Bab 13Kisah Kedua Belas : Kopi, Kopi dan Kopi
Huh! Kesal rasanya dengan bapak yang aku bimbing dalam pelatihan komputer itu. Kayak enggak ada niat sama sekali. Lihat saja perangkat desa yang lain mau bergerak dan belajar. Tapi bapak ini pasif sekali, bahkan menggunakan mouse pun masih saja gemetaran.
"Setiap peserta memang berbeda-beda ya. Tapi secara keseluruhan sudah ada peningkatan."
"Iya! Bahkan bapak yang aku bimbing itu pelatihan sudah selesai, tapi mau lanjut terus."
Alangkah enaknya mereka yang ketiban peserta seperti itu. Sementara aku, kena apesnya nih! Sialnya tidak ada yang mau mengajari bapak itu selain aku. Sepertinya mereka tahu kalau bapak itu enggak ada niat buat ikut pelatihan.
"Assalamualaikum...."
"Bu Sobari belum pulang kayaknya. Maya, kuncinya dimana?"
"Iya, sabar Nuk! Ini aku bukain dulu pintunya."
Nuki ternyata sudah kebelet pipis. Pantas saja dia buru-buru masuk. Nona langsung mengambil charger dan mengisi daya ponselnya. Sementara Putri asik dengan remote TV dan mencari channel kesukaannya. Ah, aku lupa hari ini mau cuci baju dulu.
Sebenarnya, setiap ke area kamar mandi aku beberapa kali bertemu dengan makhluk yang pernah mencegatku itu. Tapi sekarang dia lebih banyak diam daripada berbicara. Hanya saja tatapannya masih tajam saat ada teman-temanku berkumpul di dekat sana.
"Jangan beritahu soal keberadaanku pada teman-temanmu!"
"Hah?"
Pada akhirnya, makhluk itu berbicara lagi. Meski dengan nada yang berbeda, tidak seram seperti di awal. Bukannya dia malah memintaku dulu untuk memperingatkanku soal doa itu ya? Malahan itu sudah membuat mereka jadi diketahui oleh teman-temanku.
"Tapi...."
"Aku bilang jangan! Beritahukan saja saat kalian sudah tak ada lagi disini."
"Ya, baiklah."
Bukannya aku lemah, tapi berusaha untuk menghargai semua makhluk di Bumi ini. Kalau mereka berpesan "jangan" tentu saja aku tak berani mengatakan hal itu pada teman-temanku. Biarlah rahasia ini kusimpan rapat!
***
Saat ibu kos membuka ruangan satu lagi, nampak ada beberapa makhluk yang menyingkir. Ah, itu makhluk yang sempat terluka akibat doa di malam itu. Lukanya sudah menutup meski masih nampak goresan. Agaknya dia memandang tak suka pada Nona.
"Tolong jangan ganggu, meski kau pernah terluka karena temanku itu."
"Uugh...! Kami tidak seperti kalian manusia! Kami adalah makhluk yang terikat akan aturan. Tak mungkin kami menyerang manusia hanya karena masalah sepele. Justru kami berusaha menghindar."
Sepele katanya? Menurutku apa yang dilakukan oleh teman-teman sudah fatal. Makhluk bertubuh serba merah itu segera menghilang dari hadapanku. Terkadang, aku jadi malu! Mereka saja sangat mentaati aturan. Berbeda dengan manusia yang justru ketika ada aturan malah seenaknya dilanggar.
"Masaknya masih pakai tungku kayu bakar, Bu?"
Aku terhenyak saat mendengar Yosi bertanya seperti itu. Iya, aku harus kembali ke kehidupan nyataku. Sebagai mahasiswi yang sedang belajar memasak kopi seperti apa?
"Saya bantu nyalakan apinya, tapi mas sama mbak yang terus ngaduk biji kopinya."
"Siap, Bu!"
"Jangan berhenti, kalo pegel tangannya gantian saja."
Wah, ternyata memasak biji kopi ini tidak mudah! Aku tak ikut mengaduk karena lihat saja sepertinya sudah berat. Kata Ibu kos, kalau berhenti diaduk matangnya tidak rata. Nanti ada biji kopi yang belum matang. Yosi yang paling semangat, dibantu Sojo beberapa kali. Nona ikut mengaduk tapi akhirnya menyerah juga.
"Nah, akhirnya pemirsa setelah melalui proses memasak yang cukup melelahkan. Biji kopinya sudah matang."
"Coba saya lihat, mas? Wah, ini sih terlalu matang."
"Waduh, terus gimana dong bu?"
"Yaah... enggak apa! Namanya juga masih pemula. Paling berpengaruh di rasanya kurang mantap."
"Terlalu gosong begitu ya, Bu?"
