Bab 10Kisah Kesembilan : Haruskah Aku Mengakui

7 menit baca1.4rb kata

Beban hidupku tak hanya sekedar menjadi jembatan antara mereka yang kasat dan tak kasat mata. Namun harus terus bersembunyi agar tidak ada yang tahu tentang diriku. Bahwa aku ini seorang "Gifted" bukan "Indigo". Kemampuan ini bukan untuk dipamerkan seperti Nona atau anak Ibu Erlina.

"Kakek, ini adalah sebuah pertanggung jawabanku pada Tuhan."

"Tuhan tidak salah memilihmu kalau begitu Dita."

"Hah? Kenapa Kakek Harimau Putih berkata begitu? Kakek bisa dekat dengan Tuhan?"

"Grrr... aku juga sama denganmu Dita! Apalah aku ini, hanya makhluk ciptaan-Nya juga. Tapi kurasa sudah saatnya teman-temanmu tahu."

"Aku tidak mau dimanfaatkan oleh mereka!"

"Ada aku disini, Dita! Graorr... jangan pernah merasa dirimu lemah. Hapus air matamu!"

"Eh, Dita kenapa? Sakit?"

Aku segera menghapus air mata yang tak sadar menetes di pipiku. Masih menunduk tak berani menatap Nuki. Sambil menggeleng pelan dan berlari ke kamar mandi. Aku harus semangat!

***

Kulihat Nuki agaknya memperhatikanku sejak pagi tadi. Aku berusaha pura-pura tak tahu dan asik dengan smartphone milikku. Membuka akun medsos dan kaget saat ada teman di medsos yang tahu kalau Maria dan Mery selama ini mengikutiku.

"Iih manusia yang satu itu sok tahu banget sama aku."

"Katanya kamu terlihat menurut penerawang dia. Kok kamu bisa baca tulisan dia?"

"Tentu saja aku tahu, Dita! Aku ini hanya keturunan Netherland. Tapi aku lahir dan dewasa disini!"

"Ah, tapi dia yang mencoba melihat kita itu biasa saja, Kak. Tidak tampan! Masih tampan dari Bangsa kami."

"Terserah apa kata kalian!"

Sebenarnya aku juga sudah biasa diterawang orang. Katanya ada yang ikut lah, ini lah, anu lah, tapi kalau tidak ada manfaatnya untuk apa? Maria dan Mery saja ikut karena mereka mau bebas dari bekas pabrik kopi itu. Sebenarnya kalau aku sih terserah mereka.

"Eh, kata ibu kos disini ada lho jembatan yang dulu dibangun sama orang Belanda. Kita pernah jalan sampai sana kan Nuki pas pagi banget habis subuhan."

"Ooh... jembatan yang sekarang di cat merah itu?"

Ting! Telingaku langsung tegak mendengar cerita mereka. Apalagi Maria dan Mery sedang ada disini. Nah, benar saja Mery sudah menarik-narik lenganku supaya aku kesana. Duh, ini cuma cerita saja! Terkadang tidak sepenuhnya benar.

"Ayolah, Dita! Benar apa yang aku rasakan. Kita kesana saja. Siapa tahu ada banyak dari Bangsa kami disana."

"Iya, ayolah!"

"Ini sudah siang, Maria! Panas disana, lagipula aku mau cuci baju."

"Huh! Tapi aku ijin dulu padamu. Kalau besok kau tak bisa, aku ikut teman-temanmu ya."

"Terserah! Awas aja kalau kalian ganggu mereka."

"Kita ikutan jalan kesana saja, Dita. Siapa juga yang mau mengganggu mereka?"

Firasatku, Maria dan Mery tak akan lama lagi mengikutiku. Baguslah, Duo Noni Belanda cerewet ini akan pergi dari hidupku juga. Aah... mungkin suatu saat mereka akan jadi kenangan nanti.

"Mau ikut enggak Dit? Besok pagi kita jalan-jalan ke jembatan merah itu."

"Enggak, ah! Dingin!"

"Dita kan nek tangi siang. Ora iso lah melu mlaku-mlaku mbek awake dewe." (Dita kan kalau bangun siang. Enggak bisa lah ikut jalan-jalan sama kita semua.)

