Bab 1

10 menit baca•2.0rb kata

SUAMIKU MEMILIH WANITA LAIN

Novel Romantis — Drama Bersambung

BAB 1

PESAN DI TENGAH MALAM

Hujan turun sejak pukul sembilan malam. Butiran air membasahi kaca jendela ruang keluarga, sementara suara jam dinding terdengar semakin jelas di tengah rumah yang sunyi.

Nadira duduk di sofa dengan sebuah ponsel di tangan. Sesekali ia melirik jam dinding, berharap suaminya segera pulang.

Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit.

Arga belum juga pulang.

Nadira menghela napas panjang. Sebenarnya, ia sudah terbiasa menunggu suaminya. Selama beberapa bulan terakhir, Arga semakin sering pulang larut malam dengan berbagai alasan. Kadang karena pekerjaan, kadang karena rapat mendadak, dan kadang hanya karena harus bertemu rekan bisnis.

Awalnya Nadira tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia memahami bahwa pekerjaan suaminya memang cukup menyita waktu.

Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Arga tidak lagi banyak bercerita seperti dahulu. Pesan-pesan Nadira sering kali hanya dibalas singkat, bahkan terkadang dibiarkan tanpa jawaban sampai berjam-jam.

Padahal, dulu Arga selalu menyempatkan diri untuk meneleponnya, meskipun hanya selama beberapa menit.

Nadira masih ingat perkataan suaminya pada malam pertama mereka tinggal bersama.

"Aku mungkin nggak bisa selalu pulang tepat waktu, Nad. Tapi aku janji, sesibuk apa pun aku, kamu akan selalu menjadi orang yang paling ingin aku temui saat pulang."

Saat itu Nadira tersenyum bahagia.

Sekarang, kalimat itu justru terasa seperti kenangan yang perlahan kehilangan maknanya.

Ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Arga.

Arga: Jangan tunggu aku. Aku pulang larut.

Nadira menatap pesan tersebut cukup lama. Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Nadira: Kamu sudah makan, Mas? Aku tadi masak sup ayam kesukaanmu.

Pesan itu terkirim.

Nadira menunggu beberapa menit, tetapi tidak ada balasan.

Akhirnya, ia meletakkan ponsel di sofa dan berjalan menuju dapur. Ia membuka tutup panci yang berisi sup ayam. Masakan itu masih hangat karena baru saja dipanaskannya kembali.

Di meja makan sudah tersedia nasi, ayam goreng, dan sambal kesukaan Arga.

Nadira tersenyum hambar.

"Percuma masak banyak kalau orangnya enggak pernah sempat makan di rumah," gumamnya.

Meski demikian, ia tetap menyiapkan satu piring untuk suaminya. Ia tidak ingin Arga pulang dalam keadaan lapar.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar dari halaman.

Nadira segera menoleh ke arah pintu.

Mobil itu benar-benar mobil Arga.

Dengan langkah cepat, ia menghampiri pintu dan membukanya. Arga masuk sambil membawa tas kerja. Kemeja hitam yang dikenakannya sedikit basah akibat hujan.

"Mas, sudah pulang?" tanya Nadira.

Arga hanya mengangguk singkat.

"Kamu kehujanan? Aku ambilkan handuk, ya."

"Nggak perlu. Aku bisa sendiri."

Nadira menghentikan langkahnya.

"Oh, iya."

Arga meletakkan tas di atas kursi, kemudian membuka jam tangannya.

"Kamu belum tidur?" tanyanya.

"Belum. Aku nungguin kamu."

"Aku sudah bilang jangan ditunggu."

"Iya, aku tahu. Tapi aku pikir kamu mungkin belum makan, jadi aku masak."

Arga melirik meja makan.

"Aku sudah makan di luar."

Jawaban itu membuat Nadira terdiam.

"Oh, ya sudah."

Ia berusaha tersenyum, meskipun hatinya sedikit kecewa.

"Kalau begitu, aku simpan makanannya saja. Siapa tahu besok kamu mau."

Arga tidak menjawab. Ia mengambil ponselnya, memeriksa beberapa pesan, lalu berjalan menuju kamar.

Nadira memperhatikan punggung suaminya.

"Mas."

Arga berhenti sebentar.

