Bab 11Kisah Kesepuluh : Pergilah Maria dan Mery
Nah, Duo Noni Belanda itu sepertinya jadi mengikuti teman-teman jalan ke jembatan bercat merah itu. Semoga memang benar disana ada yang sebangsa dengan mereka. Sebab matahari sudah bersinar terang, tapi tak ada tanda mereka kembali. Padahal aku sudah berdiri sejak tadi di depan kos cewek.
"Ditaaa...!"
Mery berlari dengan payung kecil milik Maria. Gaunnya mengembang begitu saja. Dia terengah-engah saat mendekatiku. Kupikir makhluk satu ini bisa melayang supaya bisa datang padaku lebih cepat.
"Ini payung, Maria. Tapi kenapa kau yang bawa?"
"Iya, kakakku menitipkannya padaku."
Mery melepaskan payung itu. Dia menyentuh tanganku yang rasanya sama dinginnya seperti hawa di desa ini. Semoga tanganku tidak membeku.
"Dita, terima kasih ya. Aku dan kakakku memutuskan untuk ada di jembatan itu. Disana ada banyak dari bangsa kami. Kakakku senang dengan...."
"Hai, Dita...! Terima kasih ya!"
Maria lewat dibonceng sepeda oleh lelaki tampan dari bangsanya. Laki-laki itu tersenyum misterius padaku.
"Nah, siapa dia?"
"Itu yang baru mau aku ceritakan padamu. Kakakku langsung tertarik padanya. Sekali lagi aku terima kasih ya. Daaah...!"
Ingin kulambaikan tangan, tapi kurasa senyum dibibirku sudah cukup mewakilinya. Mery mengambil payung milik kakaknya dan pergi. Menghilang begitu saja dari hadapanku. Ah, Kakek Harimau Putih! Mungkin aku akan kangen dengan kecerewetan mereka berdua.
"Tugasmu untuk mereka berdua sudah selesai, Dita! Grr....!"
"Ya, Kakek!"
"Nah, kau urusi kehidupan nyatamu dulu."
Aku mengambil pakaian dalam yang kujemur. Kembali ke rutinitas normalku sebagai mahasiswi yang sedang menjalankan KKN.
***
"Lho kok ada ini di tumpukan bajuku?"
Nona tampak kesal sembari mengangkat celana dalam ukuran kecil entah punya siapa. Maya pun sama, karena dia baru teringat kalau jam tangannya lupa dikeluarkan dari kantong celananya. Tapi saat dirogoh, dia tak menemukan benda itu disana. Aku hanya diam saja karena celana panjangku memang ada disana. Aman tanpa ada sedikit pun yang kurang.
"Hei, kalian punya ini ya?"
Yosi yang tiba-tiba nongol membawa celana dalam perempuan entah milik siapa. Tentu saja kami tertawa semua melihat ukurannya saja kecil. Sepertinya itu punya anak kecil.
"Enggak profesional dong caranya begini! Tapi bagaimana lagi? Cuma ada satu itu aja."
Terbukti bukan apa yang aku khawatirkan? Maya masih tidak terima dengan hilangnya jam tangan miliknya. Kami semua diminta mengantarnya ke tempat laundry itu lagi. Meski bukan aku korbannya, sampai sana aku ikutan kesal dengan petugas yang menerima baju itu. Dia nampak tak peduli dan santai saja.
"Saya kan enggak tahu mbak. Pokoknya masuk ke tempat cucian sudah! Saya cuma jaga di depan sini."
Maya yang sudah nyaris mau mengamuk dan meminta ganti rugi langsung ditarik oleh Nona. Nuki dan aku akhirnya memutuskan ke minimarket modern yang ada di depan tempat laundry. Kami asik memilih mi instan dan makanan ringan. Lalu kembali lagi bersama Nona dan Maya.
"Gimana, May?"
"Maya hanya menggeleng pelan. Masalahnya jam tangan itu satu-satunya pemberian pacarnya. Bukan masalah jamnya, tapi kenangannya."
"Dita bisa bantu deh, May!"
"Hus!"
Kusodok pinggang Nuki sampai dia meringis kesakitan. Aku melirik kesal ke arah Nuki karena akhirnya dia cerita kalau aku punya kemampuan lebih.
"Jadi, Dita itu Indigo?"
"Bukan! Tapi ih nggigo!"
"Udahlah, Dit! Apa lagi yang mau kamu sembunyikan?"
Kakek! Hal inilah yang buatku kesal! Lihat kan lihaaat! Pada akhirnya aku terlibat sama hal semacam ini. Ah, Kakek Harimau Putih kemana ya? Disaat seperti ini dia malah menghilang.
"Nanti ya, Dit. Kamu coba lihatin pas di kos aja."
"Nuki siiih...!"
"Ih, salahku apa Dit? Ini kan namanya membantu teman. Dapat pahala lho."
"Ah, kalo begini apa bedanya aku sama mbah dukun yang bisa terawang teriwing. Huh!"