"Enggak juga! Kalau terlalu matang rasanya agak gimana gitu."
"Waduh, rambutku kok bau kopi begini ya!"
"Bagus dong, Yos! Rambut lu aroma kopi."
Kami semua tertawa saat Yosi masih panik sambil memegang rambutnya yang ikal itu. Nuki menyarankannya untuk potong rambut saja. Tapi Yosi masih sayang dengan rambutnya. Bahkan dia meyakini sesuatu yang aneh. Kalau dia potong rambut, konon katanya pacarnya malah putus.
"Itu pacar ape rambut sih, Yos? Kok mudah putus!"
"Berisik lu, Jo! Memang sudah berapa kali aku mengalami begitu."
"Berarti pacarmu tidak tulus mencintaimu tuh!"
"Kok bisa gitu, Nuk?"
"Buktinya noh, kenapa pas kamu potong rambut malah minta putus?"
"Ya mana aku tahu, Nuki. Itu sudah berulang kali begitu."
Rambut Yosi membawa keberuntungan kalau pas panjang. Kayaknya kalau dipotong malah bawa sial. Hahaha... tapi biarlah! Kini si empunya rambut masih kebingungan bagaimana cara hilangin itu bau kopi.
***
"ASTAGA...!!"
"Kenape lagi tuh si Yosi? Pake teriak di kamar mandi segala."
"Coba deh nanti kamu tanya dia kenapa?"
Akhirnya Yosi nampak batang hidungnya. Rambutnya masih dia keringkan dengan handuk. Nampak kesal wajahnya sambil berjalan ke arah kami. Sojo yang penasaran langsung bertanya saja padanya. Rupanya bau kopinya belum hilang juga.
"Shamponya udah mau habis nih!"
"Sabar, Yos. Mungkin ini cobaan buat lu."
"SOJOOO...!"
"Ya gue mesti gimane lagi coba? Tanya Nona, dia kan cewek. Biasanya kalo cewek tahu caranya menghilangkan bau kopi di rambut."
"Yaah... mana aku tahu, Jo! Aku aja enggak pernah perawatan di salon."
"Noh, tanya Maya coba yang tahu."
"Iya, May. Kasih apa ya ini?"
"Coba di creambath, Yos. Aromanya Creambath kan wangi buah atau wangi bunga."
"Aduuh... jangan di creambath. Nanti rambutku lurus. Aneh lho kalau rambutku lurus!"
"Enggak lah! Aneh aja si Yosi ini! Sejak kapan creambath jadi lurus rambutnya?"
Nona dan Maya kompak mengatakan hal itu. Sampai Mbak Tiska yang baru saja keluar kamar ikut membenarkan perkataan mereka berdua. Putri cuma mengintip saja dari balik pintu kamar. Ridhwan tiba-tiba nongol dari pintu utama.
"Ada apa ini? Ada apa?"
"Ada apa hayoo...? Sini Wan! Kumpul sama kita."
"Eh, nanti jadwal jaga disini siapa?"
"Harusnya sih aku, gimana Wan?"
"Tukeran, Yos! Aku yang jaga hari ini ya."
"Cieee... Ridhwan mau deket sama Dita. Uhuy! Uhuuuy!"
Semua mata kini tertuju padaku. Aku kesal dan hanya memiringkan mulut ke kiri dan kanan. Sambil melipat kedua tangan diatas dada. Sesekali kutampakkan dengusan kesal. Kenapa mesti sama Ridhwan sih?
"Cocok kok Ridhwan sama Dita!"
"Nona!"
"Satunya pendiam, satunya alim lho."
"Duh, Nuki juga nih!"
"Dita sudah ada yang punya lho. Nanti aku dihajar sama Arif."
"Awas ya, Wan! Ngomong soal Arif lagi tak sikat lho!"
"Sikat aja, Dit! Pake sikat kamar mandi juga boleh."
"Duh, nanti gantengku ilang."
"Aelah... Ridhwan sudah tak alim lagi rupanya. Tahu aje lu soal ganteng!"
"Lho, selayaknya laki-laki harus begitu kan!"
"Haah... sepertinya Ridhwan lelah hari ini."
Tiba-tiba Pak Kordes datang sambil menubruk badan Ridhwan. Sampai nyaris saja terjatuh, untungnya Ridhwan sigap. Malam ini rapat dipindahkan sambil santai saja diluar desa.
"Katanya ada jagung bakar di alun-alun kota. Sesekali juga dong makan di luar. Nona, uang makan masih aman ya?"
"Aman, Pak Kordes!"
"Oke, siap! Kalau jagung bakarnya bayar sendiri ya."
"Ah, Eki enggak bermodal sama sekali!"
***
Beri Reaksi
Masuk untuk memberi reaksi