Bab 9Kisah Kedelapan : Penerawangan Nona

5 menit baca1.0rb kata

Malam ini giliran jatuh kepada Yori selaku wakil dari Pak Kordes. Bukan sesuatu hal yang menarik, dia harus mau menemani kami jalan pulang ke kos cewek. Termasuk tidur di kos cewek dan besok pagi dia boleh kembali lagi.

"Astaga! Aku sih sebenarnya enggak mau."

"Harus mau, Yori!"

"Hei, aku juga penakut!"

"Lho, jadi cowok jangan penakut dong!"

"Kamu sih bisa bilang begitu, Nuki."

Sepanjang perjalanan kami masih bisa bercanda. Sampai kos rupanya nuansa seram hadir lagi. Entah sudah berapa kali listrik mati. Kupikir desa ini akan aman dari yang namanya mati listrik. Ternyata tidak juga!

"Sudah jam sebelas! Tumben rapat kita cepat ya!"

"Iya, nih! Tapi aku belum bisa tidur."

Malam ini rasanya aneh, kami semua tidak bisa tidur. Termasuk si Ibu hamil ini. Tapi kami semua berupaya agar Putri bisa tidur duluan. Kasihan bayinya juga.

"Buatin susu dong! Aku bawa nih, tapi udah mau habis. Besok paling aku titip sama yang mau pulang ke kota Se."

"Duh, manja sekali ibu hamil kita yang satu ini."

"Ah! Nanti kamu juga mengalami kalau punya bini, Yori. Yuk Mbak Tiska, kita buatin susu untuk Putri."

Sementara Mbak Tiska dan Maya membuatkan susu untuk Putri, kami semua asik bercerita. Sialnya ini cerita horror. Anehnya, Putri malah ikutan nimbrung. Yori berulang kali mengusirnya, khawatir kalau Putri yang dengar malah jadi pingsan.

"Aku wes biasa, Yori. Nek ndesoku yo akeh cerita koyok ngono. Ki ya tetanggaku tau...."(Aku sudah biasa, Yori. Di Desaku yo banyak cerita kayak begitu. Ini ya tetanggaku pernah.....)

Aku hanya melihat ke arah Putri. Memang ibu hamil yang satu ini sungguh luar biasa! Bukannya takut atau apa malah makin berani bercerita. Mbak Tiska dan Maya kembali dengan segelas susu hangat. Kami semua masih bercerita sampai akhirnya Putri bisa tidur.

"Sebenarnya aku merasakan ada yang aneh sama rumah ini."

"Maksudmu gimana, Non?"

Aku tebak Nona pasti ingin berbicara tentang makhluk apa yang ada disini. Termasuk makhluk yang pernah dilihatnya malam itu. Sejujurnya aku pernah membuka gorden di malam hari dan tak nampak makhluk bermata merah darah itu. Kurasa hanya Nona yang ditampakkan.

Nona meraih ponselnya, dia bilang kalau kami tak percaya pada salah satu sepupunya. Melalui aplikasi pesan BBM dia mengirim dan menerima kabar lainnya. Bahwa penghuni kebun kosong sebelah lebih menyeramkan lagi. Bahkan katanya lebih jahat dan mereka ada banyak.

"Jenis genderuwo sih kalo kata sepupuku. Aku sebatas bisa tahu itu makhluk tinggi besar."

Huh! Pertunjukkan macam apa lagi ini? Aku sudah bosan dengan penderitaan sebagai seorang "Gifted". Kini ditambah aksi Nona yang seakan melihat makhluk tak kasat mata. Mujurnya, dia tak mau mengakui diri sebagai "Indigo". Hanya orang yang sensitif saja.

"Ting!"

"Nah, kata sepupuku mereka serem dan energinya negatif nih."

"Terus kita kan disini sampe lama. Berarti mereka jahat ya. Gimana dong?"

"Kata Sepupuku juga, kita berdoa saja!"

"Eh, sebentar! Aku kebelet pipis nih. Yaudah kalau kalian mau mulai duluan."

"Ah, Dita! Aku nitip ya!"

"Ada aja sih, Yori! Mana bisa kencing dititipin?"

Rasanya sudah diujung tanduk. Aku tak tahan lagi dan bergegas menuruni tangga menuju ke rumah bawah. Bu Sobari sepertinya sudah tidur. Tapi apa ini? Kenapa jalanku di halangi kabut. Jantungku berdegup kencang. Aduh! Aku seperti menabrak sesuatu, tapi apa?

"Teman-temanmu itu ngawur! Kami tidak seperti itu!"

"S-s-siapa yang berbicara?"