Nuki hanya nyengir aja. Dasar ya cewek satu ini! Saat teman-teman memutuskan untuk kembali ke kos, aku bilang mau ke warung bakso dulu. Sepertinya perut ini minta diganjal makanan ekstra banyak hari ini. Mulutku sudah tak mau lagi menerima makanan yang dimasak ibu itu. Buat anak-anak cowok saja!
***
"Jadi, gimana dit? Jam tanganku gambar Miki Mouse itu masih ada apa enggak?"
"Hah... percuma aja! Aku cuma lihat sesuatu yang gelap dan berputar. Habis itu tak ada sesuatu lagi. Bisa jadi diambil sama yang mencuci baju."
"Ikhlaskan saja, May! Jam tangan begitu banyak kok."
"Bukan begitu, Non. Itu pemberian pacar gue lho."
"Ah, dikadalin sama cowok lu. Jam tangan begitu cuma 30 ribuan."
"Udahlah...! Terus gimana dong, Dit?"
Maya tak menggubris kata-kata Nona yang sudah menyinggung perasaannya. Baginya pacarnya sudah sayang dengan memberinya jam tangan itu. Aku hanya menggeleng pelan tak mau lagi berkata apapun. Sebab berikutnya aku hanya melihat seorang perempuan samar mengambil jam tangan Maya dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.
Sejujurnya tempat laundry itu sudah tidak baik. Cara pengelolaannya saja buruk. Bahkan barang hilang di dalam baju saja mereka tak mau tahu. Kalau memang tidak mau bertanggung jawab, seharusnya diberi peringatan. Terdapat barang di dalam baju anda bukan tanggung jawab kami.
"Yaah... mau bagaimana lagi?"
Maya langsung masuk kamar. Dia sedih banget dan enggak tahu mau bilang apa ke pacarnya kalau jam itu sudah hilang. Nona masih menikmati minuman yang sepertinya kopi hitam.
"Ini asli sini lho, Nuk!"
"Apaan tuh, Non?"
"Apalagi kalau bukan kopi hitam. Bu Sobari yang kasih ke aku."
"Iya, saya yang kasih ke Mbak Nona."
Bu Sobari muncul dari tangga dengan senyuman beliau yang meneduhkan hati. Sayangnya hanya tinggal itu saja stok kopi milik ibu kos. Nuki mencobanya dan dia langsung menyerah. Lidahnya tak terbiasa mengecap rasa sepahit itu.
"Mau coba, Dit?"
"Boleh, Non. Pake sendok aja tuh."
Rasa kopi yang pahitnya luar biasa. Belum pernah kunikmati kopi sepahit ini. Bahkan kopi bubuk yang disebut oleh ibu Erlina "kopi kapitalis" saja tak sepahit ini. Kata Bu Sobari, kalau mau inilah kopi yang aslinya. Nona sangat menikmatinya. Menyerah karena sudah sampai endapannya saja. Mbak Tiska yang baru keluar kamar mau mencobanya, tapi langsung ngamuk.
"Apaan sih Nona! Pelit banget deh! Masak tinggal ampas begini ditawarin."
"Ya, kalo mau dan kuat sama rasanya ya coba aja Mbak Tiska."
Nona sudah yakin Mbak Tiska tak menyukainya. Itulah kenapa dia benar-benar menghabiskan kopi itu. Tiba-tiba pintu ruang utama diketuk. Nona yang membuka pintunya dan melihat seorang bapak tua membawa jagung rebus diatas piring.
"Tadi saya sudah ke tempat mas-masnya KKN. Jagung yang ini buat mbak-mbaknya KKN saja."
"Ooh... Pak Narowi. Matur suwun nggeh!" (Ooo... Pak Narowi. Terima kasih ya!")
"Nggeh... sami-sami, Bu Sobari."(Ya, sama-sama Bu Sobari.)
"Nah, kalau ini aku mau. Put, kita serbu nih jagung masih puanas joss...!"
"Aseek! Aku ya mau juga kalo ini!"
"Eeh... bagi dong! Aduh... kalian berdua ini ya!"
Hanya Nuki yang tak mau makan jagung ini. Dia beralasan sedang memakai behel. Kata dokter giginya memang kalau bisa jangan makan jagung. Pernah dia coba nekat hasilnya banyak jagung menempel di selipan behelnya.
"Aku makan aja ya, Nuk."
"Iya, makan aja Dit."
"Masih ada lagi nih, tapi buat siapa lagi?"
"Buat aku aja!"
Nona yang sudah menghabiskan jatah miliknya langsung menyamber jagung itu. Kini yang tersisa hanyalah piring kosong dengan beberapa sisa biji jagung diatasnya. Masih ada singkong rebus, hanya saja kurang laku di kos cewek. Kebetulan Yosi dan Ridhwan main kemari, makanya mereka yang habiskan makanan ala pedesaan itu.
***
Beri Reaksi
Masuk untuk memberi reaksi