Bab 15Kisah Keempat Belas : Anak-anak Desa
Rasanya tak lengkap kalau saat KKN tidak ada yang namanya anak-anak di satu desa. Sama, begitu juga dengan anak-anak yang selalu menyerbu kos cowok setelah Maghrib. Mereka selalu berebut untuk minta diajarkan apa saja yang jadi PR hari itu.
"Aku enggak bisa dek, ke mbak sama mas yang lain aja ya."
"Mbak e ora iso ki lho! Neng Mas Eki wae, opo neng Mas Yori kae." (Mbaknya enggak bisa nih lho! Ke Mas Eki aja, apa ke Mas Yori sana.)
"Kalau ada yang punya PR agama sini sama Mas Ridhwan aja."
"Zahra kae lho kan ono PR agama to kowe? Moro neng mas e kae...!" (Zahra itu lho kan ada PR agama to kamu? Datang ke masnya sana...!)
Hanya aku dan Nuki yang menyerah untuk mengajarkan anak-anak ini. Kalau mereka minta diajarkan pelajaran bahasa Indonesia, aku masih paham. Tapi kalau sudah matematika? Itu Nona yang jago buat mengajarkannya pada anak-anak disini.
"Wes, gak ono meneh PR e?" (Udah, enggak ada lagi PR-nya?)
"Uwes, mas. Matur nuwun nggeh...!" (Sudah, Mas. Terima kasih ya...!)
Sebenarnya rutinitas mengajar anak-anak tidak ada dalam program kami. Anak-anak itu sendiri yang inisiatif mendatangi kami. Terkadang selepas pulang sekolah, mereka datang ke kos cowok. Apa yang mereka cari? Cuma mau main game bersama para cowok disana. Tentu saja sangat disambut, apalagi sama Yori.
"Pulang dulu, nanti dicari sama ibu lho."
"Enggak, mas. Tenang aja, udah biasa kok. Mas e bukan orang jawa?"
"Bukan. Aku orang Sumatera."
"Nah, tenan to! Jebul nang kene kabeh. Heh, Candra! Tak laporke ibumu lho. Ayo balek sek, maem siang. Mesake mas-mas e meh istirahat." (Nah, bener to! Ternyata pada disini semua. Heh, Candra! Tak laporkan sama ibumu lho. Ayo pulang dulu, makan siang. Kasihan mas-masnya mau istirahat.)
Baru saja aku datang ke kos cowok sudah disambut sama emak berdaster yang membawa sandal jepit. Anak-anak tadi langsung kabur dan tak lupa kena tabokan sandal jepit si emak tadi. Yori agaknya enggak enak dengan ibu itu dan hanya terdiam.
"Sudah pada pulang kan mereka?"
"Sudah, Ki. Aduh, jadi enggak enak deh!"
"Anak-anak itu memang nakal kok! Yok, waktunya kita nonton bareng. Asik nih selagi ada proyektor."
"Iya, dong! Harus kita manfaatkan. Jangan cuma buat rapat aja. Nonton film apa nih?"
"Yaelah stok film di laptop lu banyak, Ki."
"Yo'i, Maya! Udah aku siapkan kok. Ayo, apa ini filmnya?"
"Horror aja, Ki!"
"Iya, selagi siang kita nonton horror aja."
"Ah! Cewek-cewek kalo siang nonton horror. Malem ketemu horror beneran pada takut. Iye, enggak Dit?"
"SOJOOO...!"
"Perasaan gue salah mulu sih disini!"
Aku hanya bisa nyengir saja. Memang aneh rasanya melihat yang palsu justru pada suka. Saat ketemu makhluk yang asli pada lari kocar kacir semua. Ayung kelihatannya tidur di kamar, sudah dua hari ini badannya sakit. Aku mengintipnya sedikit dari ruang utama. Kenapa dia enggak ke klinik aja atau ke rumah sakit gitu?
***
"Hayo...!"
Anak-anak di Desa ini ada banyak. Kami terkadang tak hapal dengan nama-nama mereka. Sepertinya mereka lebih horror daripada penampakan makhluk di sini. Susah dikenali kalau mereka datang saat siang hari.
"Ngapain sih anak-anak pada kemari? Ganggu kite aje mau nonton."
"Nonton apa sih mas sama mbak? Wah, layarnya gede...!"
"Sini dek, kita nonton film horror. Takut enggak?"
"Halah... kita sih udah biasa mbak. Ikutan nonton ya!"
"Boleh, sini duduk di sebelah Mbak Maya."
Kalau anak-anak cewek sepertinya enggak akan disuruh pulang kayak anak cowok tadi. Hebatnya mereka nonton biasa saja. Padahal beberapa kali ditampilkan adegan jumpscare yang buatku takut juga. Aneh, memang aku ini! Ketemu yang asli takut sih tapi enggak seheboh kalau lihat di film. Bisa teriak bener pas nontonnya.
