuh menjadi kuat. Belajar berdiri, belajar berlari, belajar menghadapi dunia."

Aku menarik napas yang terasa berat.

"Lalu, setelah semuanya berhasil kita lakukan, kenapa kita harus kembali menjadi lemah?"

Tidak ada jawaban.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.

"Aku juga pernah kuat."

Dahulu, aku tidak takut menghadapi masa depan. Aku tidak takut gagal. Aku bahkan tidak takut kehilangan, karena kupikir selama aku masih bisa berdiri, aku akan selalu mampu memperbaiki semuanya.

"Tapi sekarang, bahkan untuk melakukan hal-hal sederhana, aku harus meminta bantuan orang lain."

Air mataku semakin deras.

"Apa salahku?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

"Apa aku pernah meminta kehidupan seperti ini? Apa aku pernah meminta agar semua mimpiku berhenti sebelum sempat menjadi kenyataan?"

Aku menggeleng pelan.

"Kalau hidup memang tentang belajar menjadi kuat, lalu kenapa aku harus belajar menjadi kuat dari sesuatu yang menghancurkanku?"

Aku ingin marah.

Kepada dunia, kepada takdir, bahkan kepada diriku sendiri.

Namun, pada akhirnya, aku hanya bisa menangis.

Karena tidak peduli seberapa keras aku membenci keadaan ini, pagi tetap akan datang.

Dan ketika pagi tiba, aku masih harus membuka mata sebagai Alana.

Seorang perempuan berusia tujuh belas tahun yang memiliki begitu banyak impian, tetapi tidak lagi tahu bagaimana cara mengejarnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menjadi kuat.

Aku hanya ingin seseorang mengerti bahwa aku lelah.

Bahwa aku tidak selalu membutuhkan nasihat tentang kesabaran.

Bahwa aku tidak selalu ingin mendengar kalimat, "Kamu pasti bisa melewati semuanya."

Karena bagaimana jika aku tidak bisa?

Bagaimana jika aku benar-benar lelah?

Bagaimana jika, di balik semua senyum yang kupaksakan, ada seorang perempuan yang masih berusaha memahami mengapa hidupnya berubah sedrastis ini?

Aku tidak membutuhkan seseorang yang menyuruhku berhenti menangis.

Aku hanya ingin seseorang yang tidak pergi ketika aku mulai menangis.

Seseorang yang tidak menganggapku lemah hanya karena aku tidak mampu berdiri.

Seseorang yang bisa melihatku sebagai manusia utuh, bukan sekadar perempuan yang kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Sayangnya, malam itu aku belum mengenal seseorang seperti itu.

Aku belum tahu bahwa beberapa bulan kemudian, seorang laki-laki akan datang ke kehidupanku.

Laki-laki yang tidak akan menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Laki-laki yang tidak akan berpura-pura memahami rasa sakitku.

Namun, dengan cara yang sederhana, dia akan mengajariku sesuatu yang tidak pernah kupelajari selama bertahun-tahun.

Bahwa mungkin, menjadi kuat bukan berarti mampu berdiri sendirian.

Mungkin, menjadi kuat juga berarti mengizinkan seseorang duduk di samping kita ketika kita tidak lagi sanggup berdiri.

Dan mungkin, kehilangan sebagian dari kehidupan kita tidak berarti kehilangan hak untuk memiliki masa depan.

Namaku Alana.

Dan ini adalah kisah tentang bagaimana aku belajar hidup kembali, bahkan ketika sebagian diriku masih merindukan perempuan yang dahulu bisa berlari.

BAB 1

Enam bulan lalu, aku masih percaya bahwa manusia bisa mendapatkan apa pun yang diinginkannya selama ia mau berusaha.

Aku percaya bahwa setiap mimpi memiliki jalannya sendiri. Bahwa setiap kesulitan pasti mempunyai akhir. Bahwa setelah malam yang panjang, pagi akan datang membawa sesuatu yang lebih baik.

Aku percaya pada banyak hal.

Sampai suatu hari, aku kehilangan kemampuan untuk mempercayai diriku sendiri.

Namaku Alana Prameswari. Usia tujuh belas tahun. Dan jika seseorang bertanya kepadaku tentang hal yang paling ingin kulakukan sebelum kecelakaan itu terjadi, jawabanku sederhana.

Aku ingin pergi sejauh mungkin.

Bukan karena aku membenci rumahku. Bukan pula karena aku ingin meninggalkan keluargaku.

