Bab 14Kisah Ketiga Belas : Kamar yang Selalu Tertutup

5 menit baca1.1rb kata

Ada satu kamar di kos cowok yang selalu tertutup. Saat kutempelkan telapak tangan disana, rasanya langsung gemetar. Seperti itulah cara sederhanaku mengecek energi di satu ruangan. Kurasa karena telah lama kosong, banyak yang menghuni kamar itu. Maksudku penghuni tak kasat mata.

Ah, aku ingat! Kamar itu sebelumnya pernah dibuka saat kami mengecek kos cowok. Namun Pak Kades memutuskan untuk tidak memakainya. Beliau meminta sang pemegang kunci untuk tidak membuka kamar itu. Sebenarnya tak ada yang penting didalam. Hanya satu buah lemari plastik dan nampaknya ruangan itu terlalu sempit.

"Tapi tidak hanya di kos cowok. Sebenarnya di rumah Bu Sobari pun ada!"

Namun aku tak pernah berani menanyakan hal itu pada ibu kos-ku. Biarlah, suatu saat beliau pasti akan membukanya. Benar saja, hari ini aku tak sengaja melihat beliau membuka kamar yang selalu tertutup itu. Isinya sepertinya penuh, ada lemari dan barang lainnya yang nampak berantakan.

"Ooh... Mbak Dita sudah pulang?"

"Hehe... iya, Bu."

Ibu itu terburu-buru menutup kamar tadi. Sepertinya beliau mengambil sesuatu. Ah, sudahlah Dit! Kenapa harus selalu ingin tahu dengan isi rumah orang lain. Ingat! Disini kau adalah orang asing. Harus jaga sikap!

***

Sudah berapa kali kejadian mistis menimpaku yang penakut ini, tentu saja itu buatku trauma. Memang terselamatkan, semenjak bawa headset dan ponsel satunya lagi ku aktifkan sebagai radio. Setiap malam, siaran radio yang tertangkap disini selalu menyiarkan acara pengajian.

"Baguslah! Minimalnya malam ini aku tak mendengar suara tertawa Miss Key."

Bukan sekedar takut, tapi suara itu benar-benar membuat telinga sakit. Aku benci sama makhluk satu itu. Kenapa kalau tidak menangis ya tertawa? Masalahnya diri ini sensitif. Kalau tidak, tentu aku tak akan mendengarnya.

"Sori ya, Wan aku pakai headset."

"Iya, enggak apa Dit."

"Kok enggak nonton bola hari ini?"

"Memang enggak ada jadwal pertandingan hari ini."

"Ooh...."

Sialnya malam ini harus jadi bahan ejekan teman-teman lainnya. Ridhwan minta jaga hari ini karena katanya dia mau pergi pas jadwal jaga dia. Tapi jangan suruh dia tidur di sebelahku persis begini dong. Aduuh... mana sempit lagi!

"Ridhwan mesra sekali ya!"

Kulempar satu bantal ke muka Nuki dan sukses membuatnya berteriak. Nona protes kalau aku terlalu kasar pada Nuki, tapi aku tak peduli. Segera kuambil bantal itu lagi.

"Bukannya kamu pakai headset ya, Dit."

"Telingaku tetap saja dengar untuk urusan itu, Wan."

"Dit...."

"Hm... apa?"

"Sebenarnya apa sih yang kamu sukai dari Arif? Kita semua sudah tahu kalau orangnya seperti itu."

Aku sampai melepas satu headset untuk mendengar pertanyaan Ridhwan. Sedih sebenarnya dengan pertanyaan ini. Aku tahu, diri ini sulit rasanya untuk menyukai laki-laki. Sebab aku tak mau hidupku hancur hanya karena pacaran. Sayangnya ini urusan hati, jelas saja berbeda! Tapi seperti kata orang jawa : Witing tresno jalaran seko kulino.

"Ya kan banyak laki-laki yang lain. Eki misalnya, kayaknya dia masih jomblo."

"Bukan tipeku sih, Wan."

"Carilah yang lebih laki-laki gitu, Dit. Masak sih iya kamu mau sama yang gayanya melambai seperti itu?"

"Seperti kamu gitu?"

"Enak aja! Aku udah punya kok. Orangnya masih di Kota B ini."

Pertanyaan Ridhwan terlalu menyelidik bagiku. Toh dalam hati sebenarnya aku antara yakin dan tidak dengan Arif. Sejujurnya sudah tak tahan lagi dengan olok-olokan teman-teman lainnya. Aku hanya mendengus kesal sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Ridhwan.

"Masalah hati itu susah, Wan! Aku sendiri juga enggak tahu kenapa bisa suka sama dia."

"Lho piye sih Dita ini? Rak genah!" (Lho gimana sih Dita ini? Enggak bener!)