"Apa lagi?"

Nadira hampir mengurungkan niatnya untuk bertanya. Namun, ia sudah terlalu lama menyimpan pertanyaan yang sama.

"Akhir-akhir ini kamu sibuk banget, ya?"

Arga menoleh dengan ekspresi datar.

"Memangnya kenapa?"

"Enggak apa-apa. Aku cuma merasa kita jarang ngobrol."

"Aku bekerja untuk kita, Nadira. Kamu seharusnya mengerti."

Nadira menunduk.

"Aku mengerti, Mas. Aku cuma kangen ngobrol sama kamu."

Arga menghembuskan napas panjang, seolah pertanyaan sederhana itu sudah cukup membuatnya lelah.

"Nanti saja kita bicarakan. Aku mau mandi."

Tanpa menunggu jawaban, Arga masuk ke kamar.

Nadira tetap berdiri di dekat meja makan. Ia menatap makanan yang telah disiapkannya dengan susah payah.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa bahwa kehadirannya di rumah sendiri tidak lagi terlalu berarti.

---

Pukul dua belas lewat dua puluh enam menit.

Nadira sudah berbaring di ranjang ketika suara air dari kamar mandi terdengar. Arga sedang mandi sebelum tidur.

Ia mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya terus tertuju pada perubahan sikap suaminya.

Apakah ia melakukan kesalahan?

Apakah Arga mulai bosan dengannya?

Atau memang pekerjaan membuat suaminya berubah?

Nadira tidak tahu.

Ia hanya ingin semuanya kembali seperti dahulu.

Ketika hendak meraih segelas air di atas nakas, pandangannya tertuju pada ponsel Arga yang tergeletak di samping bantal.

Layar ponsel itu tiba-tiba menyala.

Sebuah pesan muncul dari seseorang bernama Selina.

Selina: Sayang, kamu sudah sampai rumah?

Nadira membeku.

Tangannya berhenti tepat di atas gelas.

Sayang?

Ia menatap layar itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mungkin Selina hanya teman dekat Arga. Mungkin mereka memang terbiasa bercanda seperti itu.

Nadira berusaha mencari alasan agar tidak berpikir macam-macam.

Namun, sebelum layar ponsel itu kembali gelap, pesan kedua muncul.

Selina: Aku capek harus sembunyi terus. Sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahanmu dengannya? Kamu sudah janji akan memilih aku, Arga.

Nadira merasa seluruh tubuhnya mendadak dingin.

Ia membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Tidak ada yang berubah.

Pernikahanmu dengannya.

Memilih aku.

Nadira menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha menahan air mata yang mendesak keluar.

Ia tidak pernah membayangkan akan menemukan pesan seperti itu di ponsel suaminya sendiri.

Selama ini, ia percaya bahwa pernikahan mereka baik-baik saja, meskipun belakangan terasa semakin jauh.

Ternyata, mungkin ada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui.

Pintu kamar mandi terbuka.

Nadira buru-buru meletakkan kembali ponsel Arga tepat di tempat semula. Ia berbaring, membelakangi pintu, dan berpura-pura memejamkan mata.

Arga keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Kamu sudah tidur?" tanyanya.

Nadira tidak langsung menjawab.

"Dir?"

Nadira membuka mata dan perlahan berbalik.

"Belum, Mas."

Arga meletakkan handuk, kemudian mengambil ponselnya. Ia memeriksa layar sebentar.

Nadira memperhatikan gerakan itu dengan dada berdebar.

"Mas, aku mau tanya sesuatu."

Arga masih menatap ponselnya.

"Tanya apa?"

"Selina itu siapa?"

Jari Arga berhenti bergerak.

Untuk beberapa detik, kamar terasa begitu sunyi.

Arga mengangkat wajahnya.

"Kenapa kamu tanya nama itu?"

Nadira menelan ludah.

"Aku lihat pesannya muncul di layar."

Wajah Arga berubah.

"Kamu membuka ponselku?"

"Enggak, Mas. Aku nggak membukanya. Pesannya muncul sendiri."

Arga meletakkan ponselnya di atas nakas dengan gerakan sedikit kasar.

"Itu bukan urusan kamu."

Nadira menatapnya tidak percaya.