Aku hanya ingin melihat dunia yang selama ini kukenal melalui jendela kamar, buku, dan layar ponsel

Aku ingin berjalan di sepanjang pantai ketika matahari terbit. Mengunjungi kota-kota yang namanya hanya pernah kudengar. Memotret bangunan tua, mencicipi makanan asing, dan tersesat di jalan yang tidak kukenal sebelum akhirnya menemukan jalan pulang.

Aku ingin menjalani kehidupan yang suatu hari bisa kuceritakan kepada seseorang sambil tertawa.

Dahulu, aku pikir aku memiliki banyak waktu

Ternyata, manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah ia tidak lagi memilikinya.

---

Pagi itu, matahari masuk melalui celah tirai kamarku.

Aku membuka mata dengan malas, kemudian memandangi langit-langit.

Tidak ada yang istimewa.

Suara kendaraan terdengar dari jalan depan rumah. Burung-burung berkicau di atas pohon mangga. Dari dapur, terdengar suara Ibu yang sedang menyiapkan sarapan.

Dunia berjalan seperti biasa.

Hanya aku yang merasa tertinggal.

Aku menggeser pandangan ke arah kursi roda di samping tempat tidur.

Benda itu sudah menjadi bagian dari keseharianku selama enam bulan terakhir.

Aku membencinya.

Bukan karena kursi roda itu salah. Aku tahu benda itu membantuku bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Aku membencinya karena setiap kali melihatnya, aku teringat pada kehidupan yang hilang.

Aku teringat pada kakiku yang dahulu membawaku berlari mengejar teman-teman.

Aku teringat pada sore ketika aku pulang dengan napas terengah-engah setelah berlari terlalu jauh.

Aku teringat pada diriku yang dahulu tidak pernah memikirkan apakah aku mampu berjalan menuju halaman rumah atau tidak.

Dulu, berjalan adalah hal biasa.

Sekarang, hal biasa itu menjadi sesuatu yang harus kupikirkan dengan cara berbeda.

Aku menarik napas panjang.

"Alana, sarapan dulu, Nak!"

Suara Ibu terdengar dari luar kamar.

"Iya, Bu!"

Aku mempersiapkan diri seperti yang biasa kulakukan setiap pagi. Tidak semuanya mudah, dan ada hal-hal yang membutuhkan bantuan orang lain. Aku masih berusaha melakukan bagian yang mampu kulakukan sendiri, meskipun terkadang rasa lelah datang sebelum aku selesai.

Ketika akhirnya keluar dari kamar, Ibu menyambutku dengan senyuman.

"Sudah bangun? Tidurnya nyenyak?"

Aku mengangguk.

"Iya."

Bohong.

Aku terbangun beberapa kali malam tadi. Bukan karena suara bising atau mimpi buruk, melainkan karena pikiranku sendiri tidak pernah benar-benar beristirahat.

Namun, aku sudah terlalu terbiasa mengatakan bahwa aku baik-baik saja.

Ibu meletakkan sepiring nasi goreng di meja.

"Makan dulu, ya. Nanti Ibu mau ke pasar sebentar."

Aku mengangguk lagi.

Semuanya berlangsung seperti biasa.

Dan entah mengapa, justru itulah yang terkadang paling menyakitkan.

Karena kehidupan orang lain tetap berjalan, sedangkan aku masih berusaha memahami kehidupan baruku.

---

Setelah sarapan, aku duduk di teras rumah.

Di hadapanku terdapat jalan kecil yang menghubungkan beberapa rumah di lingkungan tempat tinggalku. Anak-anak sekolah mulai melintas dengan seragam rapi dan tas di punggung.

Beberapa dari mereka tertawa sambil berjalan berkelompok.

Aku memperhatikan mereka cukup lama.

Dahulu, aku juga seperti itu.

Aku punya teman untuk berbagi cerita, tugas sekolah yang kadang membuat kesal, dan rencana-rencana kecil tentang akhir pekan.

Setelah kecelakaan, semuanya berubah.

Teman-temanku sempat sering berkunjung. Mereka membawakanku makanan, menceritakan kejadian di sekolah, dan berusaha menghiburku.

Namun, seiring waktu, kunjungan itu semakin jarang.

Aku tidak menyalahkan mereka.

Mereka memiliki kehidupan masing-masing. Mereka harus belajar, mengejar cita-cita, dan memikirkan masa depan.

Aku mengerti.

Setidaknya, itulah yang selalu kukatakan kepada diriku sendiri.

Namun, memahami sesuatu tidak selalu membuatnya terasa lebih ringan.

Kadang-kadang, aku ingin menjadi egois.

Aku ingin meminta mereka tetap tinggal sedikit lebih lama.

