Bab 16Kisah Kelima Belas : Tasbih Cendana

6 menit baca1.1rb kata

Ijinkan kali ini saja aku bercerita tentang tasbih cendana. Memang aku diam-diam memiliki kebiasaan aneh, yaitu senang berdzikir. Mungkin bagi kalangan tertentu apalagi yang pernah belajar di pesantren adalah hal biasa. Namun bagiku yang hanya mengenal agama dalam batas tertentu tentu akan nampak aneh.

"Apalagi sekarang semua teman satu tim tahu aku punya kemampuan melihat makhluk tak kasat mata."

Biasanya yang punya kemampuan seperti itu lebih dekat pada penggunaan dupa, kemenyan dan uborampe atau peralatan mistik lainnya. Aku tak mau dekat dengan hal semacam itu, terlebih lagi sudah pernah ada kasus yang mengalami sesak napas akibat kebiasaan menyalakan dupa tanpa membuka jendela kamar kos-nya.

"Dupa dibakar bisa habis, tasbih dipakai tak akan habis."

Kecuali tasbihnya rusak, itupun masih bisa diperbaiki. Aroma kayu cendana yang lembut dan menenangkan selalu bisa membuat hati tenang. Apalagi setelah melihat sosok yang seram. Meski terkadang, ada yang salah menafsirkan kalau tasbih yang selalu kupakai ini menjadi media pelindung dari makhluk gaib yang disebut jin.

"Aku hanya berlindung pada Tuhan. Bukan pada tasbih!"

Tasbih cendana hanyalah alat saja, untuk mengetahui sampai batas hitungan keberapa dzikir yang sudah kulakukan. Terkadang aku tertawa dalam hati pada orang-orang yang terlalu "Menuhankan" alat hitung ini.

"Eh, coba dong diterawang dalam tasbihku ada apa?"

Sebenarnya aku tak pernah serius melakukan itu. Hanya untuk bercandaan. Namun rupanya ada yang serius menanggapi di akun media sosial. Ada yang bilang masih "awur" lah khodamnya alias tidak menetap lalu ada juga yang bilang kosong.

"Buat apa kau melakukan itu, Dita?"

"Sesekali mengerjai manusia lain tak apa kan, Kek."

"Huh, nanti kau dikerjai balik. Mau lapor padaku kalau baru saja dipermainkan manusia lain."

"Enggak lah! Setelah tahu Kakek datang padaku untuk apa ya sudah. Paling aku hanya bercerita saja pada Kakek."

"Sama saja kalau begitu! Dengar ya, aku bukan datang untuk mendengar curahan isi hatimu, Dita."

Huh! Dasar khodam satu ini! Selalu saja kena omelannya. Datang hanya untuk mengomeliku, lalu pergi. Memang cukup buatku kesal!

***

"Kamu selalu bawa itu ya, Dit?"

"Iya, Nuk. Memangnya kenapa?"

"Tasbihmu sakti opo, Dit? Mbok gowo nang ndi wae." (Tasbihmu sakti apa, Dit? Kok kamu bawa kemana aja.)

"Enggak gitu juga lah, Put! Aku memang bawa ini yaa karena pengen aja."

"Nanti kamu terlalu percaya sama tasbih itu, Dit. Buat apa sih? Biasa aja dong!"

"Kamu kenapa sih, Nona? Kayaknya udah beberapa kali kayak gitu sama Dita."

"Ya, Dita suka bawa tasbih itu kan pada akhirnya jadi percaya kalau gara-gara benda itulah yang melindungi dia. Kan katanya dia bisa melihat makhluk halus."

"Nona!"

"Apa? Kenyataannya memang benar begitu kan, Nuk?"

"Sudahlah, Dit! Enggak usah dimasukkan dalam hati."

Aku hanya diam saat Putri berkata seperti itu sambil mengelus pundakku. Nuki nampak kesal dengan sikap Nona kali ini yang mengeluarkan kata-kata menohok padaku. Sebenarnya aku juga bingung, dimana salahku pada dia? Apa karena malam itu aku melarangnya untuk berdoa? Sikapnya memang nampak sekali berubah setiap berhadapan denganku.

***

Aku tak pernah mau membalas, karena tahu alam semesta yang akan memberikan balasannya. Untuk apa membalas sikap Nona seperti itu padaku. Aku yakin sebaik-baiknya manusia pasti akan ada yang membenci.

"Nih, Dit! Hari ini kamu yang ngepel ya? Masak tiap hari aku yang ngepel."

"Lha kenapa enggak dibuat jadwal aja? Jadi semuanya bisa ikutan ngepel. Aku kan enggak tahu kalau tidak pakai jadwal."

"Heh! Dengar ya! Semua cewek yang ada disini punya inisiatif buat mengepel lantai. Cuma kamu doang yang diem melulu. Memangnya kami ini pembantu disini?"

"Duh, Nona! Apalagi sih ini? Kok tiba-tiba kalian ribut begini?"