"Bukan urusanku?"

"Jangan memperbesar masalah."

"Mas, dia memanggil kamu sayang. Dia bilang kamu sudah janji akan memilih dia. Maksudnya apa?"

Arga berdiri sambil mengusap wajahnya.

"Aku sedang capek. Aku enggak mau membahas ini sekarang."

"Tapi aku istrimu!"

Suara Nadira meninggi tanpa sengaja.

Arga terdiam. Ia menatap Nadira dengan sorot mata yang belum pernah dilihat perempuan itu sebelumnya.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Nadira selalu berusaha menghindari pertengkaran. Ia lebih sering memilih mengalah karena percaya bahwa mempertahankan rumah tangga berarti harus saling memahami.

Namun, malam itu ia tidak sanggup berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

"Aku cuma ingin tahu, Mas," katanya dengan suara bergetar. "Apa selama ini ada perempuan lain?"

Arga memalingkan wajah.

Keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

"Jawab aku, Mas."

Arga menghela nafas panjang.

"Aku mengenal Selina sebelum menikah denganmu."

Air mata Nadira akhirnya jatuh.

"Terus? Kalian masih berhubungan?"

Arga tidak menjawab dengan segera.

"Nadira, ada hal-hal yang belum bisa aku jelaskan."

"Kenapa nggak bisa? Karena kamu masih mencintainya?"

Arga menatapnya, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Nadira tertawa kecil di sela tangisnya.

"Aku ini sebenarnya siapa buat kamu, Mas?"

"Jangan mulai membuat kesimpulan sendiri."

"Aku enggak membuat kesimpulan apa-apa. Aku cuma membaca pesan yang ada di ponselmu!"

Arga terdiam.

Nadira mengusap pipinya.

"Aku enggak pernah meminta kamu menjadi suami yang sempurna. Aku tahu kamu punya pekerjaan dan tanggung jawab. Aku juga enggak pernah melarang kamu pergi ke mana pun."

Suaranya semakin pelan.

"Aku cuma ingin kamu jujur sama aku."

Arga menatap lantai.

Untuk sesaat, Nadira berharap suaminya akan mendekat, memeluknya, lalu menjelaskan bahwa semua yang ia pikirkan tidak benar.

Namun, Arga justru mengambil bantal dari ranjang.

"Aku tidur di kamar sebelah malam ini. Besok kita bicarakan lagi."

Nadira memandangnya dengan mata membesar.

"Mas, kamu mau pergi begitu saja?"

"Aku butuh waktu untuk berpikir."

"Terus aku harus bagaimana?"

Arga tidak menjawab.

Ia berjalan menuju pintu.

"Mas!"

Langkah Arga terhenti.

Nadira menggenggam ujung selimut dengan kedua tangannya.

"Kalau suatu hari aku pergi dari rumah ini, kamu bakal mencari aku enggak?"

Arga terdiam cukup lama.

Nadira menunggu.

Ia menunggu satu kalimat sederhana yang bisa membuatnya merasa bahwa dirinya masih berarti bagi lelaki itu.

Namun, Arga hanya berkata, "Jangan membuat masalah yang tidak perlu, Nadira."

Pintu tertutup beberapa detik kemudian.

Nadira duduk membisu di atas ranjang.

Malam itu, ia akhirnya menangis tanpa berusaha menahan suara.

Bukan hanya karena kemungkinan bahwa suaminya mencintai perempuan lain, melainkan karena ia mulai merasa bahwa selama ini hanya dirinya yang berusaha mempertahankan pernikahan mereka.

---

Pukul satu lewat lima belas menit.

Setelah tangisnya mereda, Nadira beranjak dari ranjang. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, pesan Selina kembali terbayang di pikirannya.

Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil sapu tangan.

Namun, ketika membuka laci paling atas, pandangannya tertuju pada sebuah kotak kayu kecil yang sudah lama tersimpan di sana.

Kotak itu milik ibu Arga.

Beberapa bulan sebelum meninggal, perempuan itu pernah menyerahkannya kepada Nadira.

"Tolong simpan ini baik-baik, Nak. Kalau suatu hari Arga sudah siap, berikan kotak ini kepadanya."

Saat itu Nadira tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menuruti permintaan ibu mertuanya.

