Bab 8Kisah Ketujuh : Bukan Malam Ini Saja

7 menit baca1.4rb kata

Apa aku harus mengalami semua penderitaan bertemu makhluk halus selama di tempat KKN? Tuhan, kalau boleh kukembalikan saja hadiah dari-Mu ini. Biarkan aku menjadi manusia biasa saja. Sudah cukup aku menderita dengan ini semua!

"Baik, kita mulai ya pelatihan komputer untuk bapak-bapak perangkat desa hari ini."

Astaga! Aku harus fokus! Hari ini sedang ada pelatihan komputer di aula kantor desa. Sebenarnya disini pun juga banyak penghuni gaibnya. Tapi mereka masih ramah dan mau menyingkir saat kami datang. Meski ada juga yang penasaran dan melihat ke arah kami.

"Ikut ah! Ikuuut...!"

"Ssst...! Maria, jangan begitu!"

"Ee mbak... ini panah di komputernya agak susah dikendalikan."

Duh, ini kerjaan Maria. Dasar! Bapak ini jadi bingung kan? Padahal laptop milikku ini masih normal. Andai bisa, sudah kutinju muka si Noni Belanda centil ini. Untunglah pelatihan komputer berjalan normal.

"Eh, bapak yang aku bimbing tadi cepet banget mau belajar."

"Bagus dong, Nuk. Enggak kayak bapak tadi agak lama aku ajarin."

"Eh, hari ini kita enggak ada program lagi kan?"

"Enggak, May. Memangnya kenapa?"

"Kita coba jalan-jalan yok! Katanya lurus dari desa ini ada minimarket modern."

"Akhirnya, kita ketemu kehidupan modern. Wuwuwu...!"

"Ah, Nuki ngono penak. Mau kan ibumu mrene ta maringi jajan." (Ah, Nuki gitu enak. Tadi kan ibumu kesini ta kasih jajan.)

"Iya, Put. Hehehe...."

"Mayaaa...!"

"Dih, Sojo apaan sih!"

"Ntar kita ngebaks, yuk!"

"Ngebaks apaan? Kok aku enggak diajak! Ih, Sojo gitu sekarang!"

"Gue kan ngajak Maya. Kok lu yang nyambung sih, Non?"

"Udah ambil semua aja, Jo! Bungkus...!"

"Emang aku cewek apaan, Nuk? Main bungkus aja!"

Sojo mengajak kami makan di luar desa, syaratnya bayar masing-masing. Kirain dia yang mau bayarin. Hati ini sudah bahagia dah. Lumayan bisa ngirit kalau dia yang traktir kita semua.

"Anak cowok enggak diajak, Jo? Eh, katanya ada tempat buat laundry baju ya disana?"

"Ada dong! Gue pernah dikasih tahu sama temen beda desa."

"Sekalian kita laundry baju aja, daripada cuci sendiri pegel kan."

Semua setuju saran si Maya. Hanya aku yang diam sampai akhirnya Nuki menanyakan hal itu padaku. Aku biasa mencuci pakaian sendiri. Rasanya aneh kalau masukkan pakaian ke tempat laundry.

"Sesekali lah, Dit!"

"Ya, coba dulu deh!"

Aku takut kalau ada baju yang hilang. Mana bawa bajunya terbatas juga. Saat sampai di kos, aku hanya memberi ke Maya satu celana panjang yang sulit kalau aku cuci pakai tangan. Namanya juga percobaan masak sih mau satu stel pakaian.

***

Inilah pertama kalinya aku mengeksplore area luar desa. Masih didominasi oleh kebun dan kebun. Meski jalanan sudah beraspal, tak bisa kubayangkan bagaimana jika malam hari harus melewati tempat ini. Belum ditambah kabut turun dan hawa dingin yang menembus jaket kami.

Apanya yang dekat? Huh! Setidaknya nyaris satu kilometer untuk mencapai minimarket terdekat, termasuk laundry dan eh ada bank juga ATM. Beruntung sekali menemukan ATM disini. Kami ke laundry dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

"Kalau lurus lagi kemana ya, Jo?"