Mbak Tiska keluar dari kamar diikuti Putri. Sepertinya telinganya mulai panas mendengar keributan di ruang tengah rumah Bu Sobari ini. Aku masih diam sambil menatap ember dan alat pel.

"Ya sudah! Apalagi sih? Kok malah dilihatin doang? Memangnya pel-nya bisa kamu suruh ngepel sendiri."

"Ini masalahnya dimana sih, Non? Dari tadi ributnya yang kamu keluarin."

"Mbak Tiska, semua yang ada disini ya dari aku, Nuki, kamu, Maya itu sudah pernah ngepel semua. Kecuali Putri oke deh dia kan Ibu hamil. Nah, Dita ini kerjaannya apaan? Rebahan main hape?"

Jantungku berdetak sangat cepat! Ingin rasanya kutampar saja wajah Nona. Tapi aku masih punya rasa buat menahannya. Jangan sampai terjadi keributan besar sementara KKN belum juga selesai. Aku hanya tak mau pertemanan ini rusak cuma gara-gara masalah mengepel lantai.

"Iya, aku yang ngepel!"

"Oke, yang bersih ya Dit! Jangan sampai ada yang terlewat."

Kuraih gagang pel dengan kasar. Nona berlalu dariku dengan bahagia. Mbak Tiska kesal dengan sikap Nona yang seperti itu. Kupikir dia akan benar-benar pergi. Rupanya malah mengawasiku mengepel disini.

"Tuh, bagian sudut jangan ditinggalkan."

"Nona! Sudah cukup! Apa sih masalahmu sama Dita? Kamu sendiri yang sejak awal menawarkan diri untuk mengepel. Kami ini hanya ala kadarnya saja. Lagipula disapu saja sudah cukup. Kok kamu jadi kayak bos disini ya!"

"Iya, sih. Masalahmu sama Dita apa, Non? Kok kayak gini?"

"Kalian malah membela Dita kenapa sih? Huh!"

Nona akhirnya pergi keluar. Tapi aku tetap mengepel lantai ini. Mbak Tiska langsung menyuruhku berhenti karena Nona sudah pergi. Aku tidak mau! Kalau memang ini sudah menjadi tanggung jawabku ya sudah.

"Ah, enggak habis pikir aku sama Nona. Sebenarnya ada masalah apa dia sama Dita?"

"Iya, nih. Aku juga heran, Put. Segitunya amat! Omongan dia itu lho kok nyolot banget."

"Kamu pernah menyinggung Nona? Soal apa saja Dit."

"Hah? Aku? Mana pernah, mbak! Kalian tahu sendiri aku lebih banyak diam."

Mbak Tiska dan Putri saling berbisik. Sesaat dalam hati ada yang memberitahu bahwa ini masalah iri hati saja. Aku mulai paham, Nona iri denganku yang tahu kalau aku bisa melihat makhluk halus juga. Seharusnya hanya dia yang bisa, aku tak boleh sama dengannya.

"Teman perempuanmu itu hanya ingin diakui bahwa dia lebih disini. Dasar manusia sombong!"

"Nah, kan apa dugaanku Kek. Benar kalau dia melakukan ini semua hanya karena masalah sepele seperti ini."

"Untuk apa? Bahkan dia sendiri sudah pernah melukai makhluk gaib yang ada disini. Mengatasnamakan sepupunya yang bisa melihat lalu meminta berdoa semua. Sampai kejadian fatal itu terjadi."

Aku hanya mendengus kesal sambil terus mengepel. Memang iya, itu peristiwa yang paling fatal. Tapi aku salut makhluk yang terluka itu tidak menyerang balik ke Nona.

"Kesaktian itu untuk apa? Toh, dia sendiri sembrono dalam bertindak! Kami tidak ingin bisa dilihat manusia."

"Ah, tapi Kek! Ada yang ingin sekali eksis seperti miss Key yang pernah mondar mandir di sampingku."

"Kalau mereka memang seperti itu. Hanya ingin memberitahu bahwa mereka ada."

"Hm... begitu ya!"

"Tapi kenapa kau begitu lemah dihadapannya? Grr...!"

"Lemah? Ya, aku memang lemah untuk ukuran manusia. Bahkan disuruh mengepel pun mau. Tapi ini kulakukan hanya demi menjaga pertemanan saja. Kegiatan ini belum berakhir, haruskah kami bermusuhan?"

"Dia yang memulai, bukan kau Dita! Grr... dia tak akan pernah lagi mau berdamai denganmu."

Tidak masalah kalau Nona duluan yang menyulut apinya. Satu hal, jangan pernah bermain api dengan Dita. Sudah banyak kejadian yang jatuhnya mereka terkena apes saat mencoba mempermainkanku. Jelasnya sebagai manusia aku sudah berusaha untuk tetap baik, meski dia masih jahat padaku.

***

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Cerita selesai dibaca

Satu cerita selesai. Mau mulai cerita berikutnya?

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.