"Yee... enak aja! Udah bangun tapi tidur lagi."

"Sama aja dong, Dit!"

***

Sinar layar smartphone menerpa wajahku. Nampak seram kalau di malam hari. Tiba-tiba Nuki menepuk pundakku sampai gawai itu nyaris terjatuh. Untung saja berhasil kutangkap.

"Nukiii!"

"Maaf, Dit. Hehehe... aku mau tanya satu hal sih."

"Apaan tuh?"

"Sebenarnya kamu bisa kan melihat yang kayak gitu?"

"Ya bisa lah! Aku kan enggak buta, Nuk!"

"Iih! Bukan itu maksudku, Dit! Kamu punya kelebihan gitu lhoo...."

"Iya, Nuk. Aku kelebihan berat badan nih! Kemarin timbang di rumah masih 56 kg. Pas di apotik terakhir timbang berat badan udah 60 kg."

"Aduh, Ditaaa...! Bukan itu juga keles!"

Aku hanya diam saja melihat Nuki yang sudah mulai kesal sambil meracau tak jelas. Rambut ikalnya bergerak tak beraturan mengikuti gelengan kepalanya. Haah... apa sebaiknya aku jujur saja ya.

"Nuki kenapa, Dit?"

"Meledak setelah aku itu kan, Yos!"

"Woiii serius dong, Dit!"

"Iya ini udah serius dari tadi kok."

"Kalau serius jawabnya yang bener! Kamu itu indigo kan?"

"Bukan. Mau tanya sampe pegel juga aku jawab memang bukan Indigo kok."

"Ah! Kamu kurang cerdas kalau tanya sama Dita. Maksud Nuki itu kamu punya kelebihan lihat makhluk tak kasat mata enggak?"

"Haah... iya deh. Memangnya kenapa sih kalian berdua?"

"NAH, KENAPA KALAU YOSI YANG TANYA JAWABNYA BENER?"

"Udeeh... sabar Nuk! Ini masalahnye apa sih, Yos?"

Yosi menjelaskan duduk permasalahannya pada Sojo. Laki-laki bertubuh tambun itu hanya mengangguk sambil melipat tangan diatas dadanya. Akhirnya semua jadi mengarah ke aku. Duh, padahal aku paling benci menjadi sorotan seperti ini. Rasanya kurang nyaman aja.

"Kenape lu kagak bilang, Dit. Kan kite bisa nanya ke lu?"

"Issh emang aku mbah dukun? Enggak enak tahu punya begituan! Lagipula aku malas buat pamer."

"Ini bukan pamer, Dit. Tapi...."

"Tapi apa, Yos?"

"Tapi cerita gitu. Ya kisah nyata gitu, Dit."

"Aelah... lu pikir ini novel Yos?"

"Siapa tahu Dita nantinya terinspirasi untuk membuat cerita tentang kita semasa KKN."

"Iye, Kisah Kasih Nyata!"

Mereka mulai mengerubungiku dan bercerita satu per satu. Kulihat Nona datang, tapi pandangannya agak berbeda kali ini denganku. Tatapannya nampak tajam dan seolah dia tak suka denganku. Ah, jangan berpikiran jelek dulu Dit! Mungkin itu cuma pikiran jelekmu aja!

***

Mulai dari Yosi bercerita tentang sosok yang tak sengaja dia temui di kamar mandi kos cowok. Baru aku tersadar kenapa dia untuk urusan kencing pun tak pernah mau ke kamar mandi yang ada disana. Yosi selalu berlari ke kamar mandi cewek. Rupanya laki-laki yang memiliki rambut ikal sama seperti Nuki ini juga penakut.

"Serius aku, Dit! Disana ada sosok tinggi gede hitam semua. Iya kan Jo?"

"Nah, itu die Dit! Gue juga pernah ketemu sama makhluk onoh. Buset bawaan pengen lari aja!"

"Eh, berarti pas aku pernah lihat kamu tiba-tiba lari keluar tengah malam itu, Yos?"

"Iya, Nuk."

"Resleting lu sampe belum dinaikkan itu ye."