"Ke kota lah! Bahkan bisa kita ke Kota M."

"Eh, disana ada mall yang mewah banget! Kapan deh kita agendakan kesana."

"Nanti aja, Nuk. Pas udah kelar program kita semua."

Area menuju ke kota saja sudah seramai ini. Bahkan lingkungannya nyaris sama dengan Kota Se. Ada franchaise fried chicken juga disini yang sama seperti di kota asalku. Aku sempatkan beli untuk cadangan makanan. Daripada harus makan tempe lagi dan lagi.

"Nah, jadi ngebaks enggak nih Jo!"

"Jadi, dong Maya! Apa sih yang enggak buatmu."

"Ceile Sojoo...!"

"Jangan cemburu lho, Non!"

"Dih, enak aja! Sojo bukan tipeku."

"Yee... siapa juga yang suka sama lu Non."

Tangan Nona sudah nyaris menghajar tubuh gempal Sojo. Tapi dia berhasil menghindarinya sambil mengejek. Rupanya maksud "Ngebaks" itu adalah makan bakso. Aduh, pake istilah baru segala sih Sojo ini!

"Enak nih, bakso disini. Harganye murah!"

"Iya, daripada nanti malam kita nahan makan tempe, sayur sama sambel doang!"

"Enggak pake nasi lu, Non?"

"Eh, iya! Pake nasi dong!"

Kembali tangan nona menampar lengan Sojo. Kali ini kena, sampai membuatnya cukup kesakitan. Nona hanya tertawa puas saja.

"Bisa enggak sih cewek kalo lagi ketawa kek, malu kek, seneng kek, enggak pakai nampar cowok?"

"Maaf Sojo, tanganku reflek nih!"

***

Seharusnya aku tadi tidak berpikiran akan melewati jalanan ini saat gelap. Benar saja, kami harus melewatinya. Adzan maghrib masih berkumandang dimana-mana. Tapi kami nekat menembus kabut yang mulai turun dan gelapnya jalanan ini.

Semoga ini sekali saja, besok kalau mau melewati jalanan ini pas hari masih terang. Jantungku berdegup kencang, seolah mau menghadapi sesuatu yang baru. Untung saja aku masih ada di dimensi alam nyata. Bukan dimensi makhluk tak kasat mata. Pikiranku sejak di jalan liar menerawang apa yang terjadi kalau motor bebek milikku ini bisa menembus ke dimensi lain.

"Ihihi...asik Dita!"

"Mariaaa...!"

"Lagiii...!"

"Lebih cepat lagi Dita...!"

"Aku ngebut bukan mau buat kalian berdua senang!"

Dasar duo Noni Belanda norak! Kapan yaah... mereka berlepas diri. Setidaknya badan juga jadi lebih ringan kalau enggak ada mereka. Bagi yang sensitif, ditumpangi makhluk seperti mereka tentu membawa dampak buat tubuh fisik.

"Ooh...lewat jembatan ini ya ternyata!"

"Eeh... ada jembatan lain. Kayaknya menarik Dita!"

"Dita tidak lewat sana?"

"Untuk apa? Jangan ngaco kalian! Jembatan itu aku tidak tahu mau mengarah ke mana?"

Daripada nanti tersesat mengikuti mereka berdua, lebih baik aku pulang saja ke kos cewek. Sebentar lagi juga persiapan untuk rapat di kos cowok. Nona sudah menggerutu dan berharap rapat di pindah saja ke kos cewek.

"Temanmu itu sok, tapi ternyata penakut juga hihi...."

"Hus! Jangan begitu dong, Maria!"

"Ya enak disana, Non. Sambil makan malam kan."

"Iya, tapi sesekali lah. Nanti aku sarankan ke Pak Kordes."