Aku ingin mengatakan bahwa aku juga ingin mendengar cerita-cerita mereka secara langsung, bukan hanya melalui pesan singkat.

Aku ingin menjadi bagian dari kehidupan yang selama ini terus berjalan tanpa diriku.

Sayangnya, aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.

Aku menunduk, memperhatikan kedua tanganku.

"Lucu, ya," gumamku.

Dulu, aku selalu ingin cepat dewasa karena mengira kehidupan orang dewasa akan memberiku kebebasan.

Sekarang, aku hanya ingin kembali menjadi diriku yang dahulu.

Aku ingin kembali menjadi gadis yang mengeluh karena kelelahan setelah berjalan terlalu jauh, bukan gadis yang terkadang merasa bersalah karena harus meminta bantuan.

Aku ingin kembali mengeluhkan hal-hal kecil.

Aku ingin memiliki masalah yang tidak selalu mengingatkanku pada sesuatu yang telah hilang.

Namun, waktu tidak pernah berjalan mundur hanya karena seseorang belum siap menerima kenyataan.

Dan aku belum siap.

Bahkan setelah enam bulan, aku masih belum siap.

---

Menjelang siang, aku kembali ke kamar

Di atas meja terdapat sebuah buku catatan berwarna biru muda. Sampulnya sedikit tertekuk, tetapi aku masih menyimpannya dengan baik.

Itu adalah buku tempatku menuliskan cita-cita sebelum kecelakaan.

Aku mengambilnya dan membuka halaman pertama.

Di sana, dengan tulisan tangan yang masih terlihat bersemangat, tertulis:

HAL-HAL YANG HARUS KULAKUKAN SEBELUM BERUSIA 20 TAHUN.

Aku hampir tertawa melihat judulnya.

Betapa yakinnya aku dahulu bahwa hidup akan berjalan sesuai rencana.

Di bawah judul itu, terdapat beberapa daftar.

Mengunjungi pantai bersama sahabat.

Belajar fotografi.

Mendaki bukit saat matahari terbit.

Mengunjungi kota di luar provinsi.

Mendaftar ke universitas impian.

Dan satu kalimat yang kutulis dengan huruf kapital:

JANGAN TAKUT MENCOBA HAL BARU.

Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.

Kemudian, tanpa sadar, air mataku jatuh ke halaman buku.

Jangan takut mencoba hal baru.

Kalimat yang dahulu kutulis dengan begitu mudah, sekarang terasa seperti ejekan.

Bagaimana aku bisa mencoba sesuatu yang baru ketika melakukan hal-hal lama saja terkadang membuatku merasa kehilangan?

Bagaimana aku bisa merencanakan perjalanan ketika aku bahkan tidak tahu seperti apa kehidupan lima tahun mendatang?

Dan bagaimana aku bisa percaya pada masa depan ketika masa lalu terus-menerus menarikku kembali?

Aku menutup buku itu.

Lalu meletakkannya di laci.

Aku tidak ingin melihatnya lagi.

Setidaknya, tidak hari ini.

---

Sore datang bersama langit mendung.

Aku kembali duduk di teras ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah tetangga.

Sebuah mobil berwarna putih terparkir di sana. Beberapa orang turun dan mulai mengeluarkan kardus dari bagasi.

Sepertinya ada keluarga baru yang akan menempati rumah nomor tujuh.

Aku tidak terlalu tertarik.

Bagiku, siapa pun yang datang dan pergi dari lingkungan ini tidak akan banyak mengubah kehidupanku.

Aku tetap Alana yang sama.

Gadis yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah.

Gadis yang sedang belajar menerima keadaan, meskipun terkadang tidak tahu bagaimana caranya.

Gadis yang diam-diam masih berharap suatu hari nanti akan terbangun dan mendapati bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk.

Aku mengalihkan pandangan ke arah jalan.

Seorang laki-laki turun dari mobil sambil membawa dua kardus besar.

Usianya mungkin tidak jauh berbeda dariku.

Rambutnya hitam, kausnya sederhana, dan dia terlihat cukup percaya diri ketika mengangkat kardus pertama.

Namun, kepercayaan dirinya tidak bertahan lama.

Ketika mencoba mengambil kardus kedua, kardus pertama hampir terlepas dari tangannya.

"Astaga! Pelan-pelan, dong!"

Dia buru-buru menahan kardus itu dengan lutut.

Aku terdiam.

Lalu tertawa.

Bukan tawa keras, hanya suara kecil yang keluar sebelum sempat kutahan.

Namun, laki-laki itu mendengarnya.