Yosi agaknya malu bercerita tentang itu. Nuki yang menyadari langsung berteriak histeris. Karena saat itu dia melihat Yosi dengan jelas. Bahkan matanya masih melek seratus persen. Aku mencoba mengingat kembali, rasanya pernah bertemu makhluk yang dimaksud Yosi.

"Sebentar deh... makhluk itu ya?"

"Iya, menurut lu gimane Dit? E... buset gue juga kaget waktu itu, Yos!"

"Kita senasib berarti Sojo! Huhuhu... mari berpelukan!"

Nuki hanya mendengus kesal melihat keduanya bertingkah konyol. Saling berpelukan seperti Teletabies. Aku sebenarnya menahan tawa sambil mengingat kembali peristiwa yang pernah terjadi di kamar mandi kos cowok.

"Tapi aku siang sih! Makhluk itu memang penghuni asli disana. Dia baik kok."

"Hah?! Masak sih, Dit? Tahu baik apa enggak darimana? Pake feeling gitu?"

"Bukan, pake sendal! Nih, aku tabok ke mukamu Yos."

"Aduh, Nuki. Jadi, cewek jangan galak dong!"

"Iya pakai hati lah, Yos. Lagipula, dia sama aku cuma bilang hai gitu aja. Enggak ada yang lain."

Entah apa jenis makhluknya aku juga tak paham. Namun sekilas, dia memang baik dan tak ada maksud mengusir kami dari rumah itu. Entah bagaimana dengan penghuni lainnya? Sebenarnya penghuni lain ada di ruang makan dan itupun sangat sopan. Dia hanya diam di sudut ruangan, sambil beberapa kali memperhatikan kami saat makan.

"Kesepian gitu dong dia, Dit?"

"Sebenarnya dia sih senang kalau ada penghuni manusianya, mau ngajak kenalan. Tapi kok pada takut semua. Termasuk kalian berdua tuh!"

"Oh ya, kalau katamu tadi yang di ruang makan menurutmu bagaimana?"

"Itu sopan banget, dia enggak ganggu kita. Cuma diem disitu aja."

"Ooh... syukur deh!"

"Lagi pada apa sih? Ikutan dong!"

"Ridhwan telat! Yuk, kita pergi aja!"

"Lho ada apa ini? Saya datang kok pada pergi? Ya sudah ikutan pergi saja."

"Duh, mungkin Ridhwan lelah! Sini lho, kita lagi cerita serem."

"Kenapa memangnya kok tiba-tiba cerita serem?"

Nuki bercerita bahwa aku punya kemampuan spesial melihat makhluk tak kasat mata. Ridhwan langsung semangat mau ikutan cerita.

"Eh, aku pernah Dit! Jadi, pas nonton bola tuh. Jam 12 malem tiba-tiba ilang gambarnya. Udah aku perbaiki antenanya, tiba-tiba bisa terus ilang lagi. Pas ilang kedua kalinya aku denger ada yang ketawa."

"Ketawanya gimana, Wan?"

"Hihihihi... kayak gitu, Nuk? Apa itu kuntilanak ya? Terus ada yang nampar pipiku."

"Iyalah, apalagi Wan."

"Waduh...."

"Ridhwan disukai kuntilanak. Hiii...."

"Ah, jangan begitu Yos! Aku kan cuma mau nonton TV bukan mau ngapain."

"Itu cuma usil, Ridhwan. Biasa deh kita juga bisa usil sama temen sendiri. Apalagi mereka?"

"Wah, tingkat usilnya sudah terlalu tinggi."

"Ayo, lho kita mulai rapatnya!"

"Iya, Ki! Ah, lagi seru nih ceritanya! Kita lanjut lagi besok deh, Dit."

Kami semua akhirnya masuk dan memulai rapat hari ini. Semoga saja dengan mereka bertanya seperti itu sudah cukup puas. Bagaimanapun juga aku tetap berusaha menjaga diri agar jangan sampai terlihat sombong. Apa yang ada padaku ini hanyalah titipan sementara dari Tuhan.

***

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Bab berikutnya

Lanjutkan perjalanan Kisah Kesepuluh : Pergilah Maria dan Mery .

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.