Sekarang, entah mengapa, ia teringat kembali pada kotak tersebut.

Nadira mengambilnya dan meletakkannya di atas ranjang.

Kotak itu tidak terkunci.

Dengan ragu, ia membuka tutupnya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat lama, sebuah gelang perak, dan sebuah foto yang warnanya mulai memudar.

Nadira mengambil foto itu.

Seorang perempuan muda berdiri di samping seorang pria. Di antara mereka ada seorang anak perempuan kecil yang tersenyum ke arah kamera.

Nadira mengenali pria itu.

Ayahnya.

Ia mengenali wajah tersebut karena foto ayahnya masih banyak tersimpan di album keluarga.

Namun, perempuan yang berdiri di samping ayahnya bukan ibunya.

Nadira membalik foto itu.

Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sudah sedikit pudar.

Untuk Arga, jika suatu hari kamu menikahi Nadira, pastikan dia tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.

Nadira tertegun.

Nama suaminya tertulis dengan jelas.

Arga.

Apa hubungan suaminya dengan ayahnya?

Mengapa foto itu disimpan oleh ibu Arga?

Dan malam apa yang dimaksud dalam tulisan tersebut?

Dengan tangan gemetar, Nadira mengambil surat yang terletak paling bawah. Ia membuka lipatannya secara perlahan.

Tulisan di dalamnya tampak rapi, meskipun beberapa bagian sudah menguning dimakan waktu.

Nadira membaca kalimat pertamanya.

Arga, maafkan Ibu. Pernikahanmu dengan Nadira mungkin satu-satunya cara untuk menebus kesalahan keluarga kita.

Nadira menutup mulutnya.

Ia membaca kalimat itu berkali-kali, tetapi tetap tidak memahami maksudnya.

Pernikahannya dengan Arga untuk menebus kesalahan?

Kesalahan keluarga siapa?

Apakah selama ini pernikahan mereka bukan semata-mata karena cinta?

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.

Nadira buru-buru mengangkat wajah.

Pintu terbuka.

Arga berdiri di ambang pintu.

Tatapannya langsung tertuju pada kotak kayu di atas ranjang, lalu berpindah ke foto yang masih berada di tangan Nadira.

Wajahnya seketika pucat.

"Kamu membuka kotak itu?"

Nadira berdiri perlahan.

"Mas, siapa perempuan ini?"

Arga melangkah mendekat dan mengambil foto tersebut dari tangannya.

"Siapa yang menyuruh kamu membuka ini?"

"Enggak ada! Aku cuma ingin tahu kenapa ada foto ayahku di dalam kotak milik ibumu!"

Arga menggenggam foto itu erat-erat.

Matanya menatap Nadira dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Mulai malam ini, jangan pernah membicarakan foto ini kepada siapa pun."

Nadira menggeleng. Air matanya kembali menggenang.

"Mas, aku ini istrimu. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Arga terdiam.

Selama beberapa detik, ia tampak seperti sedang berjuang melawan sesuatu yang sudah lama disimpannya sendiri.

Namun, akhirnya ia hanya berkata, "Kalau kamu tahu alasan sebenarnya aku menikahimu, kamu mungkin akan membenciku seumur hidupmu."

Nadira terpaku.

Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi Arga sudah menyimpan foto itu dan melangkah keluar dari kamar.

Pintu kembali tertutup.

Nadira berdiri sendirian, menatap surat yang masih terbuka di atas ranjang.

Malam itu, ia menyadari satu hal.

Mungkin selama tiga tahun ini, bukan hanya cinta Arga yang tidak pernah benar-benar ia pahami.

Mungkin seluruh pernikahan mereka dibangun di atas sebuah kebohongan.

Dan untuk pertama kalinya, Nadira bertanya kepada dirinya sendiri apakah lelaki yang selama ini dipanggilnya suami benar-benar pernah menikahinya karena cinta.

Nadira mengusap air matanya. Ia belum tahu rahasia apa yang disembunyikan Arga, tetapi malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari kebenaran, meskipun jawaban yang ditemukan nanti mungkin akan menghancurkan hatinya.

Bersambung…

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Kamu telah menyelesaikan Bab 1!

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sukai atau simpan cerita ini.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.