Dia menoleh ke arahku.

Aku segera memalingkan wajah, berpura-pura memperhatikan tanaman di samping teras.

Terlambat.

"Permisi!"

Aku menoleh kembali.

Laki-laki itu berdiri di dekat pagar rumahku, masih memegang kardus yang tampaknya lebih berat daripada perkiraannya.

"Iya?"

Dia menunjuk rumah di sebelah kiri.

"Rumah nomor tujuh yang sebelah mana, ya?"

Aku memandangnya selama beberapa detik sebelum menunjuk rumah yang tepat berada di belakangnya.

"Itu rumah nomor tujuh."

Dia mengikuti arah telunjukku.

Kemudian menatap rumah tersebut.

Lalu menatapku lagi.

"Oh."

Aku mengangkat sebelah alis.

"Kenapa?"

Dia mengembuskan napas.

"Berarti dari tadi aku berdiri di depan rumah yang benar, tapi malah nanya."

Aku hampir tertawa lagi.

Laki-laki itu mengangguk seolah sedang menerima kenyataan yang sangat menyedihkan.

"Hari pertama pindah, reputasiku sudah hancur."

Kali ini, aku benar-benar tertawa.

Dia tersenyum ketika mendengarnya.

Senyum sederhana, tanpa rasa kasihan atau tatapan penuh pertanyaan.

"Aku Arka, omong-omong."

Aku berhenti tertawa.

"Alana."

"Senang kenal kamu, Alana."

Aku mengangguk kecil.

"Kamu baru pindah?”.

"Iya. Sepertinya bakal sering ketemu kamu."

Aku tidak tahu mengapa kalimat itu membuatku sedikit gugup.

Mungkin karena aku sudah lama tidak terbiasa bertemu orang baru.

Atau mungkin karena selama enam bulan terakhir, aku terlalu sering merasa bahwa kehidupanku akan terus berjalan dengan cara yang sama.

Arka menggeser kardus di tangannya.

"Kalau begitu, aku lanjut dulu. Sebelum barang-barang ini memutuskan untuk pindah sendiri."

Aku tersenyum tipis.

"Hati-hati."

Dia mengangkat tangan sebagai salam, kemudian berjalan menuju rumahnya.

Aku memperhatikannya sebentar sebelum kembali menatap jalan.

Pertemuan itu sederhana.

Tidak ada sesuatu yang istimewa.

Tidak ada percakapan mendalam, tidak ada janji, dan tidak ada alasan bagiku untuk memikirkannya lebih jauh.

Arka hanyalah tetangga baru.

Seseorang yang mungkin akan kusapa sesekali ketika kami bertemu.

Seseorang yang mungkin akan kulupakan setelah beberapa hari.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan saat itu.

Aku tidak tahu bahwa beberapa pertemuan paling berarti dalam hidup sering kali dimulai dengan cara yang begitu biasa.

Aku tidak tahu bahwa laki-laki yang baru saja salah mengenali rumahnya sendiri itu kelak akan menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku.

Dan aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti, aku akan duduk di tempat yang sama, memandangi jalan yang sama, sambil bertanya-tanya bagaimana seseorang yang awalnya hanya orang asing bisa menjadi bagian dari alasan mengapa aku kembali berani menatap masa depan.

Saat itu, aku belum mengenal Arka.

Aku juga belum benar-benar mengenal diriku sendiri.

Aku hanya seorang gadis yang masih belajar menerima kehilangan.

Dan dia hanyalah laki-laki yang baru saja pindah ke rumah nomor tujuh.

Namun, mungkin memang begitulah kehidupan bekerja.

Ia tidak selalu mengirimkan perubahan besar melalui kejadian luar biasa.

Terkadang, ia hanya menghadirkan seseorang di depan rumah kita.

Seseorang yang awalnya tidak kita kenal.

Seseorang yang belum kita butuhkan.

Seseorang yang kelak akan mengajarkan kita bahwa kehidupan tidak selalu harus kembali seperti dahulu agar kita bisa menemukan kebahagiaan.

Sore itu, aku kembali masuk ke kamar.

Buku catatan biru masih tersimpan di dalam laci.

Aku belum siap membukanya kembali.

Namun, tanpa kusadari, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku memikirkan sesuatu selain kehilangan.

Aku memikirkan tetangga baru yang hampir menjatuhkan kardusnya sendiri.

Dan entah mengapa, pikiran sederhana itu membuat soreku terasa sedikit berbeda.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

1 komentar

SA
Satria putra Prayogi@szen27 Okt 2026

CERITANYA SERU