"Wah, udah selesai nih! Yok pulang semua!"
"Kok cepet tenan sih, mas? Rasane gek entes wae lungguh lho." (Kok cepet banget sih, mas? Rasanya baru saja duduk lho.)
Anak-anak cewek ini pulang juga sambil menenteng tas sekolahnya. Mau bagaimana lagi? Mereka datang memang filmnya pas bener di tengah cerita. Wajar kalau tak terasa dan tiba-tiba sudah berakhir begitu saja.
"Anak-anak sudah pada pulang kan? Kita nonton film itu aja."
"Wah, asik nih! Ada rumputnya!"
"Iye, Maya. Rumput tetangga!"
"Eh, aku pulang deh. Mau cuci baju. Daah...!"
Kurang tertarik kalau nonton film seperti itu dengan teman-teman. Rasanya aneh saja karena film dewasa semestinya ditonton pas malam hari di kamar pribadi, sendirian pula.
***
Ada satu anak yang memang cukup buat kami repot. Namanya Ilham dan dia yang paling atraktif disini. Nakalnya memang nakal kreatif. Sayangnya, itu tidak tersalurkan dengan baik. Akibatnya dia lebih sering menunjukkan dengan cara memukul temannya sungguhan daripada menyalurkannya ke yang lain.
"Eeh... aduh Ilham! Jangan dipukul dong!"
"Huhuhu... deloken wae! Tak kandake bapakku mengko!"
(Huhuhu... lihat aja! Tak laporkan ke bapakku nanti!)
"Laporke wae! Aku ora wedi! Cah cengeng koyok kowe kok wani mbek aku!" (Laporin aja! Aku enggak takut! Anak cengeng kayak kamu kok berani sama aku.)
Begitulah tingkah Ilham yang selalu buat kami semua pusing. Kondisi jadi berbeda gara-gara ulah si Ilham. Akhirnya kegiatan belajar mengajar kami hentikan saja. Daripada anak satu ini menangis lalu berlari tak tentu arah. Kami jelas khawatir bagaimana kalau dia tak sengaja masuk ke kebun dan tersesat. Hanya gara-gara nangis sambil berlari.
"Udah itu siapa tadi yang nangis, dianter pulang aja. Hari ini sudah selesai ya. Mas sama mbaknya mau rapat dulu."
"Itu si Faisal, mbak."
"Ya sudah, anter pulang sampe depan rumah ya dek."
"Iya, ini udah malam juga. Nanti kalau pulang terlalu malam ketemu memedi lho!"
"Enggak ada memedi mbak kalo disini. Kita biasa malam begini lewat sini."
"Malah ono ne neng sekolah e Zahra kae to? Mosok gambar presiden iso tibo dewe jal. Sekolahmu pancen medeni o, Za." (Malah adanya di sekolahnya Zahra itu to? Masak gambar presiden bisa jatuh sendiri coba. Sekolahmu memang ngeri kok, Za.)
"Ora ah! Sekolahmu podo wae yo, Tin. Tau ono seng ketemu genderuwo pas kemah kuwi. Bocah e nganti pingsan." (Enggak ah! Sekolahmu sama aja ya, Tin. Tau ada yang ketemu genderuwo pas kemah waktu itu. Anaknya sampai pingsan)
"Eeh... udah! Ayo cepetan pulang! Faisal jangan lupa dianter sampe rumah."
"Iya, mbak. Kita pulang duluuu...!"
"Yaa... hati-hati di jalan. Enggak usah pada lari."
Urusan anak-anak setidaknya selesai untuk malam ini. Kami semua bisa bernapas lega. Meski mereka sudah berada di Sekolah Dasar, rasanya repot juga mengurus mereka.
"Tapi aku jadi ada ide nih!"
"Wah, Pak Kordes ada ide bagus! Bisikin ke kita dong, Pak."
"Supaya warga dan kita makin mengenal, kenapa kita enggak buat lomba aja?"
"Kan belum tujuh belas agustusan, Ki."
"Iya, ini sifatnya dari kita aja selaku mahasiswa dan mahasiswi KKN disini. Tujuannya mengelola anak-anak juga biar bisa ditata dengan baik kegiatan mereka. Apalagi mau ada libur hari besar yang jatuhnya pas bener sama hari sabtu dan minggu."
Rencana Eki mau mengadakan lomba bukan sekedar omongan kosong belaka. Dia ingin semua ikut terlibat. Termasuk ibu-ibu PKK harus ada di kegiatan ini. Kami semua sih setuju, tinggal bagaimana keputusan Pak Kades nantinya.
"Oke, kita rencanakan dari sekarang ya!"
"Siaaap, Ki!"
***
Beri Reaksi
Masuk untuk memberi reaksi