Sepertinya Nona serius mau memindahkan tempat rapat kemari. Biarlah, kalau itu terjadi aku juga suka. Jelasnya para cowok pada marah nanti karena tempat rapat dipindah. Nah, benar saja kan! Kulihat Habib malam ini bersungut saat saran itu dilontarkan oleh Nona.

"Kenapa sih? Disini aja! Ada tembok jadi kita pakai proyektor lebih leluasa."

"Iya, tapi kita malas mau kencing disini. Kamar mandi kalian serem! Sumpah!"

Aah... aku belum pernah memakai kamar mandi mereka. Tapi mendengar penuturan Nona tadi bulu kudukku ikutan merinding juga. Kulihat wajah Yosi yang nampak mengiyakan perkataan Nona tanpa perlu dia mengangguk. Mungkin itu juga alasan kenapa mereka mandi di tempat cewek. Bukan sekedar airnya yang bau.

"Begini saja, masalah Nona sama cewek lainnya apa sih?"

"Kami kan cewek Pak Kordes. Sudah berapa kali takut kalau jalan kemari."

"Desa ini banyak makhluk tak kasat mata!"

"Sst...! Mbak Tiska jangan terlalu kencang kalau bicara."

"Pengalaman pribadi aku, Ki. Eh, sama Maya juga. Bener enggak, May?"

"Iya nih, apalagi di jembatan kecil menuju kos-an kita sono. Belum lagi yang di dalam kamar."

"Lah, aku kira di kamar kalian aman!"

"Apanya sih yang aman, Dit? Tanya Putri tuh!"

"He'eh yo! Aku tau krungu ono wong ngetuk jendela ping pindo. Padahal sebelah omah kebun kosong ta." (Iya yo! Aku pernah dengar ada orang ketuk jendela dua kali. Padahal sebelah rumah kebun kosong ta.)

Kericuhan terjadi dan Nona minta ditemani minimalnya satu laki-laki saat kembali ke kos. Tapi sepertinya laki-laki disini sama saja. Bahkan yang menolak pertama kali tentu saja Yosi dan si ganteng Habib. Nuki malah minta Ridhwan terus saja yang menemani mereka. Tentu saja Ridhwan dipilih karena dia lebih alim dan paham soal agama.

"Aku tidur mana nanti disitu?"

"Tidur sama Dita aja, Wan! Dita jomblo kan hehe...."

"Lah kok aku, Nuk?"

Duh, acara KKN jadi berubah acara take me out deh! Malah jodoh-jodohan begini. Ridhwan langsung menegaskan dia sudah punya cewek. Nuki yang mengkompori kalau aku bakalan sedih. Enak aja! Aku juga sudah ada tapi sebatas teman yang terlalu dekat.

"Aku tahu Dita itu sebenarnya dekat sama siapa?"

"Sama siapa Pak Kordes?"

"Sama si Arif itu kan yang di desa lain. Kecamatannya masih sama kayak kita."

"Arif mana sih, Pak?"

"Astaga! Cowok yang melambai itu, Ki? Selera Dita kayak begitu rupanya!"

"Enggak ah! Ngaco Eki nih!"

"Udah, enggak usah berkilah lagi Dit! Arif sendiri yang deket dan bilang sama aku."

Sialan! Kok Arif bilang sih. Aduh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisa jadi bahan bully-an aku disini. Hubunganku sama dia juga tak terlalu jelas. Hanya sekedar dekat saja.

Dulu, kemanapun dia ada selalu aku ikut. Terkadang juga tak sengaja kami berdua bertemu. Mungkin dari sanalah rasa itu muncul. Karena aku tak memandang gayanya yang terlalu flamboyan. Berbeda terbalik dengan tampilan otot lengannya yang besar karena latihan di gym.

"Salahmu juga, Dita! Kenapa dekat sama laki-laki seperti itu?"

"Kau tak pernah paham, Maria. Kisah cinta manusia terlalu rumit!"

***

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Bab berikutnya

Lanjutkan perjalanan Kisah Kedelapan : Penerawangan Nona.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.