"Aaah...! Tadi suruh jawab, sekarang malah protes. Udahlah, masa bodo! Aku mau tidur, Wan."

***

Sama seperti kamar yang selalu tertutup disini. Sebenarnya urusan hati juga masih tertutup. Aku memang terlalu pemilih untuk urusan laki-laki. Lagipula, aku mau fokus kuliah karena banyak sekali mata kuliah yang mengulang. Belum lagi harus cari kerja.

"Aku sudah bilang padamu, Dita. Jangan dekati laki-laki bernama Arif itu. Dia tidak baik buatmu!"

"Sejak awal Kakek juga bilang begitu padaku!"

"Aku merasakan energi yang kurang bagus padanya. Kau ini, diberitahu masih saja membantah!"

"Lalu urusan Kakek apa sama hubunganku dengan Arif? Sejujurnya, aku sendiri masih ragu. Lagipula aku terikat dengan teman-teman yang...."

"Urus saja hidupmu sendiri, Dita! Jangan karena temanmu! Grr...!"

"Kakek tak pernah paham bagaimana rasanya jadi aku!"

"Grraor! Aku selalu mengikutimu. Itulah sebabnya nenek moyangmu mengutusku untuk menjagamu, agar tidak salah terjebak oleh laki-laki tak benar. Fatal akibatnya!"

"Jadi, kakek diutus untuk menjagaku dari hal ini?"

"Sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Aku akan pergi kalau tugasku sudah selesai."

"Kapan itu selesainya?"

"Sampai kau menemukan laki-laki yang paham tentang dirimu Dita! Grrrar...!"

"Kakek... Kakek Harimau Putih?"

Kakek hilang begitu saja, khodam yang sangat berbeda dari kebanyakan cerita orang. Baru aku sadari rupanya itu tugasnya selama ini. Bukan untuk kesaktian apalagi melindungiku dari serangan makhluk gaib. Tugas utamanya hanya mengarahkanku agar jangan sampai terjatuh ke tangan laki-laki yang salah.

"Ting!"

"Halo, Dit! Kapan ada waktu luang? Aku bisa minta tolong enggak?"

Pesan BBM dari Arif masuk begitu saja. Haah... aku sedang sibuk sekarang. Program KKN ku sedang berjalan penuh. Maaf ya, aku tidak bisa membantumu saat ini.

"Enggak apa kalau lagi sibuk? Kapan nih bisa datang ke desa tempatku KKN?"

"Memangnya dekat ya dari desa tempatku?"

"Katanya teman-temanku lumayan dekat sih."

"Yaah... nanti deh kalau ada waktu luang bener. Aku kabarin lagi ya!"

Badanku masih terasa capek hari ini. Belum lagi si Ibu hamil minta diantar ke tempat fotokopian. Lokasinya jauh karena dekat dengan minimarket modern. Sekalian saja deh! Aku juga mau mencetak poster yang sudah ku desain sendiri di laptop.

"Wah, kami enggak punya mesin printer yang besar untuk cetak ukuran kertas A3."

"Waduh, harus pulang dulu nih ke Kota Se!"

"Tapi mas bisa kan sekedar cetak pamflet ini yang berwarna?"

"Ukuran A4 kan? Bisa kok!"

"Ya sudah, Dit. Kita cetak pamflet yang mau disebar ke ibu-ibu PKK dulu ya."

"Iya deh, Put. Punyamu duluan aja!"

"Eeh... tapi mbak kertasnya terbatas ternyata. Tinggal satu rim ini aja."

Aku mendengus kesal! Kenapa disini serba terbatas semua? Seharusnya tempat fotokopian berani menyediakan kertas lebih banyak lagi. Akhirnya aku putuskan untuk mencetak seadanya saja. Daripada banyak toh nanti juga dibuang percuma. Untuk bukti saja bahwa program KKN telah terlaksana dengan baik.

"Wih, bentar lagi hujan nih. Nanti kita kehujanan lho! Mas bisa cepetan dikit enggak?"

"Enggak bisa mbak! Printernya memang begini."

"Kita tinggal aja dulu, Dit. Kamu bawa jas hujan kan?"

"Ya, bawa Put. Cuma kan kamu nanti kalo kena hujan masuk angin."

"Tenang aja! Obatku gampang kok, minum yang cair anti masuk angin juga enggak masalah."

"Ealah... kan kamu hamil."

"Kata dokterku enggak masalah, Dit. Asal jangan lebih dari dua kali dalam sehari. Lagipula itu bukan obat keras. Itu obat-obatan herbal."

"Iya, deh! Aku enggak begitu paham sama kondisi ibu hamil."

***

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Bab berikutnya

Lanjutkan perjalanan Kisah Keempat Belas : Anak-anak Desa.

Komentar

Diskusi dan tanggapan untuk bab ini.

untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.