Bola mataku berputar menatap sekitar. Kabut ini makin lama mengumpul hingga membentuk satu padatan. Makhluk tinggi besar yang berbulu putih. Apa salahku? Kenapa mau kencing saja jalanku dihalangi? Padahal sebelumnya, aku tak melihat makhluk ini.

"Suruh hentikan mereka berdoa! Apa yang mereka lakukan itu FITNAH!"

"Kami kesakitan disini! Lihat, sesama kami penuh luka gores."

"Aargh! Sakiiit...!"

Kakiku rasanya lemas. Aku tak tahu lagi, bukannya makhluk semacam ini biasanya jahat ya. Bahkan rasa kebelet tadi seolah hilang. Aku ini siapa? Hanya seorang Dita yang minder dan kalau bilang begitu pasti akan dibilang sok tahu. Tapi tak tahan juga mendengar suara kesakitan mereka seolah terkena silet tajam yang berterbangan.

"Tapi apa yang terjadi pada kalian? Aku bahkan tidak ikut berdoa tadi."

"Ya, karena aku sebagai pemimpin disini menarikmu kemari. Karena kau yang manusia, sampaikan protes kami pada mereka. Doa mereka menjadi sesuatu yang mengancam kami disini."

"B-baiklah...tapi setelah aku menyelesaikan urusanku di kamar mandi."

Fiuh... lega bisa mengeluarkan apa yang aku tahan tadi. Kamar mandi menjadi tempat paling aman bagiku saat ini. Kalau aku keluar, mereka pasti masih ada. Kaki saja masih terasa lemas. Bagaimana caranya bisa kabur dari sini. Benar saja, mereka masih ada didepan!

"Kau ini manusia, Dita! Tingkatanmu lebih tinggi dari mereka. Mereka percaya padamu! Sampaikan pada teman perempuanmu yang sombong dan sok ngawur itu!"

"Tapi Kakek Harimau Putih, a-aku...."

"Lewat biasa saja, aku ada di belakangmu. Jangan takut!"

"Iya, deh Kakek. Iyaaa....!"

Huh! Seharusnya begitu dong, Kakek Harimau Putih! Jadi Khodam kasih dukungan. Jangan aku dimarahi terus. Aku sama dunia begini kan baru kenal saat kuliah. Akhirnya aku berani melangkah kembali.

"Ingat! Sampaikan pada mereka untuk tidak mengulangi doa semacam itu lagi."

"I-iya, nanti aku sampaikan."

Keberanianku sudah terkumpul. Kini aku berani menghadapi teman-temanku. Ambil napas, jangan lupa buang napas dan mari kita ngomong.

"Udah selesai eh... temen-temen...."

"Sst... kita lagi berdoa, Dit!"

Aduuh... cobaan macam apa lagi ini? Sebagai manusia aku enggak mungkin mengacaukan doa mereka. Tapi sebagai perwakilan dari mereka, aku harus menghentikannya!

"Aamiin... nah sudah selesai. Telat sih Dit kamu datangnya."

Hatiku rasanya mau menangis. Tuhan, apa yang kau berikan pada hamba ini terlalu berat. Kemampuan ini tak pantas untuk manusia pengecut sepertiku. Bahkan menghadapi temanku sesama manusia saja tak mampu.

"Bukan, aku cuma mau bilang. Sekali ini aja ya! Plis! Jangan ulangi lagi."

"Kita kan berdoa untuk sesuatu yang baik, Dit."

"Bukannya aku tadi sudah bilang, nih kata sepupuku juga. Mereka itu makhluk berenergi negatif. Artinya mereka itu jahat!"

"Bukan begitu tapi...."

"Kamu membela mereka, Dit? Mereka itu jin!"

Dadaku terasa sesak. Aku disini sebagai penengah antar dua makhluk beda dimensi. Bukannya aku membela mereka, tapi sebagai sesama makhluk hidup kita harus saling menghargai. Bukannya saling menyakiti seperti ini. Apa yang kita tuduhkan jahat, belum tentu juga seperti itu.

"Ya, sudah kalau begitu."

Aku bergegas pergi dan menarik selimut. Membiarkan mereka asik kembali dengan cerita horrornya. Lebih baik aku tidur daripada berdebat dengan Nona dan lainnya. Tuhan, aku punya kekuatan ini tapi tak mampu melawan pemikiran teman-temanku.

"Dit, aku rasa kamu itu...."

"Ah, sudahlah, Nuk! Aku mau tidur aja!"

***

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Bab berikutnya

Lanjutkan perjalanan Kisah Kesembilan : Haruskah Aku Mengakui.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.